
Masa berkabung di seluruh negeri sudah di cabut setelah tujuh hari meninggalnya ibu suri. Kini semua aktifitas berjalan dengan normal kembali.
Hari ini, Elivia berencana untuk pergi ke hotel setelah beberapa kali di hubungi oleh Widya dan Vanye. Karna sudah satu minggu ini ia sama sekali tidak pernah pergi kesana. Ia masih merasa berat dengan semua pemberian dari mendiang ibu suri dan merasa tidak pantas menerimanya.
Elivia keluar dari rumah dan mengunci pintunya, ia manatap mobil suv berwarna putih yang terparkir di depan rumah sederhananya itu. Sejak Widya sudah tidak tinggal di sana, mobil itu tidak ada yang mengendarainya lagi.
Elivia terus berjalan menuju ke jalan utama dan berhenti di sebuah halte. Ia menunggu bis dengan rute menuju ke hotel JE.
Lima belas menit kemudian, bis yang di tunggu tiba. Elivia segera masuk kedalam dan duduk di bangku yang masih kosong.
Tidak butuh waktu lama bagi bis untuk berhenti di halte yang berada tepat di samping hotel. Karna memang jarak rumah dan hotel tidak terlalu jauh.
Elivia segera turun dari bis dan berjalan ke area hotel. Di depan loby, nampak Sarah dan Vanye yang sedang menunggu kedatangannya. Mereka langsung tersenyum begitu melihat Elivia mendekat.
“Selamat datang, nona.” Sapa Sarah lebih dulu.
“Mari.” Imbuh Vanye.
Entah kenapa rasanya sangat aneh di perlakukan seperti itu oleh mereka berdua. Membuat Elivia tidak nyaman.
Elivia mengikuti Sarah dan Vanye masuk ke dalam ruangan manajer umum kemudian duduk di sofa bersama dengan mereka. Dan saat itulah Elivia baru tau kalau ternyata Vanyelah manajer umum di hotel itu. Sedangkan Sarah merupakan asisten manajernya. Selama ini ia berfikir kalau Sarahlah manajernya.
“Kami akan meminta maaf terlebih dahulu pada anda, nona. Mungkin Widya sudah menjelaskan duduk perkaranya dan anda pasti sudah tau apa masalahnya. Kalau ada yang masih ingin anda ketahui, silahkan anda tanyakan pada saya.” Ujar Vanye yang berubah menjadi sangat sopan kepada Elivia.
Jujur, Elivia merasa ringkuh mendapat perlakuan seperti itu.
“Saya akan mempersilahkan anda untuk mengambil alih posisi sebaagi manajer umum. Setelah anda menyetujuinya, saya akan mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan.”
“Begini, soal itu, bisakah bu Vanye tetap menjadi manajer umum? Saya masih belum bisa dan belum berpengalaman di bidang ini. Saya takut jika malah membuat masalah dan merugikan hotel. Saya akan belajar dulu dari bawah. Saya minta tolong kepada bu Sarah dan bu Vanye, tolong urusi hotel ini.” Pinta Elivia pada akhirnya. Memang dia sudah memikirkannya sejak semalam tentang hal ini.
Sarah dan Vanye saling pandang. Kemudian kembali melihat kepada Elivia.
“Baiklah, nona. Saya fikir juga akan lebih baik seperti itu dulu. Kami akan membantu anda untu mempelajari perihal perhotelan. Jadi anda tidak usah khawatir soal ini.” Ujar Vanye sambil mengangguk.
“Dan.... Bisakah kalian memperlakukanku seperti sebelumnya? Rasanya sangat tidak nyaman.” Ujar Elivia jujur mengungkapkan ketidaknyamanannya.
Vanye menghela nafas perlahan kemudian mengangguk. Ia tidak ingin membuat Elivia merasa tertekan dan tidak nyaman. “Baiklah, Elivia. Kalau itu maumu.”
“Terimakasih banyak, bu.”
