DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Penakut Rupanya.



Pagi hari setelah sarapan bersama penghuni Istana Besar, Elivia diantar Zaydan pergi bekerja. Padahal sudah berkali-kali Elivia menolaknya, tapi Zaydan tetap bersikeras untuk mengantarnya.


Sepanjang perjalanan Elivia tidak bicara sama sekali. Berkali-kali Zaydan menoleh kearah Elivia yang terus saja menatap keluar jendela. Dalam diam dia menikmati debaran dihatinya.


“Kamu kenapa?” Tanya Zaydan, dia tidak tahan melihat Elivia terdiam seperti itu. Biasanya Elivia sangat cerewet.


“Tidak apa-apa.” Jawab Elivia singkat.


“Apa terjadi sesuatu?”


“Tidak.”


Hufh,,,,,


Zaydan kembali fokus mengemudi. Sesampainya didepan restoran, Elivia segera turun dari mobil dan langsung masuk kedalam restoran.


Ada apa dengannya? fikir Zaydan.


“Pagiii...!!” Sapa Elivia kepada rekan-rekannya.


“Pagii,, sudah datang El?” Tanya Luna.


“Iya,,” kata Elivia kemudian dia berlalu keruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, Elivia pun bergabung dengan rekan-rekannya. Dia berdiri di konter pemesanan seperti biasa.


“El, siapa yang mengantarmu? Kafa? Kok mobilnya lain?” Tanya Luna.


“bukan Kafa.”


“Jadi siapa?” Luna tetap kepo.


“Ada,, seseorang yang kukenal.” Jawab Elivia singkat.


“Hei El,, kamu sudah dengar rumor belum? Di media sosial sedang ramai.”


“Rumor apa?”


“Rumor kalau pangeran Dan diam-diam sudah menikah.”


Deg.!


“Heiii,,, kamu percaya gitu? Kan cuma rumor yang tidak berdasar.”


“Ini bukan tidak berdasar El. Pangeran Dan tertangkap basah oleh paparazi, hampir setiap pagi dia keluar dari apartemen Sadila.!” Kata Luna berapi-api.


Ooohhh,, Sadila,, untunglah. Elivia fikir adalah dirinya. Dia menarik nafas lega dan tersenyum.


“Kenapa senyum-senyum begitu?”


“Ya,, kalaupun rumor itu benar, kufikir mereka adalah pasangan yang cocok.” Ucap Elivia santai.


“Ya,, benar juga sih.”


Hari ini seperti biasa, Elivia melewatinya dengan kesibukan melayani pelanggan. Karna restoran itu berada diarea perkantoran, jadi pasti sibuk di jam-jam makan.


Saat sore hari, shifnya hampir habis. Saat itu pula Ibu Suri menelfonnya.


“Ya, Nek,,??” Sapa Elivia.


“El sayang,, temani Nenek ke bioskop ya,, ada film yang ingin sekali Nenek lihat.” Kata Ibu Suri dari seberang.


Kenapa harus meminta ditemani olehnya? Biasanya kan tinggal telfon dan film yang diinginkan pun akan diputar dibioskop pribadi yang ada di istana kecil.


“Ehmm,,,” Elivia berfikir sejenak.


“Ayolah,, sudah lama Nenek tidak jalan-jalan. Setelah menonton film, Nenek akan membelikanmu pakaian dan tas yang bagus.” Rayu Ibu Suri.


“Bukan begitu Nek. Elivia tidak membutuhkan barang-barang seperti itu.”


“Jadi tidak mau menemani Nenek? Ahhh,, padahal Nenek sedang bosan sekali...”


“Baiklah Nek.. Aku akan menemani Nenek.”


“Benarkah?”


“Iya Nek,,”


“Baiklah kalau begitu, akan kusuruh Arya menjemputmu.”


“Iya Nek...”


Hufh,,, kenapa Elivia tidak pernah bisa menolak permintaan Ibu Suri?


Setelah selesai bekerja, Elivia keluar dari restoran. Di sana sudah ada Arya yang sedang menunggunya. Tanpa dikomando, Elivia segera menghampiri Arya yang langsung membukakan pintu mobil untuknya.


“Beliau sudah menunggu di mall Nona.” Jelas Arya singkat. Selebihnya, hanya keheningan yang menemani mereka sepanjang perjalanan menuju ke mall.


Setelah sampai di tempat parkir yang ada di basement, Elivia keluar dari mobil. Dan Arya memberikan selembar tiket kepada Elivia.


“Nona silahkan masuk lebih dulu. Yang Mulia Ibu Suri mungkin sedang berkeliling. Jadi beliau menyuruh Nona untuk menunggu didalam. Beliau akan menyusul.” Jelas Arya


Elivia mengangguk dan menerima tiket film itu. Kemudian dia pergi kelantai dimana terdapat bioskop.


