
Setelah mengantar kedua anaknya sampai ke sekolah, Ken langsung melajukan kendaraanya.
''Sebenarnya kita mau kemana???, Arrumaisha kembali bertanya.
''Duduklah dengan tenang, aku sudah bilang ingin berkencan denganmu, dulu kita belum pernah berkencan dan langsung menikah, kita sama -sama terpaksa menikah demi kepentingan kita masing-masing, kita benar-benar tidak saling mengenal satu sama lain, untuk itu berilah aku kesempatan sekali lagi, kita mulai dari awal, mulai dari berkencan'', ucap Ken meraih tangan Arrumaisha dengan lembut, sambil tetap menyetir. Mobil itu semakin jauh meninggalkan tempat tinggal mereka.
''Iya, tapi ini mau kemana??, kita semankin jauh meninggalkan anak-anak'', ucapnya kuatir, Arrumaisha tidak pernah meninggalkan kedua anaknya.
''Honey, jangan kuatirkan mereka, Aldo akan menjemputnya tepat waktu, aku sudah bilang mommy dan juga Lily untuk menjaganya, kita butuh waktu berdua untuk bisa saling memahami, jadi aku tidak bisa mengajaknya'', ucap Ken
Hingga hampir setengah jam mobil mereka telah memasuki area pelabuhan, ''bukankah ini arah ke pelabuhan????, untuk apa kita pergi kesini??, tanya Arrumaisha.
''Tunggu sebentar, aku harus membeli tiket untuk menyebarang''.
''Apa kita akan ke pulau sebrang???, Arrumaisha menjadi panik
''Ya kita akan berkencan disana??, jawab Ken santai.
''Apa tidak sebaiknya disekitar sini saja, tidak perlu menyebrang, bagaimana jika anak-anak mencari kita??, kau tidak memberitahu mereka akan pergi kemana tadi, ini lumayan jauh Ken'', ucap Arrumaisha dengan wajah kuatir.
''Honey percayalah, mereka akan baik-baik saja, aku ingin kencan yang berkesan denganmu''.
Ken, jika kita kesana tidak akan cukup sehari, aku tidak tahu bagaimana anak-anak nanti jika jauh dari kita, dan lagi aku tidak membawa apa-apa?? Arrumaisha tidak berfikir jika Ken akan membawanya pergi jauh bahkan sampai menyebrang ke pulau, untung tadi ia membawa dompet karena ada pelanggan yang mengambil pesanan, dan bahkan ponselnya masih di kamar, ia tidak siap untuk bepergian jauh.
''Kau tidak membutuhkan apa-apa, nanti kita bisa membelinya disana, tunggu disini aku beli tiket untuk masuk''.
Setelah mendapatkan tiket, Ken melajukan kendaraannya untuk mengantri masuk ke kapal laut yang akan membawa mereka ke pulau sebrang.
Arrumaisha diam cemberut, persis putrinya Ryube saat gambek, sekarang hanya bisa mengikuti kemana Ken akan membawanya.
Ken tersenyum melihat tingkah mantan istrinya, ''kau persis seperti putri kita jika cemberut seperti itu'', goda Ken.
Arrumaisha tak mempedulikan ucapan Ken. baru tadi pagi dia berfikir untuk mempertimbangkan, sekarang pria disampingnya terlihat begitu menyebalkan.
''Apa kau pernah pergi ke pulau sebrang???, tanya Ken memecah keterdiaman mereka.
''Tidak'', jawabnya singkat
Perlahan mobil mereka memasuki kapal bersama dengan kendaraan lainnya yang akan menyebrang. Ken memarkirkan kendaraanya kemudian mengajak Arrumaisha untuk turun dan naik ke lantai atas kapal.
Mereka berdua duduk didalam kapal bersama penumpang lain, Arrumaisha merasa pusing saat kapal mulai bergerak, ia merasa terombang ambing di lautan, ini pertama kalinya dia naik kapal laut, jarinya memijit -mijit pelipisnya, untuk menghilangkan rasa pusing.
Arrumaisha hanya mengangguk, Ken segera meraih kepala Arrumaisha dan menyandarkan pada dirinya. Arrumaisha tidak menolak kali ini dia ingin bersandar pada bahu yang kuat.
