Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
10



Hingga malam hari Ken masih di rumah Arrumaisha, kedua anak kembarnya tidak mau ditinggal sebentarpun, bahkan hanya untuk ke kamar kecil, terutama putri cantiknya Ryube.


''Ken menemani mereka belajar dan bermain, hingga kedua anak kembarnya itu menguap berkali-kali.


''Apa anak-anak papa sudah mengantuk??, tanya Ken


''Be mau bobok sama papa!!, ucapnya sambil memeluk erat papanya.


''Aku mau sama mami juga!!, sahut Ryuna.


''Gosok giginya dulu sayang!!


''Siap mami, Ryuna segera ke kamar mandi dan menggosok giginya, sedang Ryube tidak mau lepas dari gendongan papanya. Ken membawa Ryube untuk menggosok giginya.


''Ok siap bobok semua tunjukkan kamarnya??. seru Ken


''Kalian boboknya ditemani papa dulu ya, biar papa yang bacakan bukunya, pilih sendiri bukunya sayang!!!.


''Mami mau kemana?, tanya Ryuna


''Mami masih ada pekerjaan siapin buat besok sayang!!, Arrumaisha tidak tahu mau beralasan apa, dia tidak enak kalau harus tidur sekamar dengan mantan suaminya.


''Mama Be mau peluk dulu!!, ucap Ryube manja sambil mengulurkan kedua tanyanya namun tidak mau lepas dari gendongan papanya. Arrumaisha memeluk putrinya sebentar.


''Mami aku juga mau sama cium lambut mami sebental!!, seru Ryuna memeluk kaki mamanya.


''I love you mama'', ucap Ryube setelah memeluk dan mencium mamanya.


''I love you Be, good night''.


Arrumaisha segera berganti mengangkat Ryuna dan mengendongnya membawanya ke kamar, Ryuna mencium mamanya berkali kali dari pipi, kening, hidung, mata, dan bibir, kemudian mencium rambut dan menghirup wangi rambut sang mama. Ryuna selalu sepertimu itu jika mau tidur, pria kecil yang sangat patuh pada mamanya dan sangat menyayangi saudara kembarnya, dia selalu mengalah dari Ryube.


''I love you mami, good night!!! ,ucap Ryuna


''I love you more, selamat bobok jangan lupa berdoa!!.


Semua tidak luput dari pandangan Ken yang mengikutinya menggendong Ryube ke kamar, bagaimana interaksi kedua anak kembarnya dengan mamanya, begitu penuh cinta.


Rumah mungil Arrumaisha, bersih dan rapi, kedua anaknya sangat disiplin, mereka merapikan sendiri mainan dan alat belajarnya setelah selesai digunakan, mainan mereka juga tidak banyak, buku-buku cerita tertata rapi. Di kamar yang sempit itu terdapat dua bok bayi, yang sudah disatukan dengan ranjang sehingga ranjangnya terlihat luas, dan dua lemari pakaian yang terbuat dari plastik.


Ken berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh, dadanya bergemuruh, dalam hatinya dia merutuki dirinya sendiri, bagaimana dia tidak memikirkan akibat yang dia lakukan hingga wanita yang diceraikanya mengandung buah hatinya yang tidak pernah dia ketahui, wanita yang mengorbankan segalanya, masa muda serta masa depannya dan lebih memilih membesarkan anak-anaknya dengan tanganya sendiri, hidup di rumah sempit, bahkan kamar tidur mereka tidak di batasi dinding, hanya memakai sekat saja. Ken merasa sangat sakit, selama 5 tahun ini dia depresi, tak jarang dia menghabiskan harinya dengan pergi ke bar dan minum-minum, entah sudah berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk hal yang justru merusak dirinya, dan kini dia melihat kenyataan kehidupan anak-anaknya, membuat perih di dadanya. Bagaimana dulu dia begitu sombong dan angkuh pada Arrumaisha dia ingat betul setelah menandatangi surat perceraian dia meminta Arrumaisha untuk tidak menemuinya dan menjauhinya. Dan Arrumaisha melakukan semua itu.


