DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Kesepakatan



Salah satu karyawan membuka penutup ruang fitting, dan ternyata Zaydan sudah ada disana. Sedang duduk disofa tepat didepan ruang fitting. Dia menyemburkan minumannya saat melihat Elivia.


“Hahahahaha,,, apa itu? Sangat tidak pantas untukmu. Kau terlihat sangat lucu” ejek Zaydan.


Ih.! Kenapa harus mengejekku? Dasar pangeran sialan. Batin Elivia. Dia sangat tidak menyukai pangeran itu.


Elivia menjadi malu karna ejekan Zaydan. Dia mendengus kesal dan menatap Zaydan dengan marah. Padahal dia sudah memuji dirinya sendiri didepan cermin. Dia merengut sambil membalikkan badan dan masuk kembali kedalam ruang fitting.


Sial.! Kenapa dia jadi manis begitu? Batin Zaydan


Tidak lama Elivia keluar dan telah mengganti pakaiannya. Dia nampak kesal dengan Zaydan. Sekaligus malu.


“Bagaimana Nona? Apa anda menyukainya?” Tanya pemilik butik.


“Tolong pilihkan yang manapun boleh, aku tidak akan


mencobanya.” Kata Elivia lagi.


Kemudian dia berjalan keluar dari ruangan itu. Zaydan yang melihat sikap Elivia  yang aneh langsung mengejarnya. Dia menghentikan Elivia dan mencengkeram lengannya dengan erat.


“Au.! Sakit.!” Pekik Elivia. Dia mengibaskan tangannya agar Zaydan melepaskan cengkeramannya.


“Mau kemana kamu?” Tanya Zaydan dengan ketus.


“Aku mau pulang. Fittingnya sudah selesai kan. Aku harus pergi bekerja.” Jelas Elivia.


“Bicara denganku sebentar.!” Zaydan berbalik dan berjalan, berharap Elivia akan mengikutinya.


Huh.! Kenapa juga aku harus mengikutimu? Elivia sama sekali tidak menggubris perintah Zaydan.


Zaydan menoleh karna tidak merasakan lagkah kaki dibelakangnya. Ternyata Elivia tidak mengikutinya. Gadis itu malah ngeloyor pergi kearah yang berlawanan.


Dasar. Gadis aneh.!


Zaydan kembali dengan marah. Dia menghampiri Elivia dan menyeretnya dengan paksa masuk kedalam ruangan tadi. Dengan galaknya dia membentak dan menyuruh semua orang yang ada diruangan itu untuk keluar.


“keluar kalian semua.!” Teriak Zaydan. Dia nampak sangat marah. Semua orang yang mendengar itu langsung bergegas keluar dari ruangan itu.


“lepaskan! Sakit tau!” Teriak Elivia. Zaydan kemudian melepaskan cengkeramannya. Elivia mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah.


Dasar! Kenapa dia kasar sekali sih? Pangeran kodok saja tidak kasar begitu! Dengus Elivia dalam hati.


“salah sendiri. Kenapa kau tidak mendengarkanku? Coba kalau tadi kau mengikutiku. Aku tidak akan sekasar itu.” Kata Zaydan melihat Elivia yang nyengir menahan sakit.


“Anda mau bicara apa Yang Mulia?” Tanya Elivia dengan ketus.


“Kenapa kau mau menikah denganku?”


“Ada alasannya, tapi aku tidak akan memberitahu anda.”


“Apa? Jangan bilang kau menyukaiku?!” Zaydan bergidik ngeri.


“Hah?! Pagi-pagi anda masih bermimpi. Bangunlah Yang Mulia. Ini sudah pagi. Jangan bermimpi kalau aku menyukaimu!”


“Baguslah.” Kata Zaydan merasa lega. “Dengar. Walaupun kita nanti menikah, jangan berharap aku akan memperlakukanmu sebagai istriku ya.” Jelas Zaydan. Ada nada ancaman disana.


“Aku tau Yang Mulia. Maka dari itu aku ingin agar penikahan ini dirahasiakan. Akan ada waktunya sampai aku berpisah denganmu.”


“Bagus. Ternyata kita sepemikiran. Aku tidak akan membatasimu, tidak akan ikut campur dengan kehidupan pribadimu. Tapi kau harus menjaga sikapmu dihadapan keluargaku, terlebih dihadapan Nenek.”


“Iya, iya, aku mengerti. Akupun akan begitu, aku tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu Yang Mulia.”


