Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
102.



Malam telah berganti pagi, meski sedang banyak pikiran, tidak ada kata libur untuk seorang pekerja keras seperti mbak Ratna, sepulang dari mengantar ibunya semalam ia langsung memberitahu kedua orang tuanya tentang apa yang di ucapkan dokter Fahri. Kedua orang tuanya tentu sangat terkejut, mereka tidak bisa memaksa putrinya untuk menerima atau menolak, keduanya memiliki tujuan yang baik pertama untuk kesembuhan ibunya dan yang kedua untuk masa depan mbak Ratna sendiri. Hanya saja mbak Ratna tidak pernah tahu seperti apa seorang dokter Fahri, dia tidak mengenal begitu jauh pria tampan dan berkharisma itu, pertemuan mereka bisa di bilang terjadi secara tidak sengaja, dia tidak pernah berfikir akan bersanding dengannya, tidak pernah terfikir sebelumnya pria itu memintanya langsung menjadi istrinya, pria itu tentunya banyak di kagumi kaum hawa, bukan cuma di toko milik Arrumaisha, mbak Ratna yakin di rumah sakitpun pria itu pasti banyak pengaggumnya. Tapi kenapa dia malah meminta mbak Ratna untuk menjadi istrinya. Keputusan ada di tangan mbak Ratna.


Mbak Ratna telah sampai di toko, ia menyapa Arrumaisha yang duduk sendirian sembari membaca buku, pagi ini Ken mengantar kedua anak kembarnya ke sekolah dan langsung pergi meninjau pembangunan hotelnya.


''Assalamualaikum mbak Arrum''.


''Waalaikumsalam'', jawab Arrumaisha


''Bagaimana pemeriksaan ibunya mbak, lancar???, tanya Arrumaisha


''Iya mbak'', mbak Ratna terlihat sedih.


''Lalu bagaimana hasilnya???, duduk dulu mbak''. ucapnya


''Ibu saya diminta untuk melakukan pemasangan ring jantung, karena jantungnya mengalami penyempitan'', ucapnya sedih


''Oh ya, lalu apa ibunya mau???


''Mbak Arrum kan tahu hal itu butuh biaya banyak, saya tidak punya uang mbak, bapak saya juga hanya bekerja sebagai buruh tani harian'', jawabnya dengan jujur


''Lalu apa tidak ada solusi lain???


''Dokter Fahri bilang obat-obatan hanya bersifat sementara, agar tidak mengalami pengumpalan darah''.


Arrumaisha mendengar penjelasan mbak Ratna, dia sedikit tahu meski hanya satu tahun belajar ilmu kedokteran, tapi ia sedikit mengerti.


''Lalu bagaimana, apa tidak ada keringanan biaya pengobatan dari pihak rumah sakit???


''Dokter Fahri bilang bisa melakukanya, tanpa saya harus mengeluarkan biaya sepeserpun, asalkan saya mau menjadi istrinya'', ucapnya dengan jujur, mbak Ratna tidak bisa memendam apa yang ia rasakan, dan lagi selama ini Arrumaisha sudah sangat baik padanya dan keluarganya, memberinya pekerjaan, sering kali ia mendapat bonus di akhir bulan, mbak Ratna mendapat kepercayaan dari Arrumaisha menjadi kepala toko, akan tetapi gajinya masih belum cukup untuk pengobatan ibunya.


''What.....''!!!!!, Arrumaisha sangat terkejut mendengarnya, ''serius mbak???. ia hampir tidak percaya, matanya membelalak dan membuat janin di perutnya bergerak, ia mendesis menahannya.


''Apa mbak Ratna mau???.


''Saya belum memutuskan, semalam saya sudah memberitahu kedua orang tua saya, mereka tidak ingin memanfaatkan keadaan dan membuat saya terpaksa, saya tidak mengenal dengan baik dokter Fahri, kami baru bertemu dua minggu lalu, bagaimana bisa tiba-tiba langsung menikah'', ucapnya.


''Tapi dokter Fahri hampir tidak pernah bercanda, dia itu selalu serius dengan apa yang ia lakukan''. ucap Arrumaisha


''Menurut mbak Arrum saya harus bagaimana??.


''Mbak Ratna sendiri bagaimana??, yang akan menjalani kehidupan bersamanya nantinya mbak Ratna, setahuku dokter Fahri orangnya baik, tulus dan tidak pernah menyerah, selain itu ia adalah pria dewasa yang mapan''.


