
Mereka masuk ke sebuah ruangan, dan seorang dokter perempuan dan perawat sudah bersiap disana, Dokter Fahri mengenalkan Ken dan keluarganya sebagai saudaranya kepada dokter yang bernama Rahajeng, setelah berbincang sebentar dengan dokter Rahajeng ia pun menunggu di luar, dia sangat menghormati Ken dan keluarganya.
Dokter Rahajeng minta Arrumaisha untuk berbaring di bantu seorang perawat, perawat itu mengoleskan gel di atas perut Arrumaisha kemudian dokter Rahajeng segera memeriksanya dan melihat ke layar monitor. Dokter Rahajeng melihat dengan teliti.
Ken sangat berdebar-debar, ia merasa tegang menanti penjelasan dokter Rahajeng.
''Apa ada yang memiliki garis keturunan kembar???,tanya dokter Rahajeng.
''Kedua anak saya ini kembar dok, tapi sepertinya kami tidak memiliki garis keturunan kembar'', ucap Arrumaisha
''Selamat bapak dan ibu, sepertinya istri anda sedang hamil kembar tiga, dari layar terlihat ada tiga janin yang ukuranya masih sangat kecil sebesar biji kacang, perkiraan usia janin 5 sampai 6 minggu'', jelas dokter Rahajeng
''Anda serius dok???, tanya Ken terkejut, ia segera menurunkan putrinya di ranjang tempat istrinya di periksa dan putranya juga duduk disana.
Ken melihat ke layar dengan serius, ''Yes, thank you honey'', ucapnya dan langsung mencium bibir istrinya, ia tidak peduli disana ada dokter Rahajeng dan perawat, juga kedua anaknya, Ken nampak berkaca-kaca.
''Anak-anak kalian lihat ke layar, kalian akan memiliki tiga saudara lagi''. ucap Ken bergetar
''Kenapa tidak jelas Pa??
''Iya pa, gambarnya terlihat kecil sekali'', ucap pria kecil.
''Mereka masih kecil dan belum terbentuk sempurna'', dokter Rahajeng menjelaskan dengan baik dan ramah. Mereka mendengarkan dengan serius.
''Bagaimana ini bisa terjadi dok???, sepertinya kami tidak memiliki garis keturunan kembar'', tanya Ken penasaran.
''Untuk kasus seperti ini memang bisa terjadi, ini karena sistem reproduksi anda bekerja dengan bagus serta tidak ada masalah dengan ovulasi, sehingga kemungkinan menghasilkan lebih dari satu sel telur saat ovulasi itu lebih besar, jika istri anda pernah mengalami hamil kembar, besar kemungkinan kehamilan selanjutnya bisa juga kembar''. jelas dokter Rahajeng.
''Mami bolehkah aku memberi tahu paman'', pria kecil itu langsung turun dari ranjang dan keluar untuk memanggil dokter Fahri, dan di luar ruangan dokter Fahri sedang berbincang dengan dokter Reisa.
''Paman, kata dokter kembar tiga''
''Maksudnya???, dokter Fahri mengeryitkan dahi, begitu juga dengan dokter Reisa
''Paman harus melihatnya, tante Rei juga boleh melihatnya'', Ryuna menarik tangan dokter Fahri untuk masuk ke ruangan periksa, dokter Reisa juga mengikutinya dari belakang.
''Dokter Fahri dan dokter Reisa langsung melihat ke layar, disana ada tiga janin yang belum terbentuk sempurna, mereka saling pandang.
''Triplet dok????, tanya dokter Fahri dan dokter Reisa hampir bersamaan
''Ya, ini anugrah, ada tiga janin yang di kandung ibu Arrumaisha'', jawab dokter Rahajeng
''Waooooww, kalian sangat beruntung, selamat ya, apa keluarga kalian ada yang memiliki garis keturunan kembar???, tanya dokter Fahri, ia sangat terpukau, meski dirinya seorang dokter, tapi baru kali ini ia melihat langsung wanita hamil kembar tiga, dan ini terjadi pada wanita yang ia cintai, meski sekarang wanita itu telah menikah.
Ken hanya mengangkat bahunya, dan Arrumaisha hanya menggeleng.
''Selamat Isha dan tuan Ken, waooowww, aku ikut senang''.
''Terimakasih dokter Rei''.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter Rahajeng, mereka segera pamit.
''Be apa kau tidak ingin memberi tahu kabar baik ini pada grandma Sophia dan kakek Burhan??. tanya dokter Fahri setelah ke luar dari ruangan dokter Rahajeng.
''Aku mau paman'', ucap Ryuna dengan cepat
''Aku juga mau paman'', gadis itu langsung menempel di kaki dokter Fahri, dengan segera ia menggendong keponakanya itu. ia merogoh sakunya mencari benda pipih di sakunya dan memberikannya pada keponakanya.
''Hai, kenapa kau sangat antusias, aku yang punya anak'', ucap Ken
''Ayolah, apa aku tidak boleh ikut bahagia'', jawab dokter Fahri asal.
Arrumaisha dan Reisa saling pandang dan tersenyum.
