
Ada luka yang tidak berdarah. Tapi itu bukan berarti luka itu tidak ada. Justru luka itulah yang
terasa sangat menyakitkan, apalagi jika luka itu terdapat di hati. Jadi jangan menganggap sepele luka seseorang hanya karna itu nampak seperti hal remeh bagimu. Karna kita tidak tau bagaimana
perjalanan luka itu sampai ia mengendap di dalam hati. Jika kau tidak bisa menyembuhkannya, setidaknya jangan menambah lukanya.
Zaydan benar-benar di abaikan oleh Elivia. Gadis itu nampaknya sudah terlelap di ranjangnya. Sementara Zaydan masih berguling ke kanan dan ke kiri dengan gelisah. Ia memandangi punggung Elivia yang sangat ingin ia peluk itu.
Dan ternyata Elivia juga belum tertidur. Ia bisa merasakan kalau Zaydan gelisah dan tidak bisa tidur. Ia fikir itu karna Zaydan berbaring di atas karpet tipis sehingga membuatnya tidak nyaman.
Elivia bangun dan duduk kemudian menatap kepada Zaydan yang sedang berpura-pura memejamkan matanya.
“Kau bisa tidur di sini. Aku yang akan tidur di bawah.” Ujar Elivia sambil bangun dari ranjang. Ia mengambil bantal dan selimutnya kemudian meletakkannya di lantai.
Zaydan membuka mata kemudian ikut berdiri. Lantas iapun menuruti Elivia dan bebaring di atas ranjang.
Elivia sedang menata selimut dan bantalnya di atas karpet. Ia ingin tega membiarkan Zaydan kedinginan walaupun tidur di atas ranjang. Namun ternyata ia tidak setega itu. Ia kembali bangun dan mengambil selimut dan bantal lain yang terlipat di atas tumpukan kain di bawah ranjang. Kemudian hendak memberikannya kepada pria itu.
“Pakai ini.” Ujar Elivia mengulurkan selimut dan bantal itu kepada Zaydan.
Zaydan yang tadinya menghadap dinding, kini berbalik menghadap ke atas dan melihat kepada Elivia. Bukannya menerima selimut dan bantal yang sedang di ulurkan oleh Elivia, ia malah menarik paksa lengan Elivia sampai gadis itu terjatuh di dadanya.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Elivia sambil menahan dirinya agar tidak terlalu menempel di tubuh Zaydan.
“Kalau aku benar-benar sudah tidak punya kesempatan lagi, maka aku akan memberikanmu hadiah terakhir sebagai tanda perpisahan dariku.” Nada suara Zaydan terdengar serius dan berat. Dan dengan sekali hentakan, posisi Elivia sudah berada di bawah tubuh Zaydan.
“Apapun yang kau fikirkan, jangan lakukan. Atau aku akan membunuhmu.” Ancam Elivia. Padahal hatinya sedang berdesir.
Tapi Zaydan tidak peduli, ia langsung mendekatkan wajahnya dan langsung melahap bibir Elivia dengan kasar.
Sekuat tenaga Elivia berusaha untuk menyingkirkan Zaydan dari atas tubuhnya. Ia menolak tubuh yang menindihnya itu dengan lengannya. Namun usahanya ternyata sia-sia karna Zaydan sama sekali tidak berkutik mendapatkan perlawanan itu.
Setelah lama berkutat dengan bibir Elivia, akhirnya Zaydan melepaskan pagutannya juga. Ia menatap wajah pias Elivia dan mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.
Elivia bisa merasakan kehangatan lewat kecupan itu. Ia bahkan sempat memejamkan mata demi menikmati rasa itu.
Perlahan, Elivia membuka matanya dan menatap Zaydan yang juga sedang menatapnya. Kemudian ia memaksa Zaydan menyingkir dari tubuhnya. Namun lagi-lagi Zaydan menahan Elivia dan malah berbaring dan memeluk Elivia dari belakang dengan erat.
“Aku akan menghormati keputusanmu dan memberimu waktu.” Lirih Zaydan.
Elivia tetap berusaha untuk melepaskan diri namun masih di tahan oleh Zaydan.
“Sebentar saja. Tetap seperti ini.” Imbuh Zaydan kemudian semakin mengeratkan dekapannya.
Elivia tidak berani lagi berontak. Ia akan membiarkan Zaydan memeluknya sepuasnya. Karna ia juga ingin memeluk pria itu sepuasnya sebelum semuanya benar-benar berakhir.
