
Tak berapa lama Lily juga keluar dan bergabung dengan mereka, Arrumaisha segera mengenalkan Reisa pada Lily.
Lily menyambut uluran tangan Reisa dengan baik, dia merasa memiliki teman dan keluarga yang baik disini, padahal ia baru beberapa hari tiba disini, namun Arrumaisha menerimanya dengan baik dan mau mengenalkanya pada temanya, Lily memang tidak punya banyak teman, karena kemana-mana selalu di antar sopir, kehidupannya sangat diatur oleh keluarganya terutama ibunya.
Reisa sedikit canggung, kemarin dia sempat berfikiran negatif saat tahu bahwa adik dari atasan kekasihnya seorang perempuan, tapi sekali bertemu dan berkenalan, pikiran negatif itu hilang, meski Lily cantik punya kulit putih dan hidung mancung, tapi mungkin dia bukan tipe Aldo dan lagi Lily terlihat seperti gadis yang baik.
''Bagaimana??, enak tidak??, tanya Arrumaisha pada Lily.
''Ya, ini sangat nyaman??, dimana nyonya Sophia apa dia tertidur karena merasa nyaman???
''Mungkin??, ini pertama kalinya dia kesini, jawab Arrumaisha, ''oh ya Rei kau bilang kemarin ingin makan kue buatanku, jadi aku bawakan, seandainya kamu bilang kau dan Aldo sering bertemu, aku kan bisa minta Aldo membawakanya untukmu''.
''Iya maaf, terimakasih ya, kamu memang paling tahu'', ucap Reisa memeluk sahabatnya.
Tak berapa lama nyonya Sophia keluar, ''aduh sayang maaf mommy sampai tertidur''.
''Apa nyonya merasa lebih nyaman??, tanya Lily
''Ya nyaman sekali pijatanya sampai membuatku tertidur pulas''.
''Syukurlah kalau mommy suka, kalau mommy mau lain waktu bisa kesini lagi''. ucap Arrumaisha tulus
''Terimakasih sayang, mommy bisa betah tinggal disini''.
Arrumaisha hanya tersenyum lembut.
''Halo nyonya Sophia, apa kabar'', sapa Reisa ramah.
''Halo dokter Reisa, kabarku sangat baik, apa dokter Rei juga langganan di sini''.
''Iya sejak saya datang ke kota ini, saya coba spa disini dan kebetulan hari ini bertemu Isha di sini''.
''Aldo kau disini juga, apa kau juga mau spa???, canda nyonya Sophia
''Halo nyonya Sophia, saya.... saya... menemaninya'', ucap Aldo sungkan.
''Tidak perlu sungkan begitu, aku sudah mengira cepat atau lambat kalian pasti akan bersama, aku juga pernah muda pernah merasakan indahnya jatuh cinta, selamat ya jangan lupa mengundang kami saat kalian menikah nanti'', ucapnya mendukung hubungan mereka.
''Kami belum akan menikah nyonya'', ucap Reisa malu-malu. ''Kami masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing'', ucapnya lagi.
''Pekerjaan tidak akan ada habisnya, sayang bilang pada Ken untuk mengurangi beban kerja Aldo, kalau Aldo sibuk bekerja terus kapan mau menikah, biarkan dia mempersiapkan pernikahanya''.
Aldo dan Reisa nampak malu, mereka berdua tidak bisa berkata-kata.
''Kenapa nyonya Sophia tidak minta sendiri pada Ken??? tanya Lily.
''Kakakmu itu lebih mendengarkan istrinya daripada sama mommy'', ucap nyonya Sophia membuat mereka tertawa.
''Benarkah, kakak ipar sepertinya aku harus banyak belajar darimu, bagaimana caranya punya suami bisa nurut sama istri'', ucap Lily manja memeluk Arrumaisha
Reisa tahu apa yang di rasakan sahabatnya tidak seperti yang terlihat, dia segera mengajak turun untuk menemui anak-anak sahabatnya, karena merekalah yang membuatnya tetap kuat hingga sekarang.
