
Zaydan melangkahkan kakinya memasuki istana. Ia terus menundukkan wajahnya bahkan sat ia bertemu dengan ibunya, ia tidak menyapa Sophia dia hanya melewatinya begitu saja. Matanya merah dan nampak tidak fokus. Fikriannya masih tertinggal di kos Elivia.
Aroma minuman beralkohol menyeruak dari mulutnya. Membuat Sophia yang di lewatinya langsung mengernyit dan menutup hidungnya.
Zaydan menghempaskan diri di sofa ruang santai dan menutup mata dengan lengannya. Sebanyak apapun ia minum, ternyata itu belum mampu untuk menyingkirkan Elivia dari fikirannya. Padahal sudah berbotol-botol ia menenggak minuman itu, namun belum bisa mengusir rasa menyesal dan kehilangan itu dari dadanya. Yang ada matanya semakin merah dan dadanya terasa seperti terbakar.
“Berapa banyak kau minum, Dan?” Tanya Sophia yang duduk di sofa di dekat putranya itu.
Zaydan tidak menggubrisnya. Ia hanya berusaha memejamkan matanya agar ibunya menyingkir dari sana.
“Dan?” Ternyata Sophia masih penasaran dengan keadaan putranya itu.
Dengan malas Zaydan mengalihkan lengannya dari wajah dan duduk kemudian menatap Sophia dengan tatapan malas.
“Bagaimana? Bukankah kau pergi untuk menemui Elivia? Kenapa kau malah pulang dalam keadaan mabuk begini? Jadi bagaimana hasilnya?” Tanya Sophia mendesak jawaban dari putranya. Ia berharap kalau Zaydan berhasil membujuk Elivia.
“Apa mama tidak bisa melihat keadaanku sekarang?” Balas Zaydan dengan pertanyaan. “Aku sudah kacau begini, apa mama masih belum bisa melihat hancurnya aku?”
“Dan....”
“Mulai sekarang, tidak ada yang boleh membahas, menyinggung, ataupun membicarakan Elivia. Terlebih di depanku.” Tegas Zaydan lagi.
Saat itulah Sophia menyadari betapa putranya itu telah hancur. Ternyata hubungannya dengan Elivia sudah berakhir. Dan ia tambah menyesal akan hal itu. Sedikit banyak, itu gara-gara dirinya. Dialah yang sudah menghancurkan hati putra kesayangannya itu.
Setelah bicara begitu, Zaydan langsung meninggalkan ibunya dan pergi ke kamarnya. Sophia hanya ternganga saja melihatnya. Seumur-umur, ia baru melihat ekspresi Zaydan yang sangat sedih seperti itu.
*****
Elivia sedang bersiap-siap untuk pergi ke pesta pernikahan Rina, kakak Luna. Karna tempo hari ia sudah berjanji dan memastikan kalau ia akan datang. Tidak peduli betapa ia sedang merasa hancur saat ini, ia harus tetap berusaha baik-baik saja.
Baru satu hari berlalu, namun rasa sakit itu justru semakin bertambah besar. Jadi Elivia memutuskan untuk menyibukkan diri saja demi mengalihkan fikirannya.
Rencananya hari ini adalah ia akan mengemasi barang-barangnya dan lusa ia sudah bisa pindah ke rumah widya. Ia memang belum tau seperti apa rumah widya, namun ia berharap ia bisa betah disana nantinya.
Elivia berdandan secantik mungkin yang dia bisa untuk pergi ke pesta. Saat mematut dirinya di depan cermin, ia kembali tersadar kalau ia ternyata telah benar-benar kembali ke kehidupannya semula. Gaun yang sudah agak lusuh yang kini melekat di tubuhnya, membuatnya mengingat kembali setiap detik yang ia habiskan di istana. Namun ia segera menepis bayangan itu dan kemudian keluar dari kamarnya.
Ia memilih untuk tetap naik angkutan umum di bandingkan naik taksi. Walaupun ia tau kalau saat-saat seperti ini pastilah bisnya penuh sesak dengan penumpang. Tapi tidak apa, yang penting dia sampai di tempat pesta.
Hampir satu jam juga Elivia baru sampai di sebuah gedung yang menjadi tempat pesta pernikahan Rina. Hal itu karna memang tempatnya jauh dari kosnya. Itu saja ia harus tiga kali berganti rute dulu baru ia sampai.
