
Arrumaisha telah dipindahkan di ruang perawatan vvip. Dia hanya bisa menurut apa yang di lakukan Ken.
''Tuan, lebih baik anda membawa pulang anak-anak, ini rumah sakit tidak baik untuk mereka'', ucapnya lemah.
''Aku tidak akan bisa menjaganya sendiri, sepulang sekolah tadi wajah Ryuna terlihat sedih dia berkaca-kaca ingin menangis menanyakanmu, tapi dia menahanya, mereka tidak bisa jauh darimu, bahkan mereka berdebat saat perjalanan kesini, karena Be berfikir kau akan meninggalkannya'', jelas Ken.
Arrumaisha mendesah, melihat ke langit-langit kamar perawatannya sekarang, dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan mantan suaminya. Arrumaisha sangat tahu diantara mereka sudah berakhir hanya anak-anaknya yang membuatnya tetap terhubung hingga saat ini.
''Jangan terlalu dipikirkan'', kata Ken kemudian, dia tahu mantan istrinya tidak nyaman denganya dan terhadap apa yang dia lakukan tanpa persetujuanya.
''Mulai sekarang kau tidak perlu sungkan meminta bantuanku, katakan saja apa yang kau butuhkan, dengan senang hati aku akan melakukan untuk kalian, ini tidak ada bandingnya dengan seluruh pengorbananmu saat mengandung mereka, melahirkan dan membesarkan mereka sendiri'', ucap Ken datar dan duduk disamping ranjang.
Arrumaisha tidaklah begitu mengenal suaminya, dia di paksa menikah oleh paman dan bibinya, dia seorang gadis yang penurut, karena hanya keluarga pamanya yang ia miliki dan telah menampungnya setelah kedua orang tuanya meninggal. Arrumaisha hanya gadis remaja 18 tahun saat itu, setelah menikah dia diperlakukan bukan layaknya seorang istri, dia tidak mengenal suaminya seperti apa, meski telah menikah selama 1 tahun mereka tidak pernah berbagi ranjang, dan sekarang pria yang telah membuat hancur masa depan dan hidupnya memohon maaf padanya berkali-kali bahkan memintanya rujuk, dia benar-benar tidak siap, karena dia telah bertekat untuk hidup hanya untuk anak-anaknya, hasil pernikahan yang tidak pernah mereka berdua harapkan.
''Isha'', Ken menjeda bicaranya memegang tangan kurus itu.
''Beribu maaf ku katakan tidak akan bisa mengembalikanmu kembali ke awal, akulah yang menghancurkan hidupmu, masa depanmu, membuat hidup kalian susah, tapi kau masih tetap sabar dan tegar dengan keadaanmu, aku benar-benar sangat menyesalinya, jangan menolak semua yang aku lakukan, aku ingin menebus semua yang pernah kuperbuat dimasa lalu, sejak kita menikah hingga sekarang, kau pasti sangat menderita karnaku''.
Suara datar itu membuat air mata Arrumaisha keluar dari sudut matanya, sekuat hati dia menahan agar tidak menangis, tapi entah kenapa air matanya keluar tanpa di minta.
Ken segera menghapus air mata di sudut matanya yang terlihat sayu dengan lembut.
''Jangan kau tahan kepedihanmu, katakan semua padaku, aku sangat pantas kau benci, keluarkan semua keluhmu, balaskan semua sakitmu padaku, aku akan menerimanya, asal jangan menolakku, jangan diam saja bicarakan jika kau tidak menyukai'', Ken berkaca-kaca dan menggenggam erat telapak tangan Arrumaisha hingga terlihat memerah, dia tidak sanggup lagi berkata-kata.
''Mami...., mama.....'', pintu itu di dorong kuat, kedua anak itu tiba-tiba saja masuk mengaggetkan mereka berdua. Buru-buru mereka menghapus air matanya, Aldo berdiri dipintu menyaksikan dua pasanganan yang sudah berpisah itu merasa haru.
''Mami....!!!!Ryuna mendekat ke ranjang maminya, dia menatap mata maminya yang habis menangis.
''Mami mana yang sakit, kenapa mami tidak bilang kalau mami sangat kesakitan, jangan menangis mami, aku sangat takut mami meninggalkanku'', ucapnya sedih dan memeluk leher maminya, pria kecil itu selalu mengkuatirkan maminya.
