Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
97



''Kak... !!!,panggilnya lagi


''Apa'', jawab dokter lagi


''Mau tambah minum lagi tidak??,


''Ahhh iya boleh'', ia memberikan gelas yang kosong pada Ratna


''Boleh tambah batu es ya''.


''Ok, mbak Ratna kembali berdiri untuk mengambilkan air untuk dokter Fahri.


''Apa dia sudah lama bekerja disini??!


''Ya, dia itu pegawai pertamaku, sejak anak-anak mulai bersekolah, dia mulai bekerja padaku dan sekarang dia menjadi kepala toko, kenapa kak?.


''Tidak apa-apa, cantik''. ucapnya lirih, namun masih bisa di dengar Arrumaisha.


Arrumaisha mengeryitkan dahinya, ''kakak suka ya'', tebaknya.


''Suka sama siapa??, kau ini jangan sembarangan jodoh-jodohin'', dokter Fahri merasa malu dengan pertanyaan wanita di depannya yang pernah ia kagumi namun sekarang malah menjadi iparnya. Sekarang dokter Fahri memang sudah bisa bersikap biasa pada Arrumaisha, bahkan mereka terlihat seperti seorang kakak yang peduli dengan adiknya.


Mbak Ratna kembali dengan membawa segelas air dengan batu es, seperti yang dokter Fahri minta.


Entah kenapa dokter Fahri merasa dadanya berdebar kembali saat mbak Ratna datang menghampirinya, memberikan segelas air padanya dan kemudian duduk di tempatnya semula, tanpa ia sadari ia memegang dadanya.


''Apa kakak sedang tidak enak badan???, tanya Arrumaisha kuatir melihat dokter Fahri memegang dadanya, ia takut jika kejadian dulu terulang lagi.


''Aku baik-baik saja'', jawabnya berpura-pura menahan debaran dadanya.


Arrumaisha menatap dokter Fahri dengan serius, membuat mbak Ratna ikut terdiam dan menatap dokter Fahri.


''Hei, kalian jangan menatapku seperti itu, jangan salahkan aku jika nanti kalian jatuh cinta padaku'', ucap dokter Fahri dan salah tingkah.


Mbak Ratna tersenyum dan menunduk dan justru semakin membuat dokter Fahri terpesona.


''Tidak lucu sama sekali, aku sedang serius''.


Tak berapa lama Ken turun dengan kedua anaknya yang sudah berganti pakaian. Melihat istrinya menatap dokter Fahri dengan inten Ken langsung mendongakkan wajah istrinya lalu mencium bibirnya cukup lama.


''Kau ini benar -benar tidak tahu tempat ya, apa tidak lihat masih ada orang lain disini dan juga ada kedua anakmu'', ucap dokter Fahri kesal.


''Kenapa kau yang marah, tidak ada larangan untukku mencium istriku sendiri''.


''Tidak perlu mempertontonkan di depan kami juga, kau meracuni mata kami'', ucapnya kesal


''Siapa yang mempertontonkan, kalau tidak suka jangan melihatnya, tidak ada yang memintamu datang kesini'', ketus Ken


''Kau!!!!, dokter Fahri mengepalkan tanganya, ingin rasanya ia meninju saudara tirinya yang tidak punya aturan dan rasa malu sedikutpun.


''Apa!!!, bilang saja jiwa jomblomu sedang meronta-ronta'', ucap Ken sembari duduk disamping istrinya lalu mengelus perut istrinya dengan lembut.


Arrumaisha membeliakan matanya, ''sayang hentikan jangan berdebat terus''. ucap Arrumaisha melerai.


''Iya mama boleh kan, Be tidak akan nakal'', ucap gadis itu begitu mengemaskan.


Dokter Fahri segera meraih gadis kecil itu dan mendudukanya dipangkuannya.


''Kami akan belajar di ruang kerja kakek''.


''Sepertinya paman sedang tidak enak badan, mungkin lain kali saja kalian perginya'', ucap Arrumaisha sembari membelai rambut putranya yang suka sekali memeluk dan mencium perut mamanya yang sedang mengandung tiga janin adik kembarnya.


''Ken kau harus mengantarkan dia ke rumah sakit, aku takut dia pingsan disini, dari tadi dia memegang dadanya terus'', ucap Arrumaisha pada suaminya yang duduk disampingnya.