Sesampainya di sana, Elivia memesan dua buah pop corn dan langsung membawanya masuk kedalam theater. Tidak banyak orang yang menonton. Elivia tidak tau itu film apa. Dia tidak sempat melihat judulnya tadi. Dia mencari tempat duduknya yang kebetulan berada di tengah-tengah.


Tidak ada yang duduk disamping Elivia. Perkiraan Elivia, Ibu Suri pasti sudah membeli satu baris seat itu sehingga tidak ada orang yang duduk disana. Tapi perkiraan Elivia meleset. Satu persatu orang mulai datang dan duduk di kursi di baris itu.


Ada seorang pria dengan mengenakan masker dan topi yang sedang berdiri tepat disamping Elivia. Pria itu memandangi Elivia lama. Merasa risih, Elivia mendongakkan kepalanya dan ingin bertanya kenapa pria itu terus berdiri disana.?


“Oo???!!!!” Elivia sontak menunjuk kerah pria itu. Begitupun dengan Zaydan, dia terkejut kenapa ada Elivia di kursi yang seharusnya diduduki oleh neneknya?


“Wahhhh,,,” Zaydan mendengus. Dia sudah bisa menebak rencana neneknya.


“Kenapa anda disini? Mana nenek?” Zaydan tidak menjawab dan langsung duduk di samping Elivia.


Elivia terus memandangi Zaydan dan meminta jawaban.


“Apa Nenek juga menyuruh Anda untuk datang kesini?” Zaydan hanya mengangguk.


Lampu didalam teatre sudah dimatikan. Pertanda bahwa film akan segera diputar.


“film apa itu?” Tanya Zaydan merasa tidak enak.


“Entah, aku juga tidak tau. Nenek yang membelikan tiketnya.”


Ternyata film yang mereka tonton merupakan film horor. Zaydan sudah panas dingin dibuatnya. Sedangkan Elivia nampak biasa saja. Dia terus mengunyah pop corn dimulutnya. Berbeda dengan Zaydan. Yang sudah berkali-kali berteriak karna terkejut. Pria itu juga selalu bersembunyi dibalik lengan Elivia.


Elivia cekikikan melihat tingkah polah Zaydan. Ternyata dia itu penakut. Orang tidak akan menyangka kalau melihat perawakannya yang macho dan tampan.


“Yang Mulia, jangan berteriak. Malu dengan yang yang lain.” Bisik Elivia.


“Jangan cerewet kamu.! Apa kamu tidak takut?”


“Tidak. Biasa aja sih..”


Terakhir Zaydan berteriak, dia membuat Elivia menumpahkan pop corn yang dipegangnya. Dan itu membuat Elivia geram. Dia merengut sampai film berakhir.


Zaydan nampak sangat lega saat lampu mulai dinyalakan. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Elivia menahan tawanya melihat wajah Zaydan yang memerah karna takut.


“Jangan mentertawaiku.!” Dengus Zaydan saat mereka sudah keluar dari teater.


“Anda lucu, ternyata, seorang Zaydan...”


“Sudah. Hentikan. Jangan mengejekku.! Aku tidak takut. Siapa yang takut.?”


“Lha tadi itu apa? Anda terus bersembunyi dibalik lengan saya sambil mengintip.?”


“Itu,, itu,, aku cuma terkejut dengan suara nya..” Elak Zaydan.


“Ya,, ya,, ya,, baiklah. Aku akan merahasiakan hal ini. Hihihhihi..”


“Kamu ini.!!” Zaydan mulai melotot.


“Hahahahahaha...” Elivia tertawa dan ngeloyor pergi meninggalkan Zaydan yang tidak terima dikatai penakut.


“Hei.!!!” Zaydan menyusul Elivia. “Ayo makan sesuatu.!” Ajak Zaydan.


“Jangan Yang Mulia. Ini tempat umum. Nanti ada orang yang mengenali Anda. Anda tidak ingin menambah rumor kan?”


“Rumor apa?”


“Anda tidak tau? Beberapa hari ini sedang ramai di sosial media tentang pernikahan anda dan Sadila.”


“Oohh, itu,,”


“Apa? Anda sudah tau?”


“Tentu saja tau. Aku bahkan sudah mengeluarkan pernyataan tentang itu. Aku menyangkal semuanya.”


“Kenapa? Bukankah itu yang sangat ingin anda lakukan? Menikahi kekasih anda Sadila?


“Kamu ini.. Apa sebenarnya isi kepalamu itu? Kalau aku tidak menyangkal, media akan terus menggali dan pada akhirnya mereka akan mengetahui tentangmu. Kamu mau itu terjadi?”


“Ooohhh,,,,”


Kenapa si kodok ini peduli denganku? batin Elivia.