Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
7



Seminggu berlalu belum juga ada kabar dari Aldo, Ken sempat marah pada Aldo karena hasil tes DNA lewat dari seminggu. Akan tetapi dalam seminggu ini Ken juga disibukan dengan mengawasi para pekerja yang ternyata sudah di kirim oleh Aldo, pembangunan di lahan samping dan belakang toko Arrumaisha sudah dimulai.


Arrumaisha semakin sibuk karena para pekerja bangunan memesan makanan padanya, semua itu adalah ide Aldo, agar toko Arrumaisha semakin ramai dan banyak pembeli. Dengan keuletanya Arrumaisha bisa melakukan semua sambil menjaga anak-anaknya.


Untuk mempercepat pembangunan Ken menyuruh 30 orang sekaligus agar segera selesai. Setiap pagi, siang dan sore Arrumaisha menyiapkan makan para pekerja, meskipun Arrumaisha masih harus mengantar jemput anak-anaknya ke sekolah.


Hampir dua minggu akhirnya Aldo kembali ke kota B tempat tuanya mengawasi mantan istri dan anak-anaknya.


''Apa kabar tuan??, saat Aldo sampai di penginapan dan bertemu dengan Ken.


''Ken menatap sinis, mana hasilnya, kau ini bisa bekerja tidak!!.


''Maaf tuan ini sudah sangat cepat'', ucap Aldo sambil menyodorkan amplop coklat, ''tuan lihat sendiri hasilnya!!, ucapnya lagi.


Ken mengambil amplop tersebut dan membuka dengan jantung berdebar, dia membaca dengan seksama selembar kertas yang di bawa Aldo.


''Jadi benar mereka anak-anaku??, ucap Ken berkaca-kaca.


''99,9% mereka berdua anak kandung tuan!!. jawab Aldo


''Aku hanya melakukan sekali, bagaimana bisa?, Ken menjabak rambutnya.


''Benarkah tuan hanya melakukan sekali, wah cuma sekali langsung jadi dua, tuan keren''.


''Aldo, aku sedang serius''.


''Maaf tuan saya penasaran bagaimana tuan bisa membuat dua sekaligus??


''Kau, setelah aku mendapatkan mereka, menikahlah biar kau tahu cara membuatnya, sekarang pikirkan cara bagaimana aku akan menemuinya???. Ken kesal dengan Aldo yang seperti sedang meledeknya.


''Sebaiknya tuan menemuinya saat anak-anak sedang pergi bersekolah, jangan sampai tuan menemui mereka dan membuat mereka ketakutan, mereka bisa menjauhi tuan''.


''Menurutmu begitu???.


''Kalau tuan ingin mendapatkan anak-anak tuan, tuan harus bisa mengambil hati mereka. Saya yakin nona Arrumaisha tidak akan menyerahkan anak-anaknya pada tuan begitu saja. Karena tuan yang meninggalkanya, bahkan tuan hanya menanam benih saja tanpa memikirkan setelahnya, dan sekarang setelah lima tahun, tuan datang dan ingin mendapatkan mereka, saya rasa itu tidak mudah tuan''.


''Lalu aku harus bagaimana??.


''Tuan harus pelan-pelan mendekatinya terutama pada anak-anaknya dan jangan egois. Karena saya yakin nona Arrumaisha tidak mudah memperjuangkanya, bagaimana kehidupan nona selama lima tahun ini, tuan tidak pernah tahu''.


''Ngomong-ngomong siapa yang mempunyai gen kembar, tuan atau nona Arrumaisha??, tanya Aldo.


''Entahlah aku tidak tahu, kau awasi pembangunan rumah dan tokonya besok, aku akan menemuinya, sekarang istirahatlah dan terimakasih''.


***


Malam telah berganti pagi, semalam Ken hampir tidak tidur membayangkan bertemu dengan mantan istrinya dan juga anak-anaknya. Ken segera bersiap pergi menemui Arrumaisha.


Seperti hari biasanya saat pagi Arrumaisha menyiapkan bekal untuk kedua anaknya dan mengantarkan ke sekolah, kedua anak itu sangat patuh pada mamanya. Selain itu Arrumaisha masih harus menyiapkan kue untuk 30 orang pekerja bangunan untuk sarapan mereka.


15 menit mereka telah sampai disekolah.


''Anak kesayangan mama belajar yang rajin ya, semangat i love you'', Arrum mencium putra dan putrinya.


''I love you mama'', ucap Ryuna dan Ryube memeluk dan mencium mamanya. Mereka berdua berlari memasuki sekolah dan disambut guru mereka. Arrumaisha segera menyalakan motornya dan bergegas pulang.


Setelah sampai rumah Arrumaisha segera menyiapkan bahan-bahan untuk membuat menu makan siang yang dipesan pegawai bangunan.


Sejak tadi Ken sudah di mobil mengawasi Arrumaisha kembali dari mengantar anak-anaknya. Ken segera turun dan masuk melalui pintu samping toko dia menaiki tangga dan mengetuk pintu rumah Arrumaisha.


