DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Dan, Love Me or Hate Me.



Sejak kejadian pelemparan gelas yang mengakibatkan Elivia terluka dan harus di larikan ke rumah sakit. Pihak kerajaan memerintahkan untuk menangkap Sadila atas tuduhan penyerangan hingga melukai anggota keluarga kerajaan.


Dan tentu saja hal itu menjadi kabar terhangat yang memenuhi jagat media masa dan media maya. Semua orang semakin mencemooh Sadila. Dan tidak sedikit pula yang membenci dan menyayangkan sikap kecemburuannya itu.


Hal itu tidak terlepas dari pengaruh Zaydan. Karna dia sudah berjanji untuk membalas perbuatan Sadila pada istrinya.


Sementara Elivia masih sibuk menerima ucapan selamat atas kehamilannya. Dia masih berada di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya.


Rencana untuk membuat kejutan kepada Zaydan akhirnya gagal total saat kemarin dokter memberitahu kehamilannya kepada Zaydan. Tentu saja pria itu langsung berjingkrak-jingkrak sangking bahagianya. Ia bahkan rela bolos kerja demi menemani sang istri di rumah sakit.


Halaman rumah sakit dan istana kecil di penuhi oleh karangan bunga ucapan selamat atas kehamilan Elivia. Berbagai hadiah berdatangan bahkan sampai hampir memenuhi ruang VIP itu. Membuat Zaydan terpaksa meminta Lucas untuk mengangkut semua hadiah-hadiah itu menggunakan mobil box dan memindahkannya ke istana kecil.


Elivia sempat terharu sampai meneteskan airmata beberapa kali. Baru pertama ini dia mendapat perhatian luar biasa dari orang lain. Dan itu sangat mengharukan.


“Kak, berhentilah menangis. Seharusnya kakak bahagia. Kenapa malah menangis?” Protes Arina yang duduk di sofa di samping Elivia.


“Aku sangat terharu mendapat perhatian sebesar ini.” Lirih Elivia sambil menyeka air matanya menggunakan tisu.


Arina hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat kakaknya yang berubah menjadi cengeng hanya karna mendapat seidkit perhatian.


“Astaga, kak Dan, bisakah kau membuat istrimu ini berhenti menangis?” Akhirnya Arina mengalihkan protesnya kepada Zaydan yang hanya terkekeh saja menanggapinya.


Pria itu terus menyuapkan potongan buah kepada istrinya sambil sesekali mengelus kepala Elivia.


“Arin, kemarin dokter mengatakan padaku, kalau kondisimu sudah jauh lebih baik. Kalau sudah sembuh total, pulang dan tinggalah bersama kami di istana.” Tawar Zaydan.


Hal itu ternyata mampu menghentikan lelehan airmata Elivia. Ia bergantian memandangi Zaydan kemudian Arina. Ia sangat setuju dengan ide Zaydan meminta Arina untuk tinggal di istana bersama mereka.


Arina hanya tersenyum kemudian menggeleng. Ia meraih potongan buah dari piring yang ada di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


“Tidak, aku tidak ingin mengganggu keromantisan kalian berdua.” Seloroh Arina kemudian.


“Istana itu besar sekali. Kau tidak akan punya peluang untuk mengganggu kami. Hehehehe.” Jawab Zaydan.


“Iya, Arin. Aku setuju.” Timpal Elivia.


“Tidak kak, bukankah harus ada yang menjaga rumah pemberian nenek? Kalian tidak usah khawatir. Aku akan menemukan kebahagiaanku sendiri. Jadi kalian fokus saja untuk membesarkan keponakanku nanti.”


Apa yang di katakan Arina ada benarnya. Kalau Arina tinggal di istana, maka tidak akan ada yang menjaga dan mengurus rumah pemberian ibu suri itu. Bagi Elivia dan Arina, rumah itu adalah hal paling berharga yang harus di jaga sebaik-baiknya.


“Kau yakin tidak apa-apa?” Elivia masih ragu dengan keadaan adiknya itu.


“Aku tidak apa-apa. Berhentilah mengurusiku, sudah saatnya aku mandiri. Hehehehe.”


“Anak pintar, aku bangga padamu.” Lirih Elivia kemudian memeluk adiknya itu.


“Baiklah, aku akan kembali ke kamarku. Kakak istirahatlah.” Pamit Arina yang kemudian berdiri dan berjalan pelan keluar dari kamar Elivia.


Elivia hanya memandang angin kosong ke arah pintu bahkan setelah pintu itu tertutup. Entah kenapa hatinya sedikit berat jika harus membiarkan Arina tinggal sendirian di rumah itu.


