DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Perasaanku Sudah Buta.



Zaydan menarik tangan Elivia untuk masuk kedalam rumah dan langsung mengunci pintunya. Setelah itu Zaydan menarik tubuh Elivia kedalam pelukannya. Kemudian ia mengajak Elivia duduk di sofa dan mengambil handuk untuk membersihkan sisa tomat yang ada di wajah wanitanya itu.


“Kenapa kau keluar? Kan sudah ku katakan untuk tetap berada didalam dan jangan keluar. Bagaimana kalau aku tidak datang tepat waktu tadi?” Protes Zaydan. Nampak sekali raut kekhawatiran di wajahnya.


“Maaf. Aku terpancing emosi saat mereka terus menggedor pintu.” Elivia berkata dengan buliran airmata yang sudah hampir jatuh.


“Sshhshhhsh, sudah, sudah. Tidak apa-apa.” Zaydan menenangkan Elivia dan mengelus kepalanya.


“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Lirih Elivia. Jujur, ia sedikit takut dengan penghakiman yang akan dia terima.


“Tidak usah di fikirkan. Semua akan baik-baik saja. Kau bersiap-siaplah untuk pulang ke istana bersamaku.” Ujar Zaydan kemudian.


“Sekarang?”


Zaydan mengangguk.


“Aku tidak bisa meninggalkan istana terlalu lama. Terlebih aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian disini dalam keadaan seperti ini. Pulanglah bersamaku, El.” Pinta Zaydan lagi.


Entahlah, Elivia masih ragu jika memikirkan tentang sophia.


“Tidak usah khawatir soal Mama. Mama sudah pergi ke luar negeri tadi pagi.”


“Apa? Ke luar negeri?”


“Hmm. Aku juga tidak tau kenapa Mama pergi. Tapi yang jelas mungkin dia ingin memberikan kita ruang, El. Dia mungkin tau kalau kau tidak akan kembali saat dia masih ada di istana.”


“Kalau begitu, ibumu pergi karna aku?” Elivia jadi merasa bersalah karna sudah menjauhkan Zaydan dari ibunya.


“Bukan begitu. Mama memang sudah sering tinggal di luar negeri. Jadi kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri atas kepergiannya.”


Tetap saja, Elivia merasa tidak enak hati.


“Tidak perlu membawa pakaian. Pakaianmu disana masih terjaga dengan baik.” Ujar Zaydan kemudian.


Satu persatu wartawan sudah mulai pergi seiring dengan kedatangan Lucas dan anak buahnya untuk mengamankan Zaydan dan Elivia. Dengan bujukan Zaydan, akhirnya Elivia mau pulang ke istana besama dengan Zaydan.


“Yang Mulia, anda bisa keluar sekarang.” Ujar Lucas dari luar pintu.


“Kau sudah siap?” Tanya Zaydan sebelum membuka pintu rumah.


Elivia menjawabnya dengan mengangguk. Ia sedang menguatkan diri. Zaydan menggenggam tangan Elivia dan keluar dari rumah.


Saat hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan berwarna biru yang langsung menyerobot begitu saja sampai hampir menabraksalah satu anak buah Lucas.


Wanita yang keluar dari dalam mobil itu membuat Elivia dan Zaydan terbelalak. Ia tidak percaya kalau Sadila akan dengan berani menghampiri mereka seperti itu .


Zaydan menyadari kalau masih ada beberapa wartawan yang masih ada di sekitar mereka. Jadi ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari Elivia dan bersiap memasang badan untuk melindungi Elivia.


Sadila tertawa tidak percaya dengan sikap Zaydan itu. Sakit sekali hatinya melihat pemandangan itu. “Aku hanya ingin bicara saja denganmu.” Ujar Sadila kemudian.


Anak buah Lucas yang menghalangi langkah Sadila di perintahkan oleh Zaydan untuk menyingkir. Kemudian Zaydan menyuruh Elivia untuk masuk kedalam mobil terlebih dahulu karna dia ingin berbicara kepada Sadila sebentar.


“Kau tunggu di dalam mobil dulu, ya.” Pinta Zaydan kepada Elivia.


Elivia yang mengerti situasinya langsung mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Ia melirik kepada Zaydan yang mendekati Sadila. Ia penasaran kira-kira apa yang sedang mereka bicarakan.


