
Mereka telah sampai di vila yang mereka tinggali selama di pulau sebrang, nyonya Sophia hanya diam saja saat di perjalanan, Ken menolak saat sopir dokter Burhan ingin mengantarkan keluarganya kembali ke vila. Arrumaisha juga merasakan keheningan saat perjalanan pulang, kedua anaknya yang biasa menanyakan ini dan itu, tertidur pulas dan tak terganggu.
Ken membopong anaknya bergantian membawanya ke kamarnya dan menidurkan kedua anaknya di ranjang tambahan. Nyonya Sophia langsung masuk ke kamarnya.
Ken memandangi wajah istrinya yang sedang membetulkan selimut putra-putrinya, ''Honey, sebenarnya malam ini aku ingin mengajakmu kesuatu tempat, tapi maaf sepertinya malam ini tidak bisa kesana, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mommy''. ucap Ken
''Kenapa dengan mommy??, apa terjadi sesuatu padanya??, tanya Arrumaisha kuatir.
''Tidak apa-apa'', Ken tersenyum melihat istrinya yang terlihat begitu mengkuatirkan ibu mertuanya, Ken merasa bahagia disaat banyak menantu yang tidak sejalan dengan ibu mertuanya, istrinya sangat berbeda, ia menganggap ibu mertuanya layaknya ibu kandungnya sendiri, mungkin karena Arrumaisha sudah lama ditinggal kedua orang tuanya.
''Tadi dokter Fahri memberitahuku, jika dokter Burhan ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama mommy''. jelasnya
Arrumaisha membelalakkan matanya, ''emm...maksudnya menikahi mommy???. tanyanya lagi
Ken mengangguk, ''aku ingin membicarakan itu denganya sekarang''.
''Ken, ini sudah malam, mommy belum istirahat, apa tidak sebaiknya besok saja, mommy butuh waktu untuk berfikir, atau tunggu sampai mommy mengatakannya sendiri padamu''. ceggahnya
''Menurutmu lebih baik begitu???
Arrumaisha mengangguk, ''biarkan mommy memikirkanya dulu, mereka tidak muda lagi dan pasti akan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan''.
''Baiklah, aku ikuti saranmu''.
Apa kau akan mendukungnya???
''Haaaahhh, aku tidak tahu, aku punya pengalaman buruk dengan keluarga ibu sambungku dan anaknya, aku takut jika mommy menikah dengannya, hal yang dulu akan terulang lagi, terlebih lagi dokter Fahri mengakui bahwa kau, adalah satu-satunya wanita yang ia kagumi selama ini''.
Arrumaisha mengernyitkan dahinya.
Haaahhhhh, ''jujur aku tidak bisa melupakan peristiwa itu selama ini, kejadian itu terus membayangi hidupku, bertemu kembali denganmu dan anak-anak telah membuatku melupakannya, aku tidak lagi gelisah saat tidur, tapi sekarang aku sedikit kuatir''.
''Kau takut dia akan menikungmu seperti saudara tirimu???, Arrumaisha memahami kekuatiran suaminya
''Kalian pria dewasa, setiap masalah bisa dibicarakan dengan kepala dingin, tidak harus dengan kekerasan apalagi sampai ada korban jiwa, lagi pula hal-hal seperti itu terjadi karena kedua belah pihak sama-sama mau, jika salah satu pihak menolak, tentu saja tidak akan terjadi hal yang tak semestinya, dan lagi aku yakin kak Fahri bukan tipe pria yang suka menikung seseorang, dia hanya seorang pria yang lahir tanpa kasih sayang seorang ibu'',jelas Arrumaisha
Ken mencerna kata-kata istrinya, semua yang dia katakan ada benarnya, perselingkuhan antara saudara tirinya Mark dan kekasihnya Rachel terjadi karena mereka sama-sama mau.
''Lagi pula kejadian itu sudah lama terjadi, sebaiknya kau melupakanya, jika ingin hidupmu tenang seharusnya kau memaafkan mereka, memulai kehidupan yang lebih baik, melupakan kejadian buruk di masa lalu dan belajar memperbaiki diri, jangan menyalahkan dirimu sendiri atau menyalahkan mereka''.
Ken diam saja, hanya mendengarkan tutur kata yang lembut dari istrinya.
Apa kau berfikir aku sama seperti kekasihmu??, jika aku mau tentu saja aku akan memilihnya, dia pria dewasa yang mapan, tampan dan sabar, siapa yang tidak tertarik padanya, bahkan Lily saja mengagguminya sejak pertemuan mereka dipesawat, aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak''. ucapnya lagi
''Lily????, Ken mengernyitkan dahinya
''Ya, Lily bilang dia satu pesawat dengannya saat perjalanan kesini, dia terpesona dan mengagumi ketampanannya''. jelasnya
Ken merasa sangat rumit, di tidak ingin adik perempuanya menyukai pria yang mengaggumi istrinya, ia juga tidak suka istrinya memuja pria lain, kenapa kau tidak memilihnya, dan memilih memberiku kesempatan???, tanya Ken dengan hati-hati.