Dokter jangan berkelahi, anda harus bersiap dengan tiga keponakan lagi''. ucap Reisa
''Aku sama sekali tidak keberatan, bahkan jika boleh berikan padaku satu atau ketiga-tiganya, aku akan merawatnya dan membesarkanya dengan baik'', ucap dokter Fahri
''Apa kau pikir aku tidak mampu membesarkanya''. ucap Ken membuat mereka tertawa.
''Aku tidak berfikir begitu''.
''Papa bagaimana membuatnya??, tanya pria kecil itu seketika membuat semua terdiam.
''Aku tahu, grandma bilang orang dewasa yang sudah menikah boleh memiliki anak''.
''Keponakan paman sangat pintar, kalian mau singgah ke rumah paman tidak??, nanti kita kabari kakek dan grandma setelah sampai rumah.
''Di mana rumah paman??.
''Haaahhh, papamu sangat keterlaluan, kalian tidak tahu rumah paman ya, padahal kita tinggal satu kota''. dokter Fahri bicara sendiri.
''Papa aku mau ke rumah paman, Leyuna kau mau tidak???, tanyanya pada saudara kembarnya.
''Papa bolehkan berkunjung ke rumah paman??, tanya pria kecil itu
''Mama, boleh ya??, ucap putrinya dengan wajah memohon.
''Iya boleh'', jawab Arrumaisha yang langsung mendapat tatapan dari suaminya.
Arrumaisha segera pamit pada sahabatnya Reisha yang mengantarkannya sampai ke lobi.
Ken dan Arrumaisha segera berjalan menghampiri supirnya yang setia menunggu, sedang Ryube dan Ryuna, ikut bersama. dokter Fahri.
Tidak sampai 30 menit, mereka telah sampai di kediaman rumah dokter Fahri, rumah itu terlihat luas, bersih dan rapi, dengan beberapa pohon seperti mangga, jambu, kelengkeng, rambutan, belimbing serta beraneka bunga, meski rumah itu berada di tengah kota namun terlihat asri, rumah itu seperti bangunan lama namun masih terlihat bagus dan sangat terawat.
''Paman tinggal disini???, tanya pria kecil yang duduk di kursi belakang dengan saudara kembarnya.
''Ya, paman lahir dan tumbuh besar disini, rumah ini di bangun oleh kakek Burhan'', jelasnya, ''kita sudah sampai ayo turun''.
Dokter Fahri membuka pintu dan menurunkan keduanya.
Sementara itu Ken dan Arrumaisha juga telah sampai.
''Honey apa ini rumahnya???
''Sepertinya begitu, ayo turun, anak-anak sangat ingin kesini''.
Ken dengan enggan turun dari mobil, berjalan beriringan menghampiri kedua anaknya bersama dokter Fahri
Mereka di persilahkan untuk masuk, kedua anak kembar itu melihat-lihat kediaman dokter Fahri.
Dokter Fahri meminta pelayan rumahnya untuk segera menyiapkan hidangan, mereka semua belum makan siang.
''Paman katanya mau memberitahu kakek dan grandma'', ucap gadis itu menagihnya
''Ponselnya sudah kamu pegang Be''.
''Apa namanya??
''Cari nama Ibu dalam kontak'', jawab dokter Fahri
Arrumaisha dan Ken saling menatap, ada perasaan haru mendengar dokter Fahri memanggil ibu mertuanya dengan panggilan ibu, begitu juga dengan Ken ia merasa rivalnya telah menganggap mommynya sebagai ibunya sendiri. Ia tahu dokter Fahri tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, karena ibunya telah meninggal saat melahirkannya.
Arrumaisha melihat-lihat isi rumah dokter Fahri. ''Rumah kakak sangat luas, sejuk dan asri meskipun berada di tengah kota''. ucapnya
''Rumah ini tidak pernah di pugar, aku dan kedua kakakku tumbuh besar disini, rumah ini banyak kenangan ayah dan ibu, meskipun aku tidak pernah mengenal ibuku, ayah tidak pernah ingin merubahnya, jika kedua kakakku pulang mereka akan kembali kesini'', ucap dokter Fahri.
''Lalu kenapa sekarang memilih menetap di Pulau Sebrang???, tanya Ken yang mengikuti istrinya untuk melihat-lihat.
''Setelah pensiun, ayah ingin suasana baru, ia suka bermain golf disana saat masih bekerja disini bersama beberapa temannya, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal dan menetap disana''.
Ken merasa menyadari satu hal, bahwa saudara tiri dan juga rivalnya itu tidak sungkan berbagi cerita denganya, ia juga bersikap baik terhadapnya dan menghargainya, selain itu ibunya mungkin sudah berjodoh dengan dokter Burhan, ia tidak akan kuatir lagi dengan ibunya, karena sekarang telah bahagia dengan pilihan hidupnya.
''Apa mommy bersikap baik padamu???, tanya Ken tiba-tiba, ia teringat bagaimana dulu ia di perlakukan tidak baik oleh ibu sambungnya.
''Ya, ibu sangat baik, meski dia bukan ibu yang melahirkanku, dia memintaku untuk tidak menganggapnya seperti orang lain, sekarang saat aku berkunjung kesana aku merasa seperti memiliki seorang ibu, aku bisa merasakan ketulusanya'', ucap dokter Fahri
''Aku lega mendengarnya'', ucap Ken tersenyum