DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Dasar Kodok!



Sudah satu minggu ini Elivia tidak pulang ke Istana Kecil. Setiap ditelfon Ibu Suri, dia selalu menjawab sibuk bekerja dan mengurusi adiknya dirumah sakit. Sehingga Ibu Suri pun terpaksa memakluminya. Dia tau kalau hubungan Elivia dan cucunya belum menunjukkan tanda-tanda membaik.


Ibu Suri, Sophia dan Zaydan sedang makan siang di Istana Kecil. Ia berkali-kali melirik kepada Zaydan yang nampak sedang fokus kepada makanannya.


“Dan. Nanti kau jemputlah Elivia pulang. Nenek yakin pasti telah terjadi sesuatu kepadanya.nanti akan kuberitahu alamat rumah dan tempat kerjanya.” Kata Ibu Suri tegas. Zaydan tidak menolak maupun meng iyakan perintah neneknya. Dia hanya diam saja sambil mengunyah makanannya.


Tring,, tring,, tring,, ponsel Zaydan berbunyi.


“Apa?!” Tanyanya ketus.


“Datang kelamat ini sekarang, aku tunggu.” Jawab orang diseberang.


“Hufh,,,”


Zaydan segera menghabiskan makanannya, setelah itu dia bergegas memacu mobil sport mewahnya ketempat yang diberitahu. Setelah sampai ditempat yang dituju, Zaydan mengedarkan  pandangannya kesegala arah. Tadi Kafa memberitahunya nama sebuah restoran. Zaydan pun turun dan masuk kedalam restoran itu, sebuah restoran cepat saji.


Bagitu Zaydan masuk, semua mata pelanggan langsung tertuju padanya. Mereka segera mengambil ponsel dan mengabadikan moment itu. Jarang –jarang mereka bisa melihat pangeran Dan dari jarak yang sangat dekat.


“Dan! Disini!” Pekik Kafa yang melihat kedatangan Zaydan. Zaydan pun langsung duduk tepat dihadapan temannya itu.


Elivia sedang menyiapkan pesanan Kafa, jadi dia tidak tau bahwa pengunjung sudah heboh dengan kedatangan Zaydan. Setelah siap, dia langsung mengantarkan makanan yang dipesan Kafa ke mejanya.


“Ini pesanan Anda, Tuan.” kata Elivia seraya meletakan makanan itu diatas meja.


Deg.!


Matanya menangkap sesosok pria yang sedang duduk dengan menyilangkan kakinya dihadapan Kafa.


“Trimakasih El.” Jawab Kafa “Oh iya, perkenalkan, dia temanku, tentu kau sudah tau kan siapa dia?”


Elivia berusaha mengendalikan kegugupannya.


“Yang Mulia Pangeran Dan. Anda mau pesan sesuatu?” Tanya Elivia mencoba bersikap biasa saja.


Sedangkan Zaydan mengerutkan keningnya dan menatap Elivia dengan tajam. Ia bertanya-tanya kenapa wanita itu ada disana.


“Tidak usah.“ jawab Zaydan dengan nada ketus.


“Baiklah kalau begitu, saya permisi. Selamat menikmati makanannya tuan.” Kata Elivia kepada Kafa. Dia harus bersikap sopan karna ini masih di jam kerja.


“Siapa itu? Bagaimana kau mengenalnya?” Tanya Zaydan.


“Aahh.. Dia karyawan disini, ini tempat paforitku, aku sering kemari. Kau ingat gadis yang tercebur ke kolam renang di malam acara amal itu? Dialah orangnya. Malam itu aku membantunya dan ternyata dia bekerja disini. Sungguh kebetulan yang aneh bukan?” Jelas Kafa panjang lebar.


“Kebetula apanya?” Dengus Zaydan. “Kenapa kau memintaku datang kemari?” Dan Kafa pun menceritakan maksudnya memanggil Zaydan.


Hari sudah menjelang sore. Zaydan dan Kafa sedang asyik membicarakan sesuatu. Sementara jam kerja Elivia sudah habis. Sebenarnya dia ingin berpamitan dengan Kafa, tapi karna disana ada Zaydan, Elivia mengurungkan niatnya dan langsung pulang.


Elivia sedang menunggu bis di sebuah halte yang tidak jauh dari restoran tempatnya bekerja.


Tin,, tin,, tin,,


Sebuah mobil sport berwarna putih metalik berhenti tepat di hadapannya. Si pengemudi menurunkan kaca sampingnya dan menyuruh Elivia untuk naik.


“Cepat naik.!” Teriak si pengemudi. Elivia membungkukkan badannya untuk melihat siapa yang ada dibalik kemudi. Saat tau itu adalah Zaydan, Elivia melengos dan tidak mempedulikannya.


Ah,, si kodok, sudah ganti mobil saja.


“Hei! Apa kau pura-pura tuli?! Cepat naik!” Elivia masih tidak mempedulikan Zaydan dan tetap duduk ditempatnya.


