
Setelah melihat Widya menghilang bersama dengan bis yang ia tumpangi, Elivia kemudian beranjak pergi ke istana. Ia sudah memantapkan diri untuk berbicara kepada ibu suri.
Rintik hujan membuat Elivia bergegas melangkahkan kakinya masuk ke dalam istana. Sesampainya didalam, hal pertama yang ia lakukan adalah bertanya tentang keberadaan ibu suri kepada salah satu pelayan yang ditemuinya. Pelayan itu memberitahu kalau ibu suri ada di ruang santainya.
Elivia berniat untuk berganti pakaian dulu sebelum bertemu dengan ibu suri. Jadilah ia naik kekamarnya dengan menggunakan tangga.
Sesampainya di dalam kamarnya, ia sangat terkejut dengan keberadaan Sophia yang nampak sedang menelisik barang-barang pribadinya.
“Apa yang anda lakukan disini, Nyonya?” Tanyanya.
Sophia tidak nampak terkejut karna ia memang sedang menunggu kepulangan Elivia. Tadi ia sempat bertanya kepada sekretaris Zaydan yang memberitahunya bahwa Elivia sudah pulang terlebih dahulu.
“Hemmmm. Sepertinya kau sudah mulai merasa nyaman tinggal disini.” Sophia masih memperhatikan deretan pakaian milik Elivia yang bergantung di lemari. “Kau juga sudah mendapatkan hati putraku. Apa karna itu kau sudah mulai berani melawanku? Berani-beraninya kau menunjukkan kemesraan di depanku?”
“Sebenarnya apa yang ingin anda katakan, Nyonya?” Elivia sudah cukup banyak fikiran. Dan ia tidak mau bertengkar lagi dengan Sophia.
Sophia menghentikan menelisik baju-baju milik Elivia. Ia membalikkan badan kemudian berjalan menghampiri Elivia dan mendekatkan wajahnya.
“Segera tinggalkan putraku. Jangan memaksaku mengambil tindakan kekerasan.”
“Sebenarnya kenapa anda sangat membenciku, Nyonya?” Kali ini Elivia sudah tidak bisa menahan diri. Jadi ia mulai meninggikan suaranya.
Dan rupanya itu berhasil membuat Sophia berang bukan kepalang. “Karna kau mengingatkanku dengan diriku yang dulu! Sikap dan wajah polosmu itu sangat mirip dengan diriku yang sangat ku benci. Mencintai pria yang sudah punya pemilik!” Pekik Sophia dengan emosi. Ia melotot kepada Elivia.
“Kalau saya mengingatkan anda dengan diri anda, bukankah seharusnya anda lebih simpati kepada saya? Kenapa anda malah membenci saya dengan alasan konyol seperti itu?”
“Kau sudah berani melawanku?!” Pekik Sophia. “Gadis miskin sepertimu tidak berhak untuk melawanku! Kau itu tidak punya harga diri! Gadis murahan!” Sophia semakin meninggikan suaranya.
“Anda bilang saya sama seperti anda? Kalau anda menganggap saya murahan. Berarti anda sama murahannya dengan saya!” Elivia sudah tidak mau kalah. Ia benar-benar sudah lelah
Tangan Sophia sudah terangkat tinggi dan hampir mendarat di pipi Elivia. Namun gadis itu segera menangkisnya. Sudah cukup sekali dulu Sophia menampar dirinya dan tidak ada kesempatan untuk ke dua kalinya. Tidak untuk kali ini saat ia juga sedang terbakar emosi.
Fikiran Elivia sudah kalap. Ia sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya sopan santun. Ia sudah lupa kalau wanita yang sedang di hadapinya itu adalah seorang selir kerajaan. Terlebih dia adalah ibu kandung dari Zaydan.
Kini giliran Elivia yang sudah mengangkat tangannya dan hendak melayangkannya ke pada Sophia. Ia ingin membalas perkataan dari wanita itu yang sangat merendahkan dirinya itu untuk membuat pelajaran.
Tidak usah peduli masalah sopan santun. Kalau hatinya di sakiti, maka Elivia harus membalasnya dengan telak.
“Apa yang sedang kau lakukan?!!!!!” Terdengar sebuah teriakan yang berasal dari Zaydan.
Pria itu baru saja pulang dari kantor dan mendapati Elivia yang hendak menampar ibunya. Pemandangan itu membuat Zaydan emosi bukan main. Tidak ada yang boleh menampar ibunya. Siapapun itu.
