
Malam telah larut, hujan juga tak kunjung reda, membuat udara terasa dingin, dokter tampan itu tidak bisa tidur, pikiranya melayang entah kemana, gadis muda yang bernama Ratna itu tidak bisa hilang dari pikiranya, ia berusa keras memejamkan matanya tapi masih tidak bisa terpejam, ia menyandarkan tubuhnya.
''Apa aku jatuh cinta padanya, kenapa dia sangat mengganggu pikiranku'', ia berbicara sendiri. Ia mencoba mengalihkan sosok gadis desa itu dari pikiranya dengan mengingat pertemuanya dengan Arrumaisha, ia ingat bagaimana dulu bisa jatuh cinta dengan perempuan yang sekarang menjadi iparnya itu, tidak akan pernah ada yang tahu jalan hidup yang manusia lalui, setiap orang punya cerita dan jalan hidup masing-masing, ia merasa lelah dan kembali membaringkan tubuhnya mematikan lampu tidur dan menutup matanya dengan bantal.
Sementara di lain tempat mbak Ratna juga memikirkan kata-kata yang diucapkan dokter Fahri, saat pulang tadi ia langsung mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah lelah seharian bekerja, meskipun kondisi ibunya tidak sehat, ibunya selalu menyiapkan air hangat untuknya, sehingga dia tidak kedinginan saat mandi malam hari karena pulang sampai malam, ''tidak boleh tersenyum pada pria manapun, apa senyumku sangat tidak mengenakan'', ia bergumam sendiri lalu mengambil cermin dan mencoba tersenyum lalu memasang muka cemberut yang justru membuatnya jelek, mbak Ratna merasa begitu lelah karena ucapan satu orang, menurutnya sangat aneh dan mencoba memahaminya tapi tetap tidak mengerti dan akhirnya ia tertidur.
''Pagi-pagi sekali mbak Ratna bangun, setelah solat malam dan lanjut dengan solat subuh, ia langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk orang tua dan adiknya, di rumah yang tidak begitu besar itu ia tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya, hidup serba sederhana. Sebenarnya ia ingin seperti teman-temanya bisa melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, namun apa daya kedua orang tuanya bukan orang berada, tidak mampu membiayainya jika ia harus melanjutkan pendidikanya, sudah untung bisa bersekolah sampai lulus, sebagai anak pertama dia harus membantu kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani harian, meskipun begitu ia tidak pernah mengeluh.
''Mbak Ratna sudah bersiap berangkat bekerja, ia selalu datang lebih awal dari yang lain, tak lupa ia memberitahu kedua orang tuanya bahwa hari ini akan ada dokter yang datang memeriksa ibunya, mbak Ratna pamit pada kedua orang tuanya, hari ini motornya harus di perbaiki jadi ia hendak berjalan kaki atau akan menumpang orang yang lewat untuk berangkat bekerja, ia membuka pintu dan alangkah terkejutnya dia melihat seseorang yang berdiri di halaman rumahnya.
''Pagi'', sapa dokter Fahri dengan ramah
Mbak Ratna tertegun sesaat, dia segera mengangguk sopan, ''slamat pagi dok, apa sudah lama di luar, kenapa tidak mengetuk''.
''Tidak apa-apa, mbak Ratna mau kemana??
''Mau berangkat dok??
''Tidak perlu berangkat sekarang, tunggu saya selesai memeriksa ibunya, nanti kita bisa berangkat bersama, tenang saja Isha tidak akan marah, aku sudah memberitahunya''. ucapnya
Gadis itu kembali terdiam, entah apa yang dipikirkan, sebenarnya dokter Fahri semalam tidak bisa tidur karena pikirannya penuh dengan gadis di depannya, sehingga dia bangun pagi-pagi dan bersiap, setelah memberitahu Arrumaisha dan Ken, ia langsung berangkat, ia tidak bisa untuk tidak peduli, entah karena panggilan jiwanya atau karena seorang gadis bernama Ratna itu begitu menarik hatinya.
''Apa kita akan berdiri saja di sini, kapan aku bisa memeriksanya???, ucapnya
''Ahhh iya silahkan masuk dok'', mbak Ratna membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Ia segera mengenalkan dokter Fahri kepada kedua orang tuanya dan dokter Fahri segera memeriksanya.