''Kau sedang sakit???, tanya Ken terlihat kuatir, entah kenapa tiba-tiba ia menjadi kuatir mendengar ucapan istrinya tentang keadaan saudara tirinya itu. Meskipun Ken sering sekali berkata kasar dan ketus yang memicu perdebatan diantara mereka, tapi dia tidak ingin pria itu jatuh lagi untuk kedua kalinya.


''Heehh, ayolah aku baik-baik saja, jangan berlebihan begitu, aku selalu memeriksakan kesehatanku dengan rutin'', tolaknya.


''Paman sakit kenapa???, gadis kecil itu menyentuh dahi dokter Fahri dengan tangan kecilnya.


''Paman tidak apa-apa, dan baik-baik saja''.


''Apa kakak yakin, mungkin kakak kurang istirahat, harusnya akhir pekan digunakan untuk beristirahat tapi malah sibuk mengurus anak-anakku''.


''Tidak sama sekali, aku sangat senang mereka ada di rumah, jika ada Ryube dan Ryuna, rumah tidak sepi dan mereka suka belajar di laboratorium milik ayah, sepertinya mereka sangat tertarik dengan dunia kesehatan''.


''Tidak usah memaksakan diri jika kamu sakit, tidak ada yang mengurusmu dirumah, sebaiknya anak -anak tidak usah pergi kesana dulu, paman akan menginap disini, kali ini aku mengizinkanmu untuk menginap, jika kau menolaknya tidak usah datang kesini dan membawa anak-anakku lain kali'', ucap Ken terdengar penuh penekanan.


Dokter Fahri menatap Ken dengan serius, ia tidak menyangka kalau saudara tirinya malah menyuruhnya untuk menginap di rumahnya, ini adalah pertama kalinya baginya, hati dokter Fahri terasa bahagia mendengarnya, secara tidak langsung saudara tirinya yang selalu curiga dan cemburu padanya itu sebenarnya sangat peduli, namun pria itu tidak pernah menunjukkannya, justru sebaliknya, pria itu malah lebih sering berulah dan memicu perdebatan yang tak berarti.


''Iya itu lebih baik, jika sampai terjadi apa-apa sama kakak, aku tidak mau nanti ayah menyalahkan kami, mereka bisa berfikir kami tidak peduli padamu'', ucap Arrumaisha begitu tegas.


''Aku setuju dengan istriku, jangan membuat wanita yang aku cintai kuatir dan memikirkanmu, istriku hanya boleh memikirku'', ucap Ken lagi.


Lagi-lagi dokter Fahri merasa sangat dipedulikah, bahkan tadi ketika Arrumaisha menyebut dokter Burhan dengan panggilan ayah, ada perasaan bahagia di dalam hatinya, mereka benar-benar menggapnya seperti keluarga, hal itu karena pernikahan ayahnya dan nyonya Sophia yang tidak pernah ia kira sebelumnya, dirinya yang jatuh cinta dan mengagumi seorang perempuan dengan sepenuh hati, tapi sekarang malah menjadi saudara iparnya.


''Haaaahhh, baiklah, terimakasih aku akan menginap, ini adalah kehormatan bagiku'' ucapnya.


Dokter Fahri tidak ingin dianggap tidak menghargai keluargan Ken dan Arrumaisha, dia merasa senang meski saudara tiriya itu selalu menunjukkan ketidak sukaanya pada dirinya karena telah menjadi rivalnya, tapi ternyata ia sangat peduli padanya, dan lagi ia tidak ingin Arrumaisha yang sedang hamil itu stres mengkuatirkanya, selain itu entah kenapa ia sangat penasaran dengan gadis yang dari tadi hanya diam fokus mendengarkan perbincangan mereka, gadis yang tiba-tiba membuat dadanya berdebar-debar dan salah tingkah, gadis itu tidak berkomentar apapun dan malah fokus dengan pekerjaanya.


''Paman mau menginap disini??, tanya gadis kecil itu begitu senang.


''Boleh kan???, tanya.


''Tentu saja, paman belum pernah menginap di rumah kami bukan'', ucap gadis kecil itu lagi.


''Kalau begitu maukah paman bermain bola dengan kami??


''Sayang sekarang sudah siang, sebentar lagi makan siang dan kalian harus istirahat, paman juga harus istirahat, jika nanti paman sudah pulih, nanti sore kalian boleh main bersama'', tuturnya dengan lembut dan tegas namun bisa membuat kedua anaknya mengerti.


''Baik mama''


''Yeeeaahhh, paman nanti kita main bola ya, sama papa juga'', pria kecil itu begitu senang.