
Siang ini adalah zadwal kepulangan Zaydan dan Elivia. Lucas sudah datang dengan pesawat pribadi milik kerajaan untuk menjemput mereka.
Zaydan dan Elivia pergi ke bandara dengan menggunakan taksi. Sesampainya disana mereka langsung masuk kedalam pesawat yang akan membawa mereka untuk pulang.
Selama di perjalanan pulang, Zaydan masih enggan untuk melepaskan genggaman tangan Elivia. Pria itu bahkan tiba-tiba berubah menjadi manja dengan terus menyandarkan kepalanya di bahu Elivia. Bukankah seharusnya eivia yang melakukan itu?
“Nanti malam akan ada pesta di istana besar, Yang Mulia.” Jelas Lucas yang sedang membacakan jadwal Zaydan.
“Diam kau. Jangan berisik.” Hardik Zaydan sambil memejamkan matanya dengan masih bergelayut di pundak Elivia.
“Pesta? Pesta apa?” Tanya Elivia penasaran.
“Tentu saja pesta untuk menyambut kelahiran putri.” Zaydan yang menjelaskan.
“Ooh.” Elivia mengangguk. “Kalau begitu, aku juga harus hadir disana, kan?” Elivia ingin memastikan. Ia sungguh tidak ingin berada di acara seperti itu. Terlebih ia pasti akan bertemu dengan Sophia disana. Sekarang ia sedang berada di posisi sebagai menantu jahat bagi Sophia.
Jujur, kepulangannya kali ini menjadi momok besar bagi Elivia. Karna sadila pasti sudah menceritakan semua yang terjadi kepada Sophia. Dan selir itu pastilah sudah merencanakan sesuatu kepadanya saat ia sampai di istana.
Hufh. Sepertinya Elivia harus menyiapkan diri untuk kejutan yang akan datang.
“Tentu saja. Kau kan istriku. Kau harus datang bersamaku.”
Setelah pesawat mendarat, Elivia berjalan di belakang Zaydan berdampingan dengan Lucas untuk menghindari berita. Seperti biasanya, kehadiran Zaydan di sana langsung menjadi pusat perhatian. Mereka langsung berebut untuk mengambil foto pangeran itu. Sementara anak buah Lucas berusaha untuk membukakan jalan di tengah kerumunan itu.
Elivia hanya berjalan terus sampai di tempat yang agak sepi. Baru setelah mobil yang di tumpangi Zaydan berhenti dia baru berani naik.
“Tidak bisakah kau mengabaikan semuanya saja?” Ujar Zaydan saat Elivia sudah duduk di dalam mobil bersamanya.
“Mengabaikan bagaimana?”
“Kurasa sudah waktunya untuk mengumumkan pernikahan kita.”
“Jangan dulu. Tidak perlu terburu-buru. Aku harus masih menghadapi ibumu, kau ingat? Jangan membuat masalah semakin rumit. Jantungku sudah hampir copot.”
Zaydan menghela nafas kasar. “Baiklah. Aku akan menuruti kemauanmu saja.”
“Uuh. Anak pintar.” Ujar Elivia sambil mengelus kepala Zaydan.
Mendapat perlakuan manja seperti itu, Zaydan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Elivia. Ia baru tau kalau ternyata bersandar di bahu itu nyaman sekali rasanya.
“Yang Mulia, apa kita akan langsung pulang ke istana, atau mampir ke butik dulu?” Tanya Lucas yang duduk di samping kemudi.
“Kita mampir ke butik dulu.” Jawab Zaydan.
“Kenapa mampir ke butik?” Tanya Elivia.
“Kita harus membeli pakaian untukmu.”
“Tidak perlu. Pakaian yang kemarin-kemarin kan masih bagus karna masih sekali di pakai. Kenapa harus membeli pakaian yang baru?” Tolak Elivia. Jiwa hematnya sedang meronta-ronta.
“Tidak bisa. Ini kan pesta kerajaan. Aku tidak mau melihatmu memakai pakaian yang sama dua kali. Itu melukai harga diriku.” Seloroh Zaydan.
“Bagaimana bisa itu melukai harga dirimu? Orang tidak akan tau kalau aku memakai pakaian itu.”
“Dan, kumohon. Hal itu tidak penting sama sekali. Apa kau tau di luar sana banyak orang yang bahkan tidak bisa mengganti pakaiannya saat dia ingin? Apa kau tau berapa banyak orang yang tidak bisa membeli pakaian yang layak untuk dikenakan sehari-hari? Aku tidak ingin mengikuti gaya hidupmu yang glamor itu. Karna itu sangat tidak cocok denganku.” Elivia bersikeras dengan pilihannya.