“Aku benar-benar minta maaf. Aku mencintaimu.” Lirih Zaydan kemudian menenggelamkan wajahnya di punggung Elivia.
Air mata Elivia sudah tidak bisa lagi di bendung. Mengalir deras dalam diam. Membasahi lengan Zaydan yang berada di kepalanya. Zaydan tau tapi membiarkannya saja. Karna air matanya sendiri juga sudah membasahi punggung Elivia.
Keduanya menangis dalam diam. Menahan semua rasa sakit yang mereka rasakan di hati mereka masing-masing. Mereka tau kalau mereka sama-sama terluka, namun Zaydan ingin menghormati keinginan Elivia. Mungkin ini sudah benar-benar berakhir di antara mereka.
Elivia memicingkan matanya saat ia mendengar suara musik yang kencang milik penghuni kamar di sebelahnya. Matanya yang sembab dan agak bengkak membuatnya sedikit susah untuk membukanya.
Pagi hari yang di isi dengan kehampaan saat ia tau kalau Zaydan sudah tidak ada di kamarnya. Entah kapan pria itu pergi dari sana, namun ia bisa merasakan kekosongan itu.
Perlahan, Elivia bangkit dan duduk di ranjangnya. Menatap kosong ke segala arah beserta seluruh kesadarannya tentang berakhirnya hubungannya dengan Zaydan.
Putus cinta kali ini, terasa jauh lebih menyakitkan daripada dulu. Hatinya seolah tersayat-sayat oleh pisau. Remuk dan hancur.
Bahkan saat ponsel Elivia berbunyi, ia enggan sekali untuk mengambilnya dari atas karpet dan hanya memandanginya saja. Baru setelah deringan ke tiga, ia beranjak dari ranjang dan mengangkatnya.
Ternyata itu adalah telfon dari Widya.
“Halo, Wid.” Sapanya dengan suara lirih dan serak.
“Halo, El. Aku punya kabar bagus untukmu.” Ujar Widya dengan suara penuh semangat.
“Apa itu?” Namun Elivia tidak merasakan semangat itu sama sekali.
“Kau di terima bekerja di hotel bersamaku!” Pekik Widya kegirangan.
“Benarkah itu Widya?”
“Hem. Dan kita sudah bisa mulai bekerja minggu depan.”
“Syukurlah. Terimakasih banyak ya Wid. Oh ya, aku punya permintaan.” Ujar Elivia dengan hati-hati.
“Apa?”
“Apa kau tau tempat kos yang kosong? Yang tidak terlalu jauh dengan hotel.”
“Tempat kos? Entahlah, aku tidak faham. Nanti akan coba ku carikan. Kenapa? Apa kau mau pindah dari kos lamamu?”
“Iya. Rasanya sudah tidak nyaman tinggal disini. Lagupula ini akan jauh dari hotel. Aku ingin menghemat ongkos. Hehehehe.” Elivia berusaha terdengar biasa saja.
“Baiklah, nanti akan ku carikan. Atau, kau bisa tinggal bersamaku di rumahku. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak akan sempit kalau untuk di tinggali berdua.” Usul Widya kembali.
“Aku tidak ingin merepotkanmu lagi. Sudah banyak kau membantuku.” Ujar Elivia merasa tidak enak hati jika menerima tawaran itu.
“Kalau begitu, anggap saja kau menyewa di rumahku. Kau bisa membantuku membayar tagihan listrik dan air. Bagaimana?”
“Aku benar-benar merasa sangat berterima kasih padamu, Widya. Semoga aku bisa membalas semua kebaikanmu nanti.”
Kemudian Elivia menutup ponselnya dan meletakkannya di atas ranjang begitu saja. Dengan langkah yang masih lunglai, ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sekilas bayangan Zaydan mampir di benaknya. Dekapan hangat pria itu seolah masih terasa di punggungnya.
Air mata Elivia kembali mengalir. Kali ini bukan karna kesedihannya, melainkan karna ia memaksa hatinya untuk merelakan pria itu. Ia berusaha meyakinkan hatinya kalau itu adalah sebuah keputusan yang tepat. Ia harus bisa mengendalikan rasa sakitnya dan menyambut kehidupan dan pekerjaan yang baru.
Elivia bersiap untuk melepas masa lalunya yang menyakitkan.