Cheese And Chocolate

Cheese And Chocolate
90.



Malam hari setelah makan malam, seperti biasa Ken dan Arrumaisha menemani kedua anaknya belajar.


Arrumaisha juga belajar pada suaminya bagaimana mengelola hotelnya yang sebentar lagi akan segera dibuka. Saat ini sudah mulai merekrut karyawan yang nantinya akan dipekerjakan disana.


''Honey, apa kau ingin sesuatu???, tanyanya tiba-tiba


''Tidak ada, jawabnya tanpa menoleh pada suaminya. Ia nampak fokus mengetik di depan layar komputer.


''Tapi aku ingin makan sesuatu''. ucapnya


''Papa tadi kita kan sudah makan'', ucap putri cantiknya yang duduk di pangkuan papanya menghentikan kegiatan membaca.


''Papa merasa lapar lagi''.


''Apa perut papa tadi belum kenyang???, tanya putranya.


''Sudah, apa tidak boleh makan lagi, jika merasa lapar???


Arrumaisha menoleh pada suaminya yang bicara dengan kedua anaknya, ia heran baru satu jam yang lalu mereka menyelesaikan makam malam, tidak biasanya suaminya minta makan lagi.


''Apa kau benar-benar lapar lagi??.


''Aku ingin makan sesuatu yang dulu pernah kau masak, tapi aku menolaknya dan menyuruhmu membuangnya''.


''Kenapa papa menyuruh mami membuangnya?, mami sudah repot memasak dan pasti lelah'', tanya putranya heran.


''Iya, kita kan tidak boleh buang-buang makanan, mama bilang diluar sana banyak orang yang kekurangan makanan dan bahkan tidak bisa makan'', ucap putrinya sungguh-sungguh.


''Ayolah papa merasa masih lapar, honey aku mau masakanmu waktu itu, please honey??? pinta Ken memelas, ia tidak malu memohon pada istrinya di depan kedua anaknya.


''Waktu itu mami masak apa??


''Eemmm, sepertinya mami sudah lupa''. jawaban Arrumaisha membuat Ken kecewa.


''Honey, aku akan menidurkan anak-anak, tolong masakan untukku, aku sangat ingin memakannya'', ucapnya.


''Tapi Be belum mengantuk papa'', gadis itu menolak untuk tidur


''Aku juga belum, aku ingin tahu apa yang dimasak mami waktu itu, kenapa juga papa menolak dan malah minta mami membuangnya???


''Apa kalian juga mau sayang??


''Tidak, Be sudah kenyang, Be mau minum susu saja''.


''Aku juga mau susu coklat ya mami'', ucap putranya tersenyum manis, putranya itu sangat menyukai coklat.


''Baiklah mami pergi masak dulu, kalian berdua belajar sama papa''. Arrumaisha melangkah meninggalkan ruang belajar kedua anaknya, dan pergi ke dapur, sebenarnya ia ingat saat itu ia masak bebek goreng sambal ijo dengan sayur mentah, dulu ia tidak tahu apa makanan yang disukai suaminya, saat itu ia hanya asal memasak sebisanya, dan lagi saat itu suaminya tidak menyukai semua yang dia masak, makanya menolak dan menyuruhnya membuangnya.


Arrumaisha mulai mengeluarkan bahan yang dibutuhkan, untung saja pelayan di rumahnya setiap hari belanja untuk keperluan makanan di rumahnya, jadi tidak sampai kehabisan, jika tidak ia akan mencari kemana, terlebih saat malam hari, dan lagi suaminya itu sekarang tidak pernah menolak apapun menu yang di masak, terlebih istrinya yang memasak, mungkin lidahnya sudah bisa menerima masakan pribumi.


Ia mengambil tiga potong paha bebek dari kulkas dan mencucinya, lalu merebusnya dengan bumbu rempah yang ia ingat dari ibunya, kemudian membuat sambal hijau dan menyiapkan sayuran mentah, setelah selesai merebus ia lansung menggorengnya sampai matang lalu menatanya di piring layaknya di rumah makan, ia baluri bebek goreng dengan sambal ijo dan bawang goreng disandingkan dengan nasi dan sayuran mentah, lalu menyajikannya di atas meja, kemudian ia membuat susu untuk kedua anaknya.


''Sayang, susunya sudah siap, panggil papa juga untuk makan'', teriaknya dari dapur.


Ken buru-buru menyudahi menemani kedua anaknya belajar, ia menggendong kedua anaknya dan berjalan ke dapur. Arrumaisha duduk di ruang makan menunggunya.


''Heemm bau masakan mami sangat harum'', sanjung putranya itu, pria kecil itu memang pandai membuat hati maminya senang.


''Mami masak apa???


''Masak bebek goreng, apa kalian mau???,


Kedua anaknya menggeleng


''Kalau begitu diminum susunya lalu pergi gosok gigi dan tidur'', tuturnya lembut.


Kedua anak kembar itu duduk di kursinya masing-masing, putrinya lebih menyukai susu putih, sedang putranya sangat menyukai susu coklat.


