
Sejak pulang tadi Arrumaisha mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat masakan untuk makan malam, sudah dua bulan dia tidak pernah menyentuh dapur, karena Ken melarangnya, dengan alasan dia masih dalam masa penyembuhan.
Setelah sampai rumah tadi, Ken langsung masuk ke kamar yang ditempatinya, entah apa yang dilakukan, kedua anaknya juga langsung tidur.
Arrumaisha memasak di bantu oleh seorang assinten rumah tangga yang sudah dipekerjakan Ken, Arrumaisha juga tidak ambil pusing, anak-anaknya berhak mendapatkan hidup yang layak, mereka adalah prioritasnya, meskipun dia tidak enak harus tinggal satu rumah dengan mantan suaminya, itu bukan kemauanya. Dia telah memberikan sertifikat kepemilikan tanah dan rumah untuknya dan kedua anaknya, dan lagi sebagian kecil adalah miliknya sendiri, dia tidak pernah memintanya, dia sendiri yang memberikan dan berjanji akan menanggung kehidupan kedua anaknya. Sampai sekarangpun dia tidak berani menanyakan apa-apa. Dia hanya fokus untuk anak-anaknya.
Ken keluar dari kamarnya dia tidak tahu kalau dari tadi mantan istrinya sibuk di dapur, Ken terpaku mengamatinya dari depan pintu kamar, Ken memang tidur di lantai bawah, kamar yang sebenarnya untuk tamu, meskipun dilantai atas masih ada kamar kosong, tapi Ken sekarang benar-benar menjaga hubungannya dengan mantan istrinya.
Arrumaisha tidak sadar kalau ada seseorang yang diam-diam mengawasinya, dia begitu cekatan saat memasak, rambutnya di cepol keatas sehingga terlihat garis lehernya, dia menggunakan baju rumahan, terlihat santai namun begitu serius memasak. Assinten rumah tangga hanya membantu saja, sudah lama dia tidak membuat makanan kesukaan kedua anaknya.
Merasa ada yang memperhatikan, Arrumaisha melihat sekeliling dan mendapati Ken bersandar di depan pintu kamarnya sambil mamandanginya.
''Kau sedang apa, kemarilah???, panggilnya lembut.
Ken segera menyadari kalau dirinya tertangkap basah oleh mantan istrinya.
''Siapa yang mengijinkanmu bekerja, kau baru saja sembuh, sudah ada asisten rumah tangga yang akan menyiapkan masakan''.
''Aku sudah boleh beraktifitas, lagi pula aku hanya menyiapkan makan malam, dan lagi aku tidak sendiri, ada yang membantuku, jangan melihatku seperti orang kesakitan, kau tidak bisa melarangku terus, aku bisa mati bosan'', ucapnya tidak bisa di larang lagi.
''Sedang masak apa??, Ken melihat lebih dekat.
''Sup iga, anak-anak menyukai ini, Arrumaisha mengambil sesondok kuah yang masih panas, kemudian meniupnya pelan.
''Buka mulutmu!!!, aaaa.
Ken menuruti mantan istrinya, membuka mulutnya, dengan segera Arrumaisha memasukan sesendok kuah sup iga yang di tiup tadi. Sesaat Ken diam dia tidak pernah menyangka wanita ini akan memperlakukannya begitu, namun dia menikmatinya, hatinya terasa hangat.
''Bagaimana, enak tidak??, meminta pendapatnya
''Ini sangat enak, Ken menjilati bibirnya, apa sekarang sudah waktunya makan?? aku lapar'', tiba-tiba Ken merasa lapar.
''Aku akan membangunkan anak-anak dulu, mereka tadi langsung tidur, dan belum mandi, kalau kau lapar makan saja dulu'', ucapnya.
''Biar aku yang bangunkan dan mandikan mereka, kau tunggu saja disini'', ucap Ken
''Baiklah'', Arrumaisha menata makanan di meja sambil menunggu kedua anaknya turun.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ken membawa kedua anaknya turun, mereka juga telah selesai mandi.
''Apa kalian sudah mandi sayang??,
''Sudah ma, papa yang mandikan kami tadi katanya biar cepat selesai, perut papa sudah sangat lapar'', jawab gadis itu dengan jujur, Ken hanya diam mendengarkan, bibirnya menahan senyum.
''Waahhh mami masak kesukaanku ya, baunya sangat harum'', puja Ryuna.
Mereka duduk mengitari meja makan, Arrumaisha mengambilkan anak-anaknya makan terlebih dahulu.
''Mama, bolehkan nanti aku nambah sup iganya, aku sudah lama tidak makan ini'', pinta Ryube
''Be, kau ini anak perempuan, tidak boleh banyak makan, nanti kamu bisa gendut, tidak ada laki-laki yang menyukai perempuan yang gendut'', tegur pria kecil itu dengan polosnya.
