
Ken merasa segar setelah mandi, udara ibukota memang sangat panas membuatnya berkeringat meski tidak melakukan pekerjaan, berbeda dengan kota B yang sejuk dan alami, membuatnya betah tinggal disana, terlebih ada kedua anak kembarnya yang membuatnya rindu, dia mencari ponselnya, melihat foto mereka berempat saat bermain kepantai, Ken memasang foto mereka sebagai background ponsel canggihnya, tidak tahu kenapa tiba-tiba dada Ken berdesir saat memandangi foto mantan istrinya yang diam -diam dia ambilnya. Bersamanya selama hampir empat bulan, membuat Ken merindukan sosok Arrumaisha, wanita yang jarang sekali bicara, namun tutur katanya yang lembut begitu menenangkan jiwa dan hatinya, tidak terbesit dendam dihatinya padahal Ken telah melukainya dengan begitu dalam. Ken mendesah berat. ''Tuhan jagalah wanita ini untukku, aku telah menyia-nyiakannya, berilah aku kesempatan sekali lagi, aku ingin bahagia bersama mereka anakku dan istriku, aku tidak akan menyia-nyiakan mereka lagi'', guman Ken.
Tiba-tiba ponsel ditanganya berdering, ada panggilan video , tertulis nama my wife & the twins di kontaknya, Ken tersenyum dan segera mengangkatnya.
''Halo sweetheart'', sapa Ken, terlihat kedua anak kembarnya di layar ponsel
''Papa, apa papa sudah sampai?, suara gadis kecil ditelfon itu membuat Ken bahagia.
''Papa baru sampai, ini papa baru selesai mandi, udaranya disini sangat panas, apa kalian baru pulang sekolah??, tanyanya.
''Kami sudah pulang dari tadi, sekarang kami mau tidur di kamar mami'', jawab bocah laki-laki disebelahnya.
''Kenapa tidur di kamar mama, kalian kan sudah punya kamar sendiri'', tanya Ken
''Kata mami tidak apa-apa, mami sudah sembuh, mami juga kangen tidur bersama kami lagi'', ucap bocah laki-laki itu sambil tersenyum seperti sedang mengejeknya.
''Ranjang mami tidak akan muat kalau tidur bersama, kalian bukan bayi lagi'', ucap Ken tidak setuju, tidak tahu kenapa dia selalu merasa aneh pada putranya yang masih berusia empat tahun itu selalu dekat dengan maminya, melihat tingkahnya yang suka mencium rambut maminya, mencium pipi dan memeluknya sesukanya, itu membuatnya sangat iri.
''Papa, Be kangen papa, papa jangan lama-lama ya perginya'', mohon gadis kecil itu dengan manja.
''Apa hanya Be yang kangen papa? yang lain tidak kangen papa ya??Ken pura-pura sedih.
''Leyuna kangen papa juga, mama...mama kangen papa tidak??, tanya gadis kecil yang melihat mamanya masuk ke kamar membawa dua botol susu.
''Mami boleh kan kami tidur bersama mami??, papa melarangku tidur bersama mami'', tanya pria kecil itu hampir bersamaan dengan pertanyaan Ryube.
''Iya'', jawabnya lembut, namun masih bisa terdengar oleh Ken.
''Benarkah mama juga kangen, berikan ponselnya ke mama'', gadis kecil itu segera memberikan ponsel ke mama lalu mengambil botol susu dan segera berbaring di ranjang mamanya sambil minum susu.
Ken bisa melihat jelas wajah mantan istrinya, ''Benarkah kau juga merindukanku??, tanya Ken tanpa rasa malu dan penuh harap.
Arrumaisha mengernyitkan dahinya, ''maksudnya???
''Tadi Be tanya, apa kau merindukanku juga, kau jawab iya'', ucap Ken terlihat seperti orang bodoh.
''Siapa yang bilang seperti itu, tadi aku sedang bicara dengan Ryuna, dia tanya apa boleh tidur bersamaku, aku jawab iya''.
Ken sedikit kecewa, tadi Ken begitu senang mendengarnya, mungkin Ken terlalu berharap mantan istrinya akan merindukanya.
''Tidak ya, ku pikir kau akan merindukanku, kenapa kau membiarkan anak-anak tidur denganmu lagi, mereka sudah punya kamar sendiri''.
''Mereka anak-anakku, kenapa tidak boleh tidur denganku?? dan lagi kenapa kau keberatan aku dan mereka tidur bersama, mereka masih anak-anak, kemarin kau juga tidur dikamar bersama Ryuna, aku juga tidak keberatan, dimana-mana anak-anak saat masih kecil tidur dengan ibunya, kenapa kau jadi mempermasalahkan hal seperti ini'', jawanya.
