DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Kemarin Ya Kemarin, Sekarang Ya Sekarang.



Selesai mandi dan makan malam, Elivia dan Zaydan duduk di ruang santai tempat biasanya mendiang ibu suri bersantai. Ada rasa rindu di hati keduanya. Mereka merasa ada yang kurang tanpa hadirnya ibu suri.


Di tv, sedang riuh persiapan rilis resmi dari sekretariat kerajaan tentang Zaydan dan Elivia. Lima menit lagi, pengumumannya akan di mulai.


Elivia menyandarkan kepalanya di bahu Zaydan sambil menatap lurus ke arah tv. Mereka juga akan melihat siaran yang akan di siarkan di seluruh stasiun tv itu.


“Oh, sudah mau mulai.” Ujar Zaydan memberitahu Elivia.


Elivia langsung mengangkat kepalanya dan duduk tegak di sofa. Ia serius memperhatikan ke arah tv.


Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jaz berwarna hitam nampak muncul dan kemudian berdiri di balik podium. Itu adalah sekretaris kerajaan. Elivia pernah bertemu dengannya di pesta kelahiran putri dari putra mahkota dulu.


“Selamat malam, semuanya. Malam ini, kami akan menjelaskan tentang hubungan yang terjadi antara Yang Mulia Pangeran Zaydan dan nona Elivia. Seperti yang kalian semua ketahui, hari ini beredar isu mengenai pangeran Zaydan bersama dengan gadis bernama nona Elivia, bahwa keduanya sedang menjalin hubungan. Pihak kerajaan tidak menampik akan hal itu. Keduanya memang terlibat dalam sebuah hubungan pernikahan.”


Ha? Apa?


Seketika seisi ruangan konferensi riuh dengan suara. Mereka semua terkejut dengan ucapan sekretaris kerajaan.


“Apa maksudnya, tuan?” Tanya salah seorang wartawan.


“Yang Mulia Pangeran Zaydan telah resmi menikahi nona Elivia sekitar empat bulan yang lalu. Dan pernikahan mereka sudah resmi tercatat di negara. Jadi sekali lagi saya tegaskan, bahwa Yang Mulia Pangeran Zaydan dan


nona Elivia sudah lama menikah. Dimana pernikahan itu memang hanya di hadiri oleh keluarga terdekat saja.”


“Lantas bagaimana dengan kabar kalau pangeran akan bertunangan dengan nona Sadila?”


“Kabar itu tidak benar adanya. Kami tidak pernah mengumumkan tentang pertunangan itu. Jadi saya berharap kepada teman-teman semuanya untuk segera menghentikan rumor tidak berdasar mengenai istri dari Yang Mulia Pangeran Zaydan.”


“Tapi, kenapa mereka menikah diam-diam, tuan?”


“Itu karna nona Elivia bukan berasal dari publik figur sehingga beliau merasa tidak nyaman jika kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik. Namun sekarang perlahan beliau sudah bisa menerimanya.”


“Lalu, pernah ada kabar mengenai hubungan nona Elivia bersama dengan putra perdana menteri, tuan Kafa, benarkah itu?”


“Hubungan mereka sebatas teman baik. Kalian semua tau kalau tuan Kafa adalah sahabat dari Yang Mulia Pangeran Zaydan, jadi begitu juga hubungan antara tuan Kafa dan nona Elivia. Sudah ya, saya rasa sudah cukup.” Tegas sekretaris kerajaan yang langsung turun dari podiun dan pergi keluar ruanganan konferensi dengan di kawal oleh pengawal kerajaan. Karna para wartawan masih belum puas dan masih ingin bertanya banyak hal pada pria paruh baya itu.


Zaydan dan Elivia yang juga menyaksikan siaran langsung itu kini bisa bernafas dengan lega. Mereka merasa seolah beban dan kekhawatiran yang sebelumnya sempat mereka rasakan mulai menghilang dan terasa ringan.


“Sudah selesai, sekarang semuanya akan baik-baik saja.” Lirih Zaydan. Ia menatap pias kepada Elivia yang masih menampakkan sedikit kekhawatiran di matanya.


“Aku harap begitu.”


“Jadi, sekarang kan kau sudah resmi jadi istriku, ayo kita buat cucu untuk Yang Mulia Raja.” Bisik Zaydan kemudian.


