Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
84.



Waktu menunjukan pukul 17.00, saat rombongan keluarga nyonya Sophia sampai di halaman kediaman dokter Burhan. Dokter Burhan telah mengirim sopirnya untuk menjemput keluarga nyonya Sophia, akan tetapi Ken memilih mengendarai kendaaraanya sendiri bersama anak dan istrinya, hanya Lily dan nyonya Sophia yang berada dalam kendaraan dokter Burhan, sedangkan Aldo dan Reisa sudah sejak sore kembali ke kota B, dikarenakan Reisa harus kembali bekerja.


''Mami apa kita sudah sampai di rumah kakek Burhan'', tanya pria kecil yang duduk dengan tenang di kursi belakang.


''Ya, beri salam padanya''.


''Mama apa paman dokter juga tinggal disini bersama kakek???


''Mami tidak tahu, mungkin sesekali pulang kesini, paman kan harus bekerja di kota kita tinggal'', Arrumaisha hendak turun, akan tetapi Ken segera menarik lengannya.


''Ada apa???, ucapnya


''Jangan dekat-dekat dengannya, dan jangan jauh dariku, tetap di sampingku'', ucapnya lirih.


Arrumaisha tersenyum dan mengelus pipi suaminya, ''tidak ada yang akan menculikku'', ucapnya lalu mencium bibir suaminya yang cemberut.


''Honey, apa sebaiknya kita putar balik saja, aku tidak tahan jika kau seperti ini, ahhhh kenapa mereka harus mengundang kita di malam pertama kita'', kesalnya meremas rambutnya.


''Ayo turun, dokter Burhan sudah keluar menyambut mommy'', ajaknya


Mereka akhirnya turun, Ken melangkah dengan enggan, namun kedua anaknya sangat kegirangan saat melihat dokter Burhan dan dokter Fahri di depan pintu menyambutnya.


''Kakek, paman dokter, kami mengunjungimu'', ucap gadis kecil itu berlari ke arah dokter Burhan bergandengan tangan dengan saudara kembarnya, lalu mencium tangan dokter Burhan bergantian.


''Kalian sopan sekali'', ucap dokter Burhan mengelus rambut kedua anak kembar itu.


''Apa paman sudah sehat??, tanya Ryuna menatap dokter Fahri. Pria kecil itu sangat perhatian.


''Paman sudah lebih baik'', dokter Fahri berjongkok menyamakan tingginya dengan kedua anak kembar bermata biru di depanya. Tiba-tiba gadis itu langsung memeluknya.


''Jangan sakit lagi paman dokter, hari ini ulang tahunku dan Leyuna, paman belum memberiku selamat''.


''Benarkah, kalau begitu selamat ulang tahun untuk kalian, kalian mau hadiah apa nanti paman akan kirimkan'', ucapnya.


Gadis itu menggeleng, '' Be sudah punya semuanya, Be sama Leyuna cuma mau punya adik bayi, apa paman tahu dimana membelinya??, mama bilang tidak di jual di pasar'', bisiknya di telinga dokter Fahri.


Dokter Fahri tersenyum mendengarnya, ''Kalau itu minta sama mama dan papa'' jawabnya.


''Sudah tapi papa bilang, mama habis di operasi, harus tunggu sampai mama benar-benar sembuh dulu'', mama sembuhnya lama ya paman??, ucap gadis kecil itu manja, matanya berkedip-kedip dengan indah saat berbicara membuat dokter Fahri gemas dan langsung menggendongnya.


''Be jangan minta gendong paman dokter, paman kan sedang tidak enak badan'', ucap Lily dengan logat aneh, dia belum begitu mahir dengan bahasa negara ini.


''Paman turunkan Be'', gadis kecil itu merosot dari gendongan dokter Fahri.


Dokter Burhan mempersilahkan semua tamunya masuk ke kediamanya, dokter Fahri bersikap biasa seperti tak terjadi apa-apa, Ken tidak membiarkan sedikitpun istrinya jauh darinya, merekapun segera memulai acara makan malam dengan banyak bercerita masa muda dokter Burhan dan nyonya Sophia, yang membuat mereka tertawa, dan terlihat akrab.


Kedua anak kembar itu mendengarkan dengan serius sembari menyantap hidangan yang dipersiapkan oleh juru masak di kediaman dokter Burhan.