Ryube melihat mamanya dan yang lainnya menuruni tangga, dia sedang asyik menikmati makannya dan langsung berteriak
''Mama....'', panggilnya sambil melambaikan tangan
Arrumaisha dan yang lain segera menghampiri kedua anaknya yang sedang makan bersama papanya.
''Kalian sudah makan???
''Iya mami kami lapar, kenapa mami dan grandma juga tante Lily lama sekali diatas, maaf kami makan dulu tidak menunggu mami turun'', ucap Ryuna sopan
''Tidak apa-apa sayang, apa sekarang sudah kenyang???
''Hemmmm hampir, mami kok bisa sama dokter Rei dan uncle Aldo??
''Iya, tadi ketemu diatas, sapa dulu sama dokter Reisa''.
Kedua anak itu menyapa Reisa dengan sopan, Reisa bergantian memeluk kedua anak sahabatnya, dan menganggukkan kepalanya untuk menyapa Ken yang duduk di antara putranya, mereka segera duduk dalam satu meja dan memesan makan siang. Aldo juga menyapa Ken dan duduk bersama, Aldo memang sudah seperti keluarga bagi mereka.
''Mami, kau sangat harum, aku suka wangi mami'', ucap Ryuna membuat semua tertawa,
''Dan juga cantik, aku sangat ingin punya rambut hitam dan juga mata bulat seperti mama, kenapa aku tidak mirip mama saja'', ucap Ryube cemberut.
Pengunjung yang sedang menikmati makannya disana juga ikut tertawa dan menoleh ke arah mereka mendengar celoteh kedua anak kecil itu.
Mata Arrumaisha membeliak, ia mengelus kepala putranya, ''jangan membual selesaikan makanmu''.
Ken hanya melirik putranya, dia sependapat dengan putra semata wayangnya itu, bahkan Ken merasa setiap hari mantan istrinya terlihat semakin cantik dan anggun, senyumnya selalu menawan dan membuatnya berdebar, setiap hari bertemu dan memikirkan hubungan mereka rasanya tidak cukup, kepala Ken terasa penuh dengan Arrumaisha, dia tidak menyangka kalau dirinya sudah jatuh cinta begitu dalam pada mantan istrinya, sehingga sering kali cemburu jika putranya yang masih balita itu sangat mengagumi ibunya.
''Be kamu juga cantik dengan warna rambutmu dan juga mata birumu, apa kau tahu banyak wanita dewasa menggunakan lensa mata karena ingin matanya terlihat biru seperti milikmu'', ucap Reisa menenangkan gadis kecil yang sudah bisa protes.
''Benar sayang, setiap wanita itu cantik dengan keunikanya masing-masing, dan cucu grandma sangat cantik meskipun kau berbeda dengan kebanyakan anak disini, karena kalian berdua mewarisi gen papamu''.
Gadis kecil itu tidak protes lagi, dia kembali menikmati makananya, ''mama setelah makan, kami boleh main lagi kata papa'', ucap Ryube semangat.
''Oh ya, apa kalian tidak lelah, ini sudah mulai sore, rumah kita lumayan jauh, kita bisa sampai rumah malam hari''.
''Kata papa tidak apa-apa, mumpung sudah disini, iyakan papa??, ucapnya manja
Ken menganggukkan kepalanya, membuat Ryube senang.
''Kalau begitu segera selesaikan makanmu, biar bisa main lagi sampai puas setelah itu kita pulang''
Tak berapa lama pelayan datang menyajikan makanan yang mereka pesan, mereka segera mulai menyantap makanannya.
Setelah menyelesaikan makannya kedua anak kembar itu kembali bermain ditemani mamanya dan juga Reisa, nyonya Sophia dan Lily pergi berbelanja, sedang Ken dan Aldo terlihat mengobrol di tempat semula, mereka terlihat serius.