DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Aku Berharga Bagi Diriku.



“Jadi mau beli makan tidak?” Tanya Zaydan.


“Beli cemilan saja, bisa gawat kalau orang-orang mengenali anda.”


“Cemilan apa?”


Mereka berdua berjalan ke lantai dimana terdapat food court. Aroma makanan yang nikmat memenuhi hidung mereka. Disana terdapat banyak sekali counter-counter makanan ringan. Elivia bingung harus beli yang mana. Setelah memilah dan memilih, akhirnya mereka berhenti disebuah counter penjual sostel.


“Tolong sostelnya dua porsi ya,, pedas.” Pinta Elivia. Zaydan hanya membiarkan saja.


Setelah menunggu sekitar lima menit, pesanan merekapun jadi. Elivia segera membayar sostel itu dan memberikan satu porsi untuk Zaydan. Zaydan bingung, bagaimana caranya untuk memakan sostel itu. Sedangkan dia memakai masker.


Elivia menyadari kesulitan Zaydan. Gadis itu terus tersenyum lucu memikirkannya. Dia mencari tempat duduk yang tidak ada banyak orang disekelilingnya, dan mengajak Zaydan untuk duduk disana.


Zaydan merasa lega setelah berhasil menghabiskan sostelnya dengan susah payah. Dia terus memandangi Elivia yang masih tersenyum-senyum sendiri.


“Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?”


“Tidak ada Yang Mulia.”


“Hei,, ngomong-ngomong, bisakah kamu memanggilku dengan sebutan yang lebih santai, lebih akrab begitu?”


“Lebih santai? Seperti apa?”


“Terserah. Aku tidak suka mendengarmu memanggilku Yang Mulia,, Yang Mulia,,”


“Ya tapi kan memang derajat anda lebih tinggi dari saya Yang Mulia. Anda itu seorang pangeran,,”


“Hei,, tidak perlu kamu ingatkan.”


“Lalu? Saya harus memanggil anda apa?”


“Panggil saja Dan, seperti keluarga dan temanku.”


Tapi Elivia bukan benar-benar temannya, apalagi keluarganya. Dia hanya istri sementara untuk Zaydan. Tapi kalau difikir-fikir lagi, tidak ada salahnya memanggil Zaydan dengan sebutan itu. Toh itu tidak akan membuat mereka menjadi lebih dekat bukan?


“Baiklah,, Dan...” Terdengar kaku ya,,, tapi Zaydan tersenyum mendengarnya.


“Sudah.. Ayo kita pulang.. Sudah malam ini,,” ajak Elivia.


Kemudian mereka turun menuju ke basement ketempat dimana mobil Zaydan terparkir. Tapi ketika masih sampai dilantai tiga, Elivia menghentikan langkahnya. Dia nampak antusias melihat pemandangan dihadapannya.


Disana, terdapat tempat untuk bermain ice skating. Nampak beberapa orang yang sedang bermain disana. Ada anak-anak, bahkan beberapa pasangan yang nampak sangat senang. Tertawa-tawa saat mereka terjatuh. Ada juga yang sudah mahir dan melakukan tarian yang sangat indah.


“Kenapa?” Tanya Zaydan penasaran melihat Elivia yang terlihat sangat antusias.


“Tunggu sebentar.” Jawab Elivia. Dia kemudian berjalan mendekati lapangan yang terbuat dari es itu. Dia berhenti di pagar pembatas dan


terus memperhatikan orang-orang yang sedang bermain didalamnya.


“Kamu juga ingin bermain?” Tanya Zaydan. Dia teringat keinginan Elivia yang sempat diutarakannya waktu di istana besar kemarin.


“Tidak. Aku hanya ingin melihatnya saja.”


“Pergilah kalau kamu ingin bermain. Aku akan menunggumu disini.” Tawar Zaydan.


“Tidak. Aku tidak bisa. Soalnya aku belum pernah mencobanya. Aku bahkan tidak tau caranya. Hehehe,,”


Zaydan memandangi Elivia dengan trenyuh. Dia melihat tatapan Elivia yang merasa sangat ingin masuk dan mencoba permainan itu. Dia memutuskan untuk menunggu Elivia yang sedang menikmati pemandangan itu. Dengan sabar dia menunggu sampai Elivia merasa puas.


“Sudah, ayo kita pulang,,” Kata Elivia setelah satu jam kemudian.


Sesampainya di basement, mereka langsung menuju ke mobil Zaydan. Setelah itu mereka langsung pulang ke istana kecil.


Sesampainya di istana, mereka menghampiri Ibu Suri yang tengah asyik menonton drama kesukaanya.


