Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
99.



Mbak Ratna diam menatap dokter Fahri, ia bingung mau jawab apa, kalau tidak mau ia tidak bisa pulang, tapi kalau mau diantar mereka baru saja saling kenal, dan lagi dia adalah tamu di rumah ini.


''Kok diam, mau tidak???, dokter Fahri merasa kasihan pada gadis muda yang nampak lesu, tidak tahu kenapa tiba-tiba ia menawarkan dirinya untuk mengantarkannya pulang, ia pasti lelah setelah seharian bekerja pikirnya.


''Apa tidak apa-apa???, saya tidak ingin merepotkan'', ucapnya sungkan.


''Tidak masalah, apa kalau tidak ada yang menjemput, kau mau menginap disini???.


Mbak Ratna menggeleng.


''Mami bolehkah aku ikut paman mengantar mbak Ratna pulang???, tanya putranya itu


''Be juga mau ikut mengantar, boleh ya ??.


'' Ini sudah malam sayang''.


''Mami aku ingin tahu mbak Ratna tinggal dimana''. ucap pria kecil itu dengan wajah memelas


''Hahhh, ya sudah temani paman antar mbak Ratna pulang, tapi sampai rumah harus tidur ya tidak boleh main lagi''.


''Siap mami'', kedua anak itu langsung mengandeng tangan pamanya dan tangan mbak Ratna, ia segera pamit pada Arrumaisha dan Ken.


Ken hanya diam memandangi anak-anak pergi bersama saudara tirinya.


Dokter Fahri, mendudukan kedua keponakanya di kursi penumpang, lalu membuka pintu untuk dirinya dan duduk di kursi kemudi, melihat mbak Ratna yang belum masuk, ia pun keluar lagi, ''kenapa tidak masuk, apa ada yang ketinggalan???, tanyanya


''Saya duduk sama anak-anak saja dok'', ucapnya sungkan


''Aku bukan sopir, duduk depan!!!, kalau tidak mau aku tidak mau antar'', ancam dokter Fahri.


Mbak Ratna akhirnya menurut dan segera masuk duduk di kursi depan.


''Kita jalan ke arah mana??


''Belok kanan ikuti jalan depan ini dok'', ucapnya


''Rumah mbak Ratna jauh ya??, tanya pria kecil itu.


''Sebenarnya tidak lewat jalan ini lurus lalu ada persawahan lalu ada rumah-rumah hampir sampai ke hutan''.


''Ihhh serem'', ucap gadis itu dengan expresi takut.


''Apa kamu takut Be??.


''Jalanya gelap paman dan banyak air''.


''Pelan-pelan saja paman''.


''Tentu saja banyak air karena sedang hujan sekarang''.


''Apa banyak penduduk yang tinggal disana???


''Lumayan, desa terpencil dok??.


''Ngomong-ngomong sudah lama kerja di tokonya Isha??


''Kurang lebih hampir tiga tahunan dok, beberapa bulan sebelum si kembar masuk sekolah sampai sekarang''. jawab mbak Ratna


''Mbak Ratna tahu bagaimana Arrumaisha tinggal disini dan bagaimana si kembar lahir.


''Sedikit tahu dok dari cerita orang-orang, mbak Arrum hampir tidak pernah cerita apapun tentang kehidupanya''.


''Ya, begitulah dia, kenapa tidak melanjutkan sekolah dan memilih bekerja''.


Mbak Ratna terdiam, ''ibu saya sering sakit-sakitan dok dan bapak saya bekerja sebagai buruh tani harian, dan masih harus menyekolahkan adik saya, saya memilih bekerja agar bisa membantu meringankan beban bapak dan ibu'', jawabnya dengan jujur.


Dokter Fahri merasa tidak enak, ''maaf ya mbak Ratna, ibunya sakit apa??


''Tidak apa-apa dok, ibu saya punya riwayat jantung, dan jika kelelahan bekerja akan kambuh''.


''Sudah dok di balai pengobatan desa, ibu tidak mau di bawa ke rumah sakit, karena pasti akan butuh biaya banyak''.


Dokter Fahri teringat ibunya yang meninggal saat melahirkannya karena penyakit jantung, dan karena hal itu ia bercita-cita ingin menjadi dokter specialis bedah jantung, sehingga ia bisa membantu banyak orang yang punya keluhan tentang jantung bisa diselamatkan atau setidaknya bisa menikmati hidup lebih lama, tapi banyak orang yang takut untuk berobat karena terkendala biaya.


