
“Ayo aku antar kau pulang. Sudah sore. Aku harus kembali lagi ke kantor” ajak Zaydan yang langsung bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Elivia.
Pria itu mengambil tas Elivia yang di titipkan di tempat penitipan barang. Kemudian berlalu tanpa menghiraukan gadis itu sama sekali.
“Hei! Tunggu aku!” Pekik Elivia yang berlari kecil mengejar Zaydan.
Elivia nampak pincang karna pergelangan kakinya terasa sakit saat dibawa berlari.
“Kau ini lambat sekali. Jalanmu seperti siput saja.” Seloroh Zaydan sambil menahan tawa.
Elivia yang berjalan di belakang Zaydan mengangkat tangannya dan bersikap seolah ingin menimpuk kepala Zaydan dari belakang. Di lihat dari segi manapun, ia tidak menyukai sikap arogansi pria itu.
“Kau tidak perlu mengantarkanku. Aku bisa pulang sendiri. Kau pergi saja ke kantor.”
“Sudah. Jangan membantah. Atau aku akan mengadukanmu kepada Nenek. Kalau kau yang tidak mau ku antar pulang.”
“Apa kau sedang mengancamku?” Tanya Elivia saat mereka sedang berada di samping mobil Zaydan.
Zaydan membalikkan badannya setelah membukakan pintu mobil untuk Elivia. Ia menatap kepada gadis itu dalam. Pria itu bahkan sampai sedikit membungkuk demi mendekatkan wajahnya ke wajah Elivia. Menimbulkan suasana aneh di sekitar mereka. Elivia sampai tercekat di buatnya.
“Cepat masuk. Atau aku akan menciummu.” Ujar Zaydan lirih dengan mengembangkan senyuman sinis di bibirnya.
Merasa terancam, Elivia bergegas masuk kedalam mobil sambil mendengus. “Dasar gila.”
Zaydan hanya tertawa saja melihat wajah ketakutan Elivia. Ia menutup pintu mobil kemudian berjalan ke sisi kemudi.
Elivia tidak berani melihat kearah Zaydan yang mulai melajukan mobilnya. Ia tetap membuang wajahnya ke sisi jendela. Selalu terngiang tentang ancaman Zaydan untuk menciumnya. Membuat tubuhnya merinding.
Sementara Zaydan hanya bisa mengu lum senyum saja melihat ekspresi gadis yang sedang gemetar itu.
“Tenang saja. Karna kau sudah menurut, aku tidak akan menciummu.” Seloroh Zaydan lagi sambil terkekeh.
Seketika Elivia menoleh kepada Zaydan dengan mengernyit. Ia manatap pria itu tajam.
Setelah sampai di Istana Kecil, Elivia segera turun dari dalam mobil tanpa memberitahu Zaydan. Membuat pria itu semakin terkekeh. Ia semangat melihat wajah Elivia yang berkali-kali merona karna ulahnya.
Elivia terus saja melangkahkan kakinya yang pincang masuk kedalam istana. Ia tidak peduli jika Zaydan tidak mengikutinya. Pria itu langsung pergi lagi ke kantor.
“Nona, anda baik-baik saja?” Tanya Widya, pelayan yang sering membantunya. Gadis itu nampak khawatir melihat kondisi kaki Elivia.
“Aku tidak apa-apa. Hanya terkilir sedikit.” Jawab Elivia.
“Saya akan panggilkan dokter.” Ujar Widya lagi.
“Tidak perlu. Nanti juga sembuh sendiri.” Tolak Elivia.
“Tapi Nona, sepertinya itu terlihat parah.”
“Aku tidak apa-apa. Nanti kalau Nenek tau malah jadi merepotkan. Aku hanya butuh iustirahat, aku lelah sekali.”
“Baiklah, Nona. Aku akan membuatkan minuman hangat untuk anda.” Widya tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa melihat Elivia yang berjalan masuk kedalam kamarnya.
Elivia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia ingin mandi, tapi terlalu malas. Tidak berapa lama kemudian, Widya masuk dengan membawa segelas minuman hangat.
“Terimakasih, Wid.”
“Sama-sama, Nona. Silahkan beristirahat.” Ujar Widya sebelum kembali meninggalkan kamar itu.
Elivia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Kamar seluas ini, tapi tidak pernah memberikan kenyamanan pada dirinya. Tidak ada satupun hal di sini yang membuatnya nyaman.
