
''Maksud mommy, istriku sedang hamil dan aku yang ngidam begitu????, tanya Ken tak sabar.
''Dulu saat mommy hamil kamu, tiba-tiba daddymu sakit sampai tidak bisa bangun, setiap hari mual dan muntah, hingga membuatnya kedinginan, sehingga mommy harus menyalakan penghangat ruangan setiap hari, hampir tiga bulan daddymu tidak bisa bekerja, dia hanya tidur di kamar karena kondisinya lemah'', jelas nyonya Sophia
Ken dan Arrumaisha diam mendengarkan nya, mereka saling pandang, tanpa sadar tangan Ken menyentuh perut istrinya dan membelainya dengan pelan.
''Cobalah periksakan diri kalian berdua, tidak ada salahnya memeriksakan kesehatan, jangan tunggu sampai sakit parah, jangan menyepelekan kesehatanmu Ken, kau harus mendengarkan istrimu, jangan malah membuatnya kuatir dan kelelahan mengurusmu, jika benar istrimu sedang hamil dia harus banyak istirahat dan menjaga kesehatannya''.
''Terimakasih mom, aku akan segera periksa hari ini'', ucap Ken begitu bersemangat setelah mendengar nasihat dan ucapan ibunya, ia ingin segera mengakhiri perbincanganya dengan nyonya Sophia di telfon.
''Kau dengar apa yang di katakan mommykan, apa kau sedang hamil honey???. tanyanya begitu penasaran, pria itu menatap istrinya yang masih duduk di pangkuan dengan rasa tak sabar.
Arrumaisha terdiam, ia masih mengingat kapan terakhir kali ia haid, bulan lalu ia masih haid dan sekarang telah lewat satu bulan. Ia merasa belum siap dan takut jika hamil lagi.
''Honey??, panggil Ken lagi
Arrumaisha, menatap suaminya yang penuh harap menunggu jawaban darinya.
''Sepertinya aku belum haid bulan ini dan sekarang sudah lewat sebulan'', ucap Arrumaisha pelan badanya terasa lemas.
Seketika Ken memeluk istrinya dia menangis terisak.
''Kenapa menangis, apa kau tidak senang??? ucap Arrumaisha
Ken mendongak dan berucap ''no baby, I'm so happy, aku sangat menantinya''. Pria itu munundukan wajah istrinya dan menciumnya dengan lembut.
Arrumaisha menghapus air mata suaminya, lalu memeluk leher suaminya erat, ''Ken aku sangat takut hamil'', ucapnya seketika membuat Ken sedih, ia tahu istrinya sangat trauma dengan kehamilanya dulu, Ken mengelus punggung istrinya.
''Dont be Afraid honey, aku tidak akan meninggalkanmu, ku mohon percayalah padaku, aku sangat ingin memiliki anak lagi darimu, aku ingin menjadi suami dan papa yang bisa kalian banggakan, maafkan aku membuatmu trauma'', ucapnya.
Arrumaisha melepas pelukan, ia membingkai wajah suaminya dan menatapnya dengan lekat.
''I love you honey, beri aku kesempatan, aku ingin bahagia bersamamu hingga akhir'', ucapnya dengan kesungguhan.
Arrumaisha membelai wajah suaminya, ''berjanjikan bahwa kau tidak akan meninggalkanku dan anak-anak, apapun yang terjadi jangan pernah menelantarkan anak-anak'' ucapnya berkaca-kaca
''Aku tidak akan melakukan itu padamu dan anak-anakku, percayalah padaku, aku tidak tahu harus bagaimana membuatmu percaya bahwa aku sangat bersungguh-sungguh padamu''. ucapnya sedih
Mereka saling menatap, tidak ada kebohongan di mata suaminya, Arrumaisha mencium bibir suaminya dengan lembut.
Ken sangat terkejut, ini adalah kali pertamanya istrinya itu berinisiatif menciumnya terlebih dulu, ia pun membalas menciumnya sekali lagi dan memperdalam ciuman mereka hingga waktu yang lama dan semakin menuntut.
''Baby aku tidak tahan lagi'', Ken mengangkat tubuh istri membawanya ke dalam , lalu membaringkan di sofa dan terus mencumbunya membuat Arrumaisha tak bisa menolaknya.
Arrumaisha tersadar, ia harus menjemput kedua anaknya, ia tidak ingin membuat kedua anaknya kecewa karena menunggu lama, ia pun berusa menarik diri.
''Aku harus menjemput anak-anak'', ucapnya tatkala Ken menarik penutup area bawah istrinya.
''Sebentar saja, setelah itu kita jemput bersama, lalu pergi periksa, aku tidak ingin melewatkan perkembanganya'', ucapnya langsung menyatukan hastanya yang tidak tertahan.
Ahhh, teriaknya saat Ken tak sengaja menekan perutnya, seketika Ken menghentikan kegiatanya.
''Kenapa??
''Kau menekan perutku??
''Maaf'', Ken memutar posisinya, membuat istrinya diatas tubuhnya, ''Bergeraklah baby'', ucap Ken membuatnya malu.
Arrumaisha bergerak perlahan, gerakannya begitu sexy, ia merasa malu.
