
Setelah pernikahan mereka di pulau Sebrang, Ken kembali membawa istri dan kedua anak kembarnya pergi mengunjungi negaranya, sekaligus mengantarkan Lily kembali pada kedua orang tuanya, nyonya Sophia kini juga telah menikah dengan dokter Burhan dan memutuskan menetap bersama dokter Burhan di pulau Sebrang, Aldo kembali ke ibukota untuk mengurus perusahaan Ken di pusat dan harus berjauhan dengan kekasihnya Reisa. Sedang dokter Fahri masih betah sendiri. Sepertinya dokter tampan itu belum menemukan wanita yang tepat pengganti Arrumaisha.
Kehidupan mereka berjalan dengan bahagia, setiap hari Ken selalu mengantar dan menjemput kedua anaknya dari sekolah, dia juga harus mengawasi sendiri proses pembangunan hotel yang kini telah menjadi milik istrinya, Ken juga menambah beberapa karyawan untuk membantu istrinya mengurus toko kuenya, sehingga istrinya lebih banyak waktu untuknya dan anak-anak. Ken sangat berharap ingin segera memiliki beberapa anak lagi, tapi entah kenapa hingga sampai beberapa bulan setelah pernikahan mereka, tidak ada tanda-tanda jika istrinya itu hamil, ia ingin selaki membahas tentang ini dengan istrinya, tapi ia selalu ingat ucapan dokter Fahri saat pemeriksaan terakhir kali setelah Arrumaisha menjalani oprasi. Bahwa istrinya diperkirakan masih bisa hamil lagi.
Ken bangun dengan keringat dingin, dia merasa kepala sedikit pusing, dia mencari sosok istrinya yang semalam tidur dalam pelukannya, tapi istrinya sudah tidak ada di kamarnya, Ken merasa badanya tidak bertenaga dan lemas, tadi ia terbangun di pagi buta dan merasa mual, lalu memuntahkan isi perutnya di toilet kamar mandi, setelah itu ia tidur kembali, tenaganya seperti terkuras habis, pagi ini ia sangat malas untuk bangun dan mengantar kedua anaknya ke sekolah.
''Mama, kenapa papa belum bangun??. tanya putrinya sembari memakan sarapanya.
''Papa kerja sampai malam, mungkin papa masih mengantuk???
''Terus siapa yang antar kita ke sekolah??, ucap putra semata wayangnya.
''Mama bisa mengantarkan kalian??,
''Tapi mami tidak bisa bawa mobil''.
''Kita naik motor saja seperti dulu, tidak apa-apa kan??
Kedua anaknya itu mengangguk.
''Yeaahhh, aku bisa naik motor lagi sama mami'', seru pria kecil itu senang
''Kalau begitu cepat habiskan sarapan kalian, setelah itu kita berangkat''.
Arrumaisha segera mengantar kedua anaknya setelah menyelesaikan sarapan , setelah itu kembali ke rumah, saat kedua anaknya sudah di sekolah rumah itu terasa sepi, ia juga tidak melihat suaminya, Arrumaisha buru-buru naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya, dilihatnya suaminya masih tidur.
''Ken, kenapa tidak bangun?, apa kau sakit??, ucapnya sembari menyentuh kening suaminya yang terasa dingin.
''Honey peluk aku, aku kedinginan'', ucapnya bergetar, tubuh kekar itu mengigil kedinginan.
Sekali lagi Arrumaiaha memegang kening suaminya lalu memegang keningnya sendiri. ''Kenapa badanmu sangat dingin, Arrumaisha mengambil alat pengukur suhu yang biasa di pakai saat anak-anaknya demam, ia menyalakan alat itu dan menaruh diketiak suaminya, lalu membetulkan selimut yang menyelimuti tubuh suaminya.
Tak berapa terdengar bunyi bib....bib, ia buru-buru melihatnya, ''Suhunya normal tapi kenapa kau kedinginan'', ia berbicara sendiri. ''Aku akan ambilkan sarapan untukmu''. Ia beranjak dari ranjang, namun tangan kekar suaminya langsung menariknya membuatnya terduduk kembali. Ken menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat.
''Kau ini kenapa??, sepertinya kau tidak enak badan, aku akan bawakan sarapanmu kesini??
''Aku tidak ingin sarapan''. jawabnya
''Wajahmu terlihat pucat, badanmu kedinginan, sebaiknya sarapan dulu dan minum obat''.
''Aku tidak mau?? aku hanya ingin kau disini menemaniku'', ucapnya.
''Ken jangan menyepelekan kesehatanmu, ayo ke rumah sakit!!!!, aku tidak ingin kau nanti tambah parah''.
''Aku tidak mau ke rumah sakit, aku tidak apa-apa'', ucapnya mengeratkan pelukanya pada pinggang istrinya.