''Mama maafin Be, Be nggak nakal kok, Be tadi hanya pergi makan dan main sebentar, Be sayang mama, mama jangan sakit'', ucapnya sedih namun terlihat menggemaskan. Ken segera menggendong putrinya Ryube dan menciumnya.
Arrumaisha tidak bisa berkata dia hanya membelai rambut putranya yang berdiri memeluk lehernya.
''Tuan saya membelikan makan untuk tuan dan nona, nona Isha semoga lekas sembuh''. ucap Aldo yang ikut masuk dan menaruh barang yang di minta bosnya.
''Terimakasih'', ucapnya.
''Mami tadi uncle Aldo mengajak kami makan di tempat yang banyak mainanya, uncle juga janji kalau mami sudah sembuh akan mengajak Be sama Leyuna main lagi'', ucapnya.
''Kalau begitu bilang terimakasih sama unclenya''.
Kedua anak itu menurut segera mengucapkan terimakasih pada Aldo. Aldo membalasnya dengan tersenyum. Kedua anak itu sama sekali tidak merepotkan, tapi sangat patuh pada mamanya.
''Mami, papa bilang mami dioprasi, untuk mengambil penyakit mami, apanya yang dioprasi mami, mana dokternya???, tanya Ryuna
''Dokternya sedang mengurus pasien lain, kalian berdua jangan menyentuh perut mami dulu'', jawab Ken.
''Kenapa dengan perut mama?, bagaimana dokter mengambilnya??, tanya Ryube
Kedua anak itu benar-benar penasaran, dia tidak pernah melihat mamanya seperti sekarang, semua karena Arrumaisha tidak pernah menunjukkan sakitnya di depan kedua anaknya.
''Tidak sekarang tunggu sampai mama sembuh dulu'', jelas Ken
''Apa dokternya baik, kalau begitu Be akan bilang terimakasih pada dokternya''.
''Nanti Be bisa bilang kalau bertemu dokternya kemari'', jawab Ken.
Malam ini mereka semua menginap di rumah sakit, Arrumaisha hanya bisa melihat mantan suaminya mengurus kedua anaknya sampai mereka tertidur. Ken meminta Aldo pulang karena ada yang harus di kerjakan. Sampai saat ini dia masih tidak tahu bahwa suaminya seorang pemilik perusahaan di ibukota, setahun bersamanya dia tidak pernah mencari tahu informasi tentang suaminya, yang dia tahu dia hanya orang asing, saat mereka berpisah mereka pikir semua telah selesai, Arrumaisha memejamkan matanya, karena pengaruh obat diapun cepat tertidur.
Ken melihat kedua anaknya telah tidur pulas, dan mantan istrinya juga bernafas dengan teratur, dia tidak pernah mengira akan memiliki anak, dia pikir setelah menceraikan istrinya mereka akan menjalani hidup masing-masing, tapi takdir berkata lain, saat ini dia seperti menemukan kehidupan yang baru bersama anak-anaknya dan membuatnya bersemangat, dia tidak peduli dengan statusnya sekarang. Dia ingin menata hidupnya yang hancur selama lima tahun ini, baginya sekarang kedua anaknya adalah penyelamatnya, dan dia sangat berharap mantan istrinya mau memberinya kesempatan.
Ken berbaring di sofa di ruangan itu, dia tidak tahu kedepanya mau bagaimana, ini pertama kalinya tinggal dalam satu kamar bersama anak-anaknya dan juga mantan istrinya, dia telah banyak berfikir, selain membahagiakan kedua anaknya, tentang mantan istrinya walaupun dia tidak tahu apa yang harus di lakukan pada mantan istrinya dan memintanya untuk rujuk, dia tidak tahu alasan kenapa minta rujuk padahal baru bertemu sekitar dua bulan saja, apakah hanya menyesal karena telah menghancurkan hidupnya, atau hanya karena dia telah melahirkan kedua anaknya, atau karena dia telah jatuh cinta pada mantan istrinya itu. Sampai larut Ken tidak bisa memejamkan mata, dadanya terasa berdebar kencang, apapun yang terjadi nanti dia akan menerimanya.