
Saat Ken terbangun hari sudah siang, matahari sudah mulai meninggi. Dia melihat kedua anaknya sedang asyik menggambar di ranjang tambahan, sedang Arrumaisha tengah berbaring, matanya terpejam.
''Papa sudah bangun'', capa Ryube langsung turun ke arah papanya dan duduk dipangkuanya.
''Papa lihat gambaranku bagus tidak??, gadis kecil itu menunjukkan hasil gambarnya, kemudian diikuti Ryuna.
''Papa aku menggambar pesawat, baguskan!! Wangi sabun menusuk hidung mancung Ken.
''Iya bagus, kalian hebat, apa kalian sudah mandi??, kalian sangat wangi''.
''Iya tadi Be mandi sendiri tapi ditungguin sama mama'', ucap Ryube
''Kenapa tidak membangunkan papa, mama kan lagi sakit'', Ken merasa tidak berguna.
''Papa tadi tidurnya pulas, aku tidak ingin membangunkan papa, tadi dokter yang menolong mami kesini, papa tidak tahu kan??, jawab Ryuna.
''Benarkah?? Ken seperti orang linglung.
''Iya tadi kami sudah bilang terimakasih sama dokternya''.
''Apa kalian sudah makan??.
''Sudah, tadi mama beli, itu masih ada untuk papa, Be ambilkan ya''. Gadis itu segera bergegas ke nakas mengambilkan kotak makan untuk papanya.
''Di mana mama membelinya??, tanya Ken
''Tadi mama pesen makanan terus diantar kesini pa'', jelas Ryuna. Ken tidak tahu kalau Arrumaisha memesan makanan secara online
''Papa ini makan dulu'', seru Ryube
''Taruh saja dulu papa mau ke kamar mandi'', Ken segera beranjak ke kamar mandi, dia mencuci mukanya melihat ke cermin, bagaimana dia bisa tidur dengan pulasnya di waktu pagi, padahal selama ini dia susah sekali tidur dan harus minum obat tidur. Ken kemudian langsung membersihkan diri, dia memikirkan dirinya sendiri bagaimana dia yang menjaga mantan istrinya malah tidur dengan pulasnya sampai tak mendengar orang masuk. Bahkan anak-anaknya telah selesai mandi dan makan, dan mantan istrinya ini masih memikirkan dia untuk membelikan makan untuknya. Ken merasa malu pada dirinya, mantan istrinya benar-benar tidak ingin merepotkanya.
Saat Ken keluar kamar mandi dia melihat seikat bunga mawar, dan keranjang buah diatas nakas dia berfikir siapa yang sudah menjengguknya, dia tidak punya banyak teman, Ken mendekat ke ranjang dimana Arrumaisha terbaring, matanya masih terpejam, nafasnya juga teratur. Ken menghampiri kedua anaknya.
''Apa ada yang menjenguk mama tadi???, tanyanya
''Tidak ada pa'', jawab Ryuna
''Terus siapa yang mengirimkan bunga dan buah disana??
''Tadi dokternya kasih ke mami pa'', ucap Ryuna.
Ken mengernyitkan dahinya, ''apa iya dokter itu begitu peduli dengan Arrumaisha, apa sebenarnya hubungan mereka, apa mereka sedekat itu'', Ken merasa gundah.
''Apa mama sudah makan???, tanyanya pada anak-anaknya
''Sudah pa, tadi ada yang nganterin makan khusus untuk mama, makannya tidak enak, selesai makan mama minum obat terus katanya ngantuk dan menyuruh kami tidak keluar kamar'', jelas Ryuna ''iyakan Be''.
Gadis kecil itu mengantuk, tetap asyik mewarnai bukunya.
''Papa cepat makan, kata mama biar tidak sakit seperti mama'', ucap gadis kecilnya membuat Ken merasa diperhatikan.
''Benarkah mama bilang begitu???
''Iya, cepat makan pa, apa mau Be suapin??
''Papa bisa makan sendiri'', ucap Ken sambil menyentuh rambut putrinya dia merasa putrinya lebih peduli dengannya dari pada putranya yang cenderung dekat dengan maminya.
****
Tiga hari di rumah sakit, hari ini Arrumaisha sudah diizinkan pulang, tapi masih harus menunggu dokter untuk memeriksanya.
Kedua anak itu juga merasa senang karena, akhirnya mereka akan pulang dan kembali bersekolah, mereka merindukan bermain bersama teman-temanya.