“Tidak apa-apa. Yakinlah pada Arina.” Hibur Zaydan sambil menyodorkan potongan buah ke mulut istrinya.


“Arina sudah dewasa, dan normal. Dia berhak menentukan apa yang ingin dia lakukan. Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Aku akan membantumu untuk menjaganya.”


Elivia menatap pias kepada suaminya. Ia tersenyum penuh arti kemudian mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup bibir Zaydan. Ciuman singkat itu mampu membuat Zaydan terhenyak dan kemudian tersenyum. Ia seperti mendapat kode untuk melanjutkan aksi itu.


“Stop!” Tolak Elivia dengan mengangkat tangannya untuk menghentikan Zaydan melanjutkan niatnya.


“Ah, kenapa? Kau yang memancingku.”


“Kalau setiap aku menciummu dan kau akan melahapku, aku tidak akan mau menciummu lagi.” Ancam Elivia.


“Kok begitu?” Protes Zaydan tidak terima.


“Sayang, kau harus memikirkan dia.” Lirih Elivia menunjuk ke arah perutnya.


“Hehehehee. Baiklah. Aku mengerti.”


Zaydan tidak jadi melanjtukan aksinya dan malah mengelus-elus perut istrinya. Ia sedang terserang penyakit bahagia luar biasa yang tak terkira.


“Jadi, apa yang akan terjadi dengan Sadila?”  Tanya Elivia penasaran. Jujur, ada sedikit rasa kasihan kepada wanita itu.


“Apa lagi, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan penajra adalah tempat yang paling pas untuknya merungkan kesalahannya.”


“Aku fikir tidak harus seperti itu, sayang. Sedikit banyak aku bisa memahami rasa sakitnya. Wajar saja jika dia menyimpan kebencian padaku.”


“Sampai kapan kau akan mengasihani orang yang sudah meluakimu?” Zaydan jadi tidak sabar melihatnya.


“Bukan begitu, aku hanya ingin.....”


“Sudah, tidak perlu lagi di bahas. Aku sudah muak mendengar namanya. Sudah ku bilang aku tidak akan membairkan siapapun menyakitimu. Tanpa terkecuali. Bahkan jika aku tidak sengaja menyakitimu, aku akan menghukum diriku sendiri untuk itu.” Tegas Zaydan.


“Benarkah?”  Goda Elivia tidak percaya gombalan itu.


“Kau tidak percaya? Kita lihat saja nanti. Aku akan membuktikannya jika aku benar-benar lalai dan menyakitimu.”


Elivia tersenyum dengan sangat manis. Kini, seolah kebahagiaannya sedang berkumpul di dalam hatinya.


“Yang Mulia Pangeran Zaydan, aku pernah berkata kalau aku memilih untuk membencimu. Maafkan aku karna sudah mengatakan hal seperti itu. Tapi kali ini pilihanku berbeda. Aku akan mencintaimu sampai maut memisahkan kita. Aku akan menjamin kalau perasaan ini akan terus tumbuh dan terjaga dengan baik.” Lirih Elivia dengan mimik wajah serius dengan di hiasi oleh seutas senyuman tulus.


“Tidak, bahkan kalau maut datang, aku yang akan tetap mencintaimu walaupun aku berada di alam lain. Aku yang akan menjaga cinta kita. Aku akan membuat keluarga kecil kita bahagia. Aku akan membuatmu dan anak-anak kita mendapat cinta paling sempurna. Terimakasih sudah hadir dan bersedia menerima perasaanku, Elivia. Aku sangat mencintaimu.” Ujar Zaydan sambil mengelus puncak kepala istrinya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.


“Terimakasih juga untukmu, suamiku. Aku akan membantumu untuk menjaga keluarga kecil kita dengan seluruh perasaan cintaku. Aku juga mencintaimu, Dan.”


Keduanya saling terlarut dalam kebahagiaan yang tak terkira. Berkali-kali Zaydan mengelus-elus perut istrinya. Ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan buah hati mereka.


Kisah mereka berakhir dengan baik. Walaupun di warnai intrik perebutan hati, namun pada akhrinya Elivialah yang menjadi pemenang dan pemilik cinta seorang Zaydan. Mereka menyadari, kalau mungkin saja kedepannya akan ada sedikit banyak hal yang mengguncang rumah tangga dan cinta mereka, namun mereka sama-sama berkomitmen untuk tetap saling terbuka dan menyelesaikan segala masalah dengan cara yang baik.


Semoga mereka bisa menjaga komitmen itu sampai maut menjemput.


...^TAMAT^...