
Dokter Fahri dan Arrumaisha masuk ke dalam restauran yang tidak begitu ramai, mungkin karena sudah lewat jam makan siang jadi hanya ada sedikit orang yang makan disana. Mereka berdua memilih duduk di tengah ruangan.
Sementara itu diujung restauran tampak seorang pria mengamati mereka berdua, dia nampak kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihat, beberapa kali dia mengucek matanya untuk memastikan apa yang dia lihat. Dialah Aldo, ia ragu tapi kemudian menyalakan ponselnya dan mengambil gambar mereka yang sedang menikmati makan siang. Aldo berfikir mungkin pria itu kekasih mantan istri bosnya, tapi bukanya bosnya mengajaknya rujuk. Aldo tetap duduk ditempatnya sampai Arrumaisha dan pria itu selesai makan. Kemudian berdiri setelah Arrumaisha dan pria yang bersamanya keluar dari restauran dan segera menuju ke kendaraannya di parkirkan, mengikuti kendaraan yang membawa mantan istri bosnya.
''Dimana rumahmu biar ku antar??, tanya dokter Fahri yang menjalankan kendaraannya perlahan.
''Tidak usah kak, rumahku jauh dari kota, aku pulang naik taxi saja'', jawab Arrumaisha.
''Apa suamimu akan marah jika aku mengantarmu pulang??, tanya dokter Fahri
''Bukan seperti itu, aku tidak ingin merepotkanmu, sungguh!!, jawab Arrumaisha merasa tidak enak.
''Baiklah, aku tidak ingin memaksamu, tapi ingat minggu depan kau harus operasi sesuai jadwal tidak akan ditunda lagi, gunakan beberapa hari sebelum operasi untuk istirahat, makan dan tidur teratur. Jangan melakukan pekerjaan yang berat, aku akan carikan taxi''.
''Terimakasih kak'', Arrumaisha keluar dari mobil mengikuti dokter Fahri, tak berapa lama taxi datang.
''Masuklah, persiapkan dirimu sampai ketemu minggu depan!!, ucap dokter Fahri
''Sekali lagi trimakasih untuk hari ini, trimakasih juga untuk makan siangnya'', sambil melambaikan tanganya dan taxi pun langsung membawanya pergi meninggalkan dokter Fahri.
Kendaraan Aldo masih mengikuti Arrumaisha hingga taxi itu sampai di rumah pada sore hari.
Perjalanan rumah sakit kota hampir dua jam, Arrumaisha sampai di rumah sekitar jam lima sore, setelah hampir seharian mengantri di rumah sakit.
''Assalamualaikum, ucap Arrumaisha saat membuka pintu rumah
''Mami.....!!! seru Ryuna yang dari tadi terus gelisah menunggu sang mama tercinta, dia langsung berlari menghambur. Arrumaisha segera memeluknya.
''Dimana Ryube???
''Be sedang tidur sama papa, mami pergi kemana kenapa baru pulang??, aku sangat kuatir'', ucap pria kecil itu begitu menggemaskan.
''Mama sedang ada urusan sayang, kenapa kamu tidak tidur dan malah bermain sendiri??, ucap Arrumaisha membelai rambut putranya itu yang terlihat mengkuatirkanya.
''Aku tidak bisa tidur, tidak ada mami, jadi aku putuskan menunggu mami datang sambil bermain''.
''Kalau begitu sekarang pergilah tidur!!!.
''Bolehkah aku tidur di situ saja ma? tunjuk Ryuna pada satu-satunya sofa di ruangan itu, ''aku tidak ingin Ryube dan papa bangun''.
''Baiklah ayo'', Arrumaisha dan Ryuna berjalan ke sofa
Pria kecil itu segera berbaring disofa, Arrumaisha membelai rambut putranya dan sesekali menciumnya, dia duduk dilantai
''Apa mami tidak tidur?, apa mami lelah?