''I love you baby, i'am so sorry''. Ken mencium keduanya bergantian, dia berusaha menenangkan diri, memastikan kedua anak kembarnya benar-benar tertidur, sebelum akhirnya keluar mencari Arrumaisha, namun sesaat berhenti di depan pintu kamar.


''Apa yang kau lakukan??, tanya Ken yang sejak keluar dari kamar tadi melihat mantan istrinya masih sibuk di dapur.


''Haahh...., Arrumaisha terkaget saat mendengar suara Ken menegurnya.


''Ini sudah malam kenapa kau masih sibuk bekerja??, tanya Ken lagi


''Aku sedang menyiapkan bahan masakan untuk besok.


''Apa kau tidak lelah, istirahatlah aku akan tidur di mobil saja'', ucap Ken


''Maaf tuan kami tidak ada tempat untukmu''.


''Tidak, aku yang seharusnya minta maaf, aku yang membuatmu kesusahan seperti ini'', ucap Ken sedih membuat suasana begitu canggung.


''Isha,.... maukah kau memaafkanku'', ucap Ken meraih kedua tangan Arrumaisha.


Mereka berdua saling menatap


''Aku tahu ini sulit, bahkan tidak termaafkan olehmu, tapi aku akan tetap memohon maaf padamu'', tiba-tiba Ken berlutut di kaki Arrumaisha. ''Aku menyesalinya Isha'' ucapnya begitu nelangsa. Ken menangis dan berlutut, ''beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku, meski kau tidak akan pernah bisa memaafkanku, aku akan tetap melakukanya'', ucap Ken berlutut di bawah kaki mantan istrinya.


Arrumaisha mundur sedikit,


''Jangan seperti ini tuan, mungkin ini sudah takdirku, aku sudah ikhlas menerimanya''.


Ken menangis tergugu masih dengan berlutut padanya.


''Katakan padaku Isha, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya??.


''Tuan jangan seperti itu berdirilah'', Arrumaisha membantu Ken berdiri.


''Kita punya kehidupan masing-masing, tentang anak-anak, tuan boleh kapanpun bertemu mereka'', ucapnya terdengar berat.


''Isha, bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini dengan sabar, aku sudah banyak melukaimu, menyakitimu begitu dalam, merampas masa depanmu, dan juga masa mudamu, maafkan aku Isha'', Ken menarik tubuh Isha memeluknya erat dan menangis, ''maafkan aku'' ucapnya sekali lagi.


Arrumaisha tidak bergeming dalam pelukan Ken, air matanya mengalir begitu saja hingga akhirnya diapun ikut terisak, tak kuasa menahan sesak di dada. Sejak menikah dengan Ken hidupnya bisa di bilang tidak baik-baik saja. Bahkan saat dia tahu dirinya hamil, Arrumaisha benar-bebar berada dititik terbawah. Dimana bibinya yang dianggap satu-satunya keluarganya, tidak mau menampungnya dan pamanya di penjara, sedang uang hasil penjualan lahan peninggalan orang tua digunakan untuk mengganti rugi ke perusahaan namun tidak cukup sehingga pamanya harus di penjara. Arrumaisha hanya menyisakan sedikit uang yang rencananya akan digunakan untuk menyelesaikan kuliahnya, namun dia akhirnya memilih mengubur cita-citanya, karena kondisinya hamil bayi kembar diusianya yang baru 18 tahun, dan dia sangat lemah saat hamil kedua buah hatinya. Pernah terbesit akan menggugurkan kandungannya saat itu, tapi sebagai mahasiswa kedokteran tentu dia tahu akibatnya, dan akhirnya dia memutuskan untuk berhenti kuliah dan pergi dari ibukota lalu pulang ke kampung halaman ibunya, hidup sederhana membeli sebuah ruko kecil, membuka toko kelontong untuk menghidupi dirinya dan anak dalam kandunganya.


Arrumaisha berusaha kuat dan tegar menjalani kehidupannya selama ini sendirian, tidak mengenal siapapun, meski di kampung halaman ibunya. Arrumaisha pernah diajak datang ke kota ini sebelum kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan dan dia satu-satu yang selamat.