
Di perjalanan pulang ke istana kecil, Elivia terus terdiam. Ia sedang memikirkan tentang ucapan Sadila kepadanya. Hal itu membuat Zaydan merasa aneh dengan sikap gadis itu.
“Apa terjadi sesuatu? Apa Sadila mengatakan sesuatu padamu?” Selidik Zaydan.
Elivia hanya menggeleng pelan tanpa menghiraukan Zaydan. Tiba-tiba ia teringat dengan cerita tentang trauma Zaydan yang takut dengan air. Apa itu ada hubungannya dengan ke dua orang tuanya?
Jika memang benar, itu sangat masuk akal. Elivia merinding saat menyambungkan cerita-cerita itu. Dia seperti bisa melihat benang merahnya disini.
Seketika rasa marah dan sedih juga kecewa bergabung menjadi satu. Membuatnya ingin berteriak dan menangis meraung-raung.
Jika benar Zaydan yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal, apa yang harus dia lakukan dengan hal itu. Bagaimana dengan nasip cintanya?
Elivia terus terdiam bahkan saat mereka sampai di istana dan keluar dari mobil. Zaydan sudah mendesak Elivia untuk memberitahunya, tapi gadis itu tetap bungkam dan tidak mau menjawab.
Setelah masuk kedalam istana, sekilas Elivia melihat bayangan Ibu Suri yang berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dengan segera Elivia mengikuti Ibu Suri dan meminta ijin untuk masuk.
“Nek, boleh aku masuk?” Tawar Elivia.
“Oh, El. Masuklah.” Ujar Ibu Suri mempersilahkan. Ia tidak jadi mengganti pakaiannya dan kemudian duduk di sofa di kamarnya.
Elivia masuk dan berjalan mendekati Ibu Suri. Namun ia tidak duduk dan hanya berdiri saja di hadapan Ibu Suri. Ia sedang menyiapkan keberanian untuk bertanya tentang kebenaran kedua orang tuanya. Tapi ia juga merasa belum berani. Bagaimana jika apa yang di katakan oleh Sadila adalah benar? Bagaimana jika Ibu Suri memang mengetahui semua cerita tentang masa lalunya?
Membayangkan semua kebenaran itu meruntuhkan keberanian Elivia. Tapi ia tetap harus bertanya.
“Kenapa kau berdiri saja disitu? Duduklah.” Perintah Ibu Suri mempersilahkan Elivia untuk duduk di sofa.
“Nek, maaf kalau aku lancang menanyakan ini. Hari ini kau mendengar sesuatu yang aneh. Benarkah nenek tau siapa aku sebenarnya? Nenek tau siapa kedua roang tuaku?”
Ibu Suri nampak sangat terkejut mendengar pertanyaan Elivia. Ia menduga kalau Elivia sudah tau smeuanya. Tapi siapa yang memberitahu? Karna permasalahan ini hanya dirinya dan Zaydan yang tau. Sementara Zaydan tidak mungkin memberitahu gadis itu
“Apa maksudmu, El?” Ibu Suri berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.
“Dan, apa benar Dan yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal?”
Ibu Suri semakin terkejut. Benar saja apa yang sudah dia duga. Ternyata Elivia sudah tau.
Zaydan yang berdiri di depan kamar Ibu Suri juga mendengarnya. Jantungnya serasa hendak melompat keluar saat mendengar ucapan Elivia. Tiba-tiba ia menjadi takut sendiri.
“El,,, itu,,”
“Bagaimana nenek bisa melakukan ini padaku? Kenapa nenek menyembunyikan hal ini dariku? Nenek membuatku menikah dengan orang yang secara tidak langsung sudah membunuh ke dua orang tuaku.” Elivia mulai meneteskan airmata. Dia kecewa luar biasa.
“Maafkan Nenek, El. Nenek tidak bermaksud untuk menyembunyikan semuanya darimu. Nenek hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu.” Sanggah Ibu Suri.
“Sampai kapan, Nek? Aku tidak peduli jika nenek memintaku menikah dengan pria lain. Tapi ini Dan, nek. Bukankah seharusnya nenek tidak memperlakukanku seperti ini? Apa keluargaku punya salah kepada nenek? Atau kepada keluarga kerajaan? Kenapa kalian memperlakukanku seperti ini!!! Hu,,hu,, hu.” Elivia sudah tidak bisa lagi membendung emosinya. Ia bahkan sudah berani berteriak di hadapan Ibu Suri.
