
Hatcim.!!!
Elivia terus saja bersin. Beberapa kali dia di perhatikan oleh manajernya. Untungnya dia telah mengenakan masker.
“Kamu kenapa El? Sakit?” Tanya Luna.
“Sepertinya aku sedikit demam.”
“Istirahat saja dulu dibelakang. Disini biar aku yang mengatasinya.” Tawar Luna.
“Tidak apa-apa, Na. Aku sudah minum obat. Sebentar lagi sudah sembuh.” Elivia menolak. Dia tidak ingin gajinya dipotong lagi.
“Baiklah.”
Elivia sibuk melayani para pelanggannya. Ada banyak orang yang mengantri, dan tugas Elivia lah untuk menerima pesanan mereka. Pada jam istirahat seperti ini, bisa berjam-jam Elivia berdiri dibalik meja untuk menerima pesanan. Karna restoran cepat saji ini berada dilingkungan perkantoran, maka waktu makan siang merupakan waktu tersibuk.
Luna melihat Elivia yang nampak sangat lelah. Wajahnya juga nampak sedikit pucat. Jadi dia berinisiatif untuk menggantikan Elivia, tapi Elivia menolaknya. Dia tidak ingin merepotkan Luna.
“Tidak-apa Na, aku masih bisa.”
“Kamu ini keras kepala sekali sih! Sudah tau sakit masih saja nekat bekerja.” Dengus Luna sebal. Elivia memang keras kepala.
“selamat siang, mau pesan apa?” Tanya Elivia pada pelanggan yang baru saja masuk.
“El.!!!” Pekik pelanggan pria itu.
Seketika Elivia melihat wajah pelanggan yang mengenakan kacamata hitam itu. Dia memicingkan alisnya, pertanda sedang berfikir. Mencoba mengingat-ingat siapa gerangan pria itu.
“El.! Ini aku.!” Pria itu membuka kacamata hitamnya.
“Kafa.?! Ya ampun,, maaf aku tidak mengenalimu.”
“Kamu bekerja disini? Pantas saja aku merasa familiar dengan wajahmu. Aku seperti sering melihatmu. Ternyata kamu bekerja disini. Aku juga langganan disini.” Jelas Kafa. Entahlah, Elivia tidak mugkin mengingat satu persatu wajah pelanggannya, sekalipun yang sudah sering datang.
“Tuan Kafa, selamat datang, anda mau pesan apa?” Tiba-tiba manajer wanita itu menyerobot pembicaraan Elivia dan Kafa. Sok tersenyum ramah.
“Aku pesan sandwich dan secangkir kopi pahit. Tolong antarkan kemejaku ya.” Pinta Kafa kepada si manajer.
“baik tuan, silahkan anda tunggu disana.”
“El. Ayo mengobrol denganku sebentar.” Ajak Kafa kepada Elivia. Sementara si manajer langsung menatap Elivia dengan tatapan membunuh.
“Maaf, aku sedang bekerja, kalau kau bersedia menungguku, 30 menit lagi shift ku selesai. Aku akan mentraktirmu.” Bisik Elivia, takut didengar oleh rekan-rekannya.
“Baiklah. Oke!” Jawab Kafa, lantas diapun berjalan menuju ke meja yang kosong.
Elivia segera menyiapkan pesanan Kafa dengan dibantu oleh Luna.
“El! Kamu kenal dengan Tuan Kafa? Ada hubungan apa kau dengannya?” Tanya Luna menyelidik
“Hubungan apa? Baru juga kenal, belum lama.” Jelas Elivia sambil terus menyiapkan pesanan. “Kenapa?”
“Wah,, kamu ini, diam-diam koneksinya kuat juga ya,,
“Koneksi? Koneksi apa?” Tanya Elivia heran
“Tuh.. Buktinya kau berteman dengan Tuan Kafa, dia kan putra tunggal Perdana Menteri kita.”
“Apa? Apa maksudmu? Kafa putra Perdana Menteri?” Elivia tidak yakin dengan yang ia dengar.
“Kamu tidak tau?” Tanya Luna lebih terkejut.
“Tidak.”
“Wah.,,, speachless lah aku.” Luna hanya geleng-geleng kepala saja.
Jadi Kafa itu putra perdana meteri? Pantas saja semalam dia ada di acara amal itu. Elivia hanya berfikir kalau Kafa merupakan anak orang kaya, tidak menyangka kalau ternyata dia anak perdana menteri. Sekilas Elivia memperhatikan Kafa yang sedang menelfon.
Setelah shift nya selesai. Elivia berganti pakaian dan segera menemui Kafa yang masih setia duduk menunggunya.
“Maaf, lama,,” kata Elivia.
