
Mereka telah sampai di rumah sakit, dan mengantri untuk mendaftar. Hari telah siang saat mereka sampai di sana.
''Mama itu dokter Rei bukan?, ucap putrinya
''Apa kalian mau menyapanya??,
Kedua anak itu mengangguk, bergandengan menghampiri dokter Reisa
Reisa sangat kaget saat melihat dua anak kembar sahabatnya menghampirinya.
''Halo dokter Rei'', sapa kedua anak itu dengan ceria
''Hai kalian kok sini??, Reisa terkejut sesaat, matanya mencari keberadaan sahabatnya, yang berjalan ke arahnya, ''siapa yang sakit??
''Tidak ada yang sakit, kami mau lihat adik di perut mama'', ucap gadis itu begitu senang memberitahu sahabat mamanya.
''Oh ya kalian mau punya adik??, senang dong'', ucapnya, sejak Arrumaisha menikah, Reisa jarang menelfonya, begitu juga dengan Arrumaisha, mereka hanya sesekali mengirim pesan, karena kesibukan masing-masing mereka tak ingin menganggu.
Hai dokter Rei?, sapa Arrumaisha saat bertemu sahabatnya itu. Mereka langsung berpelukan melepas Rindu.
''Apa benar yang di katakan mereka, kau sedang hamil??,
''Sepertinya begitu, sudah sebulan lebih aku tidak haid''.
''Apa kau sudah tes sendiri??
''Belum sempat, tadi langsung berangkat kesini''.
''Apa kau merasakan tanda-tanda kehamilan??
''Sama sekali tidak, hanya saja nafsu makanmu bertambah''.
''Pantas kau kelihatan lebih berisi sekarang daripada sebelum menikah, apa suamimu bersikap baik padamu''.
''Sangat baik''.
''Syukurlah aku ikut senang mendengarnya selamat ya''.
''Trimakasih, bagaimana kabarmu dengan Aldo??,
''Ya kami baik-baik saja, meskipun harus berjauhan''.
''Maaf ya, karena suamiku meminta Aldo kembali ke ibukota, kalian harus berjauhan''.
''Kenapa harus minta maaf, itu memang pekerjaanya''.
''Apa kau sudah mendaftar???
''Suamiku sedang mendaftar, dia minta dokter perempuan, dia tidak mau dokter laki-laki yang memeriksaku''.
''Heemmm, sepertinya dia pria yang pecemburu??, ucap Reisa seraya tersenyum
''Ya begitulah, dia tidak suka jika ada pria yang belanja ke tokoku'', curhatnya
''Biar tahu rasa, punya istri sebaik kamu disia-siain, sepertinya sekarang dia jadi bucin''.
''Husss, jangan begitu nanti kau juga tahu rasanya, di cemburui sama suami, tidak bisa seenak sendiri''.
Ken masih bicara dengan seorang perawat, ia meminta agar di carikan dokter perempuan untuk istrinya. Ken tidak ingin dokter laki-laki yang memeriksa istrinya.
Tak berapa lama terlihat dokter Fahri turun dari lantai atas.
''Paman dokter'', panggil kedua anak kembar itu tatkala melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
''Hai, kenapa kalian bisa disini?, tanya dokter Fahri, ia berjongkok menyamakan tingginya.
''Mama mau periksa, papa bilang kami akan memiliki adik'', ucap gadis kecil itu riang.
''Oh ya??, dokter Fahri tidak terkejut, ia merasa kurang beruntung, wanita yang dicintainya kini telah hidup bahagia, tapi dirinya masih sendiri sampai sekarang, namun ia segera menepis perasaannya, sekarang mereka adalah keluarga.
''Iya, tapi papa tidak mau kalau dokter yang memeriksa mama seorang laki-laki'', ucap Ryuna
Dokter Fahri tersenyum mendengar ucapan keponakanya itu dan mengelus kepalanya, mereka telah menjadi keponakanya sekarang.
''Papa juga sakit, paman harus mengobati papaku, "bisik gadis kecil itu sembari memeluk leher dokter Fahri, membuat dokter Fahri gemas, ia langsung meraih gadis kecil itu seperti putrinya.
''Papa sakit apa??
''Tiap hari papa mual dan kedinginan, papa tidak bisa makan apapun dan tidak bisa mengantar kami ke sekolah''. ucapnya cemberut.
''Lalu kalian ke sekolah dengan siapa??
''Dengan mama, menaiki motor, mama kan tidak bisa menyetir''.
''Mama bilang, papa tidak mau orang tahu, ini rahasia, aku hanya memberi tahu paman''. ucap gadis kecil itu lagi.
''Baiklah, ayo kita temui mereka'', dokter Fahri menggendong Ryube dan mengandeng Ryuna. Ia memperlakukannya seperti anaknya sendiri
''Sayang tidak boleh minta gendong, Be kan sudah besar''. ucap Arrumaisha saat melihat putrinya bersama dokter Fahri.
