
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu lama, Ken sangat tidak sabar ingin segera sampai rumah sakit.
''Anak-anak apa kalian tahu mama kalian sakit selama papa belum pulang?? tanya Ken.
''Mama pernah sakit, badannya panas sama batuk pa'', jawab Ryube
''Mami pernah sakit perut pa, tidurnya lama enggak bangun, terus aku sama Be lapar terus kita bangunin mami enggak mau bangun, terus aku sama Be nangis lalu mami bangun'', jelas Ryuna begitu membuat Ken sedih pasti saat itu mantan istrinya benar-benar sakit, bahkan mungkin sampai tidak sadar pikirnya.
''Benarkah??kenapa tidak panggil dokter, mami pernah berobat tidak?? Ken semakin merasa bersalah.
''Mama minum obat banyak pa?? jawab Ryube.
''Habis minum obat mami tidurnya lama'', tambah Ryuna.
Mungkin saja obat yang diminum adalah jenis obat pereda nyeri, jadi membuatnya mengantuk dan tidur lebih lama, pikir Ken lagi.
''Papa mama sakit apa?? apa mama akan mati pa??, tanya Ryube dengan polosnya.
''Enggak!!!!, Ryuna berteriak hingga Ryube terlonjak kaget ''mami gak boleh mati!!!!, Be gak boleh ngomong gitu!!!, ucap Ryuna tidak suka.
''Anak-anak, kalian sayang sama mama kan??? tanya Ken dan dianggukin oleh kedua anaknya.
''Yuna sayang mami, mami enggak boleh mati pa'', pria kecil itu berkata dengan sedih, matanya berkaca-kaca dan air matanya mengenangi mata bulatnya.
''Aku juga sayang mama, papa LeYuna marah sama Be'', Ryube langsung menangis, ''ayo jemput mama ke rumah sakit pa'', ucapnya sedih.
''Kalian berdua tidak boleh bertengkar, mami tidak akan suka, jadilah anak yang baik, nurut sama mami kalian, hari ini mami mau operasi'', Ken memberitahu kedua anaknya, agar mereka tidak ribut dan berdebat, ''sudah jangan nangis''.
''Oplaci itu apa pa??? tanya Ryube sambil mengelap ingusnya.
''Operasi itu dilakukan oleh dokter untuk mengambil penyakit mami, biar mami tidak sakit lagi'', Ken hanya memberitahu tidak detail, agar anak-anak tidak kuatir dan justru akan membuatnya takut.
''Sekarang kalian berdoa untuk mami, biar operasinya berjalan lancar dan cepat sembuh''.
Kedua anak itu terdiam dan memanjatkan doa hingga akhirnya tertidur.
Sementara itu selepas dhuhur, Arrumaisha telah di bawa perawat masuk ke ruang operasi, dan dokter Fahri sedang bersiap untuk melakukan operasi pada Arrumaisha.
''Kau sudah siap, tidak usah tegang, ngomong-ngomong apa ada keluargamu di luar, apa dia suamimu???, tanya dokter Fahri
Arrumaisha hanya menggelengkan kepala.
''Bukan ya, kalau begitu penggemarmu!, ucap dokter Fahri membuat Arrumaisha membeliakan matanya.
Semua tim operasi yang sudah bersiap tertawa mendengar perkataan dokter Fahri yang sekedar untuk mencairkan suasana di ruang operasi.
''Baiklah mari kita berdoa terlebih dahulu, semoga operasi hari ini berjalan lancar pasien segera diberi kesembuhan dan hidup sehat dan bahagia Aamiin''. Dokter Fahri segera memimpin jalannya operasi.
Jalanan memasuki pusat kota semakin padat, hingga Ken sampai di rumah sakit hampir jam satu siang. Dia melihat kedua anaknya masih tidur dengan nyenyaknya.
Ken mengambil ponsel mencari nama Aldo
Dreetttt... dreettt....
''Iya tuan'', jawab Aldo saat melihat nama bos memanggil di ponselnya.
''Aldo kau dimana??, suara dalam telfon
''Saya sedang di depan ruang operasi tuan, nona Arrum baru saja di bawa masuk ke ruang oprasi'', jelasnya.
''Kedua anakku sedang tidur, datanglah ke tempat parkir''.
''Baik tuan'', Aldo segera berjalan cepat ke parkiran.
Aldo keluar dari lobi rumah sakit mencari Ken di parkiran, terlihat Ken berdiri di pintu mobil.
''Apa operasinya sudah di mulai?, tanya ken
''Sepertinya sudah tuan, saat tuan telefon tadi nona baru saja di bawa ke ruang oprasi'', jelas Aldo.
''Bantu aku menggendong putraku, kita tunggu di dalam saja''.
''Baik tuan''.
Ken dan Aldo berjalan ke depan ruang operasi, mereka menunggu disana.
''Papa, mama dimana???, tanya Ryube yang baru bangun di gendongan Ken.
''Mama masih menjalani operasi, Be duduk sendiri ya''. Ken menaruh putrinya duduk di kursi sebelahnya. Dia berdiri untuk merenggangkan ototnya yang kaku, bergerak kesana kemari, dia merasa tegang, hampir dua jam oprasinya belum juga selesai.