Zaydan mengulurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan. Dan Elivia menyambut tangan itu. Dia juga tidak ingin terikat dengan pangeran kodok itu. Membayangkannya saja dia sudah bergidik ngeri. Sikapnya yang arogan, tidak akan mungkin bisa dia hadapi.


Elivia melangkah keluar dengan senyum sumringah. Arya yang menunggu dimobil heran. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang baik didalam. Setelah membukakan pintu mobil untuk Elivia, arya segera mengantarkan gadis itu pulang ke kostnya.


Arina nampak sumringah setelah melihat kedatangan Elivia. Keadaannya sudah lumayan baik, wajahnya sudah nampak lebih berisi.


“Kak El. Kau datang?”


“Bagaimana keadaanmu hari ini?” Tanya Elivia sambil tersenyum. Ia meletakkan makanan yang ia bawa ke atas nakas.


“Sudah lebih baik Kak. Dokter disini merawatku dengan sangat baik.” Elivia trenyuh mendengarnya. Diapun meneteskan airmatanya dan memeluk Arina dengan kuat.


“Maafkan aku Kak El.” Lirih Arina.


“Kenapa kamu meminta maaf?”


“Maafkan aku, karna aku kau harus mengorbankan masa depanmu dan menikahi pria yang sama sekali tidak kau cintai.”


“Sudah, jangan menyalahkan dirimu Arin. Semua itu adalah pilihanku.”


Arina tergugu dipelukan Elivia. Dia merasa sangat bersalah terhadap kakaknya itu.


Setelah selesai menumpahkan kesedihannya, Arina melepaskanpelukannya dan mengusap air matanya.


“Apa Kakak sudah bertemu dengannya? Siapa namanya? Apa dia tampan?”


“Siapa maksudmu? Pangeran Zaydan?”


Mendengar itu Arina langsung terbelalak. “Jadi yang akan menikah dengan Kak El itu Pangeran Zaydan? Berarti,,,,, Nenek itu.....” Arina berfikir untuk menebak siapa Ibu Suri.


“Iya, benar. Nenek adalah Ibu Suri. Dan aku akan menikah dengan Pangeran Zaydan.” Jelas Elivia lagi.


“Waaahhhhh.. Tidak bisa dipercaya! Tidak mungkin!” Pekik Arina. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau Nenek itu adalah Ibu Suri. “Jadi Kak El akan menjadi anggota keluarga kerajaan? Sepertinya tidak terlalu


buruk.” Seloroh Arina lagi.


“Apanya yang tidak buruk? Kau belum tau saja seperti apa sikapnya saat bertemu denganku. Kasar dan arogan. Sangat menyebalkan.”


“Ya tapi kan bisa diambil sisi baiknya. Kak El akan menjadi istri dari seorang Pangeran. Status itu akan membantu Kak El dalam segala urusan.”


“Hei! Kau kan tau kalau aku tidak suka melakukan hal semacam itu.” Dengus Elivia.


“Hehehe,,, sekali-kali kan tidak apa-apa, Kak. Anggap saja ini kesempatan yang datang sekali seumur hidup.”


“Kesempatan yang sedang ku kejar itu adalah kesembuhanmu. Tidak ada yang lain.


Arina terdiam. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Elivia lebih jauh lagi.


Elivia mengambilkan makanan untuk Arina. Adiknya itu segera melahap makanan kesukaannya, yaitu sayur kacang merah.


“Waahhh,,,, enaknya. Sudah lama aku tidak memakannya.” Ujar Arina yang nampak sangat berselera menyantap makanannya.


“Pelan-pelan makannya. Nanti kamu tersedak.”


Arina mengangguk atas peringatan itu. “Jadi kapan pernikahannya akan dilaksanakan, Kak?”


“Minggu depan.”


“Hah? Secepat itu? Apa akan ada pesta meriah?”


Mendapat pertanyaan itu, Elivia menyentil dahi adiknya pelan. “Tidak ada yang namanya pesta meriah. Cepat habiskan makananmu.” Hardiknya.


Arina hanya memanyunkan bibirnya saja. Padahal dia ingin sekali menyaksikan pernikahan kerajaan. Apalagi yang akan menjadi pengantinnya adalah kakaknya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.


Ya, lagipula Arina sangat tahu hal apa yang mendasari pernikahan itu. Perngorbanan.


Pengorbanan Elivia untuk dirinya. Semua itu demi kesembuhannya. Jadi dalam hati Arina bertekad untuk melakukan perawatan sebaik-baiknya. Dia berjanji tidak akan mengecewakan Elivia. Dia pasti akan sembuh.