“Dua kali kau melakukan hal ini padaku, Dan.” Lirih Sadila. Matanya sudah berembun dan airmatanya siap tumpah.


“Tapi kita sudah hampir bertunangan, Dan. Semua orang bahkan sudah tau hubungan kita. Apa kau hanya memanfaatkanku saja sebagai pelarianmu? Kau tidak sebrengsek itu, kan?”


“Aku memang sudah brengsek seperti ini sejak dulu, Dila. Kau sangat tahu akan hal itu.”


“dan, apasih hebatnya gadis itu? Apa yang kau lihat darinya sampai kau rela mengakhiri hubungan kita yang sudah berjalan bertahun-tahun?”


“Entahlah. Perasaanku sudah buta. Aku tidak bisa melihat apapun darinya. Aku hanya bisa merasakan kalau aku nyaman berada di dekatnya. Dan itu sudah cukup memberiku alasan untuk memperjuangkannya.”


“Kau pasti sudah gila, Dan.” Maki Sadila dengan geramnya.


“Pulanglah, Dila. Sebelum kau mempermalukan dirimu lebih jauh lagi.” Ujar Zaydan sambil melirik kepada seorang wartawan yang sedang mengarahkan kameranya kearah mereka.


Dengan menghentakkan kakinya Sadila pergi dari Zaydan dan langsung masuk kedalam mobilnya. Sungguh ia sedang marah luar biasa. Ia tidak terima Zaydan membuangnya seperti sampah begini. Itu menginjak-injak harga dirinya. Ia bersumpah akan membalas sakit hatinya kepada Elivia karna gadis itu sudah berani membuat Zaydan memutuskannya untuk ke dua kalinya.


Zaydan memastikan mobil Sadila pergi dari pandangannya, barulah ia masuk kedalam mobil dan duduk di samping Elivia.


“Ayo, pergi.” Perintah Zaydan kepada anak buah Lucas yang sedang menyupiri mereka. Sementara Lucas berada di samping pengemudi.


“Dia sepertinya marah besar padamu.” Lirih Elivia.


“Aku tau itu.” Jawab Zaydan. Ia kembali menggenggam tangan Elivia dengan erat.


“Kenapa aku jadi merasa kasihan dengan Sadila? Aku membayangkan kalau aku di posisinya mungkin aku sudah jadi gila.”


“Itu tidak akan pernah terjadi. Karna aku tidak akan mungkin meninggalkanmu. Selamanya.” Bisik Zaydan.


“Kalau kau berani melakukan itu, aku akan langsung membunuhmu. Hehehehehe.” Ancam Elivia.


“Dengan senang hati.”


Walaupun ia tertawa, rasa bersalah itu tetap melintas di benak Elivia. Ia seperti bisa membayangkan betapa sakitnya Sadila saat mendapatkan perlakuan yang sama dari orang yang di cintainya. Dua kali pula. Tidak bisa di bayangkan betapa hancurnya Sadila.


“Apa yang kau fikirkan sampai melamun begitu?” Tanya Zaydan mengejutkan Elivia.


“Hah? Oh, tidak, tidak ada.”


“Besok, kita pergi ke makam nenek, ya. Aku yakin kalau dia akan sangat senang mengetahui kalau kau kembali ke istana.”


“Hm. Baiklah.”


Tidak lama kemudian, mobil telah sampai di istana. Kedatangan Elivia disambut dengan gembira oleh Widya dan teman-temannya. Mereka senang Elivia kembali ke istana.


“Nona Elivia!” Pekik Widya yang langsung menyambut Elivia dan menghampirinya. “Selamat datang kembali, nona. Apa kabar anda baik-baik saja?” Widya sangat gembira.


“Widya. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”


“Saya juga baik-baik saja, nona.”


Zaydan senang dan tersenyum melihat kehangatan yang tercipta dengan kembalinya Elivia. Memang tidak salah jika dia membawa Elivia kembali ke istana karna semua orang menyukainya.


Selesai temu kangen dengan Widya, Zaydan mengajak Elivia untuk pergi ke kamar mereka.


“Selamat datang kembali, sayang.” Lirih Zaydan yang langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Elivia. Dia memeluk Elivia dari belakang dan menyampirkan dagunya di bahu gadis itu.