Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
22.



Kumandang subuh terdengar jelas, Arrumaisha terbangun lebih awal, dia melihat kedua anaknya masih pulas, begitu juga dengan mantan suaminya yang bernafas dengan tenang di sofa yang ada di ruangan itu.


Arrumaisha sudah terbiasa bangun lebih awal, dia turun perlahan dari tempat perawatanya mencari pegangan berjalan dengan hati-hati menuju kamar mandi, dia tidak ingin membangunkan mantan suaminya ataupun memanggil perawat. Arrumaisha telah terbiasa melakukan semua sendiri, meskipun saat dia tak berdaya, selama lima tahun ini tidak ada yang peduli denganya, tinggal di tempat yang baru, tidak ada keluarga maupun teman, dipinggiran di kota B dia berjuang sendiri, dan ketika kedua anaknya lahir, merekalah semangat hidupnya yang membuatnya kuat dan bertahan hingga sekarang. Tekat itu telah bulat hidup untuk anak-anaknya. Namun mantan suaminya telah menemukannya, hal yang tidak pernah dia sangka, mungkinkah dia akan kehilangan anaknya jika menolak rujuk, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, gelisah yang tidak bisa diungkapkan.


Arrumaisha membasuh wajahnya yang terlihat pucat, terdengar suara Ryuna memanggilnya, membuat Ken kaget dan terbangun.


''Mami.... mami hilang pa!!!! langsung turun dari tempatnya.


Ryube juga langsung terbangun mendengar Ryuna bilang mamanya hilang, Ryube menangis seketika melihat mamanya tidak ada di tempatnya dirawat.


''Mama......, panggil Be, Ken yang masih mengantuk karena baru bisa memejamkan mata itu berdiri sempoyongan menghampiri kedua anaknya.


''Shhttttt jangan menangis, mama mungkin ke kamar mandi biar papa lihat dulu'', kedua anak itupun terdiam.


Ken buru-buru melihat ke kamar mandi


''Isha..., apa kau di dalam sana'', panggil Ken


''Iya'', sahutnya


''Kau butuh bantuan???


''Tidak aku bisa''.


''Sudah seperti itu masih tidak mau meminta bantuan'', guman Ken menunggu di depan kamar mandi.


Tak berapa lama Arrumaisha keluar dari kamar mandi, matanya bertabrakan dengan mata biru Ken yang berdiri di depan pintu, sesaat mereka terdiam, namun Ken segera sadar.


''Isha, aku sudah bilang padamu panggil aku kalau butuh bantuan, kenapa tidak membangunkanku, jangan menganggapku tidak ada, kau baru saja dioprasi'', ucap Ken sedikit tegas namun dia segera mengambil alih botol infus yang di pegang Arrumaisha dan mengangkat tubuhnya membawanya ke ranjang.


''Apa yang kau lakukan, aku bisa sen.... di....ri'', Arrumaisha seperti melayang, dia sedikit takut tanpa sadar mengalungkan tanganya ke leher Ken.


''Diamlah, kau ini pasien'', nada bicara Ken sedikit tinggi seperti memerintah, membuat Arrumaisha diam, dia ingat bagaimana dulu setelah menikah Ken sering kali membentaknya setiap kali dirinya dianggap salah olehnya.


Ken membaringkan tubuh kurus seperti kapas di ranjang dengan pelan, tapi Arrumaisha ingin duduk. Dia merasa lelah berbaring terus sejak semalam, dia tidak sadar tanganya masih melingkar dileher Ken, jarak mereka begitu dekat, untuk beberapa saat Ken diam menahan debaran jantungnya yang berbunyi kencang, saat mata mereka beradu.


Arrumaisha buru-buru melepas tanganya dari leher Ken.


''Aku mau duduk bersandar, aku lelah berbaring terus'', ucapnya wajahnya terasa hangat.


Ken segera menaruh botol infus di gantungan dan meninggikan ranjang agar Arrumaisha bisa duduk bersandar. Mereka baru sadar di sana masih ada dua anaknya yang melihat mereka barusan.


''Mami bolehkah aku duduk dekat mami, aku sangat takut ketika tidak melihat mami di ranjang'', ucap Ryuna mendekat.


''Mami tidak kemana-mana sayang, ini masih gelap kenapa kalian sudah bagun??


Ken segera membantu Ryuna duduk di samping mamanya. Kemudian mengendong putrinya yang masih duduk di tempat tidurnya dan mengusap air mata serta ingusnya.


''Papa Be juga mau duduk dekat mama''.


''Boleh tapi jangan menangis lagi'', ucap Ken penuh kasih, gadis kecil itupun mengangguk


''Sini duduk samping mama'', seru Arrumaisha sejak kemarin kedua anaknya tidak terurus dengan baik, meskipun ada papanya disampingnya.


''Mama kapan mama sembuhnya, Be mau tidur dipeluk mama''.


