DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Juri Paling Menyebalkan di Seluruh Dunia!



Elivia berjalan santai di jalan dekat kosnya. Dia melihat sebuah mobil mewah tengah terparkir didepannya. Seorang pria berbadan tegap tengah berdiri disamping mobil itu. Dia tidak tau siapa itu. Mungkin bukan tamunya, fikir Elivia. Diapun dengan santainya masuk kedalam kamarnya tanpa peduli.


“Kamu ini merepotkan sekali ya!” Pekik Zaydan. Pria itu tiba-tiba sudah ada dibelakang Elivia.


“Astaga!” Elivia yang terkejut langsung membalikkan tubuhnya. Dia heran melihat Zaydan sudah ada dibelakangnya.


“Anda mengejutkanku, Yang Mulia Dan. Bagaimana anda bisa ada disini?” Tanya Elivia. Apa Ibu Suri yang memberitahunya?


“Kenapa kamu lama sekali? Apa kamu tau berapa lama aku menunggu?”


“Kenapa anda menunggu saya? Memangnya saya yang meminta anda untuk menungu saya?” Jawab Elivia acuh. Dia meletakkan tas selempang sederhananya ke atas ranjang.


“Nenek yang menyuruhku untuk menjemputmu. Sudah?!”


Ah ya,, makan malam keluarga. Elivia bukan tidak mengingatnya. Dia hanya tidak mengira kalau Zaydan akan menjemputnya.


“Cepatlah! Kita harus ke butik.”


“Kenapa?”


“Apa kau akan berpenampilan seperti itu dihadapan Raja dan Ratu?” Zaydan menyadarkan Elivia. Dia memperhatikan pakaiannya sendiri.


Apa yang dipakainya saat itu sangat tidak cocok untuk dipakai bertemu dengan mereka. Mau tidak mau Elivia mengikuti Zaydan berjalan kemobilnya walaupun dengan sedikit menghela nafas. Pria berbadan tegap itu membukakan pintu mobil untuk Elivia dan Zaydan. Elivia belum pernah melihatnya.


Elivia tetap terdiam sepanjang perjalanan. Malas sekali rasanya untuk bicara dengan si kodok itu. Dia terus memalingkan wajahnya memandangi jalanan lewat pintu mobil. Begitu juga dengan Zaydan. Pria itu sibuk berkirim pesan lewat ponselnya.


Mobil berhenti dibutik yang pernah mereka datangi sebelumnya. Sepertinya itu merupakan butik langganan Keluarga Kerajaan. Dengan ramah si pemilik butik yang gemulaipun menyambut mereka.


“Selamat datang Yang Mulia Dan,, Nona,, mari,”  ajaknya lagi. Pria yang bernama Kelvin itu menunjukkan jalan menuju keruangan VVIP. Disana, sudah ada deretan gaun-gaun indah yang dikhususkan untuk Elivia. Itu pasti kerjaan Ibu Suri.


Asisten Kelvin membantu Elivia untuk mencoba satu persatu gaun-gaun itu. Sedangkan Zaydan duduk disofa didepan fitting room dengan memegang gelas anggurnya, sudah seperti juri peragaan busana saja.


Zaydan memang berniat mengerjai Elivia. Sudah puluhan gaun yang dicoba Elivia, tapi tidak satupun yang cocok dibadannya. Tentu saja itu menurut Zaydan. Lutut Elivia mulai pegal karna berjalan mondar-mandir terlalu lama. Kakinya juga sudah lecet karna selalu berganti higheels yang harus dipakainya bersamaan dengan gaun-gaun itu. Elivia masih sabar. Dia tau kalau Zaydan sedang mengerjainya.


Tinggal empat gaun lagi yang harus dicoba Elivia. Kali ini dia mencoba gaun berwarna putih berornamen bunga berwarna emas dibagian depannya. Saking gerahnya, dia menggerai rambut yang selama ini selalu diikatnya, dan keluar untuk meminta penilaian dari si juri Zaydan.


Setelah gorden yang menutup fitting room dibuka. Zaydan menatap Elivia lekat. Gadis itu yakin kalau Zaydan tidak akan menyukai gaun itu juga. Mungkin kalau semua gaun sudah dicobanya, Zaydan akan bilang pas di saat gaun trakhir.


Elivia pasrah dan sudah bersiap berbalik untuk masuk kedalam lagi dan mencoba gaun lainnya. Karna Zaydan masih bengong memandangi Elivia dan tidak kunjung memberikan penilaiannya.


Ternyata dia manis juga ya, bathin Zaydan tanpa dia sadari. Kepalanya mengangguk-angguk. Itu pertanda gaun kali ini pas menurutnya.


Kelvin pun segera menyuruh asistennya untuk berhenti dan membiarkan Elivia mengenakan gaun itu. Setelah itu para penata rias datang dan merias wajah Elivia.


Setelah selesai, Elivia berjalan menghampiri Zaydan. Pangeran Zaydan semakin terpesona dengan kecantikan Elivia. Sebenarnya dia memang cantik, hanya tidak terlalu pandai berdandan saja. Zaydan juga sudah siap dengan tuksedo hitamnya.