Elivia mengedarkan pandangannya untuk mencari Luna atau siapapun yang dia kenal di sana. Luna yang melihat kedatangan Elivia segera berlari dan menghampiri temannya itu kemudian mengajaknya masuk ke dalam ruangan.
“Aku sudah menunggumu sejak tadi.” Ujar Luna.
“Maaf, aku terlambat bangun tidur. Hehehehe.” Elivia beralasan.
Elivia dan Luna segera duduk di kursi saat prosesi pernikahan akan di langsungkan. Semua tamu yang hadir nampak antusias menyaksikan momen bahagia tersebut. Setelah itu mereka melakukan sesi foto bersama dengan keluarga dari kedua belah pihak pengantin, beserta teman-teman mereka.
“Kafa?” Elivia terkejut. Tidak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Kafa disini.
“Waah,, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” Tanya Kafa ramah sambil menghampiri Elivia.
“Kabarku baik. Kau sendiri? Apa kau baik-baik saja?” Sebenarnya Elivia merasa agak malu bertemu denga Kafa setelah apa yang terjadi di antara mereka.
“Ya, beginilah. Senang sekali rasanya bisa bertemu denganmu. Apa kau datang bersama Dan? Diaman dia?” Tanya Kafa menanyakan tentang Zaydan.
Elivia hanya memaksa untuk tersenyum. Tidak tau bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Di saat yang bersamaan, pengantin memanggil Elivia dan Kafa untuk di minta foto bersama.
“Mau?” Tawar Kafa.
“Tentu saja.” Jawab Elivia sambil tersenyum dan kemudian berjalan mengikuti Kafa menuju ke pelaminan.
Elivia dan Kafa memutuskan untuk berfoto bersama dengan pengantin. Kafa juga meminta kepada fotogarafer untuk mengambilkan foto dengan ponsel miliknya.
Setelah selesai berfoto bersama dengan pengantin, Elivia dan Kafa turun dan kemudian melanjutkan obrolan mereka.
“Tapi, kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya Elivia penasaran.
“Oh, pengantin pria itu adalah rekan kerjaku. Kau sendiri?”
“Pengantin wanita adalah kakak dari sahabatku. Aku juga sudah mengenal mereka dengan baik. Sudah seperti saudara.” Jelas Elivia.
“Waaahhh,,, aku terlihat sangat tampan di sini.” Ujar Kafa memuji gambar dirinya sendiri yang ada di ponselnya. Kemudian ia menunjukkan ponselnya kepada Elivia.
“Hati-hati. Memuji diri sendiri secara berlebihan itu sangat tidak baik. Itu salah satu penyakit mental.” Seloroh Elivia sambil tertawa. Kemudian mengembalikan ponsel Kafa.
“Tapi bukan hanya kau yang mengakuinya. Banyak sekali yang mengakui ketampananku ini.”
“Ya,, ya,, ya,, terserah kau saja. Asalkan kau senang. Hehehehe”
Saat bersama Kafa, Elivia mampu melupakan masalahnya. Pria itu mampu membawanya ke dunia yang penuh tawa. Ia benar-benar bersyukur punya teman seperti Kafa.
“Bolehkah aku mengunggahnya ke media sosial milikku?” Tanya Kafa.
“Terserah padamu.”
“Apa benar tidak apa-apa? Bagaimana kalau suamimu melihatnya nanti? Memang, kita kan hanya berteman. Dan dia tau itu, aku rasa dia tidak mungkin marah.” Ujar Kafa dengan yakin sambil mengunggah foto itu ke media sosialnya.
Elivia tersenyum getir dan menghela nafas. “Di antara kami, sudah tidak ada hubungan apa-apa. Aku dan Dan, kami sudah berpisah.” Lirih Elivia.
Kafa hanya ternganga saja mendengarnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Elivia. Tapi saat ia melihat ekspresi wajah Elivia yang nampak sedih, itu pasti benar. Entah kenapa ia merasa sakit saat melihat kemurungan di wajah gadis itu. Ia tidak mengalah untuk membiarkan Elivia terluka. Lantas, kenapa mereka bisa berpisah? Ada rasa marah di hatinya kepada Zaydan.