Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
37.



Ken memeluk putranya erat, mengobati rasa rindunya, dimana mama dan Be??, tanya Ken


''Mama di kamar dari pagi Be gendong terus pa gak mau turun, mama sampai belum makan'', jawabnya dengan polos, Ryuna melihat ke arah nyonya Shopia dan begitu pula dengan nyonya Shopia melihat Ryuna dengan tatapan haru.


''Papa dia siapa??, tanyanya


''Dia grandma Shopia, nenek kamu, sapalah nenek, papa akan melihat Be dulu''.


''Nenek!!!, benarkah aku punya nenek, mama tidak pernah cerita padaku kalau aku punya nenek, mama bilang nenek sudah meninggal''.


''Grandma Sophia adalah ibu papa, ibu mama memang sudah meninggal'', jelas Ken.


''Halo Grandma, aku Ryuna'', sapanya sopan menjabat tangan nyonya Sophia dan mencium punggung tanganya.


''Oh sayang, kau sangat manis, berapa umurmu, kau tampan persis seperti papamu saat kecil''.


''Aku empat tahun'', menunjukkan empat jarinya.


''Nenek duduklah disini, pasti nenek lelah datang dari jauh'', Ryuna menuntunya ke sofa ruang keluarga, nyonya Sophia mengikutinya dari belakang.


''Nenek tinggal dimana?, kenapa mama tidak pernah mengajak kami berkunjung ke rumah nenek''.


''Nenek tidak tinggal disini, nenek tinggal di tempat yang jauh, papa baru memberitahu nenek, ternyata cucu nenek sangat manis dan sopan'', ucap nyonya Sophia memeluk Ryuna dan membelai rambutnya.


''Masih ada lagi cucu nenek, namanya Ryube, tapi ia sedang sakit, dia sedang istirahat di kamar, apa nenek mau melihatnya''.


''Tentu saja, nenek datang kesini ingin bertemu kedua cucu nenek dan juga bertemu mama kalian''.


''Nenek tunggu disini, papa sebentar lagi akan membawa Be turun, nenek selama ini tinggal dimana??, apa rumah nenek sangat jauh??, tanya pria kecil itu begitu antusias, dengan cepat mereka menjadi akrab.


''Nenek tinggal di luar negeri sayang''.


Seorang pelayan membawakan minuman dan juga kue kering buatan Arrumaisha untuk nyonya Shopia, saat datang tadi Aldo langsung memintanya untuk membuatkan minuman dan menyiapkan makan siang, lalu Aldo pergi ke toko untuk mengecek perkembangan toko milik Arrumaisha.


''Di luar negeri sama papa??, papa juga lama tinggal di luar negeri, gak pulang-pulang kata mami harus naik pesawat, apa grandma datang kesini juga naik pesawat??, tanya pria kecil itu membuat nyonya Shopia begitu terharu.


''Iya nenek harus naik pesawat dulu untuk bertemu kalian'', jawabnya matanya berkaca-kaca.


Sementara itu Ken berdiri di depan pintu kamar Arrumaisha yang tertutup rapat, dia sedikit berfikir untuk menemui putrinya yang sedang sakit dan sedang di rawat oleh mantan istrinya, karena sejak telfon dan salah faham, mereka tidak saling bicara, hanya anak-anaknya saja yang menelfon, sejak kembali ke ibukota Ken memang sangat sibuk, Arrumaisha juga terkesan dingin dan menghindar. Terdengar Arrumaisha sedang bicara dengan seseorang di telepon.


Tok.... tok... tok Ken mengetuk pintu dengan pelan.


''Masuk sayang pintunya tidak di kunci, suara lembut dari dalam kamar itu seketika membuat hati Ken berdesir dan membeku dan jantungnya berdebar kencang ''sayang'', Ken sedikit mengernyitkan dahinya lalu tersenyum.


''Isha ini aku, bolehkah aku masuk??, ucap Ken


Arrumaisha tertegun mendengar suara pria yang di kenalnya, wajahnya berubah seketika saat Ken memasuki kamarnya.


''Maaf tadi aku kira Ryuna yang mengetuk pintu'', ucapnya malu.


''Tidak apa, aku senang mendengarmu memanggilku seperti itu'', jawab Ken sambil tersenyum tak tahu malu.


Arrumaisha membelikan matanya, raut mukanya sedikit terasa panas, meski rasanya baru saja terhipnotis dengan senyum Ken yang tampak bahagia.


''Bagaimana keadaan putriku, kudengar dia sakit, kenapa tidak memberitahuku??


''Dia demam, aku sudah memberinya obat, dia baru saja tertidur, bagaimana kau tahu''.


''Apa aku tidak boleh tahu jika putriku sedang sakit??, ucapnya sambil mengelus rambut putrinya lalu mencium keningnya pelan.


