
Elivia terpaku menatap dada bidang yang sedang terhampar di hadapannya. Tidak dipungkiri hatinya sempat berdesir sesaat. Ia bahkan sempat menelan salivanya. Apalagi saat Zaydan berjalan mendekatinya, pesona pria itu bertambah berkali-kali lipat.
Pria itu tau kalau Elivia sedang berperang melawan batinnya. Maka dari itu dia sengaja menggodanya.
“Kenapa? Apa sekarang aku terlihat menggoda?” Zaydan bermain mata kepada Elivia.
Elivia hanya menghela nafas saja. Ia menyentuh dada bidang itu. Merabanya perlahan demi menikmati halusnya kulit Zaydan. Ia terus meraba sampai menghentikan tangannya di satu titik.
“Au!” Pekik Zaydan sambil memegangi put ing payu daranya yang baru saja kena cubit oleh Elivia.
“Kau belum semenggoda itu karna kau masih belum menjadi milikku seutuhnya.” Seloroh Elivia sambil menyerahkan pakaian kepada Zaydan.
Sementara pria itu nampak tidak percaya dengan kekerasan fisik yang baru saja ia terima. Seumur-umur, tidak ada yang berani melakukan hal itu padanya. Ia ingin membalas Elivia, tapi keberaniannya sudah menghilang entah kemana bahkan saat ia masih memikirkannnya.
Elivia memilih untuk mengganti pakaiannya di kamar mandi yang ada di samping kamar mereka. Karna tidak mungkin ia membuka pakaiannya saat ada Zaydan di dalam sana.
Setelah ia kembali, ternyata Zaydan sudah bersiap untuk tidur dengan membalut seluruh tubuhnya dengan selimut. Mungkin pria itu sedang kedinginan.
“Buahahahahahahahahahah!!!” Zaydan tidak bisa berhenti tertawa saat melihat penampilan Elivia yang memakai pakaian milik ibu pemilik mpenginapan. Pakaian khas orang tua yang bahkan terlihat kebesaran di tubuh gadis itu.
“Jangan mengejekku.” Dengus Elivia yang jadi kesal karna di tertawai.
“Tapi kau terlihat sangat lucu.”
Elivia merengut. Ia setengah malu karna Zaydan terus saja mentertawainya. Lantas iapun berbalik dan berniat keluar dari kamar itu. “Aku akan menyewa kamar lain. Kau tidurlah sendiri.” Dengusnya kemudian.
Mendapat ancaman itu, seketika Zaydan melompat dari tempat tidur untuk menghentikan Elivia. “Jangan!”
“Buahahahahahahaahaha!!!” Kini gantian Elivia yang tidak bisa menahan tawa karna melihat penampilan dari Zaydan. Pria itu sudah persis seperti bapak pemilik penginapan. Hanya saja wajahnya yang masih terlihat mulus. Pantas saja sejak tadi Zaydan selalu membungkus tubuhnya dengan selimut. Ternyata dia sedang menyembunyikan penampilan versi muda dari bapak pemilik penginapan.
Zaydan mati kutu. Ia sudah kalah malu. Karna tidak punya pilihan lain, Zaydan malah menarik Elivia ke arah ranjang. Kemudian menutupi tubuh mereka dengan selimut sampai mereka terlelap.
Saat terbangun di pagi hari, ternyata badai sudah berhenti. Matahari sudah bersinar dengan cerah. Cahayanya menembus melewati celah-celah jendela. Ia meraba Elivia yang ternyata sudah tidak ada di sampingnya.
Perlahan Zaydan bangun dan mencari Elivia. Gadis itu tidak ada di kamar. Lantas ia beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar itu. Ia mencari-cari Elivia hingga menemukan gadis itu yang sedang mengobrol dengan ibu pemilik. Keduanya terlihat sangat akrab walaupun dengan bahasa inggris yang terbatas.
“Oh, kau sudah bangun?” Sapa Elivia.
“Hmm. Ku fikir kau kemana.”
“Kami sedang mengobrol, walaupun banyak bahasanya yang aku tidak mengerti.”
“Aku akan ke kota untuk membeli pakaian. Apa kau mau ikut?”
Elivia berfikir sebentar. Kemudian ia melihat pakaian yang ia kenakan lalu menggeleng.
“Bisakah kau belikan pakaian untukku? Aku tidak akan ikut denganmu. Aku akan menemani ibu pemilik untuk memanen kerang di pantai.”
“Tapi aku berencana untuk langsung pergi ke peternakan setelah membeli baju.”