''Dont be shy honey'' Ken meremas dua bukit kembar istrinya dan me*******nya bergantian.
Arrumaisha mendesah beberapa kali, suaranya terdengar begitu sexy di telinga, Ken tak kuat lagi menahannya, ia menekan bokong istrinya dan membantunya untuk mempercepat iramanya hingga akhirnya keduanya mendesah panjang, tubuh Arrumaisha ambruk memeluk suaminya.
''You are so sexy baby, i love you so much'', bisiknya sembari mengecup punggung istrinya dengan lembut, ''sepertinya kita harus membersihkan diri dan segera berangkat'', ucapnya
Arrumaisha tidak menjawab, ia merasa lelah nafasnya naik turun.
Ken seperti mendapat kekuatan hari ini, ia begitu bersemangat, setelah menetralkan nafasnya Ken segera mengangkat tubuh istrinya membawanya ke kamar mandi.
''Ken sebaiknya kita pakai sopir''.
''Kenapa??, aku bisa membawa kendaraan sendiri''.
''Aku tidak mau kau membawa kendaraan sendiri, kamu sedang sakit''.
''Honey, aku masih bisa mengendarainya, kau baru saja memberiku penawarnya'', ucapnya
''Aku takut kamu tiba-tiba kambuh di jalan, selain itu anak-anak akan ikut bersama kita, dan ada satu lagi yang harus di jaga'', ucapnya sembari menyentuh perutnya yang datar.
Ken diam sebentar, ''Baiklah, aku akan minta sopir untuk bersiap, mulai sekarang kau juga tidak boleh mengendarai motor sendiri, kemanapun kau harus diantar'', ucapnya terlihat tegas dan tidak bisa di bantah, mereka segera berangkat
Ken dan Arrumaisha duduk di belakang, Ken menarik pinggang istrinya agar duduk lebih dekat, tanganya mengelus perut istrinya yang masih datar, ''anak-anak pasti senang mendengarnya'', ucapnya lalu mencium bibir istrinya
''Ken ada orang lain disini''. ucapnya melotot kesal, suaminya terkadang tidak tahu malu.
Pria itu tersenyum cuek, hingga beberapa menit mereka sampai di sekolah taman kanak-kanak, mereka berdua turun, kedua anaknya telah menunggu dengan cemberut, namun setelah melihat mama dan papanya datang bersama, kedua anak itu langsung berlari.
''Papa.......''teriak gadis kecil itu begitu senang langsung berlari memeluknya.
Ken segera menangkap putrinya, ''jangan lari-lari sweetheart, nanti bisa jatuh''.
''Papa sudah sembuh ya???.
''Tentu saja papa harus sembuh, biar bisa gendong kamu lagi''.
''Mami.... '', pria kecil itu berjalan kerepotan membawakan tas saudara kembarnya yang di tinggalkan begitu saja. Ia memberikan tas saudaranya pada maminya.
''Be, kau tidak boleh meninggalkan tasmu dan menyuruh saudaramu membawakanya'', tutur Arrumaisha lembut.
''Iya maaf, Be senang papa sudah sembuh, bisa jemput kita lagi''.
''Bilang terimakasih pada Ryuna dan tidak akan mengulanginya, ini tasmu jadi kau harus membawanya sendiri, apa Be mengerti''.
Gadis kecil itu mengangguk, ''trimakasih Ryuna, maaf'', ucapnya sangat lucu.
Pria kecil itu mengangguk, baginya tidak masalah hanya membawakan tas, ia sangat menyayangi sadaura kembarnya.
Mereka segera melanjutkan perjalananya
''Mami kita mau kemana??, tanya pria kecil itu
''Kita akan pergi ke rumah sakit, untuk memeriksakan papa''.
''Papa bilang sudah sembuh, kenapa di periksa???, tanya putrinya dengan sedih
''Papa tidak apa-apa sayang, jangan sedih, mama juga harus periksa''.
''Kenapa mami harus di periksa juga, apa mami sakit juga??, tanya pria kecil itu kuatir
''Mami tidak sakit dan harus sehat, karena sekarang ada adik kalian di perut mami, jadi harus diperiksa dokter, kita akan melihatnya bersama nanti''. ucap Ken mengusap kepala kedua anaknya.
Kedua anak kembar itu terdiam menatap mamanya.
''Hai kenapa kalian diam, apa kalian tidak suka??, seru Arrumaisha
''Bagaimana adikku bisa ada di perut mami??, tanya pria kecil itu tidak mengerti.
Ken dan Arrumaisha terdiam, tapi membuat sopir mereka tersenyum.
''Cobalah sentuh perut mami dengan lembut, dia akan merasakan kasih sayang dari kalian''. ucapnya, Ken mengelus perut istrinya memberi contoh kedua anaknya
''Benarkah di perut mama ada adiknya???, gadis kecil itu tidak percaya, melihat perut mamanya yang datar.
''Ya, ia akan tumbuh disana selama beberapa bulan, setelah itu akan lahir dan kalian harus menyayanginya''.
Kedua anak itu terus bertanya berbagai hal yang belum ia mengerti, Ken dan Arrumaisha sampai tidak tahu harus menjawab apa.