
Zaydan sedang termenung mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Bagaimana dia bisa mencium Elivia seperti itu? Dia tidak percaya dengan perbuatannya sendiri. Ia memegangi bibirnya yang terasa perih akibat gigitan Elivia.
Saat Zaydan tersadar, ia segera berlari mengejar Elivia, tapi gadis itu sudah menghilang. Dia berlari kesana kemari didalam istana, tapi tidak menemukannya.
“Siapa yang kamu cari dan?” Tanya Sophia yang sudah bangun.
“Apa Mama melihatnya?”
“Siapa?”
“Gadis kampungan itu.”
“Kenapa kamu mencarinya”
“Hah.!!” Zaydan berlari keluar. Tidak mempedulikan ibunya yang bertanya.
“Ada apa dengannya? Kenapa dia mencari gadis kampungan itu? Apa mereka bertengkar?” Ahhh,, Sophia sangat ingin tau ada apa sebenarnya.
Zaydan bertanya kepada setiap pelayan yang ditemuinya. Namun tidak ada yang melihat Elivia. Kemudian dia pergi kearah jalan, seorang penjaga gerbang memberitahunya bahwa Elivia pergi menuju halte bis yang tak jauh dari sana. Dengan segera dia berlari ketempat itu.
Zaydan menghentikan langkahnya dikejauhan, dia melihat Elivia yang sedang menangis dibelakang punggung Kafa. Lama sekali, sampai Elivia berhenti menangis. Kemudian mereka masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.
“Yang Mulia Pangeran Dan!” Pekik seorang wanita, dia segera menghampiri Zaydan dan meminta foto bersama. Begitu juga dengan orang-orang lain yang lewat, mereka semua meminta foto bersama Zaydan. Lucas segera datang dan membantu Zaydan keluar dari kerumunan itu.
Zaydan menghentikan langkahnya saat ia melihat ada Kafa yang sedang melindungi tubuh Elivia dari tatap orang-orang. Gadis itu sedang tersedu. Ada rasa tidak suka saat ia melihat pemandangan itu.
Sebenarnya sejauh apa hubungan mereka? Fikir Zaydan.
Zaydan membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam istana. Dengan perasaan bersalah, Zaydan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Entah apa yang merasukinya hingga dia berbuat seperti itu.
“Aaarrgghhh!!!” Dia mengacak rambutnya sendiri. Dia merasa terganggu dengan airmata Elivia. Tatapan kebencian bercampur dengan kekecewaan milik gadis itu, terus terbayang dan menimbulkan perasaan bersalah di hatinya.
Zaydan hendak menelfon Elivia, menanyakan keberadaannya. Tapi dia baru ingat, ternyata dia tidak punya nomor Elivia. Dia membanting ponselnya di ranjang sampai ponsel itu terpental.
“Lucas!” Panggilnya. Lucas yang mendengar panggilan itu segera masuk ke dalam kamar.
“Ya, Yang Mulia?”
“Cari tau nomor ponsel gadis itu.” Perintahnya.
“Baik, Yang Mulia.”Lucaspun segera pergi untuk melaksanakan perintah.
Sebenarnya Zaydan bisa saja menghubungi Kafa dan menanyakan tentang Elivia, tapi harga dirinya terlalu besar. Lagipula dia tidak ingin Kafa tau tentang hubungannya dan Elivia. Bisa-bisa dia ditertawai habis-habisan.
Mabuknya sudah hilang sepenuhnya setelah dia mandi. Kemudian Zaydan turun dan memacu mobil sportnya tanpa ditemani Lucas. Dia melarang Lucas untuk mengikutinya.
Zaydan menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah Kafa. Entah kenapa dia merasa kalau Kafa membawa Elivia kerumahnya. Dan benar saja, setelah lama menunggu, terlihat Kafa keluar bersama Elivia. Dia terus mengikuti mereka dari kejauhan.
Mobil Kafa menuju kerumah sakit, karna Elivia masuk malam, jadi dia ingin menemani Arina dulu. Dan dengan senang hati Kafa mengantarkan Elivia kerumah sakit. Zaydan tak tinggal diam, dia segera mengenakan masker dan kacamata juga topi untuk menyamarkan wajahnya.
Zaydan heran, kenapa mereka pergi kerumah sakit ini. Apa Elivia sakit? Atau apa? Dia terus mengikuti Elivia dan Kafa. Mereka membawa sekeranjang buah-buahan dan menuju kelantai VVIP. Zaydan menunggu lift yang berikutnya kemudian setelah sampai dilantai atas, dia segera mencari Kafa dan Elivia. Dia melihat mereka masuk kesebuah ruangan. Dia mencoba mengikutinya, tapi seorang security menghentikannya.
“Maaf, anda tidak boleh masuk, Tuan. Ini khusus untuk pasien VVIP.” Kata security itu. Dia menghentikan Zaydan karna belum pernah melihatnya sebelumnya. Masker dan topi yang dikenakan Zaydan membuat security itu curiga. Dia berfikir Zaydan adalah penyusup.