Sontak saja Elivia terbelalak dan langsung memukul pelan lengan suaminya itu. Tapi Zaydan malah tertawa terbahak-bahak kemudian ia menggenggam tangan Elivia dan langsung menariknya pergi ke kamar.


“Tidak peduli.” Ujar Zaydan yang langsung mendudukkan Elivia di tepian ranjang dan mulai mendekatkan wajahnya.


Sontak Elivia langsung memundurkan tubuhnya demi menghindari bibir Zaydan. Namun Zaydan segera menahannya dengan tangannya yang menahan pinggang Elivia dan malah mendekatkan tubuh gadis itu kearahnya.


“Dan, aku belum sembuh benar.” Alasan Elivia.


“Tidak apa-apa. Nanti akan sembuh sendiri.” Zaydan masih berusaha untuk merayu demi mendapatkan keinginannya.


“Heheheheehe. Jangan begitu. Aku geli.” Jujur Elivia sambil terkekeh saat tangan Zaydan sudah menggerayangi bagian dadanya.


“Aku akan membuat gelimu berubah menjadi kenikmatan.” Bisik Zaydan dengan nafas berat. Ia sudah terbakar api gairah.


“Kan baru kemarin.” Elivia masih berusaha untuk menahan tubuh Zaydan dengan tangannya.


“Hmmm. Kemarin kan kemarin. Sekarang ya sekarang.” Kekeuh Zaydan. Ia terus mendekatkan tubuhnya walaupun kini Elivia sudah berbaring sempurna di ranjang karna menghindari kecupannya.


Tentu saja posisi itu semakin menguntungkan bagi Zaydan. Pria itu malah melepas kancing kemejanya dan mulai mengecupi wajah Elivia mulai dari kepala, kening, hidung, mata dan berakhir di bibir Elivia.


Tidak ada perlawanan yang berarti dari Elivia saat mendapatkan perlakuan itu. Walaupun ia pura-pura menolaknya, namun ia tetap menikmati setiap sentuhan dari Zaydan dan mulai membalasnya. Zaydan tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung melahap Elivia.


*****


“Aaarrrgggghhhh!!!!!!” Teriak Sadila dengan membanting segala yang ada di hadapannya. Bahkan sang ibu tidak bisa menghentikannya.


“Dila. Sudah, hentikan sayang.” Ujar sang ibu mencoba menghentikan putrinya.


Namun Sadila seolah tidak mendengar ucapan ibunya. Ia terus berteriak tidak terima setelah melihat konferensi dari pihak kerajaan yang malah mengumumkan pernikahan Zaydan dan Elivia. Tentu saja hal itu membuatnya berang setengah mati.


“Ini semua karna Mama. Kenapa Mama harus datang kesana dan membuat semuanya jadi berantakan!” Pekik Sadila mencoba menyalahkan sang ibu.


“Iya, maafkan Mama, Dila. Mama tidak tau kalau ini semua adalah rencanamu. Kalau saja kau memberitahu Mama, Mama tidak akan datang kesana dan membuat kekacauan ini.”


“Sekarang kesempatanku untuk mendapatkan Zaydan benar-benar sudah hilang. Dan itu semua karna Mama.” Sadila masih menyalahkan ibunya.


Sadila kecewa setengah mati. Setelah apa yang sudah dia lakukan untuk mendapatkan Zaydan kembali ke pelukannya, malah di hancurkan oleh ibunya sendiri.


Awalnya Sadila sengaja menyebarkan rumor perselingkuhan Zaydan dan Elivia melalui reporter kenalannya untuk membuat publik percaya kalau dia adalah korban perselingkuhan itu. Namun yang tidak dia duga adalah, kalau ternyata ibunya malah pergi ke rumah Elivia dan bahkan melempari Elivia dengan buah tomat yang sudah busuk.


Hal itu tentu saja membuat Zaydan segera pasang badan untuk melindungi Elivia dan sekarang malah jadi seperti ini.


“Kalau aku sampai di keluarkan dari perusahaan, bagaimana kita bisa membayar hutang-hutang Mama? Ini semua salah Mama.”


Padahal itu semua bukan salah ibu Sadila. Kalaupun ibu Sadila tidak muncul dan hendak menampar Elivia, Zaydan masih akan berusaha untuk melindungi Elivia bagaimanapun caranya. Hanya sebuah kebetulan saja kalau Zaydan muncul saat ibu Sadila hendak menampar gadis itu dan malah mengenai punggung Zaydan.