
Sore harinya Ken menemani putranya itu bermain bola di halaman belakang bersama dokter Fahri, Ken sampai bertelanjang dada begitu juga dengan putranya, pria kecil itu benar-benar duplikat papanya versi kecil. pria kecil itu begitu bersemangat mengejar bola.
Arrumaisha duduk di ayunan bersama putrinya menyaksikan permainan mereka, gadis kecil nan cantik itu asyik bermain sendiri.
''Mama kapan adikku akan lahir'', tanyanya tiba-tiba.
''Nanti kalau sudah waktunya sayang'', jawabnya dengan lembut
''Be tidak sabar ingin bertemu mereka''.
''Kakak Ryube yang cantik harus belajar bersabar ya''.
Tiba-tiba perut Arrumaisha seperti bergerak, ''aahhhhh'', rintihnya.
''Mama kenapa???, tanyanya kuatir
''Tidak apa-apa, sepertinya mereka sedang bergerak di dalam perut mama''.
''Apakah sakit??, gadis itu menyentuh perut mamanya lagi, dan tanganya merasa ada yang bergerak di perut mamanya.
''Haaahhh, mama aku merasakannya, ada yang bergerak di dalam perut mama'', gadis itu begitu senang
''Berikan ciuman padanya, dan bicarakan dengan baik, mereka bisa mendengarnya''.
''Benarkah???
''Ehem''.
Gadis itu langsung mencium dengan sangat hati-hati, ''aku kakak Ryube, kakak sangat ingin bertemu, jangan membuat mama kesakitan'', ucapnya dengan wajah yang lucu
Perut Arrumaisha bergerak lagi dan ia mendesis menahannya.
''Mama biar aku panggil papa, sepertinya mama kesakitan''.
''Tidak usah sayang, biarkan papa bermain bersama paman dan Ryuna, sepertinya mereka ingin bermain juga''. Arrumaisha melihat suami dan putranya serta dokter Fahri bermain dengan seru, pria kecil itu tidak lelah berlari kesana kemari mengejar bola dan menendangnya''.
Gadis kecil itu tertawa senang, senyumnya begitu membuat orang yang melihatnya terpesona. Arrumaisha ikut tersenyum membelai putrinya dengan penuh kasih sayang
Tiba-tiba langit menjadi gelap, dan hujan pun turun, Ken dan putranya serta dokter Fahri segera berlari untuk bertenduh. Mereka bertiga menghampiri Arrumaisha dan putrinya yang sedari tadi hanya menonton mereka bermain, Arrumaisha segera memberikan handuk untuk menyeka keringat dan air hujan.
''Papa, tadi di perut mama ada yang bergerak'', ucap putrinya
''Oh ya'', Ken langsung mengelus perut Arrumaisha, lalu mencium perut istrinya, janin di perutnya terus bergerak aktif sehingga Arrumaisha mendesis menahannya. Ken juga merasakanya.
''Apakah sakit???, tanya Ken mengelusnya, ini adalah pertama kalinya Ken menghadapi istrinya yang sedang hamil. Ken teringat saat dulu setelah kematian Rachel, ia tidak bisa bangun dari tidur, mual dan muntah dirasakan hampir setiap hari, tapi saat itu ia berfikir kalau dirinya depresi dan sangat stres dengan kepergian tunangannya yang telah menghianatinya. Dia tidak pernah tahu jika istrinya waktu itu mengandung kedua anak kembarnya.
''Itu tandanya janinya sehat, biasanya janin yang sudah berusia 11 minggu ke atas, akan mulai terasa pergerakanya, selain itu karena kehamilan kedua, perut menjadi sensitif dan karena kehamilan kembar mereka harus berbagi ruang yang sempit, jadi saat janin bergerak akan lebih terasa pergerakanya, bisa jadi juga karena faktor makanan, makanan yang manis bisa menyebabkan bayi sangat aktif, tidak dianjurkan bagi ibu hamil terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis atau makanan yang mengandung cafein'', jelas dokter Fahri.
''Papa aku ingin menyentuhnya juga'', ucap putranya.
Ken duduk disamping istrinya, membiarkan putranya menyentuh perut mamanya.
''Bagaimana paman tahu???, tanya gadis kecil itu.
''Apa keponakan paman ingin tahu???
Gadis kecil itu mengangguk
''Belajarlah dengan rajin, bukankah kalian bilang ingin jadi dokter, nanti kalian akan mempelajarinya''.
''Apakah dulu saat aku dan Be ada di dalam perut mami, juga bergerak seperti ini???, tanya putranya itu
''Ya, dulu kalian juga sangat aktif, mami bahkan sampai tidak bisa bangun'', jawab Arrumaisha.