“Kami pulang Nek,,” kata Zaydan.


“Oh,, kalian sudah pulang?”


“Iya Nek..”


“Maaf ya,, Nenek tadi mendadak harus menghadiri acara yang sangat penting. Jadi Nenek meminta Dan untuk menggantikan Nenek. Bagaimana filmya? Bagus?”


“Bagus Nek, lucu, seru,,” jawab Elivia.


“Apanya yang seru? Lucu dari mana?”


“Ya pokoknya seru,, tadi Nek, ada orang yang selalu bersembunyi dilenganku, sepertinya dia takut dengan hantu,, xixixixi”


“Apa sih,, cerewet.!” Zaydan tidak terima dikatai penakut.


Ibu Suri tersenyum senang menyaksikan pertengkaran kecil itu. Sepertinya usahanya sedikit membuahkan hasil. Zaydan kesal dan langsung pergi kekamarnya.


**********


Elivia berjalan turun kelantai bawah, dia tidak melihat ibu suri, mungkin beliau sudah pergi, batin Elivia.


“Hei.! Kamu. Ikut aku sebentar.!” Kata Sophia sudah berada di depan Elivia.


Elivia pun menurut dan mengikuti sophia masuk kedalam kamarnya.


Plak.!!!!


Tiba-tiba Sophia menampar pipi Elivia dengan keras. Elivia terkejut. Dia membelalakkan matanya dan memegangi pipinya.


“Nyonya, kenapa anda menampar saya?”


“Kamu itu memang pantas ditampar.! Kamu itu gadis yang tidak tau diri.! Aku sudah terlalu sabar menunggu selama sebulan ini.! Kamu tidak bisa menepati janjimu untuk membujuk Ibu Suri agar kamu dan anakku berpisah.!”


“Nyonya....”


“Kenapa? Kamu sudah terlanjur merasakan hidup enak bersama kami? Sehingga berat untuk meninggalkan anakku?!!! Ternyata kamu itu sama saja. Hanya menginginkan harta kami.! Kamu memanfaatkan kondisi adikmu. Dasar tidak tau diri.!!”


Perasaan Elivia sangat terluka mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Sophia berfikir seperti itu tentangnya. Dia sama sekali tidak pernah menginginkan harta, apalagi kedudukan. Kata-kata Sophia melukai harga dirinya. Dia menatap Sophia dengan marah.


“Kenapa? Kamu tidak terima kukatai begitu? Itu kan


kenyataan.!”


“Nyonya, mohon jaga mulut anda. Kenapa tidak anda saja yang


membujuk Nenek? Saya sama sekali tidak berminat dengan putra anda apalagi


hartanya.!! Saya tidak seperti anda.!” Elivia balik teriak.


“Apa?!! Kamu itu bukan siapa-siapa.! Berani sekali kamu


bicara seperti itu kepadaku?!” Sophia sudah mengangkat tangannya hendak


menampar Elivia lagi. Tapi gadis itu menangkis tangan Sophia.


“Nonya, saya memang bukan siapa-siapa. Tapi saya juga


berharga bagi diri saya sendiri. Anda tidak bisa sesuka hati merendahkan saya


seperti itu. Anda tidak lebih baik dari saya.” Kata-kata Elivia seperti pisau


yang menusuk ke dada Sophia.


Elivia membanting lengan Sophia dan pergi dari ruangan itu.


Dia tidak mempedulikan Zaydan yang melihatnya di pintu, dia hanya menatapnya


sekilas dan berlalu melewati Zaydan dengan perasaan marah.


“Ma,, apa yang Mama lakukan?” Tanya Zaydan menghampiri


Sophia.


“Kamu lihat itu? Dia benar-benar kurang ajar.! Karna inilah


aku tidak bisa menyukainya.!” Dengus Sophia kesal.


“Ma,, aku kan sudah meminta Mama untuk bersabar. Aku yang


akan mengurus semuanya. Kenapa Mama tiba-tiba bersikap seperti ini?”


“Sudah terlalu lama dia tinggal dirumah ini. Mama tidak akan


membiarkan kalian dekat.”


Hufhh...


Zaydan menghembuskan nafas perlahan. Saat ini dia sudah


berada didalam mobil menuju ke kantornya.


‘saya sama sekali tidak berminat kepada putra anda’


Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Entah kenapa dia


merasa sedih dan kecewa. Apalagi saat dilihatnya Elivia yang hampir menangis.


Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Dan itu membuat


hatinya terasa sakit. Berkali-kali dia menghembuskan nafasnya dengan kesal.


Sementara Lucas hanya memandangi tuannya itu dari kaca spion.