Arrumaisha hampir tidak pernah menerima tamu, letak toko Arrumaisha agak sedikit jauh dari rumah tetangga, dan kebetulan disamping dan belangkang toko Arrumaisha lahan kosong dan sekarang telah di beli Ken untuk memperluas toko dan rumah Arrumaisha tanpa sepengetahuanya.


Tok... tok.. Arrumaisha segera berlari ke pintu dan dia sedikit takut membuka pintu karena tidak biasa ada tamu, dia membawa spatula untuk berjaga dan perlahan membuka pintu.


''Siapa??, sapanya.


Ken memunggungi pintu sehingga Arrummaisha tidak mengenalinya. Tapi kemudian Ken segera menghadap Arrumaisha.


Mata Arrumaisha membelalak, tertegun melihat seseorang yang sekarang berdiri di depannya, dia hampir tidak percaya.


Begitu juga dengan Ken, dia tidak bisa berkata-kata, tubuh kurus hanya memakai baju rumahan dengan clemek di dada. Mereka saling pandang dan diam. Bayangan lima tahun silam seakan datang kembali dalam kenangan mereka berdua.


''It's me Isha, i'am Ken''. Suara Ken bergetar, Ken memang selalu memanggilnya dengan sebutan Isha, tapi sejak datang ke kota B orang-orang yang memanggil Arrumaisha dengan sebutan Arrum.


''Isha!!!, panggil Ken karena wanita dihadapanya ini diam seperti patung.


''Isha it's me!!!, Ken ingin memeluknya namun dengan cepat Arrumaisha segera mundur, tampak wajah Arrumaisha yang pucat dan takut.


''Ba....bagaimana kau tahu aku disini??, tanya Arrumaisha


''Apa kita akan bicara sambil berdiri, kau tidak menawariku masuk??, tanya Ken


''Kita tidak ada urusan lagi, tidak ada yang perlu kita bicarakan, semua sudah diakhiri pergilah aku sibuk!!, Arrumaisha berusaha menutup pintu tapi Ken menahannya.


''Arrumaisha, aku datang mencarimu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, bolehkah aku masuk??, Ken sedikit memaksa.


Mau tak mau Arrum menurutinya, walaupun dia sedikit kesal.


Ken masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa panjang, satu-satunya sofa di ruangan itu, Ken nampak mengamati ruangan yang sempit baginya, luasnya hanya 6x 5 m dan ruangan itu di bagi menjadi ruang keluarga, kamar dan dapur. Bagaimana bisa anak-anaknya hidup sangat sederhana di ruang yang sangat sempit, semua nampak amat sangat sederhana.


''Duduklah, apa kau akan berdiri saja disitu??, ucap Ken sambil menepuk ruang kosong disebelahnya, tanpa rasa jijik, tidak seperti dulu dia selalu marah jika apartemen terlihat sedikit kotor dan berantakan.


''Katakan segera kepentinganmu aku harus mengerjakan pesanan!!, ucap Arrum tegas


Ken menaruh amplop coklat itu di meja, ''bacalah!!!.


Arrum segera mengambil amplop itu dan membacanya, dia sedikit kaget, namun dia berusaha bersikap biasa, pria di depannya bisa melakukan apapun, termasuk tes DNA pada anak-anaknya.


''Kau tidak bisa membohongiku ataupun menyembunyikannya, aku sudah melakukan tes DNA pada mereka, jelas mereka berdua putra dan putriku!!, kata pria bermanik biru itu


''Kalau itu benar kenapa?? apa kau akan mengambilnya, aku tahu kau bisa melakukan apapun, tapi kau sudah membuang kami, kau pernah bilang keluarga kami tak lebih seperti benalu, yang hidup menempel pada pohon yang lebih kuat'', kata wanita itu dengan tenang dan sorot mata yang tajam, wanita itu terlihat sangat membenci pria di depanya.


''Aku sudah membacanya, sekarang pergilah aku harus menyelesaikan pekerjaanku!!.


''Isha aku punya hak atas mereka, mereka anakku juga, aku papanya, mereka membutuhkanku!!, Ken mengeluarkan ponselnya.


''Lihatlah video ini, mereka menanyakan kapan papanya pulang, sekarang aku pulang untuk mereka. Aku tahu aku salah dan tidak bisa kau maafkan. Aku ingin kau memberiku kesempatan bertemu dengan mereka. Aku janji aku akan menjadi papa yang baik untuk mereka!!, ucap Ken memohon.


''Pergilah tuan, aku tidak mau berdebat dengan anda, aku sibuk'', usir Arrumaisha berkaca-kaca membuka pintu rumah.


''Aku tahu, kapan kita bisa bicara lebih lama, bolehkan aku bertemu dengan anakku??, tanya Ken.


''Silakan keluar tuan, saya tidak ada waktu sekarang!!.


''Baiklah aku pergi, nanti aku akan datang lagi menemui putra putriku'', ucap Ken sambil keluar dari ruangan itu.


Arrumaisha bersandar di belakang pintu, air matanya luruh begitu saja. Dia tidak menyangka hari yang ditakutkan akan datang juga, bahkan secepat ini.