“Kau ini. Kenapa selalu minta maaf? Berhentilah mengatakan itu kalau kau benar-benar tidak bersalah, untuk apa minta maaf.”
“Hehe,,” Elivia tidak tau harus menjawab apa. Padahal ucapan itu hanya sebatas formalitas saja. Bukan berarti dia benar-benar sudah melakukan kesalahan.
“Kita pergi dari sini saja ya, cari tempat yang lain.” Elivia terpaksa mengikuti kemauan Kafa, dia merasa sudah berhutang budi pada pria ini
Kafa membukakan pintu mobilnya untuk Elivia. Gadis itu hanya tersipu malu dan segera masuk kedalamnya. Kafa mengajaknya kesebuah taman kota yang tak jauh dari restoran. Disana banyak sekali pedagang kaki lima yang menjual berbagai makanan enak dan murah pastinya.
“Kafa, aku ingin membalas kebaikanmu. Bolehkan aku membelikanmu sesuatu sebagai tanda trimaksihku?”
“Hei. Tidak perlu El. Aku sedang tidak membutuhkan apa-apa sekarang. Mungkin nanti. Aku akan menagih hutang budimu itu. Itupun karna kau yang menganggapnya hutang budi, untuk meringankan fikiranmu saja, aku akan menerima sebutan itu.” Kafa tersenyum lagi. Manis sekali.
“Aku akan berkata lancang sedikit ya? Kenapa kau bekerja di restoran itu? Kukira kau berasal dari keluarga kaya, sehingga bisa menghadiri acara amal itu.”
“Emmm..... Itu...”
“Tidak usah dijawab. Aku hanya bertanya dan tidak meminta jawabanmu. Kau pasti punya ceritamu sendiri. Itu privasimu, aku tidak ingin ikut campur. Nanti kau malah menganggapku pria aneh karna mencampuri urusan gadis yang baru kukenal.” Kata Kafa
“Apa an sih kamu ini.” Elivia merasa sudah sangat dekat dengan Kafa. Karna pembawaan pria itu yang ramah. Sejak bertemu semalam, pria itu tidak menetapkan batasan pada Elivia, membuat Elivia merasa nyaman walau baru dua kali bertemu
Kafa sangat ramah dan menghibur, berbeda dengan si kodok yang dia kenal.
“El! Aku tidak bermaksud lancang, tapi aku membutuhkan nomor ponselmu.” Kafa memang pria yang cerewet. Dia banyak bicara. “Ayolahhh,, aku tidak akan menjualnya.” Kata Kafa kemudian saat melihat Elivia yang berfikir. Dia mengangkat kedua jarinya.
“Hahahahaha,,, baiklah.” Elivia menyerah. Akhirnya dia memberikan nomor telfonnya pada Kafa. Pria itu menyimpannya dikontaknya dan diberi nama ‘El’. Kemudian ia menghubungi nomor Elivia.
“Itu nomorku, simpanlah.” Eliviapun menyimpan nomor Kafa dengan nama ‘hutang budi’
Kafa mengernyitkan keningnya saat melihat namanya diponsel Elivia. Dia menggeleng- gelengkan kepalanya. Dan tertawa.
**********
“Kemana sih gadis kampungan itu?” Gerutu Zaydan didalam kamarnya. Dia tidak melihat batang hidung Elivia sejak semalam. Dia mondar mandir didalam kamar. Lalu turun kelantai bawah.
“Hei Lucas. Apa kau melihat wanita itu?” Tanya Zaydan kepada asisten sekaligus pengawal pribadinya itu.
“Siapa yang anda maksud yang mulia?” Tanya Lucas pura-pura tidak mengerti.
“Hah. Sudahlah. Dimana Nenek?”
“Beliau sedang ke Istana Besar.”
“Mama?”
“Sedang keluar bertemu dengan teman-temannya Yang Mulia.”
Zaydan merasa kesepian diistana itu. Sekelebat bayangan Elivia yang basah kuyup mampir di ingatannya. Sudah tiga malam Elivia tidak pulang ke istana kecil. Sebenarnya malam itu Zaydan hendak menolongnya, tapi rasa gengsi mengalahkannya. Dan dia lebih memilih menolong kekasihnya daripada menolong Elivia. Saat dia kembali dari mengantar Sadila ke dalam gedung, dia sudah tidak melihat Elivia disana.
“Kemana sih gadis kampung itu?!” Gumamnya. Bukan apa, Zaydan takut kalau Ibu Suri mengetahuinya, tujuannya akan gagal tercapai.
Tapi dia yakin Elivia bukan tipe orang pengadu. Sebenarnya dia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri. Bagaimana kalau Elivia benar-benar mengadu kepada neneknya? Habislah riwayatnya. Perusahaan itu tidak akan pernah jatuh ketangannya. Selamanya.