Zaydan berjalan dengan tatapan marah kepada Elivia. “Apa yang ingin kau lakukan pada mamaku?” Tanya Zaydan dengan masih dengan nada kemarahan.
“Apa kau ingin menyakiti mamaku? Wanita yang paling kusayangi dan ku hormati? Beraninya kau Elivia?” Nada suara Zaydan berubah menjadi berat.
“Aku hanya...” Ingin sekali rasanya Elivia membela dirinya. Ingin sekali rasanya ia mengatakan kepada Zaydan kalau ibunyalah yang terlebih dahulu membuat gara-gara. Namun entah kenapa bibirnya seolah terkunci. Ia bahkan tidak bisa mengeluarkan kalimat selanjutnya. Ia hanya menatap Zaydan dengan perasaan takut, terkejut, dan juga sedih.
“Cepat pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi.” Ujar Zaydan kemudian. Dengan nada bicara berat namun terdengar sangat menyakitkan.
Sakit sekali perasaan Elivia saat mendengar kata-kata itu. Apalagi cara pria itu mengucapkannya tanpa menoleh kepadanya. Hati Elivia serasa sedang di tusuk oleh besi panas dan tajam. Menghujam seluruh keberaniannya dan menghancurkan hatinya sampai berkeping-keping.
Elivia tidak masalah jika Zaydan yang memang sangat menyayangi ibunya itu membela matian-matian wanita yang sudah melahirkannya itu. Namun apakah tidak sebaiknya ia mendengarkan dulu penjelasan Elivia? Bukan malah menghakimi dengan sepotong penglihatan dan langsung mengusir Elivia begitu saja.
Dengan marah Elivia langsung meninggalkan Zaydan dan langsung pergi untuk mengemas pakaian miliknya. Ia mengemas semua yang pernah ia bawa dan meninggalkan semua pemberian yang pernah ia terima.
Sambil berjalan melewati Zaydan, Elivia sempat melirik kepada Sophia yang nampak tersenyum dengan penuh kemenangan.
Hati Elivia terasa lebih sakit saat pria itu bahkan tidak mau melihat ke arahnya. Padahal Elivia berharap kalau Zaydan akan meminta maaf atau setidaknya akan menatapnya dengan tatapan penyesalan. Tapi ternyata pria itu hanya membuang pandangannya ke tempat lain dan malah mengacuhkan Elivia.
Sebenarnya hati Zaydan juga sedang sakit luar biasa. Ia memang mencintai Elivia, namun ia tidak bisa melihat ibunya di perlakukan kasar seperti itu. Hanya dia yang tau seberapa besar perjuangan ibunya hanya untuk mendapatkan pengakuan dari keluarga kerajaan. Hanya ia yang tau betapa ibunya tidak pernah merasa bahagia bahkan setelah tinggal di istana.
Sophia sudah kenyang dengan yang namanya makian dan hinaan. Dipandang rendah oleh orang lain hanya karna statusnya yang merupakan seorang selir raja. Tapi Sophia menahan semua itu demi putranya semata. Zaydan adalah kekuatannya.
Sudah telalu banyak rasa sakit yang diterima oleh Sophia. Maka dari itu Zaydan tidak pernah membantah dan sangat menyayangi sang ibu. Walaupun ia tau kalau terkadang ia dan ibunya berbeda pendapat.
Di luar memang Sophia nampak seperti seorang wanita tangguh dengan penampilan elegannya. Namun hati wanita itu sudah terkoyak dan tidak utuh lagi. Maka dari itu ia ingin putranya mendapatkan seorang istri yang tidak hanya cerdas, namun mampu membantu Zaydan dalam segala urusan. Bukan sepertinya dahulu yang terlalu pasrah dengan keadaan yang mengatas namakan cinta.
“Terimakasih, nak.” Ucap Sophia memeluk tubuh putranya dengan sangat erat. Ia bangga karna merasa sudah berhasil membesarkan Zaydan dengan sangat baik sehingga pria itu tau siapa yang harus ia bela.
“Maukah mama meninggalkanku? Aku harus mandi.” Pinta Zaydan beralasan.
“Iya, baiklah. Segera bersihkan tubuhmu.”
Kemudian Sophia keluar dari kamar Zaydan. Meninggalkan putranya yang sedang merasakan kehancuran itu sendirian di dalam kamar.
*****
gessss,, maaf hari ini cuma bisa up satu episode dulu yaaaa. mak mau ke kebon duulu..
haaaaaaaa.
lope,,lope,,lopee sekebon kopi buat kalian.