Setelah selesai memeriksa, dokter Fahri menyarankanya untuk memerisakan kondisinya ke rumah sakit kota, dengan peralatan yang lengkap, ia juga menjadwalkan waktu untuk pergi periksa, setelah selesai dokter Fahri segera undur diri kembali ke rumah Arrumaisha bersama mbak Ratna. Beberapa tetangga mbk Ratna yang kebetulan melihatnya heran karena ada tamu laki-laki bertandang di pagi hari, dan mengira dokter Fahri adalah calon suaminya mbak Ratna.
Saat dalam perjalanan mereka berdua diam, udara pagi begitu sejuk, dokter Fahri membiarkan jendela terbuka menikmati suasana sejuk desa mbak Ratna.
''Dokter maaf ya, tadi tetangga saya mengira anda calon suami saya'', ucapnya.
Dokter Fahri tersenyum, ''kalau beneran jadi suamimu mau tidak???, ia sengaja menggoda mbak Ratna dengan kejadian dirumahnya, disana tetangganya langsung menanyakan siapa dirinya.
''Aku tanya mbak Ratna mau atau tidak??, dan kenapa terus memanggilku dokter lagi''.
Wajah mbak Ratna menunduk malu, gadis itu tak berani menatap dokter Fahri.
''Mau tidak??, tanya dokter Fahri lagi
''Perempuan mana yang menolak bersanding dengan laki-laki sebaik dokter, tapi.... saya bukan perempuan yang pantas untuk dokter''. ucap mbk Ratna lirih tapi masih bisa di dengar olehnya.
Sesaat mereka berdua terdiam. Dokter Fahri sedikit kecewa dengan jawaban mbak Ratna.
''Kenapa mbak Ratna berfikir begitu??, lalu yang pantas untuk saya wanita seperti apa???, Saya bahkan pernah di tolak langsung oleh wanita yang saya cintai dan juga sangat aku inginkan'', ucapnya terasa getir
Mbak Ratna terkejut mendengarnya, wanita mana yang menolak bersanding dengan dokter muda tampan dan juga mapan sepertinya, bahkan pegawai toko saja sering membicarakanya, ''Ada banyak wanita yang lebih pantas untuk menjadi pendamping anda''. jawabnya
''Apa mbak Ratna tahu, semua jawaban mbak Ratna tadi sama dengan jawaban wanita yang aku cintai, dan sekarang dia telah bahagia bersama suami dan anaknya'', ucapnya. ''Mungkin benar ada banyak wanita yang mau bersanding denganku, tapi aku tidak bisa menemukan wanita yang sama sepertinya''. entah kenapa ia malah curat pada mbak Ratna.
''Mungkin dia memang bukan jodoh anda, seberapa besar cinta anda kepadanya, tapi mungkin Tuhan tidak ingin dia bersama anda, karena Tuhan telah menyiapkan wanita lain yang lebih bisa menerima anda, memahami anda, memiliki cinta yang besar untuk anda dan yang pasti lebih anda butuhkan, bukan yang anda inginkan'', jawab mbk Ratna dewasa.
''Seandainya anda memaksakan cinta anda padanya apakah anda bisa menjamin wanita itu akan bahagia bersama anda???, ucapnya lagi
Dokter Fahri mencerna ucapan mbak Ratna, dia memang menginginkan Arrumaisha menjadi pendamping hidupnya, namun Arrumaisha telah menolaknya demi anak-anaknya dan memilih kembali menikah dengan suaminya, dan sekarang ia telah menjadi iparnya.
''Seperti apa suami idaman mbk Ratna??, tanyanya lagi.
''Saya....,,mbak Ratna diam berfikir, ''jika saya boleh meminta, saya ingin suami yang baik akhlaknya dan bisa menerima kekurangan dan kelebihan saya dan keluarga saya apa adanya'', ucapnya lembut
''Baik aklaknya ya??, dokter Fahri diam, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi.
Akhirnya mereka sampai di kediaman Arrumaisha, mbak Ratna segera mengucapkan trimakasih dan bergegas turun untuk membuka toko.
Dokter Fahri bengong sendiri, ia berfikir apa kekuranganya, apa ia kurang baik sehingga di tolak oleh Arrumaisha, ia memikirkan kata-kata mbak Ratna semua ada benarnya. Selama ini ia terlalu keras menginginkan sesuatu hal yang bukan untuknya.