Ia merogoh sebuah foto yang ia letakkan di bawah bantalnya, memandangi wajah ayah dan ibunya yang sudah mulai memudar. Memeluk foto itu erat seolah sedang memeluk tubuh
kedua orang tuanya. Sampai ia terlelap tanpa sadar.
Karna tidak mendapat tanggapan dari Elivia, Widya menduga kalau Elivia pastilah sudah tertidur di dalam.
“Mana Elivia?” Tanya Ibu Suri.
“Nona Elivia tidak menjawab Yang Mulia. Mungkin dia sudah tertidur.” Jelas Widya lagi.
Ibu Suri nampak kecewa. Karna malam ini dia harus makan sendirian. Rasanya sepi sekali. “Dimana Dan?”
“Yang Mulia Dan sudah kembali lagi ke kantor setelah mengantarkan Nona Elivia.”
Ibu Suri semakin kecewa. Ia jadi tidak berselera makan.
“Simpan saja makanan ini dulu. Nanti saja aku makan.” Ujar Ibu Suri kemudian beranjak dari meja makan dan masuk kedalam kamarnya.
*****
Zaydan masih merasa lucu jika mengingat wajah malu Elivia. Ia berjalan masuk kedalam ruangannya.
Ia terkejut saat udah mendapati Sadila yang sedang duduk di sofa menunggunya. Gadis cantik itu langsung tersenyum saat melihat kedatangan Zaydan.
“Sayang, kau dari mana saja?” Tanya Sadila.
Zaydan berusaha untuk tersenyum kepada kekasihnya itu. Iapun lantas menghampiri dan duduk di samping Sadila.
Seperti biasa, gadis itu langsung bergelayut manja di lengan kekasihnya. Sambil sesekali mendaratkan kecupan manis di pipinya.
“Aku ada urusan diluar tadi. Apa kau sudah lama menungguku?” Tanya Zaydan.
Sadila mengangguk manja. “Aku ingin mengajakmu makan malam.”
“Tapi pekerjaanku masih banyak.” Tolak Zaydan.
“Tapi kan kita sudah lama tidak makan malam bersama. Kau terlalu sibik mengurusi pekerjaan.” Sadila mulai merengek. Ia memasang wajah cemberut agar Zaydan mau menurutinya.
“Baiklah. Sebentar saja, ya. Karna aku harus kembali bekerja.”
Sadila mengangguk dengan perasaan senang. “Oke. Kalau begitu aku ambil tasku dulu di ruanganku.” Ujar Sadila lagi.
Sadila memang sudah bekerja di perusahaan itu. Sophia yang mendesak Zaydan untuk segera mempekerjakannya. Ia ingin membuat mereka berdua lebih dekat. Jadi dia meminta putranya untuk memberikan posisi sebagai manajer pemasaran di sana.
Zaydan dan Sadila pergi ke sebuah restoran yang berada tepat di depan gedung kantornya. Walaupun banyak orang yang melihat mereka, tapi Zaydan merasa biasa saja. Karna hubungannya dengan Sadila sudah di ketahui publik.
“Bagaimana pekerjaanmu?” Tanya Zaydan memecah keheningan. Dia berusaha untuk bersikap biasa saja sehingga tidak membuat Sadila merasa di abaikan.
“Lumayan berat. Tapi aku bisa mengatasinya. Banyak orang yang membantuku.” Jawab Sadila.
“Aku ikut senang mendengarnya.”
“Terimakasih, sayang. Tapi kenapa belakangan ini kau jadi jarang pulang ke rumahku?”
“Maaf, Nenek selalu mengawasiku tanpa henti. Bisa bahaya jika Nenek tau aku pulang kesana. Aku tidak ingin kehilangan perusahaan.”
Zaydan mulai beralasan.
Padahal beberapa hari ini, perhatiannya selalu tertuju kepada Elivia. Tapi ia tidak mungkin memberitahukannya kepada Sadila.
Perlahan ia merasa menjadi pria jahat yang sedang berselingkuh. Menatap pias kepada kekasihnya yang sedang serius menyantap makan malamnya.
Perasaannya kepada Sadila memang tidaklah tulus. Ia hanya berusaha untuk menyenangkan ibunya saja dengan mengencani gadis itu. Karna Sophia sangat menyukai dan menyayangi Sadila. Tapi ia tetap tidak tega jika harus menyakiti gadis itu.
Zaydan di ambang kebimbangan.