Elivia tidak peduli siapa wanita yang ada dihadapannya itu. Ia tidak peduli setinggi apa statusnya. Yang jelas saat ini ia sedang marah dan kecewa.
“Kalau begitu, apa Dan sudah tau tentang hal ini?”
Pertanyaan Elivia itu semakin membuat jantung Zaydan berpacu. Apa yang ia khawatirkan ternyata benar-benar terjadi. Elivia sangat marah mengetahui kalau ialah penyebab ke dua orang tua Elivia meninggal.
Zaydan gemetar. Ia takut kalau Elivia akan meninggalkannya karna masalah ini.
Ibu Suri mengangguk dnegan perlahan. Membuat kekecewaan Elivia semakin bertambah besar. Pria itu sudah tau tapi tetap tidak memberitahunya? Bukankah itu keterlaluan? Semua yang ada disini sedang berkomplot untuk membodohinya.
Zaydan tidak bisa hanya berdiri di balik pintu. Ia segera membuka pintu itu dan menerobos masuk tanpa permisi.
“El.” Lirihnya. Memandang pias kepada Elivia dengan alis berkerut.
Elivia hanya menatap marah kepada Zaydan. Tatapan kemarahan dan kekecewaan bercampur menjadi satu.
“Maafkan aku, El. Maafkan aku. Aku tau kalau aku sama sekali tidak pantas berada di sisimu. Aku tidak tau harus bagaimana menjelaskannya tapi aku benar-benar menyesal.”
“Sejak kapan kau tau?”
“Sejak saat pertama aku melihat foto mereka di bawah bantalmu. Karna sedetikpun aku tidak pernah melupakan wajah mereka yang sudah menolongku. Sejak saat itu aku di penuhi kebimbangan dan ketakutan.”
Elivia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Kekecewaan itu sudah menumpuk di hatinya. Membuat suaranya tercekat di tenggorokan.
“El, kami sama sekali tidak berniat menipumu. Aku hanya ingin membuat hidupmu merasa lebih baik dengan menjadikanmu cucu menantuku.” Timpal Ibu Suri.
Elivia sudah tidak tau harus bicara apa. Ia hanya menundukkan kepala dan berbalik kemudian berjalan lunglai keluar dari kamar Ibu Suri.
Zaydan segera mengikuti Elivia dan berjalan di belakangnya. Perasaan takut kehilangan itu terus tumbuh di hatinya. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan Elivia.
Zaydan segera menahan tubuh Elivia saat gadis itu hampir terjatuh di tangga. Untunglah ia mengikuti gadis itu.
Setelah masuk kedalam kamar, Elivia hanya duduk termenung di pinggiran ranjang. Sedangkan zadyan segera berlutut di hadapan gadis itu. Menggenggam erat tangan Elivia di atas pahanya.
Kenyataan itu sangat menampar dan menyakitkan bagi Elivia. Dalam hati kecilnya ia tau kalau itu bukanlah kesalahan Zaydan. Tapi tetap saja pria itu yang menjadi penyebabnya.
Secara tidak langsung, Zaydanlah penyebab hidupnya menderita dan terlunta-lunta karna di tinggal pergi oleh ke dua orang tuanya. Alih-alih menyalahkan takdir, ia tetap butuh seseorang untuk di salahkan. Dan Zaydan adalah orang yang tepat.
Selama ini Elivia sama sekali tidak tau sebab yang sebenarnya. Yang ia tau adalah ke dua orang tuanya meninggal karna terseret arus. Hanya sebatas itu. Ia tidak tau kalau mereka berusaha menyelamatkan Zaydan dan mengorbankan nyawanya sendiri.
Elivia menatap kedua netra Zaydan tanpa ekspresi. Ia ingin mencakar wajah pria itu untuk membalas semuanya. Tapi logikanya masih berjalan dan menghentikan niatnya itu.
“Kau boleh menyalahkanku atas semuanya. Karna memang aku bersalah karna sudah menyebabkan mereka pergi dan membuat hidupmu menjadi sulit. Tapi El, biarkan aku membalas jasa mereka. Aku tau tidak ada yang bisa menggantikan nyawa mereka di dunia ini, tapi setidaknya biarkan aku tetap berada di sisimu dan membuat kehidupanmu dan Arina jauh lebih baik.”
Ucapan Zaydan terdengar tulus. Elivia bisa merasakan kalau pria itu memang benar-benar menyesal. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Rasa kecewa itu sudah terlanjut menumpuk di hatinya.