
Waktu sudah lewat dari tengah malam dan Zaydan baru bisa beranjak dari kantornya karna pekerjaannya baru saja selesai. Ia merasa sangat lelah. Ia bahkan sampai terlelap di dalam mobil.
Lucas yang setia mendampingi tuannya itu melirik beberapa kali lewat kaca spion. Ia berusaha untuk mengemudikan mobil itu dengan lembut agar tidak membangunkan Zaydan.
Untungnya Zaydan langsung terbangun saat ia sudah sampai di istana kecil. Jadi Lucas tidak perlu membangunkannya lagi.
Walaupun dengan menyeret kakinya, Zaydan akhirnya berhasil sampai juga di kamarnya.
Kamarnya gelap. Tidak ada satu lampu pun yang menyala. Perlahan ia meraba saklar yang ada di samping pintu dan menyalakannya.
Pandangannya langsung tertuju kepada sosok gadis yang sedang meringkuk di sofa tanpa selimut. Lantas ia berjalan mendekati Elivia yang sedang merintih dalam tidurnya.
“Hei! Kau kenapa?” Tanya Zaydan panik. Ia bahkan sudah melupakan rasa kantuknya sendiri.
Ia menggerak-gerakkan tubuh Elivia. Namun gadis itu tak terbangun juga.
Zaydan melepaskan jasnya dan melemparkan ke sembarang tempat. Kemudian mengangkat tubuh Elivia dan memindahkanya ke ranjang.
Sekilas Zaydan bisa melihat pergelangan kaki Elivia yang sudah membengkak dan berwarna biru. Ia segera melinting lengan kemejanya kemudian diam memperhatikan kaki gadis itu.
“El? Kau tidak apa-apa? El?!” Kali ini Zaydan memanggil dengan suara yang lebih keras.
Perlahan Elivia mendengar panggilan Zaydan. Tapi ia terlalu pusing untuk bangun. Jadi ia hanya membuka matanya saja.
“Dan?”
“Kau baik-baik saja?”
Elivia kembali merintih merasakan sakit yang luar biasa di pergelangan kakinya. Membuat kesadaranya kembali seketika.
“Kenapa aku ada di sini?” Tanya Elivia bingung kenapa dia ada di atas tempat tidur Zaydan.
“Aku yang memindahkanmu. Kau merintih kesakitan karna kakimu tidak bisa lurus sempurna di sofa. Lihat itu. Sudah membesar begitu. Tunggu sebentar disini.”
Zaydan pergi ke luar kamar untuk mengambil kompres, kemudian kembali tidak berapa lama kemudian.
Ia kembali melinting lengan bajunya yang sudah melorot. Kemudian menarik kursi dan mendekatkannya ke samping tempat tidur. Perlahan ia menarik kaki Elivia dan meletakkannya di pangkuannya sendiri.
Elivia terkejut bukan main. Ia hendak menarik kakinya tapi tidak jadi karna Zaydan memarahinya dengan tatapan. Akhirnya dia pasrah saja melihat Zaydan mengompres pergelangan kakinya dengan perlahan.
“Kenapa tidak diobati dari tadi?” Protes Zaydan yang masih serius mengompres kaki Elivia.
“Tadi lukanya tidak seberapa. Jadi aku mengabaikannya.”
“Dasar bodoh. Kenapa kau suka sekali menyakiti dirimu sendiri?”
“Kalau kau cuma mau mengomel terus, berhenti membantuku.” Dengus Elivia. Ia kemudian menarik kakinya dari pangkuan Zaydan.
Tapi dengan segera Zaydan kembali menarik kaki Elivia dan kembali mengompresnya.
“Dasar keras kepala. Kalau ada yang sakit di tubuhmu, walaupun sedikit, cepat di obati. Kalau kau saja mengabaikan tubuhmu sendiri dan tidak mempedulikannya, jangan berharap orang lain akan mempedulikanmu juga.”
“Tapi kau mempedulikannya.”
Kalimat dari Elivia itu berhasil membuat Zaydan menghentikan gerakannya. Ia beralih menatap Elivia dengan intens. “Karna aku tidak tahan mendengar rintihanmu. Aku hanya ingin ketenangan di kamar ini.”
Elivia hanya mencibir saja sambil mengalihkan wajahnya. Ternyata dia tidak kuat juga jika membalas tatapan Zaydan.
“Masih sakit?” Tanya Zaydan.
