DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Membayar Hutang Budi.



“Kenapa pipi kakak merah?” Tanya Arina . Elivia hanya meraba sebelah pipinya.


“Kak El ditampar? Siapa yang berani menampar Kak El?” Tanya Arina berang.


“Apa kak dan yang melakukannya?!”


“Tidak,, bukan dia.” Jawab Elivia. “Tapi ibunya.”


“Apa?! Ish..!! Tante itu benar-benar sudah gila apa?! Main tampar seenaknya saja.!” Arina mendengus kesal. “Apa suami kakak tau?” Elivia hanya menatap adiknya itu.


“Sudah jangan difikirkan. Aku tidak apa-apa.” Kata Elivia untuk meyakinkan adiknya.


Saat seorang perawat datang memberitahu bahwa Arina harus melaklukan terapi untuk kakinya. Eliviapun membantu Arina untuk duduk dikursi roda dan mendorongnya keruang terapi.


Diluar, dia bertemu dengan Kafa.


“Hei.! Mau terapi?” Tanya Kafa.


“Iya, kak Kafa kapan datang?” Tanya Arina.


“Baru saja. Hai El, apa kabar? Belakangan ini aku sulit sekali menemuimu..”


“Maaf, aku sedang sibuk..”


Merekapun kemudian pergi ke ruang terapi bersama-sama. Elivia memperhatikan sesi perawatan yang dilakukan oleh Arina dengan seksama. Adiknya itu sudah banyak perubahan. Arina sudah bisa berjalan meski hanya beberapa langkah. Dia sangat senang melihatnya.


“Aku ikut senang dengan perubahan Arina.” Kata Kafa.


“Trimakasih Kafa. Kudengar kamu sering datang kemari dan membantunya saat aku tidak bisa datang.”


“Tidak masalah. Kebetulan aku punya waktu luang.”


“Tidak, aku benar-benar berterima kasih padamu.” Ucap Elivia dengan tulus.


Kafa menatap Elivia dalam.


“Kalau begitu, temani aku makan malam.” Kata Kafa lagi.


“Makan malam?”


“em..”


“Kalau kamu menemaniku makan malam, semua yang kau sebut dengan hutang budi itu aku anggap lunas.” Kata Kafa.


“Kafa,, aku,,”


“Ayolah El,,” pinta Kafa.


“Hmmmm,,, baiklah..”


“Hehe,, trimakasih El.”


Kafa menemani Elivia sampai sesi terapi Arina selesai. Setelah itu seperti yang telah dijanjikan, Kafa mengajak Elivia ke sebuah restoran sederhana bergaya jadul. Didalamnya ada perlengkapan band. Tidak banyak pengunjungnya. Hanya ada beberapa pasangpelanggan yang tengah menikmati makanan mereka.


Seorang pelayan mempersilahkan Kafa dan Elivia untuk duduk, setelah itu memberikan buku menu kepada mereka.


“Kamu mau pesan yang mana, El?” Tanya Kafa.


“Terserah kamu saja. Apapun itu,,” jawab Elivia sambil tersenyum.


Kafa memesan hidangan yang paling mahal disana. Dan kemudian menyerahkan buku menu itu kepada pelayan.


“Sedang sibuk apa sih kamu El? Sulit sekali menemuimu. Belakangan kamu juga jarang ada di kost.”


“Maaf Kafa, aku tidak tau harus bilang apa.”


Kafa tau, saat Elivia berkata seperti itu, itu tandanya Kafa tidak boleh bertanya lebih jauh. Dia kecewa, sampai saat ini Elivia masih menjaga jarak dengannya. Kafa terus memperhatikan wajah gadis yang duduk dihadapannya dengan serius.


“Kenapa memandangiku seperti itu?”


“Ada sesuatu diwajahmu,,”


“itu,, diwajahmu,,”


“Iya,, dimana? Apa yang menempel diwajahku?”


“Kecantikan,, hahahahaha”


“Kafa.!!” Dengus Elivia merasa kesal.


“Hahahahaha,,,” Elivia jadi ikut tertawa mendengarnya. Padahal dia sudah sering mendengar gombalan Kafa, tapi tetap saja kena bualannya.


“Trimakasih sudah menemaniku makan malam El.”


“Ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan untukku. Aku yang seharusnya berterimakasih padamu.


Dari arah pintu masuk, seorang wanita paruh baya masuk kedalam restoran dan mendekat ke meja mereka. Itu adalah ibu Kafa.


“Wah,, wah,, serius sekali mengobrolnya sampai-sampai kalian tidak melihat kedatanganku...” Ucap Silvi.


