
Hari ini adalah hari dijadwalkanya ibunya mbk Ratna untuk memeriksakan diri di rumah sakit kota. Sejak pagi mbak Ratna sudah bersiap untuk mengantarkan ibunya ke rumah sakit, hari ini dia telah meminta ijin tidak pergi bekerja, dengan manaiki motor ia membonceng ibunya pergi ke rumah sakit, ia sangat ingin ibunya sembuh dan bisa hidup sehat tanpa kuatir, sering kali mbak Ratna merasa kuatir dan takut jika ibunya sedang sakit. Sebenarnya ibunya memaksa tidak ingin pergi, ia takut karena perjalanan ke kota lumayan jauh, tapi mbak Ratna tidak ingin ibunya terus menderita karena sakitnya, selain itu ia tidak ingin mengecewakan dokter Fahri yang sudah baik hati memberikan pemeriksaan gratis dan menjadwalkan hari ini untuk memeriksakan ibunya. Selama dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit kota tempat dokter Fahri bekerja. ia segera mengantar ibunya untuk mendaftarkan.
Rumah sakit terlihat sangat ramai, pagi ini dokter Fahri sedang ada beberapa tindakan operasi, sehingga banyak pasien yang menunggu. Hingga hampir menjelang siang dokter Fahri baru memasuki ruangan kerjanya. Mbak Ratna melihat kedatangan dokter Fahri, pria itu begitu tampan dan keren menggunakan jas warna putih di dampingi oleh seorang perawat. Wajahnya bersih dan begitu berkarisma, sesaat ia mengingat perbincanganya dua minggu yang lalu, tiba-tiba mbak Ratna merasa penasaran dengan perempuan yang menolaknya, rasanya pria itu tidak memiliki kekurangan sedikitpun, tidak ada cacat fisik, tampan dan juga mapan, dia adalah tipe pria idaman sekali, ia juga ingat kata-katanya jika dirinya tidak boleh tersenyum pada pria manapun, sampai sekarang ia tidak mengerti kenapa??, hingga tiba giliran nama ibu mbk Ratna di panggil perawat sampai beberapa kali. Sepertinya ia sedang melamun tadi sampai tidak mendengarnya.
Dokter Fahri sudah menunggu di dalam ruang kerjanya, dua minggu ini ia mencoba mengalihkan pikirannya dari mbak Ratna, dengan sibuk di rumah sakit, karena dia ingin tahu apa sebenarnya yang ia rasakan, benarkah ia jatuh cinta pada gadis desa itu atau hanya sekedar simpati saja.
Mbak Ratna dan ibunya memasuki ruangan dokter Fahri, ia tersenyum sopan menyapanya, tiba-tiba dada dokter Fahri terasa berdebar-debar, senyum gadis desa itu kembali membuatnya terpesona dan dia terdiam sampai perawat disampingnya mengaggetnya, ia tidak mengira jika mbak Ratna sendiri yang akan mengantar ibunya datang ke rumah sakit.
''Dokter, ibu ini pasien yang mendapat rekomendasi dari anda'', ucapnya sembari menatap mbak ratna.
''Ahh iya silakan duduk''. ucap dokter Fahri berusaha menetralkan perasaannya, dua minggu tidak bertemu dan berusaha melupakan sosok wanita yang kini ada di hadapannya, tapi ketika bertemu justru dia dibuatnya berdebar kembali dan tidak fokus.
Mereka berbincang sebentar dan kemudian dokter Fahri segera memeriksa ibu mbak Ratna.
Mbak Ratna sama sekali tidak mengerti masalah medis, selama pemeriksaan ibunya dia hanya mengikuti saran dokter Fahri. Hingga sampai pemeriksaan selesai, dokter Fahri meminta mbk Ratna untuk menemuinya sendiri, sedang ibunya menunggu di luar.
''Bagaimana dok hasil pemeriksaan ibu saya??. tanya mbak Ratna tidak sabar.
Sejenak dokter Fahri melihat gadis yang duduk di depan mejanya, lalu menjelaskan kondisi ibunya yang menderita penyempitan jantung dan pengobatan yang seharusnya di jalani, dokter Fahri menyarankan untuk segera melakukan prosedur pemasangan ring pada jantung.