“Kenapa rambutnya diikat? Biarkan tergerai.” Perintah Zaydan.


Astaga,,, ribet amat sih ni kodok. Dengus Elivia dalam hati. Kalau ia tidak menahan diri, umpatan itu pasti sudah keluar dari mulutnya. Dia hanya bisa menggigit bibir saking geramnya.


Elivia kembali ke ruang rias. Penata rias membiarkan rambut Elivia tergerai dan merapikannya. Sebenarnya Elivia merasa sangat risih. Dia tidak terbiasa dengan rambut yang digerai.


Hufhh! Lagi-lagi Elivia mendengus kesal karna sikap semena-mena Zaydan.


Dimobil, Elivia terus diam. Ia masih belum bisa


menghilangkan perasaan kesalnya kepada pria itu. Sedangkan Zaydan sedangnbertukar pesan dengan kekasihnya.


Sesekali Elivia memperhatikan sopir mereka. Dia belum pernah melihatnya. Dan dia penasaran dengan sopir gagah itu.


“Namanya Lucas. Dia asisten pribadiku.” Jelas Zaydan tiba-tiba. Elivia yang merasa tertangkap basah hanya memanyunkan bibirnya dan kembali membuang pandangannya.


“Dari tadi kamu memandanginya terus.”


“Siapa yang memandanginya terus? Hanya sesekali kok.” Elivia membela diri. Lucas yang sedang menjadi bahan obrolan hanya tersenyum saja.


“Kau menyukainya? Katakan saja. Aku tidak akan melarangmu. Lucas, kau dengar itu kan?” Lucas hanya sekali melihat mereka dari spion.


Iissshhh...!!!! Dasar kodok. Percuma meladeninya. Jadi Elivia memilih diam saja.


Sesampainya di Istana Kecil, mereka turun. Zaydan mengangkat lengannya meminta Elivia untuk menggandengnya. Elivia tidak mau dan memanyunkan bibirnya. Tapi Zaydan terus memelototinya. Matanya serasa hampir keluar. Dengan terpaksa Elivia menurutinya.


“Awas kalau kamu sampai membuat kesalahan. Perhatikan sikapmu didepan keluargaku!” Ancam Zaydan. Dia memaksakan senyumnya didepan keluarganya.


“Heiiii...kalian sudah sampai,,, duuuhhh kalian terlihat sangat serasi.” Celetuk Helena, istri putra mahkota.


Ihhhh,, serasi apanya??? Elivia memaksakan senyumnya


“Trimakasih Yang Mulia.” Kata Elivia.


Ibu Suri yang melihat Elivia dan Zaydan tertawa senang sekali. Itu pemandangan yang sangat ditunggu-tunggu. Walaupun dia tau sebenarnya mereka sedang berakting. Karna selama ini dia mengawasi mereka berdua.


Zaydan menarikkan kursi untuk Elivia. Dia terkejut, tapi mencoba untuk tetap bersikap biasa saja. Setelah itu Zaydan pun duduk didekat Elivia.


Makan malam itu berlangsung sangat mewah. Semua makanan yang dihidangkan merupakan makanan mewah dengan kualitas terbaik. Tanpa bisa ditutupi, Elivia terkagum-kagum. Dia bahkan menyantap hidangan dengan telur caviar yang tentu saja baru pertama kali ini dia rasakan.


“Wahh,, enak sekali. Hmmmmm...” Kata Elivia tanpa malu-malu. Bekali-kali dia memejamkan matanya tanda dia sangat menikmati makanan itu. Semua yang berada disana tertawa melihat tingkah Elivia.


“Au..!!” Zaydan menendang kaki Elivia dibawah meja. Gadis itu mengusap-usap kakinya dan melihat Zaydan. Tatapan Zaydan seperti mengatakan ‘memalukan.’


“Kenapa? Ini memang sangat enak kok..” Kata Elivia lagi. Dia jujur.


Hahahahahaha,,,,,, semua kembali tertawa. Bahkan Raja pun tertawa dengan keras.


Zaydan yang melihat pemandangan itu, hatinya sedikit trenyuh. Dia melihat semua keluarganya nampak senang. Dan itu pemandangan yang langka. Selama ini, walaupun mereka makan bersama seperti itu, tapi yang ada hanyalah kecanggungan.


Setelah acara makan malam, seluruh anggota keluarga berkumpul diruang santai. Mereka berbincang tentang apa saja. Elivia sedang berbincang bersama Ibu Suri, Ratu dan Helena. Mereka terlihat tertawa senang beberapa kali. Elivia cepat mengakrabkan diri dengan para wanita terhormat itu. Sedangkan Zaydan hanya memperhatikan saja. Entah kenapa dia merasa kehadiran Elivia membawa warna tersendiri didalam keluarganya. Gadis itu menularkan keceriannya kepada keluarganya.


Selama ini acara makan malam keluarga tidak seperti itu. Mereka hanya akan membicarakan politik. Dan Zaydan tidak boleh ikut campur dalam politik. Karna statusnya yang merupakan seorang pangeran. Jadi dia tidak bisa ikut mengobrol bersama Ayah dan Kakaknya. Terlebih masalah pemerintahan.