''Aku sudah bilang padamu, aku tidak ingin menikah dengan siapapun, aku tidak punya sedikitpun perasaan padanya, aku hanya ingin membahagiakan anak-anakku, mereka ingin seperti teman-temanya yang memiliki keluarga yang lengkap, mereka selalu menanyakanmu dan aku terus membohonginya. Aku tidak ingin hidup dengan menyimpan luka dan kebohongan terus - menerus, melupakan masa lalu yang buruk tidaklah mudah, tapi anak-anak berhak bahagia, hidup mereka masih panjang, kita juga tidak mungkin hidup satu atap selamanya demi anak-anak''. jelasnya
Ken merasa tenang dan lega mendengar jawaban istrinya, bahwa ia tidak memiliki perasaan apapun pada rivalnya, ia hanya fokus untuk membahagiakan kedua anaknya, meski dia harus menerima dirinya kembali yang telah menghancurkan hidupnya. Istrinya adalah wanita yang lembut dan bijaksana dalam menyikapi masalah, meskipun dulu ia hampir putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya, nyatanya ia tidak sampai hati melakukannya karena buah hati mereka telah tumbuh dalam rahimnya dan memilih melahirkan dan membesarkannya sendiri dalam ketidak berdayaanya, Ken merasa semakin mengenal istrinya ia semakin jatuh cinta, cinta yang begitu dalam, ia benar-benar merasa sangat beruntung dan bersyukur sekarang, tutur kata yang lembut, pemikiran yang dewasa dan bijaksana itu telah membuatnya merasa nyaman, dalam hati Ken bersumpah hanya ingin bahagia bersamanya hingga akhir, tidak peduli istrinya mencintainya atau tidak, nyatanya ia masih mau memberikan kesempatan padanya, tidak membuka hati untuk pria manapun, ia berharap suatu hari cintanya akan terbalas.
Arrumaisha hendak beranjak ke ranjang sebelahnya, tiba-tiba Ken langsung mengangkat tubuhnya dan membaringkan dengan pelan di ranjang, Arrumaisha hampir saja berteriak kencang, dan Ken segera membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman, tak ingin kedua anaknya terbangun.
''Apa kau sudah siap untuk malam pertama kita??, ucapnya tersenyum nakal.
''Jangan macam-macam Ken, ada anak-anak disini, mereka bisa tiba-tiba bangun''.
''Aku akan melakukannya dengan sangat pelan '', ucapnya langsung mencium bibir Arrumaisha dan mencumbunya, Arrumaisha ingin menolak, tapi Ken tak membiarkannya bergerak, mereka telah menikah, dan ia tahu kewajibannya, ia hanya bisa pasrah, ia takut kedua anaknya terbangun dan melihat apa yang mereka lakukan, Ken terus mencumbunya, mencium leher dan menyesapnya dan semakin menuntut, kedua tanganya perlahan membuka resleting gaun Arrumaisha dan menarik gaun dalam satu kali tarikan hingga tersisa pakaian dalamnya, ia meremas kedua gundukan kenyal yang menegang, lalu membuka penutupnya dan *******nya dengan rakus, membuat Arrumaisha menggeliat indah, Ken sangat menyukai dua benda kenyal yang membuncah, sembari membuka pakaian sendiri dan melemparkan sembarangan, menarik kain penutup bagian bawah Arrumaisha, ia terus mencium hingga area bawah istrinya tanpa sedikitpun rasa jijik, lidahnya menerobos ke dalam membuat Arrumaisha menggeliat dan mendesah, ia menutup mulutnya dengan tangan kananya, tangan satunya mencengkeram kepala suaminya, ia sangat menikmatinya perlakuan suaminya yang membuatnya melambung, lidah Ken bermain -main disana, dan kedua tanganya mencengkeram kedua gundukan kenyal istrinya dan meremasnya, satu tanganya melepas cengkramannya dan memasukan jari telunjuknya ke bagian inti istrinya, Arrumaisha menggeliat dan terus menahan suaranya membuat Ken semakin menggila, Ken kembali mencium bibir istrinya, dan tanganya masih bergerak disana cukup lama, Arrumaisha tidak bisa menahan lagi, ia menggigit leher Ken yang tak dihiraukan.
''Bersiaplah baby, aku akan membuatmu puas malam ini, dan kau akan selalu menginginkannya, bisik Ken ia menarik tangannya dari inti istrinya dan segera menyatukan tubuh mereka, Arrumaisha terpekik menahanya, ia teringat enam tahun lalu saat Ken melakukannya dengan kasar untuk pertama kalinya, tapi kali ini ia sangat lembut walaupun rasanya tetap sakit, Ken masih kesusahan saat ingin memasukinya, ia merasa istrinya masih sama seperti dulu, mereka berdua terengah, hingga akhirnya mereka sama -sama merasakan puncak kenikmatan, tubuh Ken jatuh diatas Arrumaisha, dengan keringat membasahi tubuhnya, nafasya naik turun, mereka menikmati malam pertama dengan penuh gairah yang membuncah, keduanya telah lama menahan diri.
''Honey, terimakasih kau telah menjaganya, rasanya tetap sama seperti dulu''. ucapnya