''Apa kau ingin melihat ke laut, siapa tahu pusingmu bisa hilang'', tanyanya
Arrumaisha belum pernah melihat lautan dari atas kapal, terlebih jika berada di tengah laut, ia pun mengiyakan, karena tidak mau menahan pusing. Saat baru berdiri tiba-tiba kapal itu berguncang dengan keras, hingga membuat Arrumaisha terhuyung, namun dengan sigap Ken meraih tubuh kurusnya hingga Ken terduduk kembali di tempatnya, dengan posisi Arrumaisha memeluk Ken, sampai beberapa saat mereka diam karena sepertinya ombak besar menghantam kapal mereka. Beberapa penumpang berteriak karena kaget ataupun takut, hingga akhirnya kapal itu bergerak dengan tenang.
''Sudah, Ken menepuk pundak Arrumaisha, ''tidak apa-apa jika kau terus memelukku'', ucap Ken membuatnya malu, tanpa sadar masih memeluknya,'' jadi mau lihat keluar??, tanyanya lagi
Arrumaisha mengangguk dan berdiri, Ken segera mengikutinya, melingkarkan tanganya di pinggang Arrumaisha dengan posesif, ada beberapa orang berdiri disana, melihat pasangan beda negara dan beda usia itu, Arrumaisha terlihat masih muda sedangkan Ken jauh diatas usianya meski begitu tidak mengurangi ketapanan Ken. Arrumaisha hampir terbiasa dengan sorot mata orang-orang yang melihatnya, sejak sebelum bertemu dengan mantan suaminya orang melihatnya sebagai single parent, dan sekarang mantan suaminya kembali, orang tetap melihatnya dengan sorot mata yang aneh. Ia berdiri di pinggiran berpegang pada tepi kapal dan Ken berdiri di belakangnya memeluknya, dia tidak peduli dengan pandangan orang-orang.
Arrumaisha memandang ke laut lepas, melihat ke daratan, dia berfikir telah jauh meninggalkan kedua anaknya, tiba-tiba dia merasa rindu dengan mereka, ia memejamkan mata untuk menenangkan perasaan rindunya.
''Apa masih pusing???, bisiknya di telinga Arrumaisha
''Sudah agak berkurang'', jawabnya tanpa melihat lawan bicaranya.
''Apa yang kau pikirkan??, tanya Ken
''Aku rindu anak-anak'', jawabnya lirih
''Mereka baik-baik saja'', ucap Ken mengecup pipi Arrumaisha dari samping, ia semakin berani.
Hingga sekitar 45 menit, kapal itu telah sampai di pelabuhan pulau sebrang dan sebentar lagi kapal yang membawa mereka akan bersandar.
''Sepertinya kapalnya sudah mau sampai, ayo kita turun'', ajak Ken ia segera menggenggam tangan Arrumaisha menautkan jemari mereka, berjalan menuju mobil mereka terparkir.
Ken segera mengantri untuk keluar dari kapal dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka untuk sampai ke tujuan, mereka harus melewati jalanan yang berkelok-kelok, yang berada di sepanjang tepi pantai dan sisi lainnya hutan, tiba-tiba Arrumaisha merasa mual.
''Tolong berhenti, aku mual'', ucapnya lemas, keringat dingin keluar.
Ken segera menepikan kendaraannya di tepi jalan, Arrumaisha segera turun, dan huek....huek....
Ken segera memijat tengkuk Arrumaisha, sepertinya ia mabuk angin, ia tidak mengira kalau mantan istrinya akan mabuk angin saat perjalanan jauh, Ken menyadari mantan istrinya sangat lemah, tak sekuat pendiriannya, dia teringat kata-kata Aldo bahwa wanita yang terlihat kuat sebenarnya hanya ingin tidak dianggap lemah, ia butuh sandaran yang kuat yang bisa membuatnya nyaman.
Arrumaisha merasa lemas, semua makanan yang ia makan pagi ini ia muntahkan hingga tak tersisa, ''apa masih jauh??, tanyanya
''Tidak, 30 menit lagi sampai'', ia segera menuntunya masuk ke dalam mobil, mengambilkan air mineral, Arrumaisha segera meneguknya, tenggorokan terasa kering.
''Istirahatlah, kalau bisa buatlah tidur, aku akan membangunkanmu setelah sampai disana'', ucapnya dengan lembut, kemudian mengecup kening Arrumaisha lalu pindah ke bibirnya, dan memasangkan sabuk pengaman. Arrumaisha tidak menolak dia hanya merasa lemas dan ingin tidur di kasurnya yang nyaman.