“Tidak apa-apa. Kau bisa pergi kesana. Jangan fikirkan aku. Aku akan bersenang-senang di pantai.” Janji Elivia.
“Baiklah. Segera hubungi aku kalau terjadi sesuatu.”
“Hm. Memangnya apa yang bisa terjadi padaku?”
“Sssppppp!”
“Baiklah, baiklah. Aku janji.”
Zaydan berangkat setelah mereka memakan sarapan yang sudah di persiapkan oleh pemilik penginapan. Sedangkan Elivia ikut mereka ke pantai untuk memanen kerang setelah hari sudah beranjak siang dan air laut sudah surut.
Kerang yang akan mereka cari adalah jenis kerang bambu dan kerang-kerang lainnya. Itu adalah usaha sampingan pemilik penginapan.
Ibu pemilik penginapan mengajak Elivia untuk menjajaki lumpur dimana disana terdapat banyak jenis kerang yang akan mereka panen.
Awalnya Elivia merasa geli walaupun ia sudah mengenakan sepatu khusus yang di pinjamkan oleh ibu pemilik penginapan. Bagaimana tidak, saat ia semakin berjalan ke arah pantai, kakinya semakin tenggelam sampai hampir
sebatas lutut. Membuatnya sulit bergerak.
Tapi ia terus mengikuti ibu pemilik penginapan. Ia hanya memperhatikan saja saat ibu itu menaburkan semacam bubuk putih ke permukaan lumpur dan menunggu beberapa saat sampai kerang-kerang itu muncul ke permukaan satu persatu hingga lama-lama menjadi banyak.
Elivia segera membantu ibu pemilik untuk mengambil kerang itu dan memasukkannya ke dalam wadah. Rasanya sungguh menyenangkan luar biasa. Akan lebih luar biasa lagi jika Zaydan bisa merasakan sensasi itu bersamanya.
Sayang pria itu sedang pergi ke peternakan.
“Sudah berapa lama kalian menikah?” Tanya ibu pemilik penginapan dengan bahasa inggris seadanya.
Elivia berfikir sejenak untuk menghitung. Kemudian ia menunjukkan empat jarinya. “Emm, four months.” Maklumlah. Bahasa inggris Elivia memang terbatas. Berbeda dengan Zaydan yang menguasai berbagai bahasa sehingga ia merasa nyaman mengobrol dengan menggunakan bahasa lokal.
Ibu pemilik mengangguk-angguk. “Children, children?”
Elivia mengerti maksudnya. Ia menggeleng yang berarti mereka belum punya anak.
“Ooo... You must, eee, hurry. Dont, eee, like me. Me and, eee husband.” Ibu pemilik menunjuk suaminya yang berada tak jauh dari mereka. “Children.” Ibu pemilik kembali melambai-lambaikan tangan.
Lagi-lagi Elivia mengerti maksudnya. Mungkin maksud ibu pemilik adalah bahwa mereka tidak mempunyai anak.
“Yes,, yes. Oke.” Jawab Elivia kemudian sambil membuat simbol ‘oke’ dengan jarinya.
Tidak peduli kalau mereka menjadi perhatian oleh bapak pemilik penginapan. Pria paruh baya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja melihat dua wanita berbeda generasi itu yang asyik mengobrol dengan bahasa yang terbatas. Tapi anehnya mereka nyambung-nyambung saja.
Beberapa orang yang juga sedang mencari kerang juga sesekali memperhatikan keduanya. Melirik aneh kepada Elivia yang memang sangat menonjolkan dirinya kalau dia adalah orang asing. Beberapa dari mereka mengerutkan kening saat mendengar Elivia dan ibu pemilik tertawa. Entah mereka sedang menertawakan apa dengan bahasa yang amburadul seperti itu.
Hampir dua jam mereka berkutat di lumpur sampai ibu pemilik mengajaknya keluar dan menyudahi pekerjaan mereka. Wadah yang Elivia bawa sudah hampir penuh. Dengan susah payah dia berjalan kembali ke tepian dengan menjinjing wadah di tangannya. Ditambah dengan sulitnya berjalan di lumpur yang membuat ia berkali-kali terjerembab sampai membuat tubuhnya kotor dengan lumpur.
Dan betapa senangnya ia saat melihat Zaydan berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti di ujung pantai.
“Dan!” Panggilnya sambil melambai-lambaikan tangan. Ia tersenyum senang menyambut kedatangan pria itu. Tapi seketika senyumnya sirna saat melihat seorang wanita anggun yang sedang berdiri di belakang Zaydan.
“Sadila?”