DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Bertemu Suna.



Elivia sedang serius memperhatikan Zaydan yang sedang mengupaskan cangkang kepiting untuknya. Ia menopang dagunya dengan telapak tangan.


“Sebenarnya siapa yang darah biru disini?” Seloroh Elivia.


“Siapa yang darah biru? Bukankah darah itu warnanya merah.”


Jawab Zaydan dengan santai. Ia terus fokus untuk mengeluarkan daging dari capit kepiting yang besar itu. Setelah berhasil mengeluarkannya, ia segera menaruhnya di piring Elivia.


“Terimakasih. Aku merasa sangat terhormat. Mungkin aku menjadi satu-satunya wanita yang dikupaskan kepiting oleh pangeran Zaydan.”


“Tentu saja. Kau tidak perlu meragukan itu. Cepat makan. Isi perutmu biar tenagamu kembali pulih.”


Elivia memakan pemberian Zaydan dengan tersenyum. Ada rasa bahagia saat dirinya diperlakukan seperti itu oleh Zaydan. Perasaan hangat yang mengalir di setiap detak jantungnya.


Zaydan tidak makan. Ia hanya memperhatikan Elivia yang sedang menyantap makanannya dengan lahap. Ia tidak menyangka jika melihat Elivia makan saja ia sudah senang bukan main.


“Kenapa tidak makan?” Tanya Elivia.


“Tidak. Aku masih kenyang. Kau habiskan saja.” Zawab Zaydan lagi.


“Baiklah. Aku benar-benar akan menghabiskannya, ya?” Ancam Elivia.


“Kalau masih kurang aku bisa memesankannya lagi untukmu.”


“Tidak. Jangan. Ini saja aku bingung bagaimana cara menghabiskannya.”


“Hahahahahahaha.” Zaydan tertawa puas sekali.


Selesai makan, keduanya langsung pergi lagi menuju ke peternakan.


Peternakan yang mereka tuju terdapat di sebuah bukit yang lumayan jauh dari kota di pulau itu. Mereka harus menapaki jalanan tanah yang hanya bisa di lewati oleh satu mobil saja.


Dan setelah sekitar tiga puluh menit berkendara, sampailah mereka di bukit savana yang terbentang dari ujung ke ujung. Disana, hanya ada pemandangan rumput hijau sejauh mata memandang dan juga terdapat beberapa kuda yang sengaja di lepaskan untuk mencari makan sendiri.


Zaydan menghentikan mobilnya di sebuah rumah kayu khas pedesaan tapi nampak luas dan mewah. Disana juga terdapat beberapa kandang yang di isi oleh kuda-kuda lain. Ia mengajak Elivia untuk turun dari mobil.


Salah satu pekerja disana memberitahu Zaydan kalau pemilik peternakan sedang ada tamu di rumahnya. Tapi Zaydan bersikeras untuk menemui pemilik peternakan.


Elivia tau kalau sebaiknya ia tidak ikut masuk kedalam. Disana juga ia tidak bisa membantu Zaydan. Jadi ia memilih untuk berkeliling dan melihat-lihat saja.


Zaydan mengijinkannnya dengan syarat agar Elivia tidak pergi terlalu jauh. Karna ia takut jika nanti Elivia tersesat di sana.


Elivia berkeliling untuk melihat pemandangan. Tidak lupa ia mengambil foto dengan ponselnya dengan latar beberapa kuda yang sedang memakan rumput di belakangnya. Ia berdiri di pagar yang membatasi savana dan pekarangan rumah.


Pandangannya teralihkan kepada seorang gadis remaja yang sedang berlatih menunggangi kudanya di sebuah lapangan berpagar. Gadis itu nampak lincah mengendalikan kuda untuk melompati berbagai rintangan yang sudah


di siapkan. Elivia sampai terkesan di buatnya.


Gadisi itu melihat keberadaan Elivia. Ia kemudian turun dari kudanya dan berjalan menghampiri Elivia yang berdiri di luar pagar.


“Siapa kau?” Nada bicara gadis itu terdengar kurang ramah.


“Aku? Elivia.” Jawab Elivia sambil mengulurkan tangan. Gadis itu menyambutnya dengan malas.


“Apa kau datang karna ingin membeli peternakan kami?”


“Ya, bisa dibilang begitu.”


“Tapi kau tidak terlihat seperti orang kaya.”


“Bukan aku yang ingin membelinya. Tapi orang lain. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Kau terlihat lebih muda dari adikku.”


“Namaku Suna.”


“Halo Suna, senang berkenalan denganmu.”