''Isha, kau jangan terlalu memanjakan mereka, mereka harus belajar mandiri. Biarkan mereka tidur di kamarnya masing-masing. Siapa bilang anak-anak selalu tidur dengan ibunya saat masih kecil, aku selalu tidur sendiri dari kecil hingga sekarang''.
''Aku rasa sesekali tidak masalah, kenapa kau tidak menyukainya, saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk anak-anak saya, anda tidak perlu mengajari saya, selesaikan saja urusan anda'', Arrumaisha sedikit kesal.
''Bukan maksudku seperti itu, aku hanya... aku.... hanya....'',
''Hanya apa??, tanya Arrumaisha
''Apanya yang tidak aku mengerti, kalau begitu beritahu aku''.
''Aku sudah memberitahumu beberapa kali''.
''Oh ya, tentang apa itu??
''Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu''.
''Siapa yang mau berdebat denganmu, kau bertanya padaku, aku sudah menjawabnya''.
''Kau tidak paham maksudku'', suara Ken mulai meninggi.
''Aku tahu maksudmu, semua yang kau lakukan untuk anak-anak bukan, lalu maksud yang mana yang tidak aku pahami''.
Ken kehabisan kata-kata lagi, dia tidak bisa menjelaskan maksud hatinya, dia sendiri tidak tahu kenapa dengan hatinya, kenapa dia begitu cemburu dengan anak kandungnya sendiri yang begitu dekat dengan ibunya, dia tidak tahu bagaimana mengatakan yang sebenarnya dia rasakan.
''Sudahlah maafkan aku, tidurlah, temani mereka, aku tutup telfonya'', ucap Ken akhirnya
Arrumaisha tidak menjawab, telefon itupun sudah di matikan, ''kenapa denganya?? kenapa dia sensitif sekali'', gumanya lirih.
Arrumaisha, baru menyadari kedua anaknya ada di kamarnya, dia takut ada yang salah dengan ucapnya saat bicara di telefon tadi, sehingga anaknya berfikir sedang berdebat dengan papanya, tapi setelah melihat kedua anaknya tertidur setelah menghabiskan susu yang dia bawanya tadi, diapun meresa lega.
Ken merasa kesal dan menutup telefon begitu saja, dia segera keluar kamar menemui ibunya lagi.
''Kau sudah selesai mandi, tadi mommy dengar kau sedang bicara di telefon, suaramu seperti sedang marah?? kau sedang bicara dengan siapa??.
''Ken tidak menjawabnya, dia merebahkan badanya di sofa, kepalanya di taruh dipangkuan mommynya.
''Kau ini, sudah hampir tigapuluh tahun masih bertingkah seperti anak-anak'', ucapnya sambil membelai rambut putranya.
''Mom, apa yang harus aku lakukan??, tanya Ken terlihat begitu lelah, seperti sedang menanggung masalah yang begitu berat.
''Apa ini tentang permintaan daddymu??, tanyanya balik.
''Aku akan mengurus hal itu, mommy tidak usah kuatir'', jawabnya lelah
''Apa yang akan kau lakukan?, apa kau akan menerima permintaanya begitu saja?.?
''Aku tidak akan menuruti permintaannya, bukankan daddy meninggalkan mommy dan menikahi wanita lain demi kepentingan bisnis mereka. Mereka hanya ingin memanfaatkanku saat ini mom, sebelum aku kembali kesini, aku telah menyadari semua, aku tidak harus menanggung masalah mereka, Mark lah yang harus bertanggung jawab mengambil alih perusahaan, untuk apa aku membantu bisnis mereka, pada akhirnya Mark yang akan memilikinya, karena sekarang bisnis mereka sedang kacau dia ingin menikahkan aku dengan seseorang demi bisnis mereka, mommy mereka telah menyingkirkanmu, memisahkan kita dengan kejam, aku tidak bisa menerimanya lagi, berapa banyak waktu kita bersama yang hilang''.
''Syukurlah kalau kau faham, mommy lega mendengarnya, tapi mom masih kuatir, kau memang anak daddymu, tapi kamu juga anak mom, mom tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau menolak, jika kamu menerima permintaan daddymu, kamu hanya akan melakukan hal yang sia-sia''.
Wanita itu merasa sesak, hidupnya telah dipisahkan dengan anak kandungnya sejak dia berumur 5 tahun, namun pada akhirnya kini anak itu memahami keadaan mereka, dan tidak menyalahkanya.
''Kau bilang tadi ada yang ingin kau ceritakan pada mommy, apa itu ceritakan sekarang??,
''Mom, aku.....,