“Aku hanya ingin masuk kedalam.” Kata Zaydan mencoba menerobos barikade security itu. Tapi dia gagal. Security itu tenaganya jauh lebih kuat darinya.
“Maaf, Tuan, anda tidak bisa masuk.”
“Hei! Apa kau tau siapa aku?”
“Maaf, Tuan. Silahkan pergi.” Keributan itu menarik perhatian beberapa orang. Mereka melihat kearah Zaydan. Tidak ada pilihan lain, dia harus pergi, dia bisa saja masuk kalau dia membuka maskernya, tapi dia tidak mau menimbulkan lebih banyak keributan. Akhirnya dia memilih untuk pergi dari ruangan itu.
Sesampainya didalam mobil sportnya, Zaydan mendengus kesal dan memukul stir kemudinya. Dia sangat ingin tau siapa yang dijenguk Elivia dan Kafa. Mereka terlihat sangat akrab.
“Lucas! Segera cari tau semuanya tentang gadis itu. Dan siapa yang dirawat dirumah sakit kerajaan.” Perintah Zaydan lewat telfonnya.
Zaydan melajukan mobilnya pulang ke Istana Kecil, setelah mandi dan berganti pakaian, dia pergi kekantor. Hari ini dia sudah resmi sebagai pemegang saham terbesar diperusahaan keluarga itu. Dia akan memulai rapat dengan para eksekutif perusahaan.
**********
“Apa terlihat jelas?”
“Hem,, hem,,” jawab Arina menganggukan kepalanya.
“Jangan beritahu kakakmu ya,,”
“Aku tau,, mana mungkin aku yang memberitahunya, sedangkan Kak Kafa yang menyukainya. Hehehe,,”
“Kamu ini,,” Kafa mengusap-usap rambut Arina.
“Iiihhh,,, jadi berantakan kan rambutku. Aku selalu berharap kalau kakakku akan bertemu dengan pria baik sepertimu, Kak. Bukan pria arogan yang tidak bisa menghargai keberadaannya.”
“Pria arogan?” Tanya Kafa mengernyitkan alis.
“Ah,, hehehehe..” Arina hampir saja keceplosan tentang pernikahan
Elivia.
Elivia yang memperhatikan mereka hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Dia senang Arina bisa membuka diri kepada Kafa. Kafa pria yang sangat baik. Sudah tak terhitung berapa kali pria itu membantu dirinya dan Arina. Kafa selalu berada diwaktu dan tempat yang tepat. Dia selalu ada saat Elivia membutuhkan bantuan, dan dengan senang hati memberikan punggungnya untuk Elivia bersandar.
“Kalian sedang bicara apa sih? Seru sekali.” Kata Elivia menghampiri Arina dan Kafa.
“Rahasia,, hahahaha,,” jawab Arina iseng.
“Kalian sedang membicarakanku?”
“Emmmm,,,,,” Kafa dan Arina kompak pura-pura berfikir.
“Kalian ini.. Arin,, sudah saatnya Kakak bekerja, jaga dirimu baik-baik,, kau mengerti?”
“Iya Kak, aku tau,,”
“Baiklah, aku akan mengantar kakakmu dulu ya. Lain kali kita mengobrol lagi.” Kata Kafa.
Elivia dan Kafa pergi dari ruang VVIP, dan Kafa mengantarkan Elivia sampai didepan restoran cepat saji.
“Trimakasih, lagi,,”
“Sama-sama, aku pergi dulu, daaah.” Kata Kafa melambaikan tangannya. Elivia menatap mobil Kafa sampai menghilang dari pandangannya.
Elivia masuk kedalam restoran, manajernya melihat Elivia dengan tatapan iri dan benci. Sementara Luna sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Karna ia sudah sering meihat Kafa mengantarkan Elivia.
“Apa dia sudah menyatakan perasaannya padamu.?” Semprot Luna.
“Apa an sih?”
“Belum? Wahhhh,,,”
“Kenapa dia harus menyatakan perasaannya?”
“Hei.! Jangan pura-pura tidak tau begitu dong El.”
Tau. Elivia tau, sangat tau. Tapi dia berharap itu tidak benar. Dia sudah merasa nyaman dengan pertemanan mereka. Sesuatu seperti perasaan, akan merusak segalanya. Elivia tidak mau itu terjadi. Lagipula Kafa berada sangat jauh diluar jangkauannya. Dia merasa minder dengan kelas sosial mereka yang berada sangat jauh. Elivia tidak mau berharap-harap dengan sesuatu yang tidak pasti begitu.
“Hei,, malah ngelamun. Memikirkan Kafa?”
“Luna,, bisa diam
tidak?”
“Tidak. Sebelum kamu menjawabnya.”
“Hufh,, kami tidak punya hubungan apa-apa, hanya berteman, jadi buang fikiran bodohmu itu jauh-jauh dan segeralah bekerja. Kau tidak lihat Bu Fira sudah memelototi kita sejak tadi?”
Lunapun segera menutup rapat mulutnya dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Dengan sesekali melirik kepada Fira yang berdiri tak jauh dibelakang mereka.