
Hari-hari yang dilalui Arrumaisha selama masa pemulihan ini terasa begitu membosankan, Ken sama sekali tidak mengijinkan dirinya melakukan apapun, bahkan saat waktunya makan, seorang assisten rumah tangga akan mengantarkan makanan ke lantai atas atau Ken sendiri yang akan membawakanya makanan, setiap hari di habiskan dengan menonton tv, berbaring dan mondar-mandir dari kamarnya ke kamar anak-anaknya.
Arrumaisha juga merasa, kalau sekarang kedua anaknya sangat dekat dengan papanya, bagaimana tidak semua pekerjaan mengurus mereka diambil alih Ken. Dari memandikan mereka, mengantar sekolah, menemaninya bermain, menemani tidur, Ken juga mengajari mereka berenang, belajar komputer, bermain alat musik dan mengajarkan beberapa bahasa asing pada mereka, Ken seperti seorang guru yang disegani kedua anaknya, setiap hari mereka berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda. Anak-anak itupun belajar dengan senang, karena Ken selalu menyelipkan permainan saat mengajari mereka, sehingga anak-anaknya tidak merasa bosan, dan setiap kali mereka bisa mempelajarinya, tidak segan dia untuk menberikan hadiah.
Sampai saat ini Arrumaisha juga belum menerima permintaan untuk rujuk, Arrumaisha selalu merasa tak enak, meskipun mereka tinggal disatu rumah, tapi mereka tetap tinggal terpisah. Mereka saling menghormati satu sama lain, semua pekerjaan rumah dilakukan oleh pelayan yang dipekerjakan Ken.
Aldo telah kembali ke ibukota untuk mengurus pekerjaannya disana, toko kecilnya kini berubah menjadi sebuah swalayan dan Ratna menjadi pengawas disana, renovasi rumah tokonya juga sudah selesai, bagunan itu kini telah digabung menjadi satu, dan lantai atasnya kini di gunakan sebagai balkon yang langsung menyambung dengan ruang keluarga lantai dua, saat semua dirumah mereka sering menghabiskan waktu bersama disana.
Pagi ini setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah, Ken kembali ke rumah, diam-diam Ken mengamati mantan istrinya yang sedang begong sendiri di balkon yang dulu merupakan tempat tinggal Arrumaisha dan kedua anaknya, Arrumaisha sangat suka menghabiskan waktunya disini, bahkan terkadang sampai tertidur, entah apa yang dipikirkan, berbaring di sebuah kursi santai melihat langit biru.
''Apa yang kau pikirkan???, suara berat itu menganggetkanya.
''Tidak ada'', jawabnya santai.
''Benarkah, ku pikir kau memikirkanku'', goda Ken.
Terkadang pria ini suka berkata konyol dan sedikit gombalan. Saat hanya berdua, ingin sekali Ken menanyakan tentang permintaan rujuknya, meski dia sangat tahu permintaannya mungkin tergesa-gesa dan tidak pantas, Ken seperti menjilad ludahnya sendiri.
''Apa kau suka tempat ini?? kau sering menghabiskan waktumu disini saat sendiri??
''Ini adalah tempat yang penuh kenangan, meskipun sekarang telah berubah fungsi'', berkata tanpa menoleh.
Ken tahu perasaan wanita di sampingnya ini, dia pikir pasti bosan hanya berdiam di rumah.
''Tunggu sampai kau benar-benar sembuh, baru boleh beraktivitas, doktermu bilang kau harus isyarat dua sampai enam minggu aku menambahkan dua minggu lagi''.
Arrumaisha tidak menanggapi, dulu saat menikah, dia juga selalu banyak melarangnya, dia hanya di perbolehkan keluar untuk kuliah, setelahnya dia harus ada di apartement, dulu penuh dengan kemarahan saat Arrumaisha melakukan pekerjaan yang tidak sesuai, dan sekarang dia mengatur kehidupannya bersama anak-anaknya, namun dengan cara yang lembut, apa mungkin karena hanya ingin simpatinya dia melakukan ini semua. Pertanyaan itu selalu muncul di benak Arrumaisha.
''Isha, apa kau keberatan menceritakan bagaimana dulu kau memilih untuk pergi dari ibukota, dan memilih ke sini menetap di tempat ini''.
Arrumaisha, menatap Ken sebentar, namun dia segera mengalihkan pandanganya. Dia sangat tidak ingin menceritakan masa lalunya yang pahit, dia akan belajar menerima semua takdirnya. Dia tidak ingin menyalahkan siapapun dan memendam kebencian.