Ken merasa sedih, saat dulu ia tidak pernah tahu bagaimana istrinya berjuang sendiri saat hamil kedua anaknya, dan tidak ada tempat bergantung, Ken mengelus putranya yang memeluk perut maminya.
''Apa kau lelah sayang??,tanya Arrumaisha pada putranya
''Sebaiknya kita mandi, sepertinya hujanya semakin deras''. ucap Ken
Putranya itu mengangguk dengan patuh, Ken berdiri dan membantu istrinya untuk berdiri lalu berjalan pelan ke dalam rumah.
Semua tidak luput dari penglihatan dokter Fahri, walaupun ia tidak akan pernah bisa menikah dengan wanita yang dia sukai, tapi melihatnya sekarang hidup bahagia bersama anak dan suaminya, ia merasa lega, suaminya juga memperlakukannya dengan sangat baik, sesaat dokter Fahri berfikir bahwa dirinya harus bisa membuka hati untuk wanita lain dan lagi kini mereka adalah keluarganya, ia menghabiskan sisa air minum di botol yang ia pegang lalu segera beranjak untuk membersihkan diri.
***
Malam telah tiba, hujan turun dengan derasnya, tidak ada tanda-tanda akan reda, toko juga telah tutup, semua pegawai toko sudah pulang, tinggal mbk Ratna yang masih di toko, ia memang selalu pulang paling akhir, memastikan semuanya telah terkunci, setelah itu akan memberikan kunci toko pada Arrumaisha, atau jika Arrumaisha tidak ada ia akan menaruh di tempat biasanya.
Keluarga itu sedang menikmati makan malam, tiba-tiba mbak Ratna datang.
''Assalamualaikum'', sapanya
''Mbak Ratna belum pulang???.
''Belum mbak, tadi pagi berangkat sama bapak, tapi barusan bapak telefon katanya motornya mogok kena hujan'', jelasnya
''Terus bagaimana???
''Tunggu bapak jemput''.
''Ya sudah sini makan dulu!!!, seru Arrumaisha.
''Iya mbak trimakasih, saya nunggu di luar saja''. Mbak Ratna malu jika harus makan bersama keluarga pemilik toko tempatnya bekerja, mereka adalah atasanya pikirnya.
''Sudah sini makan dulu, kalau tidak mau nanti aku potong gaji''.
Dokter Fahri tersenyum mendengar Arrumaisha berbicara tegas pada pegawainya, dia tidak mengira kalau wanita yang lembut itu bisa mengancam bawahanya, dan bisa mengembangkan usaha kecilnya dengan baik, meski tidak lepas dari bantuan dan dukungan suaminya.
Mbak Ratna tampak ragu, pria kecil itu langsung berdiri dari duduknya dan menarik tangan mbak Ratna dan mempersilakan duduk di kursi kosong bersebelahan dengan dokter Fahri.
''Makan dulu mbak Ratna, biar tidak di potong gajinya sama mami'', ucapnya seperti orang yang sudah dewasa.
Mbak Ratna sangat malu untuk mengambil makanan.
''Ayo mbak Ratna silakan makan'', ucap Ken
''Mau aku ambilkan??, ucap dokter Fahri dan ia langsung mengambilkan secentong penuh nasi, lalu mengambilkan lauk dan sayur.
Gadis kecil itu juga ikut mengambilkan lauk yang lain untuk mbak Ratna.
''Sudah ini cukup'', ucapnya malu
''Makan yang banyak mbak, biar kuat''. ucapan pria kecil itu membuat semua tertawa.
Mereka segera menyantap hidangan makan malam dengan suasana santai, mbak Ratna yang awalnya merasa sungkan dan malu, langsung menjadi akrab, hingga tak terasa mereka mengobrol cukup lama.
Tiba-tiba bunyi ponsel menghentikan obrolan mereka.
Mbak Ratna merasa itu bunyi ponselnya, ia tidak enak mau mengangkatnya.
''Mbak diangkat dulu, mungkin itu bapaknya''.
''Iya mbk'', ia segera berdiri mencari ponselnya di tas dan segera menekan tombol hijau pada ponselnya.
''Assalamualaikum'', sapa mbk Ratna dengan si penelepon.
''Iya pak, iya baiklah, waalaikum salam''. Wajah mbk Ratna terlihat lesu menjawabnya.
''Siapa mbak??
''Bapak, motornya masih mogok, tidak bisa menjemput'', ucapnya dengan lesu.
''Mau aku antar'', tawar dokter Fahri tiba-tiba membuat Arrumaisha dan Ken saling menatap