''Lelah mami sudah hilang karena bertemu denganmu'', ucapnya
''Benarkah?, Ryuna tersenyum senang
Hingga tak terasa sore itu telah berganti malam, Ken yang tertidur di kamar bersama putrinya terbangun lebih dulu dan melihat suasana kamar yang gelap. Ken segera menghidupkan lampu kamar dan kaget ketika putranya Ryuna tidak ada dikamar.
Ken segera keluar kamar mencari putranya, dia tidak tahu kalau putranya keluar saat dirinya tertidur. Diluar kamar juga nampak gelap, Ken mencari saklar untuk menyalakan lampu rumah, dan setelah lampu menyala Ken nampak berdiri terpaku melihat putranya tertidur di sofa dengan mamanya yang juga tertidur dengan posisi duduk di lantai tanganya memeluk putranya diatas sofa.
Dada Ken berdesir, entah kenapa begitu sakit melihat mereka tertidur seperti itu. Dia tidak tahu harus melakukan apa, Ken mematung, dia tadi bermain bersama kedua anaknya hingga kelelahan dan kemudian mengajaknya tidur, dan kini pemandangan di depan matanya begitu membuat hatinya teriris sembilu namun tidak berdarah. Sejenak dia berfikir benar- benar tidak tahu mau bagaimana, menerawang ke dalam pikiranya, bagaimana kalau seandainya permintaan rujuknya di tolak dan tegakah dia memisahkan anak-anaknya dengan mamanya. Melihat putranya tidur di sofa dan mantan istrinya tertidur dengan posisi yang tidak nyaman, bahkan dia tidak tahu kapan putranya itu keluar kamar, karena dia juga terlelap.
Mungkin Ken belum terbiasa menjaga anak-anaknya sendiri, meskipun anak-anaknya tidak merepotkanya. Anak -anaknya tidak akan bisa hidup tanpa mamanya terutama putranya, dia begitu dekat dengan mamanya. Dan apakah Ken sekejam itu akan memisahkan mereka jika seandainya matan istri yang pernah dia sakiti begitu dalam menolak untuk rujuk.
''Mama..., papa...., suara Ryube mengagetkan Ken, dan buru-buru Ken menghampiri putrinya.
''Be sudah bangun, sini peluk papa'', gadis kecil itu menguap dan menghampiri ke papanya.
''Mama sama Leyuna mana pa??
''Mereka bobok diluar, ayo kita lihat''.
Ken mengendong putrinya keluar kamar menuju ruangan dimana putra dan mantan istrinya berada.
''Mama dan Ryuna masih tidur jangan di ganggu'', ucap Ken memberi tahu putrinya Ryube
Saat melihat mama dan saudara kembarnya, Ryube langsung turun dari gendongan papanya
''Mama....,, panggilnya, Ryube langsung memeluk punggung mamanya yg masih tidur dan mencium rambut mamanya.
Seketika Arrumaisha terbangun dan segera meraih tangan putrinya.
Lagi-lagi Ken tertegun, kedua anaknya benar-benar dekat dengan mamanya.
''Putri mama sudah bangun ya??
''Mama ke mana tadi??, kenapa tidak ajak Be'', rengeknya begitu manja
''Mama ada urusan sayang!!, maaf ya tadi Be kan sekolah.
''Mama Be lapal''.
''Baiklah mama siapin dulu, apa Be sudah mandi??
Gadis itu hanya mengangguk.
''Terimakasih sudah menjaganya!!, ucap Arrumaisha setelah berdiri dari duduknya dan melihat Ken yang berdiri di belakangnya dari tadi.
''Tidak masalah, jawabnya singkat Ken ingin sekali bertanya banyak, kemana seharian ini mantan istrinya pergi, tapi melihatnya kembali Ken mengurungkan niatnya untuk tidak bertanya.
Arrumaisha segera berjalan ke dapur dan mulai memasak untuk makan malam mereka.