“Ma,,,!” Pekik Kafa,, “Mama sudah datang?” Kafa langsung berdiri dan menarikkan kursi untuk ibunya. Orang-orang disekitar mereka saling berbisik dengan kedatangan seorang perdana menteri. Ada beberapa yang berusaha medekat, tapi dihalangi oleh para pengawal Silvi.


“El. Perkenalkan, ini Mamaku,,” ucap Kafa. Elivia memang sudah mendengar kabar bahwa Kafa adalah putra dari perdana mentri, namun dia belum pernah bertemu langsung dengan wanita hebat itu.


Elivia mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Silvi.


“Elivia, senang bertemu dengan anda.” Ucap Elivia malu-malu.


“Senang bertemu denganmu nak Elivia. Putraku sudah sering membicarakan tentangmu.” Jelas Silvi. Elivia mengerutkan keningnya, tidak mengerti kenapa Kafa menceritakan tentang dirinya kepada ibunya.


“Dia tidak menjelek-jelekkan saya kan Tante?”


“Hahahaha,,,,” mereka bertiga tertawa bersama.


Pelayan datang membawakan makanan, setelah menaruh makanan itu diatas meja, pelayan itupun pergi.


Mereka menyantap hidangan itu dengan lahap. Kecuali Elivia, dia berusaha makan dengan hati-hati. Aura Silvi benar-benar membuatnya mati kutu. Walaupun Silvi ternyata orang yang sangat ramah, tapi tetap saja, wanita itu menyandang gelar sebagai perdana menteri.


Selesai makan, Kafa pamit hendak pergi kekamar mandi dan meninggalkan kedua wanita itu dengan suasana yang canggung. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Elivia.


“Sudah lama mengenal Kafa?” Tanya Silvi membuka percakapan. Dia menyadari kecanggungan Elivia.


“Sudah lumayan lama Tante. Kafa pria yang baik.” Elivia tidak tau kenapa dia harus memuji Kafa didepan Silvi.


“Ya, dia anak yang baik. Bahkan sangat baik. Tidak sekalipun dia pernah membantahku. Elivia, trimakasih sudah mau berteman dengan putraku.”


“Sama-sama, Tante. Saya juga merasa sangat berterimakasih kepadanya.  Dia sudah banyak membantu saya dan adik saya.”


“Kamu sudah mengembalikan keceriaan Kafa yang sempat hilang. Dan aku sangat bersyukur.”


“Maksud Tante?”


“Selama beberapa waktu lalu, Kafa sempat murung dan sama sekali tidak mau keluar rumah. Itu disebabkan oleh mantan tunanganya yang tiba-tiba memutuskan pertunangan mereka secara sepihak, padahal Kafa sangat menyayangi gadis itu. Tapi belakangan dia sudah berubah dan kembali mejadi Kafa yang


dulu.”


Elivia merasa trenyuh mendengar kisah Kafa. Dibalik keceriaannya, ternyata Kafa menyimpan rasa sakit yang luar biasa. Kafa tidak pernah menceritakan tentang pertunangannya kepada Elivia. Bahkan tentang hatinya yang pernah hancur.


“Apa yang kalian obrolin sih?” Tanya Kafa sekembalinya dia dari kamar mandi.


“Tentu saja tentang kamu, mana mungkin Mama bercerita tentang diri Mama,,” jawab Silvi jujur.


“Ma,,, “ Elivia hanya tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak itu. Elivia merasakan kehangatan diantara mereka. Lama mereka bercengkerama, sampai tidak menyadari waktu yang sudah larut malam.


“Sudah malam. Sebaiknya kalian pulang. Kafa, antar Elivia pulang dengan selamat ya,,” Silvi mengernyingkan matanya menggoda Kafa.


“Sudah pasti Ma,, Mama tidak perlu khawatirkan itu.”


Dan merekapun keluar dari restoran itu. Kafa mengantar Elivia pulang ke kos. Sedangkan Silvi pulang ke rumah dinas yang ditempatinya. Berkali-kali Elivia melirik jam tangannya. Sudah larut malam. Bagaimana dia kan pulang ke istana? Bis terakhir sudah lewat satu jam yang lalu. Naik taksi? Dia tidak suka naik taksi, apalagi sendiri dan saat malah hari. Dia juga tidak mungkin meminta Kafa untuk mengantarkannya ke istana. Dia tidak ingin menjelaskan apapun kepada Kafa soal istana dan Zaydan.


Elivia memikirkan cara bagaimana dia bisa pulang ke istana. Dia tidak ingin membuat ibu suri khawatir. Kalau mengingat kejadian tadi pagi, sebenarnya Elivia enggan pulang. Tapi dia juga tidak ingin menjelaskan tentang perlakuan Sophia kepadanya kepada ibu suri. Ibu suri bisa marah besar, dan Elivia tidak mau itu terjadi.