''Mami masih ditangani dokter di dalam sana'', jawab Aldo.
''Uncle Aldo kerja disini??.
''Enggak, uncle kerja sama papa kalian''.
Ken berjalan mondar mandir, wajahnya tegang karena menunggu operasi mantan istrinya tanpa memberitahunya. Mereka memang sudah berpisah, perceraian telah menjadi jalan yang di pilih Ken sendiri, tapi keberadaan anak-anaknya kini membuatnya semangat menjalani hidupnya dan ingin menyatukan keluarganya lagi, tapi mantan istrinya sampai sekarang masih belum memberikan jawaban dan justru sedang menghadapi kesakitanya sendiri.
''Tenanglah tuan'', ucap Aldo yang melihat atasannya tegang.
''Aku tidak bisa tenang, kenapa lama sekali oprasinya??.
''Tuan akan membuat anak-anak tuan takut dan kuatir'', bisik Aldo pada Ken.
''Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya, aku bahkan tidak tahu dia sakit, aku sangat tidak berguna'', ucap Ken.
''Tuan sangat berguna, kalau tuan tidak ada, bagaimana dengan anak-anak tuan, siapa yang akan menjaganya disaat mamanya sakit, tuan masih punya kesempatan untuk memperbaiki semua, tuan harus sabar dan tidak boleh menyerah, seperti nona sabar dan tidak menyerah bertahan hidup, dia wanita yang kuat'', ucap Aldo menenangkan.
Waktu telah lewat dua jam lebih, lampu di ruang operasi menyala hijau, pertanda operasi telah selesai.
Ken sedikit lega, dokter Fahri keluar dari ruang operasi di dampingi seorang perawat.
''Bagaimana keadaan istri saya????, tanya Ken langsung
''Apa anda keluarga nyonya Arrumaisha??, tanya perawat itu.
''Saya suaminya!!, jawab Ken
Dokter Fahri terdiam menatap Ken, menurut data yang dia terima Arrumaisha telah bercerai, tapi pria di depannya mengaku sebagai suaminya, kemudian beralih melihat dua anak yang duduk yang juga menatapnya.
''Operasinya berjalan lancar'', jawab dokter Fahri kemudian.
''Silakan ikuti kami, dokter akan menjelaskan keadaan pasien'', kata perawat itu.
Dokter Fahri berjalan lebih dulu bersama perawat itu masuk ke sebuah ruangan.
''Aldo tolong temani anak-anakku'', perintah Ken dan diangguki oleh Aldo
''Anak-anak tunggu disini sama uncle Aldo, papa mau bicara sama dokter dulu, tunggu mama keluar, jangan kemana-mana''.
Ken masuk ke sebuah ruangan, disana dokter Fahri dan perawat yang mendampinginya berada.
''Silakan duduk'', ucap dokter Fahri
Ken duduk di kursi depan meja dokter Fahri.
''Apa benar anda suami nona Arrumaisha???
''Ehhhh, saya mantan suaminya'', jawab Ken jujur.
''Apa nona tidak punya keluarga???, tanya dokter Fahri lagi.
''Dia anak tunggal, dan kedua orang tuanya sudah tiada''.
''Apa anda tinggal bersama?? tanya dokter Fahri
''Saya baru kembali sekitar dua bulan yang lalu, saya tidak tahu kalau dia sakit, dia tidak memberitahu saya jika akan oprasi''.
''Baiklah, nona Arrumaisha sudah tiga tahun mengidap kista tapi ternyata dia juga ada miom dalam rahimnya sejak sebelum saya mengambil alih pasien. Dokter sebelumnya telah pensiun, saya yang menyarankan untuk segera dioprasi karena miomnya terus membesar, nona Arrumaisha baru saja menjalani miomektomi abdominal, butuh waktu 1sampai 3 hari untuk di rawat inap, setelahnya untuk proses pemulihan pasca oprasi, butuh waktu 2 sampai 6 minggu agar dia istirahat dengan benar'', Jelas dokter Fahri.
Ken diam mendengarkan penjelasan dokter Fahri, dia tidak tahu harus menanyakan apa, pikirannya buntu.
''Apa ada yang ditanyakan??, tanya dokter Fahri.
''Apa selama sakit dia sering berobat kesini?, tanya Ken.
''Sudah sejak tiga tahun nona Arrumaisha berobat pada dokter sebelumnya, sudah lama dianjurkan untuk operasi, tapi baru beberapa hari lalu dia kontrol lagi dan saya yang menggantikan dokter yang menangani sebelumnya, saya segera memintanya untuk oprasi, karena miomnya semakin besar'', jawab dokter Fahri
''Apa dokter mengenal istri saya??, maksudnya mantan istri saya? tanya Ken
''Ya, dia teman lama saya, ada lagi???
'' Tidak, trimakasih'', ucap Ken.
''Kalau ada keluhan segera hubungi kami, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan''.
''Baik, terimakasih, permisi'', Ken berdiri dan keluar ruangan.