''Be tidak minta di gendong, paman dokter sendiri yang mau, iyakan paman''. Gadis itu malah memeluk leher dokter Fahri.
''Benarkah aku akan memiliki keponakan lagi???, tanya dokter Fahri tampak senang
''Sepertinya begitu''. jawab Arrumaisha
''Ayo ke ruaganku, aku akan memeriksa kalian berdua'', ucap dokter Fahri
''Aku tidak mau kau yang memeriksa istriku'', tolak Ken tegas
''Aku juga seorang dokter, kau tidak percaya padaku''.
''Aku mau dokter perempuan untuk istriku'', tolaknya lagi
''Lalu apa kau mau di periksa oleh dokter perempuan??, apa itu adil baginya??, tanya dokter Fahri
Ken diam membeliakan matanya, sembari menarik istrinya, seakan tak ingin istrinya dekat dengan dokter Fahri, meskipun sekarang mereka telah menjadi keluarga, tapi Ken tetap bersikap seolah ia adalah rivalnya.
''Istrimu tidak akan tertarik padaku, dia itu sangat setia'', ucap dokter Fahri seraya bercanda, namun membuat semua yang ada disana tertawa. Ia meminta perawat untuk menghubungi dokter wanita spesialis kandungan yang ada di rumah sakit.
''Papa harus periksa sama paman, aku sudah memberitahunya''. ucap gadis itu
''Be......,, kau ini...,,'' Ken sangat gemas dengan putrinya yang justru menempel pada dokter Fahri.
''Ini sudah siang, tunggu apa lagi!!!, seru Arrumaisha, ia pamit pada sahabatnya dan menarik lengan suaminya.
Ken akhirnya menurut, berjalan mengikuti dokter Fahri ke ruanganya bersama istri dan anaknya.
''Kenapa tidak memberi tahuku jika ada yang sakit???, kalian masih menganggapku orang lain atau kau masih menganggapku rivalmu'', tanya dokter Fahri ketika sampai di ruangan sembari mendudukan gadis kecil itu di meja kerjanya.
''Aku harus berhati-hati dengan pria manapun untuk tidak mendekati istriku, termasuk anda'', Ken sangat berterus terang.
''Haaahh, tidak percaya dengan istri sendiri, sepertinya suamimu sangat pencemburu'', ucap dokter Fahri
Arrumaisha tersenyum mendengar dokter Fahri mengatai suaminya.
''Honey kenapa kau tersenyum, apa kau senang dia memakiku'', ucapnya
''Tidak, kekanak-kanakan, ucapnya pada suaminya.
''Mami, kenapa papa dan paman suka berdebat??, tanya pria kecil itu tak mengerti
''Mereka tidak berdebat, orang dewasa bicaranya memang seperti itu'',ucapnya lembut pada putranya.
''Ken sedang di periksa oleh dokter Fahri''
''Paman aku mau jadi dokter nanti'', ucap pria kecil itu mengamati dokter Fahri memeriksa papanya.
''Aku juga mau'', ucap Ryube
''Kenapa kalian ingin jadi dokter??,
''Agar bisa menolong orang seperti paman''. jawab pria kecil itu
Dokter Fahri diam memeriksa keadaan Ken.
''Bolehkah?, tanya gadis kecil yang sibuk melihat benda-benda di ruangan itu
''Tentu saja boleh, belajarlah dengan rajin, kalian pasti bisa''.
''Bagaimana keadaanya??,tanya Arrumaisha setelah selesai pemeriksaan.
''Suamimu baik-baik saja, semua normal''.
''Lalu kenapa suamiku bisa seperti itu???, tanya Arrumaisha lagi, ''setiap hari mual, pusing dan tidak bisa mencium bau apapun, setiap pagi ia menggigil kedinginan, ini seperti yang aku rasakan dulu saat hamil mereka, tapi sekarang aku tidak merasakan hal itu'', Jelas Arrumaisha.
''Sebaiknya kau periksa dulu, jika benar kau sedang hamil, bisa jadi suamimu yang mengalami sindrom kehamilan. Hal itu bisa terjadi saat istri sedang hamil, suami merasakan tanda-tanda kehamilan seperti yang dia rasakan sekarang, tapi itu hanya sementara, biasanya setelah bayi lahir akan sembuh dengan sendirinya. Mari aku antar ke dokter spesialis kandungan'', ajak dokter Fahri ''Be, Ryuna, kalian mau lihat tidak??.
''Bagaimana kita bisa melihatnya paman???,
''Nanti kalian bisa lihat sendiri''. Kedua anak itu langsung berjalan di sisi kiri dan kanan dokter Fahri, mereka sangat antusias.
Ken merasa dokter Fahri begitu peduli dengan dirinya dan anak istrinya, dia tidak lagi menunjukkan sikap memuja pada istrinya, dia juga terlihat begitu menyayangi kedua anaknya layaknya seorang paman. Ken berjalan beriringan dengan istrinya mengikuti dokter Fahri.