Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
106.



Bunyi sirene mobil ambulan terasa memekakan telinga, melaju meninggalkan keramaian hotel, Ken memegang tangan istrinya dengan erat, air matanya mengalir begitu saja, ia tidak tahu harus berbuat apa, dia sudah menjaganya dengan sangat hati-hati, tapi istrinya sekarang mengalami pendarahan dan ia sedang hamil anak-anaknya yang tentunya mereka nantikan. Melihat wajah istrinya yang tiba-tiba pucat dan bernafas dengan bantuan oksigen, dan selang infus di pergelangan tanganya, Ken merasa tubuhnya menjadi lemah, ia merasa tidak berdaya tak bisa melakukan apa-apa.


''Tenanglah, Isha wanita yang kuat''. ucap dokter Fahri berusaha tenang.


''Bagaimana aku bisa tenang, nyawa istri dan anakku sedang dalam bahaya, lakukan sesuatu untuknya''. ucap Ken tak terima


''Aku pasti melakukan yang terbaik untuknya'', ucap dokter Fahri.


''Honey bertahanlah, aku mohon, aku mau kalian semua, jika bisa aku mau menggantikan sakit yang kamu rasakan'', ucapnya terisak, air mata Arrumaisha mengalir dari sudut matanya, melihat suaminya yang begitu mengkuatirkanya, ia merasa sedih, ia tahu kehamilan keduanya sangat beresiko, setiap kali pergi periksa dokter Rahajeng selalu mengingatkannya untuk berhati-hati dan menjaga asupan nutrisi, ia juga telah memberitahu sebelumnya resiko kehamilan kembar tiga, dan memintanya untuk bersiap dengan resiko terburuk, ia juga meminta mereka untuk menjaganya dan Ken sudah berusaha berhati-hati menjaganya. Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu lama, Ken terus menggegam tangan istrinya dan mengelus perutnya untuk memberikan kekuatan.


''Honey kau harus kuat, semua akan baik-baik saja'', ucapnya. Ken terus mengajaknya berbicara, dan mengelus perut istrinya yang terus bergerak aktif.


''Isha jangan tidur sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit'', ucap dokter Fahri melihat mata Arrumaisha yang ingin sekali terpejam, sejujurnya ia sangat takut, wanita yang terbaring di depannya adalah perempuan yang ia cintai, meski ia sudah berusaha menghilangkan perasaan cintanya, bukan berarti ia bisa mengabaikannya begitu saja, dokter Fahri sudah menganggapnya seperti saudara perempuannya.


Sementara itu Aldo segera mengambil alih tugasnya menggantikan Ken memimpin jalanya peresmian dan pembukaan hotel, Reisa memilih pergi dari hotel dan mengikuti mobil ambulan dari belakang.


Mendengar suara sirene ambulan dokter Burhan segera membawa kedua cucu kembarnya kembali ke hall menghampiri istrinya.


''Apa yang terjadi???, tanya dokter Burhan, mendengar tamu yang berbisik di mana-mana.


''Isha mengalami pendarahan, dia bilang dari semalam ia tidak bisa tidur, janinya bergerak terus, Ken dan Fahri membawanya ke rumah sakit, kita harus segera menyusulnya sekarang''.


''Apa mungkin dia kelelahan, sebaiknya kita berangkat'', dokter Burhan dan nyonya Sophia segera bergegas, kedua cucunya juga ikut bersamanya, tidak mungkin mereka meninggalkannya di rumah. Sebagai pemilik rumah ia segera menghubungi pihak rumah sakit, ia tahu betul menantu sambungnya memiliki resiko kehamilan kembar tiga, dia juga berkali-kali mengingatkan untuk menjaga kehamilanya ketika berbicara di telepon.


''Grandma, mami kenapa???, pria kecil itu tahu mamanya sedang tidak baik-baik saja.


''Mami tidak apa-apa sayang, mungkin hanya kelelahan??.


''Kenapa mami di bawa ke rumah sakit???, kalau tidak apa-apa??, gadis itu berkaca-kaca dan menangis


''Mommy akan baik-baik saja, ada papa dan paman bersamanya''. Nyonya Sophia berusaha menenangkan kedua cucunya.


Semua dokter tim terbaik rumah sakit telah bersiap menunggu kedatangan dokter Fahri yang membawa Arrumaisha, mereka tahu pasien adalah keluarga pemilik rumah sakit, dokter Burhan secara pribadi menghubungi pihak rumah sakit agar bersiap.