''Nanti kalau mama sudah sembuh kalian boleh tidur sama mama lagi, sementara kalian harus tidur terpisah dulu ya'', ucapnya lembut sambil membelai rambut pirang putrinya.


''Mami aku tidak akan menyentuh perut mami, aku akan tidur di kaki mami saja, aku masih mengantuk'', ucap Ryuna yang merasa sempit, pria kecil yang sangat pengertian dan selalu mendahulukan saudara kembarnya.


''Kalian tidur lagi disana lebih luas'', ucap Ken yang duduk di kursi samping ranjang.


''Tidak, aku tidak ingin mami menghilang lagi, Ryuna turun pindah di kaki matinya mencari posisi yang enak dan tidur lagi.


''Apa putri cantik mama ingin tidur lagi?, ini masih gelap sayang'', Arrumaisha


''Bagaimana kalau Be tidur sama papa disana??, rayu Ken pada putrinya.


Ken merasa sedikit kesal, ''kalian tidak ada yang sayang sama papa, karena itu kalian tidak mau menemani papa'', Ken pura-pura merajuk.


''Papa kan sudah besar bisa tidur sendiri, Be mau menemani mama, mama sedang sakit'', ucap gadis kecil.


''Kalian mengacuhkan papa ya??.


''Tidurlah kalau masih mengantuk, tidak apa-apa mereka disini'', seru Arrumaisha.


''Baiklah, bangunkan aku kalau kau butuh sesuatu'', Ken berdiri dan mencium putrinya yang mengemaskan.


''Kau benar-benar tidak ingin menemani papa Be?? tanyanya pada putrinya.


''Be mau disini sama mama, papa tidur saja!!!, seru Be membuat Ken kecewa, kedua anaknya tidak mempedulikanya, tapi dia sangat mengantuk karena tadi terlelap sebentar dan dikagetkan dengan teriakan anaknya.


Ken beranjak mengambil selimut dan menyelimuti putranya, kemudian kembali merebahkan badannya ke sofa dan perlahan mulai tertidur, menyusul putranya yang juga terlelap.


Arrumaisha melihat ke arah jendela, sinar matahari mulai muncul dan cahaya menerobos masuk, Ryube yang awalnya masih mengobrol dengannya akhirnya juga tertidur di samping mamanya, Arrumaisha tidak bisa bergerak karena kakinya di peluk oleh putranya sedang di sampingnya Ryube memeluk lengannya. Dia mencoba untuk tidur kembali namun tidak bisa.


Hingga sekitar jam 07 pagi, seorang perawat mengetok pintu dan masuk bersama dokter Fahri.


''Slamat pagi!!! sapa perawat dan dokter Fahri hampir bersamaan.


Arrumaisha tersenyum, ''Slamat pagi'', jawabnya.


Dokter Fahri terkesima sesaat melihat senyum yang begitu cerah, secerah sinar matahari pagi ini, ditanganya ada seikat bunga dan keranjang berisi buah yang dibawa perawat.


''Mereka anakmu Isha??, bagaimana mereka bisa tidur disini??


''Iya dok, tadinya mereka tidur disana tapi terbangun dan minta tidur disini'', jelas Arrumaisha.


''Aku bawakan ini untukmu, semoga lekas sehat'', dokter Fahri menyerahkan seikat bunga dan perawat itu menaruh buah di nakas, ''Apa ada keluhan?? tanya dokter Fahri


''Masih terasa nyeri'', jawabnya


''Bagaimana tidurmu semalam?? tanyanya lagi


''Lumayan bisa istirahat''.


Percakapan dokter Fahri dan Arrumaisha membuat kedua anak itu menggeliat dan terbangun.


''Halo....!!! sapa dokter Fahri ramah


''Dia dokter yang menolong mama Be, bisiknya pada Ryube


Gadis kecil itu buru-buru duduk dan menyapanya.


''Halo dokter, terimakasih telah menolong mamaku'', ucapnya penuh hormat dan menggemaskan.


''Trimakasih dokter atas pertolonganya untuk mamiku, kalau nanti mami sudah sembuh berkunjunglah ke rumah kami, masakan mamiku sangat enak, mamiku juga pandai membuat kue'', ucapnya begitu tulus dan bangga.


''Bolehkan?? tanya dokter Fahri sambil menatap mata Arrumaisha.


''Tentu saja, iyakan ma'', jawab Ryube senang.


''Terimakasih ya, kalian sangat sopan, kalian harus patuh sama mama, sekarang mama sedang sakit, tidak boleh mengganggunya, biar mama cepat pulih, kalian harus menjaganya dengan baik'', ucap dokter Fahri.


''Kami pasti akan menjaganya, iyakan kan Be?? ucap pria kecil itu.


Ryube pun menganggukkan kepalanya.


''Kalian sangat manis dan pintar, aku periksa mama kalian dulu ya!!, sanjung dokter Fahri kemudian mulai memeriksa Arrumaisha dan berbicara dengan perawat.


Setelah selesai memeriksa dokter Fahri dan perawat keluar ruangan.