Merasa tidak dipedulikan, dengan penuh emosi Zaydan keluar dari mobilnya dengan mengenakan masker dan kacamata. Dia tidak ingin ada orang yang mengenalinya. Karna disekitar halte itu banyak orang yang lewat. Zaydan berjalan kearah Elivia dan menarik pergelangan Elivia dengan paksa. Memaksanya masuk kedalam mobil sportnya.


“Au! Sakit! Apa-apaan anda ini Yang Mulia?! Lepaskan!” Elivia terus meronta meminta dilepaskan. Tapi Zaydan tidak menggubrisnya. Dia terus saja memaksa Elivia masuk kemudian menutup pintu mobil itu dengan keras.


Elivia menatap Zaydan yang tengah mengemudi dengan tatapan marah. Pergelangan tangannya merah dan terasa perih. Sesekali Zaydan menoleh kearah Elivia yang masih mengusap usap pergelangan tangannya.


“Salahmu sendiri. Kamu tidak pernah mendengarkanku. Bahkan saat aku menyuruhmu kau tetap saja acuh padaku.”


“Apa anda lupa dengan perjanjiannya? Bahwa kita tidak akan mencampuri urusan satu sama lain. Anda menyuruh saya untuk pura-pura tidak saling mengenal jika bertemu.”


“Aaah..!! Sial..!!!!” Zaydan memukul kemudinya dengan marah. Elivia merasa ngeri sampai membuat tubuhnya meringsut.


Selebihnya, mereka saling terdiam sampai di Istana Kecil. Ibu Suri yang melihat mereka pulang bersama pun tersenyum sumringah. Zaydan berakting dengan menggenggam tangan Elivia saat bertemu dengan neneknya.


Elivia ingin melepaskan diri. Tapi saat ia meihat ada Ibu Suri, iapun mengurungkan niatnya itu.


“Kamu darimana Dan?” Tanya Ibu Suri.


“Menjemput istriku dong Nek, kan tadi Nenek menyuruhku untuk menjemput Elivia..” Kata Zaydan


“Benarkah?” Ibu Suri menatap Elivia meminta kepastian.


“Iya Nek, baru saja Dan menjemputku ke tempat kerja.” Jelas Elivia lagi. Mereka sangat kompak dalam berakting.


“Nenek senang mendengarnya. Baiklah,, istirahatlah.” Perintah Ibu Suri. Merekapun berlalu menuju ke kamar.


Zaydan melemparkan tangan Elivia dengan kasar hingga membuat gadis itu tersungkur di tempat tidur. Dia menatap Elivia dengan tajam. Tatapan itu terasa menyakiti hati Elivia.


“Ada apa denganmu Yang mulia?!” Tanya Elivia yang merasa heran dengan sikap Zaydan.


“Kenapa selama seminggu ini kamu tidak pulang? Kemana saja kamu?”


“Kenapa tiba-tiba Anda ingin tau? Itu bukan urusan Anda kan Yang Mulia?”


Jawaban Elivia membuat Zaydan semakin geram. Bahkan dia sendiri tidak tau kenapa dia semarah itu. Apa hanya karna Elivia tidak pernah menuruti perintahnya? Selama ini tidak ada yang berani mengacuhkannya.


Zaydan mendengus sebelum masuk kedalam kamar mandi. Dia ingin mendinginkan kepalanya.


Ada apa dengannya? Dasar kodok, kalau marah tidak kira-kira. Pergelanganku jadi sakit. Marah-marah tidak jelas begitu. Sungut Elivia.


Dikamar mandi, Zaydan tengah asyik menelfon Sadila.


“Sedang apa kamu sayangku Dan?” Tanya Sadila.


“Mandi,,”


“Uuuhhh,,, ikuttt,,,” katanya dengan suara manja.


“Hahaha,, dasar kamu ini.”


“Sayang, aku rindu, sudah beberapa hari kita tidak bertemu. Malam ini kamu kesini kan?” Tanya Sadilaia.


“Maaf sayang, aku tidak bisa datang malam ini. Nenek sedang ada dirumah. Kalau dia tau selama ini aku tidak pernah tidur dirumah, tamat riwayatku.”


“Yaaaaahhhhh,,,,” terdengar nada kekecewaan dari Sadila.


“Besok saja kita bertemu, aku akan menemanimu seharian penuh.” Janji Zaydan.


Sadila nampak sangat senang. Tentu saja, itu artinya, besok dia bisa membeli barang-barang mewah sesuka hatinya.


“Janji ya..”


“Iya, aku janji. Aku akan menemanimu pergi kesemua tempat yang kau inginkan.”


“Trimakasih sayang. Love you...”


“Love you...” Kemudian mereka mengakhiri pembicaran itu.


Zaydan membenamkan tubuhnya di bathtub sampai kepalanyapun terendam air. Dia masih berusaha meredakan emosinya karna Elivia. Kenapa gadis itu tidak pernah mendengarkannya? Kenapa Elivia terlewat acuh padanya?  Sedekat apa hubungannya dengan Kafa?