Arrumaisha segera di pindahkan dari ambulan yang membawanya, dokter Fahri dan dokter Reisa bersama tim dokter yang sudah disiapkan langsung menanganinya, tak berapa lama dokter Burhan dan nyonya Sophia datang menghampiri Ken, yang berdiri di depan ruangan.


''Tenangkan dirimu, dia wanita yang kuat, dia pasti akan bertahan'', ucapnya memberikan dukungan pada putranya, nyonya Sophia sebenarnya sangat kuatir, sebagai dokter ia tahu resiko yang bisa saja terjadi pada menantunya dan bayinya, dia juga telah berbicara pada suaminya yaitu dokter Burhan saat dalam perjalanan tadi, agar menyelamatkan menantu dan cucu-cucunya. Tentu saja dokter Burhan akan melakukannya yang terbaik untuk mereka, meski Ken bukan anak kandungnya, tapi ia sudah menganggapnya seperti keluarga, mereka anak dan menantunya, sebagai ayah sambung Ken dan menantunya, merekalah anak-anaknya juga.


Arrumaisha menjalani beberapa pemeriksaan, dan jalan satu-satunya harus segera oprasi caesar, perutnya terus mengalami kontraksi dan pendarahan, saat ini kehamilanya berjalan tujuh bulan, dan terpaksa harus di lahirkan sekarang, meski banyak resiko yang akan di hadapi.


''Ayah, bolehkah aku menemaninya, aku tidak ingin ia merasakan sakit sendirian'', ucap Ken begitu memohon, dan ini adalah pertama kalinya Ken memanggil dokter Burhan dengan panggilan ayah, dokter Burhan merasa lega mendengarnya.


''Jika kau kuat tidak masalah, tapi jika tidak sebaiknya jangan'', jawabnya kemudian.


''Sebaiknya mommy saja yang menemaninya'', ucap nyonya Sophia


''Mom, saat kedua anakku ini lahir aku tidak pernah ada di sampingnya dan sekarang aku ingin ada untuknya''.


''Segera berganti pakaian''. ucap dokter Burhan tegas. Dokter Burhan teringat bagaimana dulu saat istrinya melahirkan sendiri putranya yaitu dokter Fahri, saat itu ia tidak ada disisi istrinya karena sedang menjadi relawan, dan hanya kedua anak perempuanya yang menemaninya yang saat itu mereka masih kecil dan tidak mengerti, ia tidak ingin hal itu terulang pada keluarganya. Ketiga anaknya tumbuh besar tanpa kasih sayang ibunya, terutama dokter Fahri dia tidak pernah mengenal sosok ibunya, dokter Burhan merasa sekarang putranya sudah bisa menerima nyonya Sophia dan menganggapnya sebagai ibu, meski awalnya ia kurang setuju dengan pernikahannya dengan nyonya Sophia yang merupakan teman semasa kuliah.


''Mommy aku akan masuk, Ken mengusap kepala kedua anaknya yang terlihat sedih, berdoalah yang baik untuk mama dan saudara kalian''.


Kedua anak kembar itu mengangguk, kemudian duduk di kursi depan ruangan bersama nyonya Sophia.


''Grandma apa mama akan melahirkan??, tanya cucu laki-lakinya itu sedikit mengerti


''Iya sayang, mama kalian akan melahirkan sekarang, mungkin saudaramu sudah tidak sabar ingin bertemu kita, mari berdoa untuknya, semoga persalinanya di lancarkan dan sehat semua''.


''Grandma apa melahirkan itu sakit???, tanya cucu perempuanya yang sesenggukan.


''Be jangan bicara seperti itu, tentu saja mama sakit karena di oprasi seperti waktu itu, paman dan kakek akan menolong mama kan grandma???.


''Sayang kau tahu di dalam perut mama ada tiga saudara kalian, ruang perut mama menjadi sempit untuk ketiganya bergerak sehingga terasa sakit, paman dan kakek serta tim dokter sedang menolong mama''.


''Kenapa grandma tidak menolong mama, grandma kan juga seorang dokter???.


''Grandma tidak pernah bekerja disini, setiap rumah sakit mempunyai tim dokter dan ahli sendiri, mereka yang akan melakukan tugasnya''.


Hingga hampir satu jam nyonya Sophia menunggu dengan kuatir, ketiga cucunya lahir prematur, tentu membutuhkan penanganan kusus, dia hanya berharap menantu dan ketiga bayinya lahir selamat tanpa cacat. Ia berfikir akan tinggal di kota B, sampai menantu dan cucunya sehat.