''Apa kakek tinggal sendiri disini???, ''dimana nenek?, aku tidak melihatnya dari tadi'', tanyanya penasaran


''Nenek sudah tiada, apa kau mau menemani kakek disini???, tanya dokter Burhan


''Ahhh sayang sekali, kami juga tidak punya nenek dan kakek, kami hanya punya grandma'', ucapnya sedih


''Kalau begitu anggap saja kakek sebagai kakekmu, kalian berdua boleh kapan saja datang kesini mengunjungi kakek, rumah ini cukup luas untuk ditempati kakek sendirian'', jawabnya.


''Semua cucu kakek tinggal jauh bersama orang tuanya, belum tentu satu tahun sekali datang untuk mengunjungi kakek'',jelasnya


''Kakek tinggal di rumah kami saja biar tidak sendirian'', ucapnya lagi


''Ohhh terimakasih, lain kali jika kakek rindu kalian bolehkah kakek datang menemui kalian''.


''Tentu saja, masakan mamiku sangat lezat, mami juga sangat pandai membuat kue, kakek harus mencoba kue dan masakan mami kesayanganku'', pria kecil itu begitu mengagumi dan membanggakan ibunya, dan membuat semua tertawa terbahak.


''Pokoknya kakek harus datang ke rumah kami, mami akan membuatkan kue terenak dan memasak yang lezat untuk kakek'', ucap gadis kecil itu tak terbantahkan.


''Terimakasih, terimakasih banyak, kalian sangat pintar dan menggemaskan, kakek pasti akan kesana nanti'', ucap dokter Burhan


''Kakek janji ya'', gadis itu mengacungkan telapak tangannya ke sisi telinganya


''Pasti'', jawab dokter Burhan membalas dengan menirukan gerakan Ryube yang lucu.


''Sayang cepat habiskan makananya'', seru Arrumaisha


''Mama Be sudah kenyang, bolehkan Be tidak menghabiskanya??, gadis itu terlihat mulai mengantuk


''Aku juga sudah kenyang mami'', ucap saudara kembarnya.


''Kalau begitu cuci tangannya dulu!!


Kedua anak kembar itupun segera beranjak dari duduknya, obrolan mereka berpindah di ruang tamu.


''Isha, aku pinjam suamimu sebentar, ada hal yang ingin aku bicarakan'', ucap dokter Fahri


''Silakan, kalian pria dewasa jangan bertengkar ya!!!, tegurnya


''Kau bisa saja lucu, sepertinya kelucuan putra-putrimu menurun darimu'', ucap dokter Fahri.


Ken mengikuti langkah dokter Fahri menaiki tangga ke lantai atas, hingga sampai ke balkon, dari sana terlihat indahnya malam hari pulau sebrang.


''Hal apa yang ingin anda bicarakan????, tanya Ken tanpa basa-basi.


''Arrumaisha adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, sejak aku mengenalnya sampai sekarang, anda seperti terburu-buru menikahinya. Maaf, jika bukan Arrumaisha aku tidak akan sepeduli ini'', ucap dokter Fahri terus terang.


''Kami tidak terburu-buru, kisah kami memang tidak baik, dia telah melahirkan anak-anakku, tidak akan ku biarkan mereka hidup menderita, dan asal dokter tahu, saya sudah mempersiapkan semua, walau saat itu terus mendapat penolakan, saya terus berusaha dan memohon padanya, hingga akhirnya dia mau memberiku kesempatan dan saya tak ingin menunda lagi'', jelas Ken


''Saya tidak tahu alasan anda yang sebenarnya, anda telah menceraikannya dan sekarang kembali menikahinya, saya harap jangan pernah memperlakukan dia dengan buruk, dia telah kehilangan semuanya dan tidak ada tempat bergantung, saya percaya anda bisa membahagiakanya''.


''Jangan kuatirkan istri saya, saya pastikan dia hidup bahagia tidak kekurangan apapun, sebaiknya kuatirkan diri anda, segeralah mencari penggantinya'', ucap Ken begitu angkuh


Dua pria dewasa itu bicara dengan kaku, demi seorang Arrumaisha mereka tetap mempertahankan harga dirinya.


Suasana menjadi hening, mereka berdua diam sesaat.


''Apa hanya itu yang ingin anda bicarakan??, anda menganggu malam pertama kami'', ucap Ken kesal.


''Ini tentang ayahku dan nyonya Sophia'', ayahku ingin menghabiskan hari tuanya bersamanya'', ucap dokter Fahri


''What?????, seketika Ken menatap dokter Fahri dengan tajam, begitu juga dengan dokter Fahri, sorot matanya menunjukkan kesungguhan akan ucapnya.