Mbak Ratna diam mendengarnya, ''apa tidak ada pengobatan lain selain itu, berapa biaya yang dibutuhkan??, mbak Ratna merasa lemas mendengarnya
''Kurang lebih sekitar 80-150juta'', jawab dokter Fahri.
Mbak Ratna membelalak, ''dokter Fahri tahu keadaan keluarga saya, saya tidak punya uang sebanyak itu, apalagi bapak saya hanya berpenghasilan harian hanya cukup untuk makan sehari-hari, saya hanya bekerja di toko mbak Arrum, berapa lama saya harus bekerja di toko, itu tidak akan cukup'', jelas mbak Ratna sedih. ''Apa ada pengobatan lain selain oprasi??, mungkin bisa rawat jalan atau dengan obat-obatan??, tanya mbak Ratna.
''Jika ibu mbak Ratna mau operasi, apa mbak Ratna akan setuju''. tanya nya lagi
''Jikalaupun ibu mau tapi kami tidak ada biaya dok'', jawabnya dengan sedih.
''Saya ada solusi untuk mbak Ratna, saya bisa melakukan operasi untuk ibu mbak Ratna tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun, asal mbak Ratna mau menjadi istri saya'', ucap dokter Fahri
''Apa dok???, mbak Ratna terkejut, matanya membelalak, ''maksudnya istri dokter ba...gai..mana???.
''Menikahlah denganku, jadilah istriku, tinggal bersamaku, lakukan semua tugasmu sebagai seorang istri''. jawab dokter Fahri dengan santai.
''Dokter jangan bercanda'', ucap mbak Ratna tidak percaya apa yang di dengar dari mulut dokter muda dan tampan itu.
''Apa saya terlihat bercanda???.
''Tapi bagaimana bisa tiba-tiba dokter ingin saya menjadi istri anda??, saya merasa tidak pantas untuk dokter'', ucap mbak Ratna.
''Apanya yang tidak pantas, aku mau jawaban mbak Ratna secepatnya, jadi tolong pikirkan dengan baik, lebih cepat lebih baik, melihat kondisi ibu mbak Ratna sekarang harus segera dilakukan, hubungi saya jika mbak Ratna dan keluarga sudah memutuskan''.jelasnya sembari memberikan kartu namanya.
Mbak Ratna menerima kartu nama itu, ia segera undur diri, ibunya tadi adalah pasien terakhir yang di periksa dokter Fahri, ia melangkah keluar dengan gontai, membawa selembar kartu nama yang di berikan dokter Fahri, ia tidak tahu harus bagaimana.
Dokter Fahri juga terdiam di ruangnya, dia tidak tahu kenapa tiba-tiba mengatakan hal itu pada mbak Ratna, ia tidak ingin memendam perasaannya seperti dulu dan berakhir kehilangan kesempatan memiliki gadis yang di cintai, sebenarnya dia sendiri juga tidak tahu apakah ia benar-benar menyukai mbak Ratna, tapi dua minggu ini ia telah berusaha dengan keras menghilangkan bayangan gadis itu dari pikirinya, dengan bekerja keras, namun ternyata tidak bisa, dan saat bertemu tadi, dan melihat kesedihan di wajahnya, dia ingin sekali memeluknya, memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya, berbagi segalanya, dan menata kehidupan baru bersamanya.
Mbak Ratna membawa ibunya pulang ke rumah, sepanjang perjalan air matanya mengalir begitu saja, ia sangat binggung dia tidak ingin kehilangan ibunya, ia ingin ibunya bisa hidup lebih lama tanpa kuatir dengan sakitnya, tapi ia benar-benar tidak punya uang sebanyak itu, ia memikirkan ucapan dokter Fahri tadi, ibunya bisa menjalani operasi tanpa perlu mengeluarkan biaya, apabila dia mau menikah dengan dokter Fahri, menjadi istri dokter tampan itu, bagaimana dokter yang dikenal tampan dan berkharisma itu bisa memberikan solusi padanya seperti itu, ia tidak tahu apa harus menerima solusi itu atau tidak, sedangkan ia belum memiliki bayangan untuk menikah dengan siapa. Usianya baru dua puluh tahun, ia merasa belum siap harus menikah lalu meninggalkan ibunya dan keluarganya hidup bersama suaminya.