
“Kau memandangi istrimu seperti dia ingin kau makan saja.” Celoteh Putra Mahkota mendekati Zaydan. Zaydan langsung menoleh dan berusaha untuk tersenyum.
“Kak,,”
“Apa kamu merasakannya? Baru kali ini makan malam kita terasa sangat meriah. Kita sudah seperti keluarga sesungguhnya. Aku bersyukur dengan kehadiran Elivia. Dia gadis yang baik.” Kata Putra Mahkota.
Zaydan hanya terdiam dan sekali lagi melihat Elivia yang sedang asyik bercengkerama dengan Ibu Suri dan Ratu. Mereka terlihat akrab.
“Dia harus segera menyusul Putri Mahkota.” Zaydan melihat kakaknya yang sedang mengusap perutnya sendiri. Zaydan mengerti maksudnya. Putri Mahkota sedang hamil.
“Hahahahaha,,,,,” Zaydan tertawa dengan terpaksa.
Disudut lain....
“Elivia, apa hubungan kalian semakin baik?” Tanya Ibu Suri.
“Kami baik, Nek.” Jawab Elivia.
Hah! Mana mungkin baik. Lihat perlakuan cucunya itu kepada Elivia. Elivia terpaksa berbohong karna hutang budi, juga karna Zaydan mengancamnya. Itu akan membuat semuanya menjadi mudah saat mereka berpisah nanti. Apa Elivia terlalu jahat karna memanfaatkan kebaikan Ibu Suri demi kesembuhan adiknya? Tapi kan bukan Elivia yang meminta.
“Kami senang karna Zaydan mempunyai istri sepertimu Elivia.” Kata Ratu dengan suaranya yang lemah lembut.
“Trimaksaih Yang Mulia. Saya tidak sebaik itu.” Kata Elivia merendah.
Karna sudah hampir tengah malam, Raja dan Ratu juga Putra Mahkota dan istrinya pulang ke Istana Besar. Ibu Suri pun sudah masuk kekamarnya. Begitu juga dengan Sophia dan Elivia. Mereka kembali kekamarnya masing-masing.
Sementara itu, Zaydan sedang berada di bar yang ada di dalam Istana Kecil. Dia memilih untuk minum sendirian dengan ditemani oleh Lucas yang terus mengawasinya. Zaydan mengasihani dirinya sendiri. Tidak dipungkiri, pembawaan Elivia yang ceria sedikit mengetuk hatinya. Apalagi saat melihat keluarganya bisa tertawa bahagia karna celotehan Elivia.
Ah..! Kenapa dia terus memikirkan Elivia? Gadis kampung itu bahkan tidak sebanding dengan Sadila yang mempunyai paras yang cantik dan tubuh yang seksi.
“Yang Mulia, tolong sudahi minumnya, anda sudah mabuk.” Kata Lucas mengingatkan Zaydan. Tapi pangerannya itu tidak mendengarkan.
Bahkan sampai hari sudah pagi Zaydan masih berada di bar dan minum semalaman. Dia terlihat sudah sangat mabuk. Dan setelah menghabiskan tiga botol minuman, Zaydanpun ambruk diatas meja. Lucas yang duduk disampingnya segera membantu pangerannya itu untuk berdiri.
“Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!” Bentak Zaydan. Dia menepiskan tangan Lucas yang memeganginya. Pandangan Zaydan mulai kabur, jalannya pun sudah sempoyongan. Tapi dia berhasil berjalan hingga kekamarnya.
Didalam kamar Elivia sedang tertidur disofa. Selama ini dia memang lebih nyaman tidur disofa daripada diranjang. Zaydan melihat Elivia dengan tatapan buas. Bak hewan yang ingin menerkam mangsanya. Dengannsempoyongan Zaydan mulai mendekati tubuh Elivia dan menarik selimut yangnmenutupi tubuh gadis itu.
Seperti kerasukan setan, Zaydan mulai mencium bibir Eliviandengan paksa. Elivia yang terkejut langsung membuka matanya. Nafasnya tersengal saat dia mendapati wajah Zaydan yang sudah menempel diwajahnya.
Elivia memberontak berusaha mendorong tubuh Zaydan menjauh. Tapi apalah daya tenaganya belum terkumpul semua. Jadi Elivia menggigit bibir Zaydan dengan kuat, bibirnya sampai terluka dan sedikit berdarah.
“Au.!!!” Pekik Zaydan, membuat kesadarannya kembali seketika. Dia bangun dan memegangi bibirnya yang berdarah. Menatap Elivia dengan bingung. Dia tersadar dengan apa yang baru saja diperbuatnya.