Hari sudah siang, anak-anak itu sudah tidak sabar ingin pulang, sekitar jam 11.00 dokter Fahri akhirnya datang ke ruangan dimana Arrumaisha di rawat, bersama seorang dokter wanita yang masih muda seumuran dengannya dan seorang perawat.
Arrumaisha nampak kaget melihatnya saat dokter wanita itu masuk.
''Nona Arrumaisha, bagaimana kabarnya hari ini?? tanya dokter Fahri.
''Baik dok'', jawab Arrumaisha tersenyum.
''Aku bawa kejutan untukmu, apa kau masih mengingatnya?? kata dokter Fahri sambil menoleh ke dokter wanita itu.
''Arrumaisha, benarkah ini kamu, apa kau masih mengingatku?, bagaimana kau bisa ada disini? kau tidak lupa padaku kan??, dokter wanita itu begitu senang bertanya begitu banyak.
''Tentu tidak, aku masih mengingatmu dokter Reisa'', jawab Arrumaisha senang.
''Syukurlah, aku masih koas disini, mulai hari ini dan kebetulah bertemu dokter Fahri, tadi dia sedikit cerita tentangmu, jadi aku minta untuk melihatmu bersamanya, apakah itu benar kamu'', dokter Reisa memeluk Arrumaisha.
Dokter Reisa adalah teman Arrumaisha saat masuk kuliah di fakultas kedokteran di salah satu universitas ternama di ibukota, mereka bertemu saat ospek dan berteman dekat, namun sayang setelah tahun pertama Arrumaisha tidak lagi kuliah, Arrumaisha hanya mengirimkan pesan kalau dirinya berhenti kuliah tanpa memberitahukan alasanya.
''Hemmm, sudah lepas kangenya, kapan di periksanya ini'', ucap dokter Fahri membuat dokter Reisa buru-buru melepas pelukan.
''Silakan dokter?? ucap dokter Reisa malu, dia melihat sekeliling ruangan vvip itu, disana masih ada dua anak kecil dan seorang pria tampan bermata biru.
''Dokter siapa?, apa dokter temannya mamiku??, tanya Ryuna dengan berani.
''Halo, namaku Reisa, iya aku temannya mama kamu sayang, namamu siapa?? dokter Reisa berjongkok menyamakan tingginya dengan Ryuna.
''Namaku Ryuna dan dia saudara kembarku namanya Ryube, ini papaku'', jawab Ryuna mengenalkan Ryube yang ada dalam gendongan papanya.
''Waaahhh, kalian kembar ya??, tanya dokter Reisa menoleh pada Arrumaisha yang sedang di periksa oleh dokter Fahri.
''Nona Arrumaisha anda harus beristirahat dengan baik selama 2 sampai 6 minggu, jangan melakukan pekerjaan dulu, hari ini sudah diizinkan pulang saya akan meresepkan obat untuk anda, kalau ada keluhan segera hubungi saya, agar tidak terlambat untuk menindak lanjuti'', ucap dokter Fahri tegas namun dengan nada bicara yang lembut.
''Terimakasih dokter'', ucap Arrumaisha sopan.
''Isha, kau hutang penjelasan padaku, bagaimana kau bisa berhenti kuliah dan sekarang sudah punya dua anak yang lucu-lucu ini'', ucap dokter Reisa.
''Apa yang perlu aku jelaskan, sekarang dokter sudah melihatnya, mereka memang putra putriku'', jawab Arrumaisha tenang tanpa mempedulikan raut muka Ken saat ini.
Jawaban Arrumaisha telah menampar Ken secara tidak sengaja, membuat wajah Ken terasa mengeras, bagaimana tidak, dialah orang yang menyebabkan wanita ini mengubur masa depannya, dan melahirkan kedua anak yang tak berdosa ini, meninggalkan hiruk pikuk ibukota dan memilih hidup di pinggiran kota B yang penuh kesederhaan.
''Ngomong-ngomong kau tinggal dimana, aku masih ingin mengobrol denganmu, tapi kondisimu sekarang harus banyak istirahat, ayo kita bertukar nomor, lain kali kita bisa mengobrol'', dokter Reisa sangat antusias mereka saling bertukar nomor.
''Baiklah, kami permisi dulu, cepat sehat ya, kalau senggang aku akan menelfonmu, dada sayang baik -baik jaga mama ya!!!, ucapnya pada Ryuna dan Ryube.
''Iya, trimakasih dokter''.
''Iya, sama-sama'', dokter Fahri dan dokter Reisa serta perawat itu keluar meninggalkan mereka, Ken segera bersiap untuk pulang.