“Sudah mendingan.”
“Kalau masih sakit aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”
“Tidak perlu. Kurasa pengobatanmu bakalan manjur. Jadi tidak perlu pergi ke rumah sakit lagi.”
“Hei!” Pekik Elivia yang tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Zaydan.
“Ssspp!!!!” Zaydan kembali memarahi Elivia. Ia menahan jari telunjuknya di dahi gadis itu untuk mencegahnya bangun.
“Apa yang kau lakukan?”
“Cepat tidur!” Perintah Zaydan.
“Di sini?” Tanya Elivia tidak yakin.
“Jadi apa kau mau tidur lagi di sofa sempit itu?”
“Aku lebih baik tidur disana dari pada tidur seranjang denganmu!”
Zaydan mengernyitkan dahinya. “Apa kau setidak suka itu padaku?”
“Ya.”
“Kalau begitu, tidak ada alasan kau takut seranjang denganku. Karna pasti tidak akan terjadi apa-apa.”
Elivia kembali mencibir. Membenarkan ucapan Zaydan.
Ya, mereka tidak saling menyukai. Kenapa dia harus takut tidur seranjang dengan Zaydan? Toh mereka tidak akan melakukan apa-apa.
“Baiklah. Terserah kau saja. Tapi awas, kalau sampai kau menyentuhku, aku akan membunuhmu!” Ancam Elivia.
“Kalau kau bisa membunuhku, lakukan saja.” Hardik Zaydan lagi.
Pria itu bangkit dari kursinya dan berjalan masuk kedalam kamar mandi. Meninggalkan Elivia yang pelahan terlelap di balik selimut sutra yang hangat.
Rasa kantuk Zaydan sudah sempurna menghilang. Apalagi saat ia sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
Ia mencoba untuk membaca buku sambil bersandar di tempat tidur. Berusaha untuk menjemput kantuknya kembali. Tapi ia selalu gagal. Fikirannya tidak bisa fokus dengan suara berat gadis yang sudah terlelap itu disampingnya.
Berkali-kali ia menghela nafas untuk mengusir semacam perasaan aneh yang mulai menyerbu hatinya. Membuat tubuhnya terasa panas dengan degup jantung yang mulai meningkat.
Zaydan memalingkan wajahnya melihat kepada wajah Elivia yang entah mengapa terlihat sangat manis di tengah temaramnya cahaya lampu tidur. Membuat hatinya berdesir saja.
Larut dalam suasana. Zaydan menutup bukunya dan meletekkannya ke atas nakas. Kemudian menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Elivia. Wajah lelap Elivia membuatnya ingin memperhatikannya lebih
dekat.
Zaydan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi mata gadis itu. Menyisir wajah manis Elivia dengan matanya.
Seolah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menikmati bibir ranum yang tersaji di hadapannya, Zaydan memberanikan diri untuk lebih mendekatkan wajahnya. Ia berniat hendak meraup bibir itu.
“Kau mau mati?” Tanya Elivia yang tiba-tiba membuka matanya. Membuat Zaydan terkejut bukan main.
Ia mengalihkan tubuhnya sampai kakinya dengan tidak sengaja menyenggol kaki Elivia yang sakit.
“Ah!!” Pekik Elivia yang langsung bangun terduduk dan mengelus kakinya. Menatap sebal kepada Zaydan.
“Astaga. Maaf, maaf. Aku tidak sengaja.” Ujar Zaydan dengan panik. Ia berusaha meraih kaki Elivia dan meniupnya pelan.
“Kau benar-benar ingin membunuhku rupanya.” Dengus Elivia.
“Maaf. Aku tidak sengaja. Sakit sekali?” Zaydan masih sibuk dengan kepanikannya sendiri. Ia terus meniup kaki Elivia. Sampai tidak sadar kalau Elivia sedang menertawakan tingkahnya.
Seketika timbul niat jahil Elivia. Ia berpura-pura meng aduh sehingga membuat Zaydan bertambah panik.
Sadar kalau sedang di kerjai, Zaydan menghentikan aksinya meniup kaki Elivia. Ia beralih menatap kepada gadis itu dan langsung mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Elivia. Membuat Elivia bungkam seketika.
Setelah melakukan hal tidak terduga itu, Zaydan langsung bangkit dan keluar dari kamar begitu saja. Meninggalkan Elivia yang masih mematung karna mendapatkan serangan tiba-tiba dari Zaydan.