''Sudah seperti ini masih tidak mau pergi, sebaiknya kau periksa dulu sebelum terlambat menanganinya''.
''Honey aku tidak apa-apa, jangan kuatirkan aku'', ucapnya sembari menundukan kepala istrinya lalu mencium bibirnya dengan lembut.
Arrumaisha merasakan bibir suaminya yang dingin, dia tidak menolak saat suaminya mencium bibirnya kembali.
"Tidak, aku hanya memakan masakanmu semalam". jawabnya lalu menyesap leher istrinya cukup lama hingga meninggalkan tanda kemerahan. Tidak tahu kenapa aroma tubuh istrinya membuat pusing di kepalanya sedikit hilang, Ken terus menyesapi tubuh istrinya dan tanganya mulai bergerilnya meremas gundukan kenyal milik istrinya yang sekarang terasa lebih berisi dari sebelumnya.
"Apa kau alergi memakan sesuatu??, ia bertanya lagi, Arrumaisha mengingat- ingat menu yang ia masak semalam, takut ada yang salah tapi kedua anaknya juga baik-baik saja, jika suaminya keracunan makanan pasti kedua anaknya juga ikut keracunan, pikirnya.
Ken menarik resleting baju istrinya pelan kemudian menarik pakaian istrinya hingga terlihat *********** yang tertutup bra menyembul keluar tampak berisi dan padat.
''Hentikan Ken kau sedang sakit, aku akan minta kak Fahri datang kesini untuk memeriksamu'', ucapnya seketika membuat Ken menghentikan kegiatanya.
''Tidak, jangan suruh jomblo itu kesini, apa kau mau aku terlihat lemah di depanya''.
''Tapi kau sedang sakit, apa kau mau sakitmu tambah parah, lagi pula kalian itu sudah menjadi saudara''.
''Aku tahu, dia saudara tiriku sekarang, aku tidak suka kau dekat denganya, bicara denganya, aku tidak suka cara dia menatapmu, dan aku tidak akan membiarkan dia atau pria manapun menatapmu dengan tatapan seperti itu''.
''Seperti apa??,
''Dia menatapmu dengan tatapan memuja dan penuh harap, itu artinya ia belum bisa melepaskanmu''.
Arrumaisha tersenyum, ''dari dulu dia seperti itu, tatapan matanya lembut dan sabar, jangan berfikir macam-macam''.
''Honey, jangan memujannya, aku tidak suka mendengarnya''.
''Aku tidak memujanya, dia memang sudah seperti itu dari lahir'', jawabnya tidak mau kalah.
''Apa kau menyukainya sekarang??, dan berharap dia masih menunggumu sampai aku mati''.
''Jangan bicara sembarangan Ken, kenapa kau selalu berpikiran buruk padanya''. jawab Arrumaisha sedikit kesal.
''Honey aku punya pengalaman buruk dengan saudara tiri, jadi aku harus waspada denganya''.
''Aku tahu, berhentilah berpikir negatif padanya, kau hanya akan sakit seperti ini jika terus berprasangka buruk''.
''Bagaimana aku bisa berhenti berfikir buruk, sampai sekarang kau belum bisa mencintaiku sepenuhnya, kau hanya memikirkan anak-anak, tidak memikirkanku'', ucapnya ngambek seperti anak kecil.
''What'', Arrumaisha mengerutkan dahinya dan menatap suaminya kesal, ia tidak mengerti dengan pikiran suaminya.
''Kau ini kenapa, aneh sekali???, menurutmu aku harus bagaimana???.
''Panggil aku sayang, berikan aku ciuman saat akan tidur dan ketika bangun tidur, jangan meninggalkanku saat aku masih tidur dan aku lebih suka kalau kau lebih agresif lagi padaku saat...''. ucapnya terhenti
Arrumaisha menatap suaminya keheranan, ''Aku bangun untuk menyiapkan sarapan anak-anak, lalu mengantarkanya ke sekolah??, ucap Arrumaisha heran dengan cara pikir suaminya.
''Honey, tadi kau mengantarkan anak-anak ke sekolah sendiri????, aku sudah bayar orang-orang untuk mengurus semua, kau tidak harus melakukan sendiri, aku tidak ingin kau kelelahan mengurus mereka''.
''Apa kau mau anak-anakmu lebih menyukai pelayan di rumah dari pada ibunya sendiri karena semua diurus oleh pelayan??,
Ken terdiam, lalu menggeleng'', bukan seperti itu, aahhh sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu'' ucapnya lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua bukit kembar istrinya dan kembali menyesapnya, menarik pakaian istrinya dan melemparkan sembarang, perdebatan mereka berakhir dengan ******* dan erangan istrinya, Arrumaisha tidak pernah bisa menolak perlakuan suaminya, tapi justru menikmatinya meski tubuh kurusnya terkadang kelelahan melayani hasrat besar suaminya.