''Isha aku sudah bilang padamu, jangan menganggapku tidak ada, sesibuk apapun anak-anak tetap prioritas utamaku, katakan padaku apapun yang terjadi pada anak-anak, kau tidak perlu sungkan'', ucap Ken


''Maaf''.


''Sudahlah, tidak perlu membahasnya, apa perlu kita bawa dia ke rumah sakit??.


''Aku sudah menelfon dokter Reisa, dia bilang tidak perlu membawanya ke rumah sakit kalau demamnya tidak terlalu tinggi, nanti sepulang dari rumah sakit dia bilang akan kesini, karena besok dia libur''.


''Dokter Reisa, apa dia temanmu yang waktu itu bertemu di rumah sakit??.


''Iya, dia ingin menginap, tidak apa-apa kan??


''Ini rumahmu, selama kau mengijinkanya ku rasa tidak apa-apa, tidak perlu meminta persetujuanku''.


''Oh ya ada seseorang di bawah ingin bertemu denganmu, dia sedang bicara dengan putramu, temuilah dia, ku harap kau bisa memperlakukannya dengan baik'', mohon Ken


''Siapa??


''My mom, anggaplah dia seperti ibumu'', ucapnya.


''Ibu anda tuan??, tanyanya hampir tidak percaya


''Iya, sapalah dia, tidak perlu sungkan padanya, maaf aku tidak memberitahumu kalau aku mengajaknya, beberapa hari lalu mommy baru datang ke ibukota mencariku, ini pertama kalinya dia berkunjung kenegara ini, aku sudah menceritakan semua pada mommy tentang hubungan kita, dia ingin bertemu denganmu dan anak-anak'', jelas Ken


Arrumaisha tak bergeming, tidak tahu harus menyambutnya seperti apa dan bagaimana, selama satu tahun menikah tidak pernah dirinya bertemu dengan orang tua mantan suaminya atau pun keluarganya, Ken tak pernah mengenalkan keluarganya sama sekali, dan sekarang tiba-tiba dia membawa ibunya untuk menemuinya.


''Isha, mommy tidak akan menggigitmu, dia wanita yang baik dan juga lembut sepertimu, mommy ingin bertemu denganmu dan juga cucunya, apa kau keberatan'', Ken begitu gemas dengan sikap mantan istrinya yang diam saja.


''Aku harus bagaimana menyambutnya, apa dia orang yang anda maksud kemarin waktu ditelfon'', tanyanya


''Iya, orang itu adalah mommyku, aku mohon kau tidak keberatan?, aku akan menjaganya''.


Arrumaisha akhirnya melangkah keluar kamar meninggalkan Ken menjaga putrinya, dia menuruni tangga dan melihat putranya sedang berbincang dengan seorang wanita paruh baya yang duduk di sofa.


''Mami, papa bilang grandma Sophia adalah nenekku, dia ini ibunya papa??, ucap pria kecil itu begitu senang.


''Grandma dia mamiku, mamiku pandai membuat kue, lihat kue di meja ini buatan mami'', jelasnya pada nyonya Shopia.


Nyonya Shopia berdiri dan melihat wanita yang masih sangat muda dan cantik, namun sangat sederhana, menggunakan baju rumahan, badannya terlihat kurus.


''Halo aku Sophia ibu Ken, apa kau Arrumaisha ibu dari cucuku???, sapanya.


''Halo nyonya, saya Arrumaisha, ibu Ryuna dan Ryube, senang bertemu anda??.


''Jangan sungkan, panggil aku mommy seperti Ken memanggilku, senang bertemu denganmu juga'', nyonya Shopia meraih kedua tangan Arrumaisha lalu memeluknya dengan erat, dia tidak dapat menahan air matanya, wajah yang sudah mulai menua itu menangis haru.


''Maafkan putraku Ken, aku tahu dia sudah banyak membuatmu menderita selama ini, terimakasih sudah melahirkan dan merawat cucuku dengan baik'', suara nyonya Shopia nampak bergetar membuat Arrumaisha ikut berkaca-kaca, sudah lama sekali dia tidak merasakan pelukan hangat seorang ibu, sejak usianya sepuluh tahun, kedua orang tuanya meninggal dan dia di rawat oleh keluarga pamannya.


''Mami, nenek, jangan menangis, Yuna jadi sedih'', ucap pria kecil itu sambil berdiri di sofa melihat kedua wanita itu menangis haru.


Nyonya Sophia segera melepas pelukannya.


''Silakan duduk nyonya, mereka duduk di sofa dengan Ryuna berada ditengahnya.


''Mami, Yuna senang ternyata masih punya nenek, seperti teman-teman disekolah mereka kadang di jemput neneknya saat pulang sekolah'', ucapnya pada sang mami.


''Nenek, apa Yuna dan Be juga punya kakek????..........