Zaydan mengangkat kepalanya dan menatap Elivia dengan alis yang berkerut.
“Apa kalau aku tidak memakai pakaian baru, aku tidak cantik lagi di matamu?” Seloroh Elivia untuk memenangkan pembelaannya.
“Buahahahahaha. Kenapa kau sampai berfikir ke sana? Aku melihatmu bukan karna kecantikanmu. Karna memang kau sama sekali tidak cantik.”
Plak!
Elivia memukul lengan Zaydan dengan gemas. Berniat untuk memenangkan pembelaan dirinya, ia justru menerima ejekan dari Zaydan. Kini ia yang jadi merengut sebal kepada Zaydan.
Zaydan hanya terkekeh saja melihat tingkah Elivia. Kemudian ia menyuruh Lucas untuk langsung pulang ke istana tanpa harus ke butik terlebih dahulu.
Mobil melaju di jalanan menuju ke istana kecil. Semakin mendekati istana, perasaan Elivia semakin tidak tenang saja. Ia takut jika bertemu dengan Sophia. Ibu dari pangeran Zaydan itu pastilah sedang marah besar padanya. Seberapapun ia menyiapkan diri untuk kemarahan Sophia, ia tetap merasa takut jika berhadapan dengan wanita itu.
Mobil sudah berhenti di depan istana, dan Zaydan sudah lebih dahulu turun. Tapi Elivia masih duduk di dalam mobil dan enggan untuk turun.
Zaydan mengernyitkan kening heran melihat Elivia yang tidak segera turun dari mobil. Ia kemudian berjalan ke sisi mobil dan mengulurkan tangannya kepada gadis itu.
“Ayo turun.” Ajak Zaydan.
Elivia hanya menatap tangan Zaydan tanpa menyambutnya.
Ketakutan Elivia semakin menjadi saat ia melihat Sophia yang sedang menyilangkan tangan di dada dan berdiri di depan pintu masuk. Wanita itu menatap marah padanya. Bahkan Elivia bisa merasakan aura kemarahan dari jarak sejauh itu.
Zaydan mengikuti arah pandang Elivia dan mendapati sang ibu yang sedang berdiri dengan tatapan tidak suka kepadanya. Tapi pria itu tidak peduli. Ia meraih paksa tangan Elivia dan menggenggamnya kemudian berjalan menghampiri Sophia.
“Aku sudah pulang, Ma.” Sapa Zaydan.
Sophia melengos. Ia tidak melepaskan pandangan kebenciannya dari Elivia.
“Dan mulai sekarang, aku harap mama bisa memperlakukan istriku dengan baik.”
“Apa? Istri? Sampai kapanpun mama tidak akan pernah menganggap gadis kurang ajar ini sebagai menantu mama. Satu-satunya menantu mama adalah Sadila. Dan mama berharap, kalau kau akan kembali rujuk dengan
sadila kemudian menikahinya. Sudah baik dia kubiarkan tinggal disini. Kalau mama tau dia akan melunjak begini, mama tidak akan sudi menyetujui penikahanmu dengannya! Dasar tidak tau diri!” Hardik Sophia.
Ucapan Sophia terdengar menusuk hati. Baik Zaydan maupun Elivia. “ma....” Lirih Zaydan.
Tapi Sophia hanya mendengus kesal sambil berlalu meninggalkan Zaydan dan Elivia kemudian masuk ke dalam mobilnya sendiri. Setelah itu mobil itu melaju meninggalkan istana.
“Sabar, ya. Aku akan terus berusaha untuk mengubah hati Mama dan menerimamu.” Ujar Zaydan yang mencoba menenangkan Elivia. Ia tau kalau Elivia merasa tersinggung dengan ucapan ibunya.
Elivia manganggukkan kepala pelan kemudian berjalan masuk kedalam istana. Di ikuti oleh Zaydan yang berjalan di belakangnya.
Elivia merebahkan tubuhnya di sofa di ruang santai. Tidak ada ibu suri disana. Padahal ia sudah sangat merindukan ibu suri. Mungkin ibu suri sedang berada di istana besar. Fikir Elivia.
Zaydan ikut duduk di samping Elivia dan meraih kepala Elivia untuk di sandarkan di bahunya. Ia ingin memberikan kekuatan kepada gadis itu dengan mengelus kepala Elivia dengan lembut.