Sesampainya di bangsal VIP, seorang perawat yang sudah sangat mengenalnya memberitahu kalau Arina sedang menjalani sesi terapi. Tapi Elivia tetap memilih untuk menunggu di dalam kamar Arina saja sambil membereskan baju-baju adiknya itu.
Saat pintu kamar terbuka, Elivia segera tersenyum untuk menyambut kedatangan Arina. Namun senyuman itu langsung hilang seketika tatkala dia melihat bukan Arina yang datang, melainkan Sophia.
Elivia terkejut bukan main. Ia ternganga demi melihat wanita naggun itu yang terus melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Nampak kecanggungan di antara mereka yang sangat terasa jelas.
Sophia terus berjalan dan langsung duduk di sofa. Sementara Elivia masih saja tercengang. Sakit hatinya saat melihat wanita itu.
“Kenapa anda datang kemari?” Tanya Elivia dengan masih berdiri di depan lemari pakaian dan menatap Sophia tidak suka.
“Duduklah. Aku datang karna ingin berbicara denganmu.” Ucapan Sophia terdengar lembut.
Elivia berjalan dan duduk di sofa di seberang Sophia, ia masih menatap wanita itu dengan tatapan tajamnya. Ia ingin menegaskan kalau ia masih tidak menyukai wanita itu.
“Aku ingin meminta maaf padamu dan adikmu.”
Bahkan setelah mendengar ucapan itu Elivia masih tidak bergeming menatap Sophia dengan tajam.
“Aku menyadari kalau apa yang sudah ku lakukan padamu sudah tidak mungkin bisa di maafkan lagi. Aku tidak ingin beralasan apapun, Elivia. Aku memang tidak menyukaimu. Tapi aku tidak seharusnya begitu jika saja aku tau siapa dirimu yang sebenarnya. Aku sungguh-sungguh meminta maaf. Bukan sebagai ibu mertuamu, tapi sebagai ibu dari seorang anak yang sudah di selamatkan oleh ayah dan ibumu. Seharusnya sudah sejak lama aku menemuimu untuk mengatakan hal ini, namun aku tidak punya keberanian mengingat semua hal buruk yang pernah ku lakukan padamu. Tapi hari ini, aku mengumpulkan semua keberanian itu untuk datang kesini dan meminta maaf dengan tulus padamu.”
Elivia hanya menghela nafas saja. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Sophia.
“Kenapa? Apa anda sudah menyesal sekarang? Setelah anda tau bahwa ayah dan ibukulah yang menyelamatkan putra anda dan megorbankan nyawanya? Apa anda setidak malu itu?”
Sophia hampir saja terpancing emosinya saat mendengar kata-kata tajam yang keluar dari mulut Elivia. Namun ia berusaha untuk menahan diri sekuat mungkin. Ia menyadari kalau ia berada di posisi yang sulit.
“Aku akan menerima kalau kau memang belum bisa memaafkanku, Elivia. Aku yakin kalau suatu saat kau akan melihat ketulusan dari penyesalanku ini.” Lirih Sophia kemudian.
“Pergilah, nyonya. Aku tidak mau adikku melihat anda disini. Aku akan menganggap pembicaraan ini tidak pernah ada. Silahkan pergi.” Usir Elivia dengan tegas.
Sophia tidak punya pilihan selain mengikuti kemauan Elivia untuk pergi dari kamar itu. Walaupun dengan perasaan yang kecewa karna pembicaraannya dengan Elivia ternyata tidak berjalan lancar.
Elivia menatap kosong ke arah pintu setelah Sophia menghilang di baliknya. Entah kenapa ia tidak bisa memaafkan wanita itu. Bukankah sudah sangat terlambat untuk meminta maaf sekarang? Sakit yang di rasakan Elivia bahkan masih bertahan setelah sekian lama ia mendapat penghinaan itu. Tapi dengan mudahnya Sophia ingin dia memaafkannya? Tidak akan semudah itu untuk memaafkan.
Saking emosinya, Elivia bahkan harus berusaha untuk menenangkan diri sendiri saat adiknya masuk kedalam kamar setelah kembali dari ruang terapi.