''Saya tidak tahu mbak, tapi ada yang membuat saya tidak mengerti, dua minggu lalu saat dia mengantar saya pulang malam itu, dia bilang saya tidak boleh tersenyum pada pria lain, dia juga bilang pernah di tolak oleh seorang wanita yang sangat ia cintai, sekarang wanita itu sudah menikah dan berbahagia dengan suami dan anak-anaknya''.


Arrumaisha terkejut sekali lagi, ia tidak menyangka saudara iparnya yang merupakan seniornya di kampus dulu itu berbicara jujur pada pegawai tokonya, padahal baru bertemu dan saling mengenal.


''Mungkin dia memang benar-benar jatuh cinta sama mbak Ratna, makanya dia minta mbak Ratna untuk menjadi istrinya dan melarang mbak Ratna tersenyum pada pria lain''. ucapnya


''Masa baru ketemu sebentar langsung jatuh cinta''.


''Namanya juga cinta, ada yang datangnya tiba-tiba ada juga yang terlambat menyadarinya, setiap orang mempunyai kisahnya masing-masing''.


Ratna mengangguk, ''tapi saya takut mbak, saya tidak sepadan denganya, dia begitu tinggi dan saya begitu rendah, saya merasa tidak pantas bersanding denganya, dan lagi saya yakin banyak wanita yang ingin bersanding denganya, banyak perempuan yang mengagguminya''. ucapnya lagi


''Mbak Ratna jangan bilang begitu, siapa yang memantaskan diri kita untuk bersanding dengan siapa, mungkin sudah takdir mbak Ratna berjodoh dengan dokter Fahri, semua sudah suratan takdir. Jodoh, hidup dan mati adalah rahasiaNYA, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, kita hanya bisa menjalani saja''.


''Iya mbak, saya buka toko dulu ya, ini sudah siang'', ucap mbak Ratna segera beranjak dari duduknya


''Jangan lupa memohon petunjuk pada yang di atas, agar mbak Ratna tidak bimbang dalam mengambil keputusan'', Arrumaisha merasa sedikit lega mendengar seniornya dan juga iparnya itu meminta mbak Ratna menjadi istrinya, jika itu terjadi suaminya tidak akan meremehkanya lagi dengan memanggilnya jomblo dan lagi ada wanita di sampingnya yang mengurusnya. Suaminya mungkin tidak akan berfikir buruk lagi terhadapnya, dan lagi mbak Ratna adalah perempuan yang baik dan tidak neko-neko, Arrumaisha tersenyum sendiri. Arrumaisha sedikit menginggat bagaimana kisah cintanya dengan suaminya Ken, semua berawal dari syarat yang membuatnya harus menikah, cinta yang tidak pernah ada diantara mereka, atau mereka berdua yang terlambat menyadarinya, setelah menjalani kehidupan masing-masing begitu lama yang penuh luka dan derita, justru sekarang membuatnya tidak bisa jauh dari suaminya, Arrumaisha merasa begitu dicintai sekarang, ia merasa rindu pada suaminya yang baru sebentar meninggalkanya di rumah.


''Sementara itu Ken telah sampai di proyek pembangunan hotel yang kini telah menjadi milik istrinya, hotel itu sudah hampir selesai dan siap untuk di launcing, Ken berkeliling di temani sopir dan pengawas, mengambil beberapa gambar yang ingin ia tunjukkan pada istrinya, ia juga meminta Aldo datang ke kota B untuk persiapan pembukaan hotelnya, Ken ingin Aldo datang mengurusnya, akan butuh waktu lama jika mempersiapkannya sendirian, Ken tidak bisa meninggalkan istrinya di rumah sendirian dengan perut buncitnya. Ia selalu merasa kuatir dan was-was jika jauh darinya membuatnya tak bisa fokus bekerja, ia takut istrinya kenapa-napa, ia selalu tidak tenang jika meninggalkan istrinya walau sebentar saja, ia ingin selalu ada di dekatnya, menemaninya, menjadi orang yang selalu ada untuk istri dan keluarganya, istrinya itu telah membuatnya jatuh cinta, cinta yang begitu dalam yang terlambat ia sadari dan bahkan ia telah menyia-nyiakanya. Kini harapanya hanya satu membahagiakan istri dan anak-anaknya hingga akhir.