DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Tidak Rela.



Melihat pria yang sudah dengan senang hati di sambutnya datang bersama dengan kekasihnya, membuat senyuman itu menghilang seketika dari wajah Elivia. Tapi sudah kepalang, ia tidak bisa mundur apalagi melarikan diri dari posisinya berdiri saat ini. Jadi yang bisa ia lakukan adalah terus melangkah mendekati mereka.


Ia menatap Zaydan dan Sadila bergantian kemudian meletakkan wadah berisi kerang ke atas tanah. Sadila terus menatap tajam padanya. Ia tau mkalau itu karna penampilannya yang seperti manusia lumpur. Dari tatapan Sadila, wanita itu nampak sangat jijik dengan penampilan Elivia.


“Anda sudah tiba?” Sapa Elivia dengan perasaan yang sakit. Kata-kata gadis itu berubah membuat hati Zaydan terasa sangat sakit.


“Kau sedang apa?” Tanya Sadila mencibir.


“Saya sedang mencari kerang bambu, Nona.” Jawab Elivia sambil menunjukkan wadah berisi kerang kepada Sadila.


“Cepat bersihkan tubuhmu, kita akan kembali ke kota.” Nada Zaydan terdengar sangat datar. Pria itu sedang berusaha untuk menguasai perasaannya. Ia menyerahkan pakaian yang ia beli untuk Elivia kepadaa gadis itu.


Tapi tetap saja, Elivia merasa sakit melihat Sadila yang terus bergelayut di lengan Zaydan.


“Baik, Yang Mulia.” Ujar Elivia juga tanpa ekspresi.


Elivia meninggalkan kerang yang sudah susah payah dia cari itu begitu saja. Ia lantas berjalan pergi menuju ke penginapan seorang diri.


Perasaan Zaydan sangat sakit melihat Elivia yang berjalan meninggalkannya sambil menundukkan kepala. Ingin rasanya ia menepis gadis yang sedang bergelayut itu dan mengejar Elivia. Tapi entah kenapa ia tidak bisa melakukannya.


Setelah Elivia selesai mandi dan berpakaian, mereka langsung pergi ke pelabuhan. Elivia memang satu mobil bersama dengan Zaydan, tapi gadis itu hanya diam saja dan tidak mengucap sepatah katapun.


Bahkan saat mereka berada di atas kapal, Elivia memilih untuk pergi menyendiri dan membiarkan Zaydan dan Sadila berdua.


Elivia sedang menahan diri untuk tidak memuntahkan isi perutnya. Rasanya sangat tidak nyaman. Ia berdiri di pinggir pagar pembatas sambil memperhatikan riak air laut. Mencoba mengalihkan fikirannya agar rasa mualnya berkurang.


“Boleh aku bergabung?” Suara Sadila mengejutkannya. Tapi Elivia tetap berusaha untuk mengangguk.


Sadila ikut berdiri di pagar pembatas di sebelah Elivia. Ia melemparkan pandangannya jauh ke ujung lautan lepas.


“Dan, apa kau menyukainya?” Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat Elivia sontak memalingkan wajah menatap Sadila.


“Aku tau, kau menaruh hati padanya. Aku hanya berusaha menyangkal seolah-olah aku tidak tau hal itu. Karna aku tidak ingin membencimu, Elivia. Aku masih berharap kalau kau akan menepati janji yang sudah kau buat padaku dulu. Aku tau kau akan melakukannya. Benar, kan?” Imbuh Sadila. Ia menatap Elivia penuh harap. Sebuah harapan besar.


Suara Elivia tercekat. Ia ingin menyangkalnya. Ia ingin menjawab kalau ia tidak bisa menepati janji itu. Ia ingin mengatakan dengan jujur kepada Sadila tentang perasaannya terhadap Zaydan.


“Iya, tentu saja Nona. Aku bukan tipe orang yang akan mengingkari janjiku. Anda tenang saja.


“Baguslah. Aku tidak salah mempercayaimu. Aku tetap berharap besar padamu ya, Elivia.” Sadila menyentuh pundak Elivia sambil mengembangkan senyuman lebar di bibirnya.