Ken duduk di kursi dan di atas meja sudah tersaji makanan yang ia maksudkan.


''Iya, makanlah!!!


''Bagaimana cara makannya???


''Dimakan langsung pakai tangan''.


''Aku tidak bisa'', Ken mengambil sendok dan dan garpu lalu mulai menyantapnya, dia kesusahan memisahkan daging bebek yang menyatu dengan tulang dan bercampur dengan sambal, kemudian menaruh kembali sendok dan garpu dimeja. Dia merasa mulutnya mulai panas dan menggigit bibirnya.


''Sudah segitu saja makanya, kok tidak dihabiskan!!, tidak enak ya???, tanya Arrumaisha.


''Enak, tapi ini sangat pedas'', ucapnya mendesis, ''honey suapin aku, ini sedikit susah menggunakan sendok dan garpu!!!!, pintanya


''Papa seperti bayi kecil minta disuapi sama mami, kita saja sudah tidak di suapin mami'', ejek putranya itu.


''Iya papa aneh, sudah besar masak minta disuapi mama'', ucap putrinya


Arrumaisha terdiam, suaminya bertingkah aneh sejak pagi tadi, dari mengigil dan pusing, lalu sekarang minta ia memasak menu yang dulu bahkan ia menolaknya.


''Honey cepat suapin aku'', pintanya lagi


Arrumaisha segera mengambil alih piring di hadapan suaminya dan menyuapinya dengan tanganya, Ken memakanya dengan lahap meski keringatnya mulai bercucuran dan mulutnya mendesis menahan pedas, kedua anaknya melihat dengan keheranan.


''Pedas ya pa, Be ambilkan minum ya'', gadis itu dengan cekatan mengambil segelas air untuk papanya dan Ken segera meminumnya.


''Honey, kau tidak ingin makan juga, ini sangat enak hanya sangat pedas''.


''Tidak, habiskan jika kau mau''. Arrumaisha tadinya ragu jika suaminya bisa makan sambal hijau yang pedas, tapi dalam sekejap seporsi nasi itu habis meski ia harus menyuapinya.


''Papa jangan makan sambalnya, nanti perut papa bisa sakit''. ucap putranya itu


Ken mengambil garpu lagi dan menusuk sepotong paha bebek lalu memakanya dengan sambal hingga tak tersisa.


Kedua anaknya bertepuk tangan


''Waahhh papa hebat menghabiskan tiga potong paha bebek dan juga sambal'', ucap putrinya


''Masakan mami memang mantap, iyakan pa??, ucap putranya


''Tapi kenapa dulu papa menolaknya dan malah meminta untuk membuangnya???, tanya putrinya lagi.


Ken diam saja dia ingat dulu dirinya tidak mau memakan apapun masakan istrinya, kecuali cheese cake buatanya.


''Mungkin dulu papa sudah kenyang makan duluan, jadi menolaknya'', ucap Arrumaisha beranjak mencuci tangannya, ''habiskan susunya dan bersiap tidur''. Kemudian membawa kedua anaknya ke kamarnya.


Ken masih duduk di sana, ia merasa sangat kenyang, dan mulutnya terus mendesis, dia tidak menyangka masakan yang dulu ia tolak memakanya, ternyata rasanya sangat enak dan membuatnya bersemangat, dia bahkan menghabiskan tiga potong paha bebek tak tersisa, padahal dia tadi sudah makan malam bersama.


Tiba-tiba Ken merasa perutnya melilit-lilit, dia buru-buru naik ke lantai atas dan langsung ke kamar mandi. Ia berada didalam sana cukup lama.


Setelah selesai menemani kedua anaknya untuk tidur, Arrumaisha meninggalkannya dan masuk ke kamarnya, saat bersamaan suaminya keluar dari kamar mandi sambil memegang perutnya.


''Honey perutku sakit sekali'', Ken menjatuhkan tubuhnya di ranjang


''Tadi anak-anak sudah memperingatkanmu, tapi kau tetap menghabiskannya'', ucapnya.


Ken meraih tangan istrinya memintanya untuk mengelus perutnya. Ken merasa sentuhan tangan istrinya membuat sesuatu di bawah menegang


''Honey, aku memintamu mengelus perutku tapi kau malah membuat anak singa bangun, kau harus bertanggung jawab''.


Arrumaisha buru-buru menarik tangannya, ''jangan mulai lagi Ken, aku mau tidur'', ucapnya segera berbaring membelakangi suaminya.


''Aku sudah bilang panggil aku sayang, beri aku ciuman sebelum tidur, ucapkan selamat tidur, kenapa kau tidak melakukannya''.


Arrumaisha berbalik hendak mengucapkan selamat tidur pada suaminya, Ken langsung mencium bibirnya dan mengunci kedua tangan istrinya diatas


''Sayang, mau apalagi??, ucapnya memelas


''Aku mau berolah raga?, sepertinya aku kekenyangan'', ucapnya sembari menarik penutup area bawah istrinya dengan satu tangan, Ken langsung memulai olah raganya.