''Kenapa memilih bekerja di toko milik Isha, dan tidak mencari pekerja lain di kota misalnya''.


''Karena saya tidak punya keahlian khusus, saya hanya tamat sekolah menengah, dan lagi saya tidak tega kalau bapak harus mengurus ibu dan adik saya serta masih harus bekerja sendirian jika saya harus bekerja di tempat yang jauh, selain itu toko milik mbak Arrum dari dulu ramai sekarangpun tambah ramai, meskipun gaji kami tidak besar, tapi cukup untuk menghidupi diri saya dan sedikit membantu orang tua dan juga bantu sekolah adik saya''.


Dokter Fahri merasa gadis disampingnya sangat sederhana, tidak neko-neko dan sabar menjalani kehidupannya, saat bersamaan mereka menoleh ke belakang dan mendapati kedua anak kembar itu sudah tidur, mereka berdua tersenyum, dokter Fahri kembali melihat senyum mempesona mbak Ratna dan hatinya menjadi berdebar-debar.


''Mbak Ratna'', panggil dokter Fahri


''Iya dok''


''Jangan tersenyum seperti itu pada pria manapun'', ucapnya tidak suka


''Maksud dokter???, tanya mbak Ratna tidak mengerti.


''Lakukan saja''.


''Ya tapi kenapa tidak boleh?


''Karena.......''.


''Dok sudah sampai ini rumah orang tua saya'', tunjuk mbak Ratna seketika membuat dokter Fahri mengerem mendadak.


Mbak Ratna hampir terantuk, namun dokter Fahri segera menahannya dengan tangan kirinya, ia kaget dan kesal karena memberitahunya dengan tiba-tiba.


''Maaf dok'', ucapnya sambil tersenyum manis membuat dokter Fahri luluh, hilang semua kekesalannya.


''Terimakasih dok sudah mengantar saya'', ucapnya sopan, ia hendak membuka pintu mobil, tapi tidak bisa terbuka.


''Apa besok mbak Ratna pergi bekerja??


''Iya kenapa dok??


''Apa mbak Ratna tahu saya dokter specialis jantung''.


Gadis itu menggeleng


''Saya ingin memeriksa ibu mbak Ratna, tapi karena sekarang sudah malam dan tidak mendesak, selain itu ibunya mungkin sudah istirahat, saya akan datang lagi besok, tolong beritahu ibunya mbak Ratna agar tidak pergi bekerja, tenang saja saya tidak minta bayaran'', ucapnya membuat mbak Ratna tertegun.


''Mbak....mbak Ratna!!! panggilnya


''Ahhh iya dok, nanti akan saya sampaikan, terimakasih dok, terimakasih banyak'', ucapnya berkaca-kaca.


''Kok malah nangis, kenapa??


Mbak Ratna semakin terisak,'' trimakasih dok''.


''Sudah jangan nangis, hapus air matamu, nanti di kira saya apa-apain dan jangan panggil saya dok saat saya tidak sedang bekerja atau tidak di rumah sakit, mbak Ratna tahu kan nama saya???


Mbak Ratna mengangguk dan segera turun, ia mengucapkan terimakasih dengan sopan.


Dokter Fahri segera putar balik dan memacu kendaraannya sedikit lebih kencang, hingga hanya dua puluh lima menit saja sudah sampai rumah, jalanan desa juga sudah sepi saat malam hari.


Ken dan Arrumaisha masih menunggunya, pria itu mengelus perut buncit istrinya yang sesekali mendesis karena janinya bergerak dan kemudian terdengar suara kendaraan memasuki garasi rumah, Ken langsung berdiri keluar untuk melihat.


''Mereka sudah tidur'', ucap dokter Fahri


''Apa kau mengecaninya, lama sekali''.


''Tidak ada yang melarangku untuk berkencan bukan, a'im single''.


Ken tak mengubrisnya, ia langsung membuka pintu dan membopong putrinya, lalu dokter Fahri membopong keponakan laki-lakinya yang tertidur lelap menaiki tangga membaringkannya di kamarnya. Lalu ia segera turun untuk berbicara dengan Arrumaisha dan Ken namun terlambat Arrumaisha sudah masuk ke kamarnya, ia pun menuju kamar yang disiapkan untuknya istirahat''.