Sedangkan Elivia. Berdiri terpaku dengan mendekap selimut didadanya. Dia menatap marah kepada Zaydan. Airmatanya mulai menggenang dipelupuk matanya. Dia tidak percaya dengan yang dilakukan Zaydan kepadanya.
“Apa yang kamu lakukan?” Elivia berkata dengan nada bergetar menahan marah. Zaydan hanya terdiam dan masih memegangi bibirnya. Memaksa kesadarannya untuk kembali.
“Aku,, aku,, maaf.” Zaydan merasa bersalah. Ia tidak sadar melakukannya.
Airmata Elivia mulai mengalir. Dia merasa ternodai. Dengan marah dia meraih ponselnya yang ada diatas meja dan keluar dari kamar itu.
Hari masih gelap. Belum banyak orang yang berlalu lalang. Elivia berjalan dengan terus meneteskan air mata. Dia merasa sangat marah dengan Zaydan. Dia menunggu bis di halte yang tak jauh dari istana. Dia merogoh kantong celananya, dan baru ingat kalau dia tidak membawa sepeserpun uang. Bagaimana dia akan naik bis?
**********
Kafa yang masih tidur terbangun oleh suara deringan ponselnya. Dengan memicingkan matanya dia melihat nama Elivia dan segera mengangkatnya.
“Baiklah. Tunggu aku disana. Jangan kemana-mana, mengerti.?” Kata Kafa. Tidak menunggu lama, dia bergegas mencuci muka dan segera pergi ketempat Elivia berada.
Sesampainya di halte tempat Elivia menunggu, Kafa langsung menghampiri gadis itu. Dia melihat Elivia yang sedang menangis. Dia segera menutupi Elivia dengan badannya agar orang-orang yang lewat tidak memperhatikannya.
Lama sekali Kafa dalam posisi seperti itu. Baru setelah tidak terdengar suara tangis Elivia, diapun membalikan badannya dan menatap gadisnitu.
“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya kemudian. Dan dijawab Elivia dengan mengangguk. Kafa membimbing Elivia untuk masuk kedalam mobilnya.
Didalam mobil, Elivia masih mencoba memperbaiki emosinya. Dia menguasap sisa air mata dipipinya.
“Maaf, kamu terus melihatku dalam keadaan buruk seperti ini.” Ucap Elivia lirih.
“Tidak masalah. Aku senang, karna itu membuatku merasa dibutuhkan olehmu” Kafa tidak ingin bertanya lebih jauh. Dia tidak mau menanyakan alasan kenapa Elivia menangis. Dia menunggu gadis itu yang menceritakannya sendiri.
“Tolong antar aku ke kost.” Pinta Elivia. Tanpa
berkata-kata, Kafa langsung tancap gas menuju ke kost Elivia.
Sesampainya disana, Elivia tidak langsung turun dari mobil. Dia menatap Kafa dengan penuh rasa terimakasih.
“Trimakasih karna tidak menanyakan apapun.” Ucap Elivia.
“Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?” Tanya Kafa.
“ya, berkatmu.”
“Ayo kita sarapan dulu. Aku lapar,,” ajak Kafa.
Kafa kembali melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Sebelumnya dia sudah menelfon asistennya untuk menyiapkan sarapan untuk dua orang.
Mobil memasuki pekarangan rumah mewah milik Kafa. Setelah mobil berhenti, Kafa mengajak Elivia untuk masuk.
Dimeja makan, sudah tersaji berbagai menu yang menggugah selera. Kafa mempersilahkan Elivia untuk makan. Sebenarnya gadis itu merasa sangat canggung. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
“Kau tinggal sendiri? Dimana orangtuamu.?”
“Mereka tinggal di rumah dinas. Aku tinggal disini sendirian.”
“Ooh,,,” Elivia merasa sedikit lega dan mulai menyantap sarapannya.
“Jangan sungkan, makanlah yang lahap.” Tawar Kafa.
Sebenarnya Elivia ingin sekali menceritakan masalah Zaydan kepada pria yang sedang menyantap makanannya itu. Tapi dia mengurungkan niatnya, dia merasa Kafa tidak perlu tau hubungan antara dirinya dan Zaydan. Karna itu masalah pribadi mereka berdua, dan harus mereka sendiri yang menyelesaikannya.
Teganya Zaydan merenggut kesucian bibirnya. Ciuman pertama yang sangat tidak diharapkannya. Apalagi dengan seorang Zaydan. Si kodok itu selalu memperlakukannya dengan kasar. Padahal Elivia adalah istrinya, walau hanya pura-pura. Setidaknya dia kan bisa memperlakukan Elivia dengan baik, bukan hanya baik dihadapan keluarganya saja.