''Bukan cerita yang baik, untuk apa diceritakan, kalo aku bisa aku akan mengubur cerita itu'', jawabnya singkat namun sangat menusuk.
Ken terdiam, dia sudah salah bicara tadi, dia tahu mantan istrinya telah melalui penderitaan selama lima tahun ini, dan dialah orang yang menyebabkan semua ini, tapi dia penasaran ingin tahu penderitaan seperti apa yang justru membuat seorang gadis 18 tahun yang di nikahinya lima tahun lalu, kini menjadi kuat dan tegar, apa karena usianya kini sudah bertambah, sehingga dia sangat dewasa dan bijaksana.
''Maaf aku tidak bermaksud mengingatkanmu, lupakan!!!!, mulai sekarang kau hanya perlu menatap ke depan, jangan menoleh ke belakang lagi, aku berjanji akan selalu ada untuk kalian, ini semua salahku, dalam hati Ken dia merutuki pertanyaanya tadi''.
''Aku tidak ingin menyalahkan siapapun, mungkin ini sudah jalan hidupku''.
''Apa kau tidak membenciku???, apa itu artinya kau mau memaafkanku, kau belum mau memberiku jawaban???.
''Aku sudah memaafkanmu, aku tidak ingin hidup dengan dendam di hatiku, itu hanya akan menjadi penyakit, saat aku tahu aku hamil, aku ingin sekali mengakhiri hidupku, tapi aku tidak bisa melakukannya, ada nyawa yang dititipkan dalam rahimku, mereka tidak berdosa berhak untuk hidup dan melihat dunia, sekarang aku bukan gadis 18 tahun lagi, aku seorang ibu dengan dua anak, aku tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, bukankah kita tidak pernah saling mencintai, kenapa kita harus rujuk???
Ken terdiam,... ''Apa itu artinya kau menolak rujuk denganku??.
''Aku....,,, aku tidak tahu, semakin aku memikirkanya, aku tidak punya jawaban, saat anak-anak lahir kedunia ini, aku telah memutuskan untuk berjuang untuk membesarkan mereka, aku tidak pernah memikirkan hal lain, apalagi untuk menikah lagi, aku bahkan tidak pernah membayangkan kau akan datang lagi, ku pikir kau sudah bahagia dengan pernikahanmu'', ucap Arrumaisha lembut.
''Aku paham, tapi apa kau tak mau memberiku kesempatan sekali lagi??, ucap Ken penuh harap.
Arrumaisha tidak tahu harus menjawab apa.
''Sudahlah, aku tidak akan memaksamu, meski kau tidak bisa menerimaku lagi atau menolakku, aku tetap akan bertanggung jawab pada anak-anak, anak-anak akan jadi prioritasku, meski aku sangat berharap kau mau memberimu kesempatan sekali lagi, aku sangat ingin keluarga yang untuh'', Ken sangat paham dengan perkataan Arrumaisha, itu sudah jelas dia enggan rujuk.
Suasana jadi hening Mereka sama-sama diam dalam pikiran masing-masing.
''Hemmmm, tokomu sudah selesai di renovasi, terserah kau mau gunakan untuk apa, tapi aku tidak mau kau melakukan pekerjaan yang terlalu berat, aku tidak ingin kau kelelahan dan sakit'', ucapnya tegas namun masih dengan nada yang lembut, dia ingin mengalihkan pembicaraan.
''Aku hanya bisa membuat kue, bolehkah aku menjadikan sebagai toko kue, aku tidak punya keahlian lain, saat aku datang kesini dan membeli ruko ini, aku ingin membuka toko kue, tapi karena kondisiku tidak memungkinkan aku hanya bisa membuka toko kecil untuk mendapatkan uang untuk bertahan hidup''.
Sesaat Ken merasa hatinya seperti tertusuk duri, kata-kata bertahan hidup yang diucapkan membuat wajahnya seketika berubah pias, namun Ken segera menguasai dirinya.
''Apapun yang kau lakukan aku akan mendukungnya, selama itu baik untukmu, toko kue seperti apa yang kau inginkan??.
''Kau sungguh-sungguh??, tanya Arrumaisha antusias
''Asal kau senang nona!!!, serunya sambil tersenyum
Mereka terus mengobrol hingga waktunya tiba menjemput kedua anaknya, Arrumaisha memaksa untuk ikut dengan alasan dia sangat bosan di rumah, Ken tidak bisa menolaknya, kedua anaknya pasti akan senang, mereka segera berangkat ke sekolah untuk menjemputnya.