''Ahhh Leyuna....!!!, aku hanya ingin nambah sedikit, kau menakutiku''. Be kesal dengan kata-kata saudara kembarnya.
Ken tertawa terbahak mendengar interaksi kedua anaknya, mereka benar-benar lucu.
''Sayang siapa yang mengajarimu bicara seperti itu???, tanya Arrumaisha dengan lembut.
''Mami tahukan temanku Leoni, dia sangat gemuk, dia suka sekali makan, terus si Eriko bilang gak mau berteman sama dia, soalnya tidak ada laki-laki yang menyukai perempuan gendut, terus Leoni nangis gak mau makan selama beberapa hari, terus masuk rumah sakit, tidak masuk sekolah selama beberapa hari''.
''Sayang, kalian berdua tidak boleh mengatai teman kalian atau siapapun seperti itu, mau gemuk, kurus, jelek, tampan, cantik tidak boleh menghinanya, mengerti tidak??.
''Iya mami, aku gak mengatainya kok, aku hanya mendengarkan cerita Eriko, dia bilang papa dan mamanya bercerai, karena papanya sudah tidak sayang lagi dengan mamanya, karena sekarang mamanya menjadi gemuk''.
Sesaat kedua orang dewasa itu diam, tidak tahu harus mengatakan apa, hanya mata yang saling menatap, sampai saat ini kedua anaknya tidak tahu kalau kedua orang tua mereka sudah bercerai, bagaimana kalau mereka sampai tahu.
''Sudahlah, sekarang waktunya makan, ceritanya nanti lagi ya'', Ken mengalihkan pembicaraan, ada kekuatiran di hati Ken dan mungkin di hati Arrumaisha.
Mereka melanjutkan makan dengan tenang hingga selesai, kemudian bercengkerama di ruang keluarga lantai atas. Arrumaisha pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
''Anak-anak tolong dengarkan papa sebentar, besok papa akan pergi selama beberapa hari, ada pekerjaan yang harus papa urus''.
''Pekerjaan apa pa??, bukankan papa sudah menyuruh uncle Aldo untuk mengerjakannya''. tanya gadis kecilnya.
''Maaf sweetheart, kali ini harus papa sendiri yang mengurusnya'', uncle Aldo mengurus pekerjaan yang lain.
''Papa, temanku papanya ada yang jadi polisi, dokter, petani, guru, dan pedagang, kalau papa pekerjaannya apa??,tanya Ryuna
''Iya, pekerjaan papa apa??, ibu guru pernah tanya tentang pekerjaan orang tua, katanya mama papa kerja diluar negeri'', timpal Ryube
''Papa punya pekerjaan, tapi sebagian pekerjaan diurus orang lain, seperti uncle Aldo, sebagian harus papa sendiri yang mengurusnya'', jelas Ken.
''Apa papa akan pergi lagi?? papa akan tinggal diluar negeri dan gak pulang lagi, bagaimana kalau mami tiba-tiba sakit lagi??, Ken tidak menyangka kalau putranya yang masih berumur 4 tahun ini begitu menghuatirkan maminya.
''Papa tidak akan lama kali ini, dan papa janji akan segera kembali. Kalian harus patuh sama mama, tidak boleh nakal, biar mami gak sakit, nanti papa akan sering menelfon kalian''. jelas Ken.
''Papa maukah kau tidur denganku, ada hal yang ingin aku katakan pada papa'', pria kecil itu bicara berbisik di telinga papanya.
''Ok sekarang sudah waktunya tidur, besok kalian harus sekolah, hari ini sudah membolos''. Ken segera menggendong kedua anaknya menuju kamarnya menemani mereka bergantian.
Saat di kamar Ryuna, Ken langsung bertanya, ''Apa yang ingin kau bicarakan dengan papa??
''Papa, aku mohon perginya jangan lama-lama, aku tidak ingin Be sedih, saat papa tidak ada Be sering kali menanyakan papa, dan mama sebenarnya sering merintih kesakitan, saat malam hari dia sering tidak tidur dan menangis, aku tahu karena aku tidak ingin mami sedih jadi aku diam saja, tapi aku sangat kuatir jika mami sakit lagi, aku belum kuat menggendong mami''.
''Son, kau adalah jagoan papa, kau kebanggaan papa, mama, dan juga Be, papa janji tidak akan pergi lama, dan jika ada masalah apapun kau harus segera memberitahu papa, kapanpun kau bisa menelfon papa, dan papa akan segera pulang'', ucap Ken begitu membuat Ryuna tenang, sekarang tidurlah, papa akan menemanimu, Ken berbaring di samping putranya, dan akhirnya merekapun terlelap.