Pembawaan Elivia yang ramah ternyata mampu mengetuk gadis itu. Mereka dengan cepat bisa mengakrabkan diri. Bahkan Suna mengajak Elivia untuk berjalan-jalan di kandang yang dipenuhi oleh kuda-kuda.


“Banyak sekali kuda-kudamu.”


“Sebagian dari mereka sudah punya pemilik. Mereka hanya di titipkan disini untuk kami rawat.”


Elivia mengangguk-angguk mendengar penjelasan Suna. “Pasti tidak


“Tidak juga. Ada banyak pekerja yang membantu kami.”


Elivia berjalan mendekati salah satu kandang yang kudanya menyembulkan kepalanya keluar. Ia segera mengulurkan tangan untuk menyentuh kuda itu. Kuda berwarna coklat yang terlihat tinggi dan gagah.


“Hati-hati. Dia tidak suka di sentuh oleh orang asing yang tidak pernah di lihatnya.” Pekik Suna.


Elivia tidak jadi menyentuh kuda itu. Ia takut jika kuda itu jadi marah karna ia menyentuhnya.


Tapi rasa penasarannya terlalu tinggi. Ia menarik nafas dalam dan kembali menjulurkan tangannya dengan hati-hati. Kuda itu nampak tenang sejauh ini. Bahkan saat Elivia berhasil mendaratkan telapak tangannya di kepala kuda itu, kuda itu diam saja.


Suna sangat heran melihatnya. Jarang sekali ada orang yang bisa memegang max. Apalagi orang asing seperti Elivia.


“Apa itu? Max? Kau tidak takut dengannya? Tidak mungkin.” Pekik Suna heran.


“Mungkin dia tau kalau aku tidak mungkin menyakitinya.”


“Tidak ada orang yang ingin menyakitinya. Hahahaa. Ini luar biasa.”


Elivia terus menikmati mengelus max, si kuda pemarah. Sepertinya kuda itu tidak takut dengannya.


“Bagaimana? Kau mau menungganginya?” Tawar Suna.


“Hah? Menungganginya? Tidak, tidak. Aku tidak bisa menunggangi kuda.”


“Kenapa? Ayolah. Coba saja. Aku akan mengajarimu caranya. Mudah sekali.” Ujar Suna terdengar sangat meyakinkan.


Entahlah, Elivia tidak yakin kalau ia bisa menunggangi kuda setelah mendengar pengarahan dari Suna. “Tidak, aku tidak berani. Nanti kalau aku jatuh, bagaimana?”


“Apa? Kau takut jatuh? Jatuh itu biasa untuk orang yang sedang belajar. Khususnya belajar menunggangi kuda. Kalau kau takut terjatuh, sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menemukan hal yang menarik. Sensasi berada di punggung kuda itu sangat menakjubkan. Kau harus mencobanya.”


“Tidak. Aku tidak berani.”


Suna nampak sedikit kecewa dengan penolakan Elivia. Padahal ia sudah bersiap untuk menjadi guru yang hebat untuk Elivia.


“Ternyata kau penakut. Padahal max sudah menyukaimu. Banyak sekali orang yang ingin menunggangi max tapi dia tidak mau.”


“Kau mau menungganginya?” Suara Zaydan mengejutkan Elivia dan Suna.


“Oh, kau datang?”


“Siapa dia?” Tanya Suna.


“Dia...”


“Aku suaminya.” Zaydan berkata sambil berjalan mendekati Elivia.


“Ah, jadi kau sudah menikah?”


“Kenapa? Apa kau ingin menunggangi kuda?” Tawar Zaydan.


“Tidak. Aku tidak bisa. Aku takut terjatuh.” Jawab Elivia.


“Siapa namanya?” Tanya Zaydan sambil ikut mengelus kepala max.


“Max. Dia sangat menyukai istrimu.”


“Boleh aku meminjamnya?” Ujar Zaydan kemudian membuat Elivia langsung menoleh kepadanya.


“Silahkan. Kau bisa membawanya jalan-jalan di sana.” Suna menunjuk padang savana yang ada di depan kandang.


“Setuju.”


Suna membukakan pintu kandang max dan mengeluarkan max dari sana.


“Kau serius?” Tanya Elivia meyakinkan.


“Ayo.”


Suna seolah mengerti, ia mengambil pijakan untuk Elivia agar gadis itu bisa naik ke punggung max. Setelah Elivia naik, Zaydan ikut naik di belakangnya. Kemudian mengarahkan max melesat menuju padang savana yang ada di bukit di depan peternakan.