Senyuman yang mampu menyayat hati Elivia sampai berkeping-keping. Meruntuhkan kebahagiaan yang sempat ia rasakan sebelum kedatangan Sadila. Senyuman yang menamparnya dengan keras hingga menyadarkan dirinya bahwa kebahagiaan itu hanyalah semu belaka.


Kini, rasa mual Elivia sudah menghilang seiring perasaannya yang berubah kalut. Ia mengantarkan kepergian Sadila dengan lirikannya. Ia menghela nafas berharap dengan begitu perasaannya kembali lega. Tapi tidak, justru ia merasa dadanya semakin sesak.


Elivia memegangi dadanya dan mere mas bajunya. Tidak terasa air mata mulai berdesakan di pelupuk matanya. Sebisa mungkin ia berusaha untuk menahannya. Ia tidak ingin terlihat aneh di depan banyak orang. Terlebih di depan Sadila dan Zaydan.


Sesampainya di hotel, Sadila langsung mengembalikan mobil yang ia sewa. Sementara Zaydan sedang menyewakan kamar lain untuk Elivia.


Bukan apa, gadis itu bersikeras meminta kamar sendiri. Ia tidak ingin terlihat murahan di depan Sadila. Apa yang akan wanita itu katakan kalau tau mereka satu kamar? Ia tidak akan mampu mempertahankan harga dirinya di depan wanita itu.


Elivia segera memindahkan barang-barangnya dengan sangat cepat. Zaydan sengaja menyewakan kamar yang berada di lantai yang sama. Untunglah saat Sadila datang, Elivia sudah selesai mengemas barang-barangnya dan sudah berada di dalam kamarnya.


Berada di antara dua wanita benar-benar membuat Zaydan tidak bisa berfikir. Ia sangat tahu jika perasaannya sepenuhnya milik Elivia. Tapi ia bahkan hanya bisa melihat gadis itu masuk dan menghilang ke dalam kamarnya tanpa bisa berbuat sesuatu.


Bukan perasaannya yang terbagi. Tapi keadaan yang memaksa Zaydan untuk membagi. Kalau boleh jujur, keadaan itu sangat berat baginya. Ingin sekali ia mengatakan kepada Sadila agar bisa mengakhiri hubungan mereka. Ia bisa saja menjadi pria egois dan tidak bertanggung jawab, dan segera memutuskan hubungan mereka begitu saja. Tapi hal itu akan menyakiti perasaan ibunya.


Walaupun Zaydan terkenal dengan sikap arogannya kepada orang lain, tapi ia adalah anak yang berbakti kepada ibu dan keluarganya. Ia paling tidak bisa menyakiti perasaan ibunya. Dia punya alasan kuat untuk itu.


“Malam ini, boleh aku menginap disini?” Tawar Sadila. Ia sedang berkeliling memandangi interior yang ada di dalam kamar itu.


“Terserah kau saja.” Jawab Zaydan malas. Ia lebih memilih bermain dengan kameranya. Ia meneliti setiap jepretan gambar Elivia yang sempat ia ambil diam-diam saat di pesawat kemarin.


Semakin lama, keberadaan Sadila semakin membuatnya terganggu. Apalagi saat wanita itu kini telah berbaring di sebelahnya. Mau tidak mau, Zaydan terpaksa meletakkan kameranya ke atas nakas.


Sementara di kamarnya, perasaan Elivia sedang pecah campur aduk tidak karuan. Berbagai bayangan muncul tentang apa yang sedang Zaydan dan Sadila lakukan di kamar suite itu. Benar-benar membuatnya tidak tahan.


Elivia membungkam wajahnya dengan bantal dan berteriak sekencang-kencangnya. Dalam hati ia sungguh tidak rela dengan hal ini. Tapi ia benar-benar tidak punya keberanian untuk membela perasaannya, apalagi di hadapan Sadila. Perbedaan mereka sangat nyata. Bahkan dari segi penampilan mereka sudah jauh berbeda.


“Aarrrggghhh!!!” Teriak Elivia lagi. Kali ini ia bahkan menendang-nendang udara dengan kakinya.


Rasanya kesal sekali. Tapi ia tidak tau harus bagaimana cara melampiaskannya. Ingin ia menelfon Zaydan dan menyuruh pria itu untuk datang ke kamarnya. Tapi ia hanya bisa memandangi ponselnya saja tanpa berani menyentuhnya.